226. KOMPLIT (Warning! Area +18).
Bab 226. KOMPLIT (Warning! Area +18).
★★★★★
Kini aku sendirian di rumah bibiku, serasa ku sendiri karena tidak ada siapa siapa disini. Rasanya sepi, biasanya rame karena ada Putri dan Angga. Tentu saja semua kenangan kenangan yang telah terjadi, terbayang hingga ku hela nafas.
Badanku terasa lelah sekali dengan aktivitas ku hari ini, besok aku harus mid guna untuk tambahan nilaiku, walaupun nilai ku tidak ada yang jelek.
Namun, karena aku sering ada pikiran hingga konsentrasi ku terpecah.
Setidaknya, masalah hari ini selesai. Aku belum memberitahu paman atau ibu maupun ayahku. Ini belum terlalu malam, jadi aku bisa memberitahu orang tuaku. Paman mungkin lagi istirahat karena ayahku sif malam.
Ku dengar diluar ada motor baru saja datang, aku hanya menduga kalau yang datang pasti paman. Karena tidak mungkin yang lainnya.
"Assalamu'alaikum,,, " ucapnya suara laki laki dewasa sambil mengetuk pintu. Sudah ku duga dari suaranya.
"Waalaikum salam" gegasku membukakan pintu depan padahal aku bersiap untuk istirahat karena besok aku tak ingin terlalu lelah atau banyak pikiran. Ingin bangun pagi biar lebih fresh.
"Paman,,," gugupku karena tidak menyangka jika paman akan datang sedangkan tidak ada satu orang pun dirumah kecuali aku.
"Bening, kemana Angga, kenapa kamu sendirian dirumah, apa Angga nginap dirumah temannya?" tanya paman penasaran karena sepi. Bertubi tubi mencercaku dengan berbagai pertanyaan mencari tahu keberadaan Angga yang tidak ada karena aku sendirian.
Tentu saja paman belum dikasih kabar mengenai kecelakaan yang terjadi pada Angga bersama Raya. Kini sedang berada dirumah sakit sedang dirawat.
Aku tidak tahu bagaimana reaksi paman jika tahu mengenai keadaan dan kondisi Angga saat ini. Terlebih telah mengalami kecelakaan, walaupun tidak terlalu parah.
Paman masih menatapku heran karena keadaan rumah sepi tanpa Angga.
"Maaf paman, mungkin bibi tidak memberi kabar pada paman, mengenai soal Angga yang kecelakaan bersama Raya putri dari pak Candra dan bu Wina. Saat ini Angga sedang dirawat. Keadaan Angga sudah membaik" jelasku. Paman terlihat shock.
"Ya Alloh. Lalu, bagaimana dengan keadaan Raya?" tanya paman tentu ingin tahu.
"Terakhir kabar yang ku tahu, kalau Raya mengalami kelumpuhan. Mungkin kakinya akan di amputasi" jelasku kembali mengenai keadaan Raya. Sangat memprihatinkan tapi itu ganjaran buat dia juga Angga yang tak mau mendengarku.
"Ya Alloh, dari mana buat bayar biaya rumah sakit" keluh paman sedih. Tentu itu menambah beban bagi kehidupan keluarganya.
Mungkin sama ibuku tidak disampaikan pada pamanku mengenai kabar tentang Angga putra yang kecelakaan.
"Maaf paman, tadi aku mengabari ibu, untuk menyampaikan pada paman-"
",,, Hmm, perasaan paman tidak enak. Tadi mas Rohman pesan kalau Angga kenapa napa, makanya aku pulang ingin jenguk Angga sekalian nengok Putri, tentang perkembangannya dirumah sakit" sahut paman sedikit ada rasa kecewa karena kabarnya akhir dengan desahan berat.
"Kalau Putri sudah makin membaik paman. Insyaallah nanti hari minggu bisa pulang. Kasihan bibi nunggu sendirian, tidak ada yang gantiin jaga. Maaf paman, aku belum bisa karena aku ada mid, senin depannya di adakan PAS ganjil"
"Gak apa apa Bening. Paman sangat menyesali semua kejadian yang menimpa atas mereka berdua. Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi"
"Sudahlah paman, jangan ungkit ungkit hal itu lagi. Semuanya sudah jalan nasibnya sendiri. Aku juga mengalami hal yang hampir sama. Bahkan aku kehilangan kemampuan yang ku miliki" ada sesal yang ku rasakan. Namun, kini aku punya kemampua baru bisa melihat hal yang nantinya akan terjadi.
