224. Dituduh
Bab 224. Dituduh.
★★★★★
"Ya Alloh, Alloh, Alloh,,, huhuhuuuu,,, Angga,,,, sudah ibu bilangin hati hati tapi kamu tidak mengindahkan ucapan ibu, nak. Kenapa kamu keras kepala, ya Alloh. Huhuhuuuu,,, hiks, hiks, hiksss,,,," raung bibiku meratapi nasibnya yang begitu malang.
"Ibu dapat uang darimana lagi buat biaya operasi kamu, nak. Ya Allah,,, hu hu huuuu,,," tamgis bibiku tak terbendung lagi saat Angga dan Raya masuk ke UDG.
Aku memilih untuk menunggui Putri yang sedang sendirian. Biar bibi yang menunggu Angga didepan ruang UDG.
"Mas Bening, apa yang terjadi diluar,,," tanya Putri tentu mendengar keributan diluar karena bibi nangis kejer.
"Kamu gak usah kepikiran hal itu. Kamu tenang saja ya Put. Kondisi belum membaik benar, jadi kamu jangan mikir macam macam" balasku karena keadaan Putri memang belum membaik. Mungkin akan seminggu dirumah sakit ini. Tentu biayanya tidak sedikit.
Kenapa semuanya jadi begini?.
"Mas maafkan atas sikapku. Atas semua kesalahanku. Ini teguran dari Alloh buatku yang telah menghina mas Bening, tidak mau dengar ucapan mas Bening. Mas Bening masih marah sama aku-?"
"Buat apa? Percuma juga aku marah sama kamu, Put. Gak ada gunanya, cuma merusak hati dan pikiran ku. Aku sudah sering bahkan terbiasa di cemooh. Tapi, tenang saja aku gak usah berpikir macam macam, aku gak akan pernah dendam sama kamu, siapapun juga. Mungkin, mengatakan maaf mudah, tapi pada kenyataannya, sangat sulit" ungkapku, supaya Putri tahu posisiku.
"Jadi kamu gak usah mikirin perasaanku. Anggap kejadian yang menimpaku itu sebuah kecelakaan bukan karena aku. Bukan. Aku bukan Dewa, bukan malaikat, juga bukan Tuhan. Tapi, hanya Alloh yang mengaturnya"
"Mas Bening, hiks hiks hiks,,, maafkan aku"
"Aku sudah memaafkanmu, apa lagi yang kau minta Put? Kau mau hina aku lagi, silahkan, aku gak apa apa, kamu berhak hina aku, aku bukan orang baik, aku orang miskin yang perlakukan hina. Inilah kehidupan kota, aku dulunya kaget, tapi kini, TIDAK Put. Aku sudah kebal. Aku bahkan membelamu didepan ibunya Alex, dia menghinaku dan juga menghinamu. Tapi, kini keadaannya sudah membaik, karena ku berinya pengertian! Tenang, aku yang jadi tameng, semua masalah. Biayamu pun yang tanggung keluarga Sanjaya. Dan kau tahu apa yang terjadi diluar. Tadinya, aku ingin bungkam, tapi buat apa, sebaiknya kamu tahu, biar kamu buka matamu lebar lebar, supaya kamu sadar dan mikir bagaimana susahnya orang tuamu, cari uang, banting tulang siang dan malam untuk supaya kamu dan Angga bisa sekolah tinggi serta jadi orang sukses,,,"
Ku tarik nafas dalam dalam, ku lihat Putri makim sesenggukan, bagaimana keadaan orang tuanya saat ini yang sedang resah serta sangat susah.
"Tadi yang diluar itu Angga kecelakaan bersama Raya. Kau tahu, uang darimana untuk biaya mu serta biayanya Angga. Karena Angga akan operasi juga"
"Mas maafkan aku, aku salah" lirihnya, makin terpuruk.
"Buat apa sekarang kamu menyesali. Tidak ada gunanya. Dan jangan pernah berpikir kamu untuk bunuh diri jika ingin melihat kedua orang tuamu bahagia. Kini saatnya belum terlambat untuk memperbaikinya. Jika kamu kasihan pada orang tuamu. Jangan memberinya beban lagi pada mereka. Buat mereka bangga. Kau kenal Alex, sikapmu telag berubah, jauh berbeda dengan dulu. Aku juga belum yakin denganmu, jika nanti kamu sembuh, kamu pasti akan berbuat semaumu" tandasku, menatapnya tajam.
"Kau tahu, untukmu biaya dirumah sakit ini. Kau mikir gak masalah itu. Kau hanya mikirin kesenanganmu saja. Kau tahu gadis bernama Revika. Gadis secantik Revika telah dicampakan oleh Alex, bahkan kecantikanmu tidak ada apa apanya dibandingkan dengan Revika. Kau mau bernasib sama seperti Revika, sudah diperawani, lalu dicampakan begitu saja. Aku tidak yakin kamu akan kuat dengan cobaan itu. Aku pastikan kau akan bunuh diri saat itu juga. Kau mikir itu gak, hah!" hardikku dengan suara lirih. Putri makin terpuruk nangis.
