225. CLEAR!.

 Bab 225. CLEAR!.


★★★★★


"Apa maksudmu nak Bening?" geleng bu Winarita belum paham. Selama ini mungkin bu Wina tidak mengetahuinya atau pura pura masa bodoh dengan keadaan.


"Iya nak Bening, jelas jelas disini yang salah teman prianya, mengapa kami harus mendengarkanmu?" celutuk pak Candra menekan. Sebenarnya ingin tahu apa yang aku sampaikan.


"Mungkin hal ini terdengar memalukan. Tapi kalian sebagai orang tua dari Raya harus tahu hal ini. Terserah dengan penilaian kalian. Tapi, ini fakta yang ku ketahui" tarik nafasku sejenak, untuk mengisi dadaku yang sedikit kekurangan oksigen. Kini aku sudah siap untuk menyiapkan. Karena keduanya hanya terdiam sejak tadi.


"Asal kalian tahu, sejak awal aku masuk kesini, Raya telah punya hubungan khusus dengan Riko. Hingga pada puncaknya, ketika aku disekap digudang sekolah, Raya dan Riko berhubungan layaknya suami istri yang sah. Bukan hanya sekali dua kali bahkan berkali kali ketika saat istirahat. Bukan aku saja yang menyaksikan hal tersebut, ada Angga juga anggota gengnya yang berjumalah sepuluh orang, mereka sama gilanya main sex didepan. Dan kejadian hari ini, aku sudah peringati Raya bahkan aku melarang Angga supaya jangan pergi karena akan terjadi sesuatu, tapi secara diam diam ketika Angga masih berada disekolah Raya mengajak Angga pergi untuk kecan karena Raya ngaku sendiri butuh sentuhan laki laki. Itulah ceritanya, aku tidak mengada ada. Kalian boleh tanya Raya atau pun Angga jika aku bohong. Kalau memang aku bohong, atau dusta, aku siap sebagai ganti dari bibiku ataupun keluarga" jelasku, walaupun tidak sangat detail tapi aku menceritakan secara gamblang.


Bu Wina sampai menutup mulutnya, tidak menyangka kalau Raya putrinya begitu jauh melangkah.


Pak Candra diam sedari tadi, wajah sesaat tidak dialiri darah. Sambil pegangi dadanya, entah apa yang dirasakannya.


Bibi kini menjadi lega atas pembelaanku, tentu itu pukulan telak buat kedua orang tua Raya.


"Sekarang kalian ingin memenjarakan bibiku atau pamanku. Sungguh kalian tidak punya nurani. Atau mentang mentang kalian kaya, pinya harta berlimpah, sehingga semena mena kepada orang miskin seperti kami. Terlebih bibiku yang jadi babu, barusan anak perempuannya kecelakaan, habis operasi karena kecelakaan dan kasusnya sama. Orang tua Alex tidak terima. Kalian pasti kenal dengan mereka kan. Pak Remond dan bu Shella"


Keduanya makin shock saja dengan ceritaku. Mereka tidak bisa berbuat apa apa lagi sekarang terlebih akan menjebloskan bibi atau pamanku ke penjara. Ternyata yang bersalah disini Raya putri mereka.


Tentu mereka sangat malu, tapi malu juga untuk mengakui salah mereka.


"Bu Wina, pak Candra aku minta maaf, juga atas nama keluarga bibiku, aku minta maaf. Aku tahu kalian orang kaya pasti gensi ucapkan maaf lebih dulu. Maka dari itu kami yang miskin ini lebih dulu minta maaf pada kalian" ungkapku.


Keduanya tergagu, tak punya nyali terlebih ku katakan keadaan tentu itu pukulan bagi mereka berdua jangan selalu merendahkan.


Mungkin selama ini jarang bertemu denganku. Kini, mereka tahu siapa aku supaya mereka tidak menganggap remeh lagi. Tidak semua di anggap remeh dan direndahkan selalu.


"Kenapa kalian diam?" tanyaku atas diam keduanya. Apa mereka malu dengan kelakuan putrimya mereka yang telah ku beberkan.


"Nak Bening, maaf kan atas sikap kami. Kami tidak bermaksud seperti itu" balas pak Candra tapi tidak dengan bu Wina yang terdiam seribu bahasa. Mungkin sangat malu sekali dengan kelakuan Raya.


"Kami akan menanggung semua biaya Angga dirumah sakit sampai sembuh" tambah pak Candra nampak serius untuk menutupi rasa malu.


'Alhamdulillah, ya Alloh!' batinku.