"Pasti saat kamu mengalami kecelakaan" ulas paman.
"Namun aku merasa ada hal yang mencurigakan,,," nampak paman berpikir.
"Apa paman tahu sesuatu?" tanyaku penasaran.
"Entahlah? Namun, menurut paman memang ada sesuatu yang terjadi"
"Aku merasa seperti itu paman. Bahkan aku merasa Raya tahu sesuatu. Tapi, aku tidak bisa melihat ke masalalu. Sepertinya ada sesuatu yang menghalanginya. Makanya, aku sangat kesulitan"
"Atau memang ini memang permainan?"
"Entah lah paman?. Paman, dengarkan kan, namun aku merasa ini akan terjadi. Hanya sekedar berjaga jaga, karena aku takutkan ini akan terjadi. Saat aku koma, aku melihat masa depan. Aku tidak melihat keluarga paman terlibat karena disitu keluarga paman tidak ada. Aku tahu tempatnya. Tapi, itu nanti saja. Ini mengenaiku juga orang tuaku, termasuk, nanti yang terlibat keluarga Sanjaya dan keluarga Alex. Mereka semuanya terbunuh, dan yang membunuh adalah Riko, termasuk aku dan juga Riko, semua nya akan mati ditembak oleh Riko dengan pistol kedap udara. Paman, jika nanti terjadi sesuatu pada kami, tolong rawat jasad kami dan kubur secara layak" ceritaku panjang, menengenai kejadian masa depan yang ku alami. Rasanya aku sudah lega jikapun nantinya kejadian itu jadi kenyataan, setidaknya pamanku sudah mengetahuinya, aku tidak perlu khawatir lagi.
"Paman akan ingat hal itu. Kita berdoa saja pada Alloh mudah mudahan hal itu tidak terjadi"
"Amin. Mudah mudahan paman. Aku juga tak ingin hal itu terjadi paman"
"Ya sudah Paman pamit duku, akan menjenguk Putri dan Angga di rumah sakit jaga rumah baik-baik, kunci jendela dan pintu rapat-rapat"
"Iya paman aku akan perhatikan ucapan paman"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam paman hati-hati di jalan"
Setelah kepergian Paman rumah terasa sepi dan jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Saatnya aku istirahat supaya besok bangun bisa pagi sekali karena aku harus belajar supaya nilaiku tidak jelek aku tak ingin prestasikuan jelek karena memikirkan sesuatu hal yang belum pasti terjadi namun hal itu tetap saja menjadi sebuah pikiran buatku.
Setelah semua pintu dan jendela ku kunci dengan rapat aku beristirahat dengan tenang sebelum memejamkan mata aku berdoa terlebih dahulu.
____________
Benar saja saat kumandang subuh berkumandang. Tidurku terasa begitu lama seolah apa yang terjadi terlupakan. Aku bisa tenang walaupun hatiku masih memikirkan hal itu di dalam pikiranku.
Aku berangkat pagi aku tidak membuat sarapan rencanaku nanti akan sarapan di kantin saja saat istirahat karena mid semester itu tidak lama.
Ku jalankan motor matic dengan tenang. Dana untuk sampai ke sekolah tidaklah memakan waktu yang cukup lama kisaran 10 menitan aku sudah sampai ke sekolah Permata bangsa.
Tentu saja bukan aku yang sudah datang melainkan sudah banyak para siswa yang sudah datang karena hari ini adalah hari kelima diadakannya mid semester.
Tinggal satu hari lagi mas semester akan selesai.
Kulangkahkan kakiku menuju ke kelasku walaupun perutku rasanya minta diisi aku juga merasa sedikit kehausan. Kantin mungkin belum juga buka kalau pagi-pagi seperti ini biasanya buka nanti jam tapi perutku rasanya sudah tak kuat lagi. Bergegas aku menuju ke kantin hanya untuk sekedar memberi roti untuk mengganjal perutku.
