223. Bagaimana rasanya?.

 Bab 223. Bagaimana rasanya?.


★★★★★


"Mau apa lagi kau Raya?. Belum cukup kamu ganggu hidupku juga Angga" hardikku langsung ketika sambungan telpon dengan Raya. Emosiku benar benar memuncak.


Pikiranku pada Angga, pasti wanita resek itu bersamanya. Keterlaluan sekali Raya, gak ada kapoknya dia. Ya Alloh!. Ku pejamkan mataku dengan apa yang ku rasakan kali ini. Wanita itu benar benar tidak punya malu lagi.


*Ck ck ckkk,,, kasihan sekali kamu Bening. Pasti kamu kebingungan kan mencari Angga. Tapi, tenang aja, Angga bersamaku. Aman kok. Gak aku apa apain. Akan aku ajak senang senang dia. Ha ha haaaa,,,,* tawa Raya renyah diseberang sana sumringah, penuh kemenangan.


*Setelah itu, nanti aku kembalikan. Soal aku butuh sih. Buat pelampiasan, lubangku sudah gatel, pengen di gasak batang milik Angga. Yah, walaupun letoy, gak apa apa* tambahnya.


"Sungguh keterlaluan kau Raya. Angga akan ku ajak menjenguk adiknya dirumah sakit sore ini"


*Aku tidak peduli Bening. Yang penting aku happy, aku akan happy dengan ayang Angga, ha ha haaa,,,,*


"Kau akan menyesalinya untuk ini, Raya"


*Aku tidak peduli Bening, titik. Ingat itu!*


Tut, tut, tut,,,,


"Baiklah!"


Ku hempaskan nafasku kasar saat Raya menutup telponnya sepihak. Dengan hati lemas, aku duduk disofa, termenung.


Ya Alloh,,,!


Kenapa Angga memilih untuk pergi dengan wanita sialan itu ketimbang menjenguk adiknya yang tentunya sangat membutuhkan kehadirannya saat ini. Aku tahu itu, karena perasaan orang sakit itu sensitif sekali.


Masih ada waktu buat datang kerumah sakit. Mudah mudahan tidak terjadi apa apa dengan mereka berdua. Harapku. Karena aku cemaskan tentang Angga. Takutnya nanti keluarga Raya menyalah kan Angga seperti halnya keluarga Alex.


Maka ku putuskan untuk pergi kerumah sakit sendiri.


___________


"Bibi,,," ku salimi bibiku yang kelihatan kurang tidur. Tentu nungguin Putri selaman tanpa ada gantiin buat jaga. Seharusnya paman Syarif datang. Karena jaganya siang. Mungkin buat istirahat. Atah kecewa dengan Putri yang sulit di atur sekarang.


"Angga kemana Bening, kok kamu sendirian?" tanya bibi agak heran karena aku datang sendiri. Tentu jadi tanda tanya buat bibi. Aku tidak tahu harus menerangkan bagaimana? Tentu tadi bibi pasti menghubungi Angga.


"Apa bibi sudah telpon?"


"Sudah tadi, tapi nomornya sedang sibuk, setelah tidak bisa dihubungi. Kamu tahu Angga kemana?"


Kini aku duduk dikursi yang telah disediakan. Sepertinya Putri sedang terlelap, mungkin diberi penenang, jadi jika aku katakan pada bibi, aku tidak khawatir Putri dengar.


"Maaf bi, Angga bersama Raya. Tadi sudah ku bujuk, tapi Raya tetap ngeyel bawa Angga main gitu" terangku, aku juga tidak tahu kemana mereka pergi happynya.


Tapi satu kejadian yang masih ada dipikiranku. Sudahlah, aku juga memberi peringatan pada Angga supaya jangan pergi. Tapi tetap pergi.


"Apa Angga pacaran lagi dengan Raya? Setahu bibi mereka sudah putus lama"


"Mungkin CLBK bi?" terka ku ngasal.


"Apa itu CLBK?"


"Itu bahasa jaman NOW bi, Cinta Lama Bersemi Kembali" jelasku, mungkin bibi kurang wawasan hingga tidak mau berurusan hal itu.


"Tapi, sedari tadi kayak gelisah khawatir gitu, ada apa Bening? Apa kamu tentang apa yang akan terjadi pada keduanya. Ya Alloh, Angga,,," mata bibi sudah tidak bisa dikomprom lagi saat ku anggukan kepalaku. Air matanya deras meluncur, hatinya sudah tak karuan.