Bibiku nampak berkomat kamit baca sesuatu. Juga bersyukur atas apa yang didengarnya.


"Pa,,," sepertinya bu Wina kurang setuju.


"Ma, apa mama ingin dipermalukan lagi dengan kelakuan Raya putri kita" ujar pak Candra ketika istrinya kurang setuju dengan maksud suaminya. Jelas sekali kalau bu Wina tidak setuju dengan keputusan suaminya, tapi tidak bisa berbuat apa apa untuk mencegahnya terlebih pihak yang salah Raya putri mereka.


"Iy- a paaa,,," bu Wina malu malu mengakuinya.


Rasanya aku ingin tertawa saja, namun ada rasa takut jadi ku ulas senyum datar.


"Bening, terima kasih ya" ucap bibi lirih, berbisik.


Ku beri isyarat anggukan kecil. Aku tak ingin bu Wina dan pak Candra tahu hal itu.


Bibi kini bisa bernafas lega karena masalah bisa teratasi terlebih biaya telah ditanggu oleh keluarga raya.


Seperti biasanya dokter keluar memberitahu keadaan pasien.


Ku lihat bu Wina nangis sesenggukan. Tak percaya dengan yang menimpa Raya putrinya.


"Pa, Raya,,,? Ya Tuhan" isak bu Wina sambil memeluk suaminya.


"Sabar, tenang ma" ujar pak Candra menenangkan istrinya. Pak Candra tak bisa memyembunyikan kesedihannya.


"Bagaimana bisa tenang pa, Raya pa,,,?"


Aku dan bibi saling pandang tak mengerti dengan pembahasan keduanya. Dokter tadi berkata pun sekedarnya, tak bisa ku mengerti dengan bahasa isyarat.


Maka ingin ku coba ku tanyakan, apa sebenarnya yang terjadi pada Raya.


Kembali aku akan mendekat karena tadi Raya yang diletakan di bad dorong dibawa menuju ruangan rawat.


"Maaf bu, apa sebenarnya yang terjadi dengan Raya?" tanyaku melihat bu Wina nangis, pak Candra sedih, pilu.


",,, Hiks, hiks, hiks,,, Raya, kemungkinan lumpuh, kata dokter" jelas bu Wina berderai air mata.


"Masyaalloh, benar itu,,,,?" yakinku, walaupun dari awal aku sudah tahu dan menduganya apa yang akan terjadi dengan Raya. Mudah mudahan Raya tidak sampai di amputasi. Jika hal itu terjadi, maka hidupnya tiada ada gunanya lagi. Dari awal aku sudah peringati, setelah kejadiannya seperti ini, siapa yang akan disalahkan.


Bu Wina hanya mengangguk membenarkan. Begitupun pak Candra juga sama halnya sampai matanya memerah menahan tangisnya dalam hati.


Bibi juga mendengar penjelasan bu Wina hanya ikuti menangis, menyesali kejadian yang menimpa Raya.


"Bagaimana keadaan Angga, Bening?" tanya bibi prihatin jika Angga sampai terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.


"Mudah mudahan Angga tidak apa apa?" Ku coba untuk menenangkan bibi yang dangat khawatir. Tentu hal itu yang dipikirkan bibi pada Angga.


"Tap- i,,, bibi khawatir, Bening" masih saja bibi tidak tenang karena Angga belum juga keluar.


"Bibi berdoa, semoga Angga tidak kenapa napa bi"


"Iya Bening, terima kasih. Bibi akan berdoa semoga Angga baik baik saja"


Kembali bibi duduk dikursi disamping pintu menunggu Angga keluar dari UGD.


Beberapa saat dokter keluar dan memberi keadaan Angga, bahwa keadaan sudah membaik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan hingga bibi bisa nafas dengan lega.


"Alhamdullih ya Alloh" ucap syukur bibi karena keadaan Angga tidak membahayakan jiwa.


Aku tersenyum bahagia pada bibiku untuk menenangkannya. "Amin,,,!"


Sambil mengikuti kemana Angga akan ditempatkan. Tentu bersama Putri. Tidak perlu memikirkan biaya sampai sembuh keadaannya.


"Andai Angga mendengarkanmu, mungkin kejadian ini tidak akan menimpa mereka berdua?" sesal bibi pada dua anaknya yang kini terbaring tak berdaya di bad rawat dengan menitikan air mata sedih dan kepiluan.


Kini masuk kedalam. Suasana terasa berbeda.


Nasi sudah jadi bubur, semua sudah terjadi, jadi tidak perlu disesali...


_______&&&______


Mg 11/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.