Namun saat aku berjalan tergesa ada seseorang yang memanggilku aku tahu itu adalah Latifah.
"Hizzz,,, apa lagi ini, ada gangguan saja. Iya ada Latif?" ujarku sedikit bersungut, mana perutku sedikit melilit.
"Maaf Bening. Aku cuma mau nanya?"
"Cepat!" sentak ku tidak sabaran.
"Eh, kamu kenapa?"
"Lapar!" sungutku. dari tadi aku tidak memperhatikan mengenai Latif namun saat aku perhatikan dengan seksama mataku berbinar menatapnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba! Mungkin itu pepatah bahasa yang tepat buatku saat ini.
"Ini roti dan air mineral buatmu" sodor Latifah. Tumben saat ini lagi sakit yang sendirian tidak seperti biasanya yang selalu saja dengan kelompoknya.
"Terima kasih Latif kamu baik banget. Biasanya kalau kamu baik pasti ada apa-apanya" tebakku. walaupun dari awal tadi ingin menanyakan sesuatu hal entah apa yang ingin ditanyakan padaku.
"Kamu mau tanya mengenai apa?" ujarku lirih, sambil cari tempat yang nyaman untuk makan sekedar untuk mengganjal perutku yang sedang lapar. Latifah mengikutiku dari belakang hanya tersenyum-senyum dari tadi.
"Alhamdulillah,,," kini perutku setelah terisi tidak melilit lagi, aku bersyukur masih ada kebaikan yang aku dapatkan hari ini melalui Latifah.
"Beneran Angga kecelakaan, kan kemarinnya adiknya Putri yang kecelakaan" tanya Latifah nampak serius.
"Menurut yang aku dengar Putri dibonceng sama Alex sedangkan Angga sama Raya benar itu Bening?" tambahkan.
"Kok bisa ya kejadian mereka bareng, hampir bersamaan kecelakaannya" entah ditujukan untuk siapa ucapannya itu.
Gua tanggapi hanya dengan tersenyum datar.
"Dari mana kamu tahu semua itu?" tanyaku penasaran. Berita mengenai kecelakaan Alex dan Raya, Putri serta Angga menyebar begitu cepatnya. Entah dari mana mereka tahu semua itu padahal ketika di rumah sakit aku tidak melihat siapa-siapa hanya keluarga Raya dan Alex serta keluarga bibiku saja yang ada, sedangkan yang lain tidak ada.
atau yang menyebarkan berita ini adalah ibunya Riko, bu Kinasih karena waktu itu ibunya Riko lah yang tahu mengenai kecelakaan yang dialami oleh Putri dan Alex.
Namun mengenai kecelakaan anda keluarga Sanjaya tidak ada yang tahu. Namun entah dari mana Latifah mengetahui tentang kecelakaan yang dialami oleh Angga.
"Nggak penting. Aku hanya ingin tahu apa benar berita itu?"
"Iya benar"
Setelah itulah Latifah nampak tersenyum, senyum yang penuh misteri, entah apa maksud dari senyumnya itu aku tidak bisa mengartikannya. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hatiku mengenai senyum yang diperlihatkan oleh Latifah, namun aku simpan saja dalam hati.
"Latifah terima kasih atas roti dan air mineralnya ya"
"Woles aja. Oh iya nanti kan mid semester, tolong aku ya jika tidak aku tahu jawabannya"
"Huuhhh,,, endingnya tidak enak banget"
"Ha ha haaa,,,," Latifah malah tertawa lebar sambil melenggang pergi, meninggalkan ku sendirian ditaman sekolah, dikursi putih panjang.
Aku pun bergegas menuju ke kelas ku karena sebentar lagi akan dimulai midnya.
Tentu tidak ada Alex karena Alex sedang berada dirumah sakit.
Aku duduk sendirian, biasanya ditemani, serta dijahili olehnya. Sekarang terasa sepi tanpa kehadirannya.
Rencananya hari ini aku akan menjenguknya. Walaupun hari minggu sore bisa boleh pulang.