"Bibi, tadi aku sudah memperingati Angga sejak berada di sekolah. Bahkan aku melarang Angga jangan berhubungan dengan Raya, tapi Angga tidak mau dengar. Bahkan Raya terus dekat serta merayunya. Angga tak punya pilihan. Karena Raya sudah putus dengan Riko. Bibi tahu tidak kenapa Riko dibawa kesini kemarin. Riko sedang periksa"


"Memangnya den Riko sakit apa, Bening?"


Ku bisikan pada bibi sakit yang dialami oleh Riko.


"Sebenarnya Riko mengalami IMPOTEN, bi!"


Mata bibiku langsung membulat tak percaya, mulut nganga, shock dengar apa yang ku katakan.


"Benar kah itu Bening?"


"Tadinya, aku kurang yakin bi, tapi aku desak Raya. Dia akhirnya jujur. Walaupun sebelumnya aku sudah tahu hal itu, karena Raya dan Riko bertengkar hebat.  Maka untuk itu Raya mutusin Riko, bi. Dan kini kembali dan mengejar Angga untuk diajak,,,-x" aku tak bisa meneruskan ucapanku, terlalu seronok, tentu bibiku sudah memahaminya, tidak perlu ku jelaskan lagi.


"Ya Alloh,,,," pasrah bibiku masih berlinang air mata.


"Apa kamu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka berdua?" desak bibiku ingin tahu.


Ku gelengkan kepala, tidak ingin memberitahukan pada bibi apa yang nantinya terjadi. Aku tidak ingin jadi Tuhan disini. Iya, kalau benar apa yang ku lihat, kalau gak aku malah malu sendiri.


"Tidak bibi, semoga Angga baik baik saja" ulasku, setengah mendesah pelan. Sambil ku pejamkan mataku. Bibi tidak bisa berbuat banyak.


"Ya Alloh, Angga. Jika terjadi sesuatu padamu, ibu tidak akan pernah memaafkanmu, Angga" derai air matanya makin deras.


"Ibu, ibu,,, bu,,," llirih Putri bangun. Menatap ibunya haru, kemudian menatapku. Ada sesal dari pancaran matanya.


Aku memilih mendiamkan. Yang terpenting, sekarang aku sedang menjenguknya.


Mata Putri merah, sepertinya akan menangis, ingat dengan apa yang ku katakan, dia tidak mengindahkanku, tetap saja pergi jalan jalan.


"Tidak perlu disesali, semua sudah terjadi. Penyesalan datang diakhir, bukan di awal, karena itu untuk sebuah pelajaran" ungkapku, ku katakan supaya Putri dengar.


Air mata Putri tak bisa dibendung lagi. Bibi, tentu memakluminya. Tapi sudah terjadi, waktu tidak dapat diulang kembali, bibi masih saja nangis walaupun lirih. Aku yang sedari coba untuk tahan, tidak bisa akhirnya air mataku berjatuhan. Aku turut sedih dengan yang menimpa saudaraku.


Cukup lama aku berada diruang rawat Putri, tempatnya nyaman walaupun tidak VVIP kelas satu. Tapi, aku yakin biaya inapnya gak murah.


Sesekali bibi memejamkan matanya. Pilu. Mendesah berat. Seperti bebannya saat ini tentulah sangat berat.


Putri berkali kali menatap ibunya yang nangis, terlebih dari kemarin ibunya sering nangis bahkan sampai saat ini. Nampak dia menatapku berkali kali, mungkin mencari keberadaan kakaknya Angga. Aku paham betul akan hal itu.


",,, Masmu lagi bersama Raya jalan jalan. Sudah diperingati oleh mamasmu Bening, tapi tidak mau dengar" jelas bibi pada Putri. Putri tentu saja air matanya makin banyak. Ingin dia bicara, tapi kondisinya belum cukup kuat habis operasi.


"Bi aku keluar dulu. Aku mau lihat keadaan Alex" ucapku sudah tidak tahan dengan keharuan yang terjadi. Aku ingin tenang, coba lupakan masalah. Tapi, Angga selalu jadi pikiran. Bukan aku saja, bibi pasti juga memikirkan tentang Angga, terlebih sudah ku peringati tentu menjadikan bibi makin khawatir tentang keadaan putranya yang sedang pergi bersama Raya.


Tidak perlu tanyakan dimana kamar Alex, aku sudah tahu. Pasti diruang VVIP kelas satu untuk orang orang tajir.


"Eh nak Bening, kemari. Gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah bu, sehat, baik baik saja. Bagaimana keadaan Alex, bu?"


Kebetulan bu Shella sedang berada diluar. Aku tidak tahu siapa yang didalam. Mingkin kakak laki lakinya atau kakak perempuannya.