"Buat apa kau nangis seperti. Gak ada guna Put, kau nangis, menyesalinya, gak ada gunanya. Percuma. Setelah kejadian ini, jangan harap aku akan menegurmu lagi, begitu pun Angga. Tidak ada gunanya. Percuma juga aku memperingatimu, tapi kamu keras kepala. Camkan itu Put. Aku memperingati mu karena aku tahu kondisi bibi dan paman itu seperti apa?"
Setelah itu aku diam saja. Hanya ku dengar sesegukan tangis pilu Putri, karena mulai saat ini, aku tidak akan menegurnya lagi, jika terjadi sesuatu. Kejam. Tapi, itu pantas Putri yang telah begitu menghinaku cukup dalam.
"Hiks, hiks, hiksss,,,," tangis Putri pilu. Biar dia rasakan bagaimana keadaan orang tuanya saat ini. Tentulah sangat kebingungan mengenai biaya untuk operasi Angga. Aku tidak bisa banyak membantu, hanya bisa berdoa atas kesembuhan Angga. Aku sudah peringati dia. Atau, nanti perlu aku marahi seperti hal Putri. Emosiku langsung meledak, tapi penyesalan terlambat, sudah tidak ada gunanya lagi.
"Maafkan aku mas Bening, maafkan aku" Putri berkata kata dalam tangisan. Meminta dengan tulus atas kesalahannya.
"Sudah. Jangan bahas lagi. Percuma kau bicara maaf kalau hanya untuk sesaat, simpan saja. Aku tidak butuh lagi, aku sudah terbiasa dengan kata kata maaf, kau sama hal dengan yang lain. Tak lebih. Assalamualaikum,,," pamitku, aku ingin pulang serta menenangkan diri. Terlalu banyak masalah yang ku hadapi akhir akhir ini.
"Mas, mas, mas Bening" tangan Putri menggapai lemah, ingin mencegah kepergianku.
'Putri, aku sudah memaafkan mu sejak dulu. Namun, saat aku lihat wajahmu, hatiku rasanya sakit, perih. Ucapanmu sungguh menyakiti perasaan hatiku terlalu dalam. Bila, suatu saat nanti kau membenciku karena ini, aku punya alasan tertentu' aku semakin melangkah menjauhi kamar inap milik Putri. Sebenarnya, aku ingin melihat keadaan Angga tapi, entah mengapa niatku ku urungkan. Kesedihan begitu mendera ku rasakan.
Perasaanku ingin melewati ruang UDG, lagi lagi ku lihat keributan disana ada bibiku bersama dua orang, yang ku taksir itu orang tua Raya. Bibiku terisak pilu dalam tekanan. Tega sekali mereka membuat bibiku seperti itu. Mereka belum tahu duduk persoalannya sudah menyalahkan bibiku. Ini tidak bisa ku biarkan begitu saja, harus diluruskan, aku juga akan membela bibiku karena posisinya terjepit, terlebih sedang dalam kesusahan. Enak aja menyalahkan bibi, menuduh tanpa bukti.
"Kamu harus tanggung jawab apa yang menimpa putri kami. Jika terjadi sesuatu pada Raya, kamu akan ku penjarakan. Ingat itu, kamu akan ku penjarakan!" tuding ibunya Raya makin menekan bibiku.
"Hmmm,,, bu Winarita Aurela, pak Candra Winata, masih kenal dengan saya. Saya Bening temannya Raya, tolong jangan salahkan bibi saya. Bibi saya tidak tahu mengenai kecelakaan yang terjadi pada Raya karena sedang menunggui putrinya, karena kemarin habis operasi, karena telah mengalami kecelakaan. Jadi, tolong, jangan tambah masalahnya lagi, atas tuduhan anda yang tidak beralasan" tandasku, karena melihat tadi bibiku dipojokkan tanpa bibiku bisa membela diri.
"Tapi keadaannya, keadaannya,,, ya Tuhan?. Aku tidak tahu masa depannya seperti apa nantinya. Bagaimana aku bisa terima?" pekik bu Wina padaku.
"Ya, tentu saja, hal ini akan ku bawa keranah hukum. Hal ini akan segera diproses. Akan ku telpon pengacaraku untuk menangani masalah ini" tandas pak Candra yakin. Merogoh saku untuk mengambil handphonenya.
Bibiku makin pucat, ketakutan. Tubuhnya sampai bergetar dibuatnya. Padahal tadi, sejak awal sudah ku jelaskan tapi orang tua Raya terlalu cerdik dan pintar untuk membalikkan fakta.
"Ya pa, secepatnya persoalan ini papa urus, supaya keluarga wanita ini dipenjara" tuding bu Wina makin yakin dengan apa yang dikatakannya.
"Bu Wina dan Pak Candra yakin akan hal itu. Bagaimana kalau ibu dan bapak tahu cerita yang sebenarnya, apa nanti ibu dan bapak tidak akan malu?" balasku, mengendikan bahuku dengan ucapan mereka yang ingin memenjarakan keluarga bibiku.
Tega sekali mereka. Tapi, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Aku harus bertindak untuk mencegahnya.
_____&&&&_____
Jm 09/12/2022.
Komentar
Posting Komentar