___________
Saat akan pulang, aku dikejutkan dengan panggilan seseorang yang sempat ku lupakan. Entah, ada angin apa beliau mencariku. Sikapnya makin dewasa, tubuhnya juga terlihat sempurna. Aku bergetar merasakannya. Namun, sebisanya aku menepis perasaan yang tiba tiba menggelitik hatiku.
"Mmm, ma- pak,,, ada apa?" tanyaku kikuk karena mendadak hatiku bergetar hebat.
Senyum khasnya mampu mengalihkan dunia.
"Aku kangen sama kamu!" ujarnya jujur, masih menampilkan senyumannya.
"Jangan panggil pak. Sudah di luar jam pelajaran" ulasnya.
Sebenarnya, aku ingin memanggilnya mas, tapi aku masih canggung serta malu jadi aku panggil Pak. Terlebih ini masih lingkungan sekolah.
"Kamu gak percaya Dek, kalau aku kangen banget sama kamu?" ucapnya lagi, seperti menyakinkan.
"M- pak,,, maaf,,,-"
"Dek, jangan panggil pak. Panggil mas saja, ya. Kamu mau kan datang ke apartemenku?"
Sudah lama aku tidak pernah berkunjung ke apartemennya, semenjak terakhir pertemuanku di bioskop yang hampir membuatku celaka. Kini aku baru ingat. Pantas tadi aku sedikit kebingungan. Entah mengapa, tiba tiba aku ingat dengannya.
Aku juga ingat tentang seseorang yang dekat dengannya. Aku juga, baru ingat kalau mas Surya nantinya bakal terlibat akan masalahku dikelak kemudian hari. Apa benar jika rangkaian masa depan yang ku lihat benar benar akan terjadi. Secara tidak terduga, mas Surya datang menemuiku. Ini seperti sebuah scenario yang bakal terwujud.
Kini aku menjadi ragu, ingin aku tanyakan hubungannya dengan laki jadi jadian seperti Cindy yang nama sebenarnya adalah Sandy Pranata.
"Maaf, aku belum bisa, karena aku nunggu rumah pamanku"
"Jadi benar Angga dan Putri kecelakaan, sama Alex dan Raya"
"Benar"
"Aneh? Kejadiannya seperti terangkai"
Ku mendesah pelan...
Angan mas Surya seperti menerawang.
Sebagian murid yang melihat kehadiran mas Surya menatap heran, tak percaya jika akan menemuiku. Berbagai pandagan dilayangkan kearahku. Mereka tidak ada yang berani mendekat, karena sikap mas Surya sangat berwibawa membuat para murid jadi segan padanya.
"Jadi maaf, aku tidak bisa kemana mana, terlebih buat datang. Ehmmm,,," aku jadi ragu untuk bicara selanjutnya. Sebenarnya ingin aku tawarkan untuk datang ke rumah pamanku, tapi aku merasa tak enak. Karena keadaan lah yang membuat rasa jadi canggung, tapi sikapnya bahkan biasa saja. Walaupun ku lihat, mas Surya nampak menarik nafas berat.
"Boleh aku datang ke rumah, Dek?" tawarnya tanpa ragu.
Deg!?
Tentu, aku tidak dapat berkata apa apa, mencari alasanpun bingung. Jadi, aku hanya bisa terdiam ditempatku, kaku.
"Dek, bagaimana? Bolehkan aku main kerumah. Dek, aku kangen sama kamu!" harapnya memelas.
Aku harus jawab apa?. Bingung, tentu saja karena bukan rumahku. Dan juga aku sendirian.
"Sudahlah m- mas,,, tidak usah memikirkan hal itu. Pikirin perasaan yang lain" pungkasku. Ingatan tertuju pada Cindy. Aku tidak tahu, apakah mas Surya tahu mengenai jati diri sesungguhnya Cindy itu siapa sebenarnya. Atau, memang benar jika Cindy itu ada kerja sama dengan keluarga Sanjaya. Riko ingin jadi penguasa tunggal keluarga Sanjaya. Jika ingat itu semua, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.
"Terima kasih Dek, akhirnya kamu mau memanggilku mas lagi"
Aku hanya diam...