Sesaat pak Remond keluar dari ruang dengan muka sedih seperti halnya istrinya.


Belum sempat bu Shella jawab, pak Remond lebih dulu menyapaku.


"Eh nak Bening, apa kabarnya?" sapa pak Remond ramah. "Maafkan atas sikap putra kami. Aku tahu kalau Alex salah. Ini teguran Tuhan , setelah ini, biar membuat sadar, dan jadi buat dia" ungkapnya. Sikap nya ramah bersahaja. Mungkin bu Shella telah cerita ke pak Remond tentang ikhwal Alex jadi mereka tidak ada yang menyalahkan Putri lagi seperti kejadian pertama kali.


"Alhamdulillah baik pak. Oiya, bu, pak boleh saya lihat keadaan Alex?"


"O, silahkan nak Bening. Saya malah senang sekali, nak Bening melihat keadaan Alex" pungkas pak Remond.


"Tapi, didalam ada dua kakaknya" ulas bu Shella merasa tak enak, ingin disampaikan secara gamblang. Tapi hanya menjelaskan seperlunya.


"Nak Bening, terima kasih telah menolong putra kami, jika tidak, mungkin nyawanya,,," ungkap pak Remond kembali, mengungkit tentang kebaikan ku, jadi tidak enak hati.


"Maafkan pak, saya tidak melakukan apa apa. Permisi pak, bu,,," ijinku ingin masuk.


"Assalamualaikum,,," saat aku berada didalam. Serta disambut tatapan dua orang kakak Alex yang sulit ku artikan.


Namun, seketika nampak senyum senyum menghiasi wajahnya keduanya, bahkan Alex yang lehernya sedang di gips nampak mencoba tersenyum ramah. Walaupun keadaannya belum pulih sepenuhnya. Ku salimi keduanya, selayaknya saudara tua sebagai seorang kakak karena sikap itu yang ditanamkan orang tuaku.


"Maaf mbak Angel, mas Niko, aku kemari ingin melihat keadaan Alex apa sudah membaik" ungkapku merasa tak enak dengan tatapan keduanya yang seolah mengintimudasi. Seolah aku biang masalah yang datan, walaupun tanggapan dari awal biasa, senyum lalu datar. Bikin hatiku tak enak. Walaupun, mungkin nerima kehadiranku.


"Alex, bagaimana keadaan mu sekarang?" tanyaku, dengan senyum tulus.


"Yang, kamu, lihat, keadaanku, sudah, agak membaik" jawabnya dengan kata kata yang terputus putus. Kondisinya memang belum cukup baik bahkan terlihat meringis.


"Dik jangan banyak gerak ama ngomong, kondisimu belum stabil" cecar Angel memperingati.


"Iya, kamu belum cukup kuat kondisimu" ulas Niko kemudian. "Kamu ngomong masih meringis gitu" tambahkan, dengan raut tidak suka kalau aku ajak bicara Alex.


"Ya sudah, aku pamit,,," lama lama disini, aku merasa tak enak. Melihat keadaan Alex yang membaik aki sudah lega. Jadi, aku bisa pergi dengan tenang. Nanti kalau Putri tanya keadaan Alex aku bisa jelaskan.


"Assalamualaikum!"


Tidak ada jawaban dari keduanya, jelas kalau mereka tidak suka dengan kehadiranku. Sudahlah, itu hak mereka tidak suka denganku.


"Nak Bening mau kemana?" tanya pak Remond saat keluar dari ruangan Alex. Tentu melihat ekspresi ku begitupun bu Shella pasti paham.


"Maaf atas sikap mereka nak Bening. Saya juga sudah jelaskan tapi belum juga mau ngerti"


Pantas sikap keduanya ke aku sangat berbeda. Yang salah siapa disini, aku malah terlibat. Salah paham kedua padaku tidak beralasan.


"Terima kasih nak Bening mau jenguk putra kami" kata pak Remond tidak enak hati karena aku dapat sambutan kurang menyenangkan didalam tadi.


"Alex teman saya. Permisi bu, pak, Assalamualaikum,,," pamitku dengan seulas senyum ramah karena orang tua mereka baik dan ramah. Kesalahpahaman kemarin sudah tidak ada, hanya saja Angel dan Niko belum terima.


"Waalaikum salam" jawabnya bersamaan.


"Terima kasih nak Bening. Oiya, kalau nak Bening ada waktu, hari minggu nanti, datang kerumah, mudah mudahan, Alex bisa pulang, ya nak Bening" desak Bu Shella ingin aku datang minggu depan. Dan itu saat akan semesteran. Jadi ku pikir pikir dulu.