"Kapan mas liburan ke Jawa-nya?" tanyaku. Entah mengapa ku tanya kan hal itu. Padahal, tadi aku ingin tanyakan tentang Cindy, ku urungkan niatku.
"Tidak Dek, aku belum niatan buat pulang"
"Oh,,, kenapa mas?"
Tak ada jawaban...
"Bukankah dulu mas berencana untuk pulang, bahkan mengajakku"
"Buk- bukan seperti itu, Dek"
"Apa yang mas sembunyikan?"
"Eh, tidak ada, Dek"
"Benar itu mas. Mas tidak bohong sama aku. Mas tidak membohongiku kan?" desakku.
"Jangan sampai hal itu berakibat fatal" imbuhku.
"Jujur mas, aku tidak ingin nantinya membencimu kan? Seperti halnya tentang Cindy?"
"Maksudmu apa, Dek?" tanya mas Surya penasaran.
Sudah tidak perlu diperjelas, ku naiki motor maticku.
"Dek, dek,,, dek, tunggu? Apa maksudmu?" serunya tertahan dengan raut kekecewaan. Meninggalkan nya sendirian diparkiran karena sengaja menemuiku.
Saat ku tengok, segerombolan cewek amburadul datang, siapa lagi kalau bukan rombongan Latifah dan kawan kawan.
"Huuhhh,,," sorak mereka berbarengan.
Dengan santainya mas Surya melangkah pergi tanpa peduli dengan mereka yang seolah mencibir nya.
____________
Aku duduk santai menikmati acara tivi yang tersungguh dengan volume sedang. Bosan menderaku, tapi mau bagaimana lagi.
Rencana mau jenguk Alex terlupa karena ketemu dengan mas Surya. Pada hal cukup lama aku tidak berinteraksi dengannya, tapi entah mengapa mas Surya tiba tiba datang menemuiku.
Pikiranku kemana mana..
Tok, tok, tok,,,,
"Assalamualaikum,,," ketukan pintu serta salam mengagetkanku. Suara khas, familiar. Tentu saja aku agak kaget dengan kedatangannya.
Dengan gegas aku segera membukakan pintu...
"Waalaikum salam,,," saat mukanya terlihat dengan senyum khasnya. Senyum yang mampu menggetarkan jiwaku. Bahkan detaknya begitu keras terasa. Tapi hanya aku yang tahu hal itu. Entah, mas Surya bisa merasakan hal itu apa tidak.
Mas Surya memakai kaos putih serta memakai celana jeans hitam. Terlihat gagah serta macho. Dadaku makin deg degan lihat tubuhnya yang atletis dibalik kostumnya yang pres tubuh. Sungguh aku terpesona dengannya malam ini.
"Dek, lihatnya sampai segitunya. Aku gak kemana mana. Nanti jatuh cinta lho" ledeknya sambil mesam mesem. Pamerkan otot lengannya yang mengembung sempurna. Detakan jatungku makin bertalu talu.
"Ihh, siapa juga yang liatin situ. GR amat" kilahku, menutupi rasa kagumku padanya.
"Iya, maaf Dek" ujarnya mengalah.
Itulah yang ku suka darinya, selalu pengertian. Rasanya pengen peluk. Aku seperti murahan jika itu terjadi.
"Masuk mas" ku persilahkan masuk karena agak termangu didepan pintu, mengagumi makluk Tuhan paling perfect. Setelah debaran yang ku rasakan perlahan normal.
"Iya Dek" balasnya singkat.
"Kok malam kesininya mas"
Aku sambil berjalan masuk setelah ku tutup pintu rapat.
Entahlah, motor milik mas Surya dikunci pengaman atau tidak. Sepertinya biasa saja.
Duduk diruang tengah saling berhadapan. Canggung pasti ada. Namun, sikap mas Surya seolah biasa. Kesini pun tidak ada pertanda. Mungkin karena tidak ada ancaman.
"Sudah ku bilang, aku kangen kamu Dek" sambungnya, pada itu sudah dikatakan berkali kali. Entah itu dari hatinya atau hanya sekedar gurauannya.
Dadaku mendadak sesak untuk hal yang diucapkannya. Apa dia sudah melupakan semua yang telah dilakukannya selama ini.