",,, Insyaalloh bu, pak mudah mudah selalu diberi kesehatan supaya nanti bisa datang"


"Amin!"


Ku langkahkan kaki ku tenang, menuju ruangan dimana Putri di rawat.


Hpku berdering ada panggilan masuk. Aku kira dari Angga, setelah ku lihat notifnya dari ibuku.


"Ya, Assalamualaikum bu. Ada apa?" tanya ku, tumben ibu nelpon duluan, biasanya ada hal penting.


*Tadi pamanmu pesen gak bisa datang*


"Oh itu. Kirain ada apa ibu nelpon biasanya penting"


*Ada nak, hiks, hiks, hiks,,," tiba tiba ibu nangis.


Entah apa yang menyebabkan ibuku mendadak nangis? Tentu jadi tanda tanya buatku?.


",,, Bu, ada apa? Katakan!" desakku dengan nada tinggi. Tidak mungkin ibu nangis seperti ini, jika tidak ada masalah yang besar.


*,,, Hiks, hiks, hiks,,, nak de- dengar,,,* ibu masih saja terisak.


Aku bingung, khawatir pasti. Apa terjadi apa apa dengan ayahku. Berbagai pikiran kini memenuhi otakku.


"Hallo, ibu,,,?" Aku makin bingung.


*Nak, Angga,,, Angga,,,-?*


Pikiranku sudah gak karuan. Ya Alloh!?.


Belum sempat aku berpikir diluar ada suara ambulace datang? Hatiku sudah tidak ada ditempatnya.


Gegas, aku menuju ke ruang Putri guna untuk menemui bibiku secepat. Karena telpon dari ibuku tadi, tiba tiba dimatikan sepihak, terlebih tadi aku dengar dengan jelas suara surine ambulans yang baru datang. Aku panik sekaligus khawatir.


"Bi, bi, bibi,,," didepan ruangan tidak terlihat keberadaan bibiku. Kenapa beliau? Pikirku.


"Ada apa Bening, kamu teriak memanggilku?" tanya bibi keheranan, terlebih keringat ku keluar, mataku merah menangis. Tentu saja bibiku makin heran, tambah bingung.


",,, Bi, tadi ibu nelpon. Memberi kabar soal Angga, gitu. Tapi kemudian telponnya dimatiin"


Karuan saja bibi langsung shock pikirannya. Tubuhnya tidak kuat lagi berdiri. Ku papah untuk duduk dikursi yang ada. Nangis sudah tentu. Keringat sudah pasti keluar dari pori porinya, dibiarkan air matanya terus menetes.


Berkali kali bibi beristigfar pada Alloh atas kabar yang ku sampaikan, air mata terus bercucuran.


Ada beberapa beberapa perawat baik cewek maupun cowok nampak sibuk mendorong bad, gegas melewati kami berdua yang sedang sedih.


Bibi ku makin shock lihat hal tersebut. Hingga bibi coba tanya ke salah satu perawat wanita yang terakhir. Tentu bibi sambil menahan nafasnya, kuatkan hatinya. Tentu, beliau bersiap jika ada apa apa yang terjadi. Berharap juga tidak terjadi apa apa apa pada putranya.


Sedari awal tadi, aku banyak diamnya, tahu yang telah terjadi, juga tidak perlu ku katakan. Tinggal lihat saja apa yang terjadi.


"Maaf boleh tanya perawat, ada begitu tergesa gesa, apa ada kecelakaan?"


Mata bibi setengah terpejam, seakan belum siap dengan keadaan.


"Barusan ada dua pasien yang kecelakaan dijalan xxxx, maaf permisi?" jelasnya dengan wajah panik.


Perawat tersebut langsung bergegas pergi...


Sesaat ada bad berisi dua orang lewat.


"Bol- boleh lihat siapa yang kecelakaan, permisi,,,?" bibi berusaha mendekati dan ingin melihat siapa yang kecelakaan. Tapi tidak bisa melihatnya karena badnya berjalan dengan cepat.


"Permisi maaf bu, pasiennya kodisinya kritis, jadi ibu jangan menghalangi, ini sangat berbahaya!" jawab satu dari mereka tanpa menghiraukan bibi yang sudah tidak punya kekuatan tubuhnya. Lemas sudah sendi tubuhnya.


Namun, bad yang kedua, tidak begitu banyak perawatnya, tidak begitu terurus. Bibi dan aku coba lihat siapa?.


"Hahhhh,,,, ya Alloh?" Mata bibi membulat tak percaya ketika melihat siapa yang ada dibad dorong. Tubuhnya tak bisa berpijak lagi.


"Anggaaaa,,,!?"


_________&&&_________


Jm 09/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.