Setelah ku tenangkan debaran hatiku dan setelah tenang.
"Kenapa Dek?"
"Hmm,,, apa mas masih punya hubungan dengan Cindy? Satu lagi, mas tahu tidak siapa sebenarnya nama aslinya Cindy?" tuturku, menanyakan tentang pribadinya. Karena selama yang ku tahu mas Surya sangat dekat dengan laki jadi jadian itu.
"Kenapa mas? Apa pertanyaanku berat mas, jawab?" ulasku lagi karena mendadak mas Surya terdiam.
"Dengar Dek?" balasnya gusar. Namun, tetap terlihat tenang.
"Masih ku selidiki, karena aku tidak tahu banyak tentang dia" imbuhnya.
"Jadi selama ini mas tidak tahu. Mas tahu tidak kalau laki jadi jadian itu sangat berbahaya buat mas" jelasku singkat. Tapi tidak semua ku terangkan. Karena aku tidak tahu apa benar benar mas Surya tidak tahu mengenai informasi tentang Cindy sebenarnya, aku tahu itu dari saat aku koma.
"Maksudmu apa Dek?"
"Aku tidak akan menjelaskannya? Mas cari tahu sendiri, sekalipun mas sibuk"
Hening sejenak....
"Mas masih berhubungan sama Cindy. Terus terang, jangan berbelit" ulasku lagi agak tegang. Ingin tahu jawabannya. Apakah mas Surya berano jujur mengakuinya.
"Ak- u,,," balasnya terbata. "Ya! Ku akui aku salah. Aku masih berhubungan dengan Cindy atau siapa dia sebenarnya, aku tidak mengenalnya selama ini. Aku sudah jujur sama kamu dek, mengenai perasaanku selama ini" wajahnya nampak serius kali ini.
"Apa maksud perkataanmu tadi Dek? Apa kamu tahu mengenai siapa Cindy itu sebenarnya?" tegasnya, dengan tatapan tajam. Memang aku merahasiakan nya dulu. Mas Surya tidak perlu mengetauinya dulu.
"Putuskan Cindy, putuskan dia, tinggalkan dia demi keselamatan mas Surya suatu saat nanti" ujarku walaupun tidak berterus terang.
"Dek katakan, sebenarnya apa yang kamu ketahui?. Oke, aku akan meninggalkannya jika kamu mengatakan yang kamu ketahui"
"Janji!"
"Iya, aku bersumpah"
"Baiklah. Dengar, ini mengenai apa yang di alami, baik, Putri sama Alex, Angga sama Raya, ini ada hubungannya dengan penglihatanku sebelum kejadian itu terjadi, aku diperlihatkan dulu. Aku coba peringati mereka tapi tidak didengar"
"Apa hubungannya?"
"Ada kaiatannya. Karena disaat aku koma aku melihat dengan jelas Cindy itu ada kerjasama dengan keluarga Sanjaya. Cindy itu nama aslinya Sandy Pranata, dan karena dia ada andil dalam aksi pembunuhan yang dilakukan oleh Riko. Mas tahu lokasi tempat hutan lindung. Disitu ku lihat ada sebuah markas. Riko lah yang jadi pimpinannya, ku rasa pak Mahendra dan bu Kinasih tidak tahu akan hal itu. Aku juga kehilangan semua kemampuanku, mas Surya bisa mencelaksiku kalau mas mau, karena aku saat tidak memiliki kemampuan apa apa lagi"
"Dek?" Terlihat sekali mas Surya nampak terkejut. Mendengar penjelasanku karena aku tidak memiliki kemampuan lagi. Bisa terlihat dari wajahnya. Terlebih mengenai Cindy.
"Jadi nama asli Cindy itu Sandy pranata?" ulasnya menyakinkanku. "Bahkan aku tidak tahu nama aslinya"
"Mas boleh tanyakan padanya, kalau dia mau jujur. Tapi, aku kurang yakin jika Cindy mau berterus terang. Jauhi dia mas, itu demi kebaikan mas sendiri"
"Apa kamu tidak curiga padaku?"
"Dari awal aku tidak dapat pandangan apa apa jadi mas Surya tidak berbahaya buat. Jika pun berbahaya, maka aku bisa menghidar supaya tidak terjadi apa apa padaku"
"Aku akan mencobanya, Dek"
"Sebelum semua terlambat. Jika pun apa yang ku lihat benar terjadi, maka aku tidak bisa merubah TAKDIR-ku" pungkasku dengan apa yang pernah ku ketahui. Ku coba buat memperingati mas Surya kalau mau dengar aku. Tapi, dia tidak akan mudah percaya begitu saja karena aku tidak tahu kapan waktunya akan terjadi.
"Maka aku akan MATI!"
"Kok ngomong gitu dek. Itu kan belum terjadi. Bisa saja itu hanya ilusi. Gak usah kepikiran hal itu"
"Dari dulu aku coba buat ngelupainnya, tapi hal itu begitu membekas dalam ingatanku. Bahkan semakin aku lupakan, maka makin jelas. Bahkan orang orang yang terlibat sudah aku beritahu, jadi aku tidak punya beban lagi" ku akhiri cerita apa yang pernah ku alami ketika aku koma.
"Sudahlah Dek"
Tanpa terasa mas Surya memelukku, memberiku ketenangan.
Hingga aroma tubuhnya menyeruak kehidungku. Manly. Aroma yang dulu pernah ku hirup sepuasnya. Bisa ku rasakan ke alotan tubuh perkasanya. Bahkan dibawah seperti ada yang menonjol, tegang.
Mas Surya terlihat cengengesan katika tadi miliknya nyenggol. Entah mengapa saat memelukku, miliknya sudah, tegang keras. Tapi, tak berani ku tanyakan hal itu, hanya mendiamkannya. Semula tadi aku plong dan tenang, kini dadaku bergemuruh. Detak jantungku tak menentu. Bukan aku saja, melainkan hal yang sama terjadi pada mas Surya.
"Maaf Dek" nafasnya terengah, menahan ketegangan.
"Untuk apa? Aku ngatuk mas" kilahku karena besok terakhir mid.
"Mas mau nginap disini?"
"Kalau diijinkan. Untuk ini" tunjuknya tanpa malu malu lagi pada senjata yang menegang sedari tadi.
Meluk aku sampai begitu mudahnya tegang.
"Masukkan motornya disamping" gegasku kedepan diikuti mas Surya. Ku tutup pintu serta ku kunci rapat. Menuju kearah samping untuk membukakan pintu untuk memasukan motor gedenya.
Ku lihat jam didinding membuatku kaget. "Sudah malam" gumamku lirih. Diikuti oleh mas Surya.
Tentu saja masuk ke kamarnya Angga selama ini aku menempatinya.
Sudah masuk ke kamar...
Mas Surya menatapi apa yang ada isi didalamnya. "Rapi,,," gumamnya lirih. Aku dengar itu. Hanya diam tersenyum.
Bahkan tanpa ragu ragu mas Surya melepas kaosnya seperti berada di kamar apartemennya sendiri, padahal ini kamar milik Angga. Tubuhnya nampak berkilat terkena cahaya lampu, perfect. Sungguh tiada duanya, keindahan pemandangan yang ada didepanku.
Dadanya bergemuruh. Kembang kempis, menampilkan roti sobeknya. Reaksi tubuhku gemetar ku rasakan. Begitupun mas Surya. Seperti ada aliran listrik yang merambati dialiran darahku.
",,, Dek" tatapannya sayu. Nafasnya sudah terputus putus. Jika seperti itu, mas Surya tidak kelihatan berbahaya, namun begitu, aku harus berhati hati.
Kini aku ingat benar, saat mas Surya menelpon seseorang serta memanggilnya dengan sebutan ayah. Yang ditelponnya tentulah itu ayahnya. Hampir beberapa kali aku membunuhnya, namun selalu selamat.
"Dek, tak lepas semua ya" ijinnya, dadanya bergemuruh, perutnya yang ada bulunya kembang kempis.
Maka kini, keadaan mas Surya bagai nabi Adam yang diturunkan ke bumi.
__________
Jm 16/12/2022.
Komentar
Posting Komentar