227. Maafkan Aku, mas? (Area +18)

 Bab 227. Maafkan Aku, mas? (Area +18)


★★★★


Malam kian merambat, tentu saja aku gelisah dalam tidurku yang tak bisa lelap ada makhluk sempurna ciptaan Tuhan.


Ku coba untuk tenangkan hatiku sejak ku mulai rebahan. Walaupun mas Surya toples karena merasa gerah karena keadaan.


Duarrrr,,,,!


Hujan tiba tiba mengguyur deras. Diselingi detuman petir yang menggelagar, itu hanya selang beberapa menit saja, bahkan hujan tumpah ruah mengguyur bumi tiada habisnya.


Walaupun didalam kamar, tetap saja aku ketakutan dibuatnya.


"Kamu ketakutan dek?" tanya mas Surya iba melihat keadaanku yang mengigil.


Rasa dingin merasukiku, seakan angin menerpa tubuhku. Bahkan suara mas Surya seperti tenggelam dalam derasnya hujan serta angin yang bertiup kencang. Sungguh mengerikan, jika tidak ada pepohonan disekitaran sebagai tameng, tidak sama seperti dikampung.


"Sini mas peluk" ucapnya tanpa bisa ku cegah karena rasa ketakutanku.


Ach,,,


Rasanya langsung tenang dan hangat, tubuh mas Surya begitu terasa hangat memelukku, rasa dingin yang tadi merasuki langsung sirna.


Bisa ku rasakan debaran didalam dadanya, detak jantung nya. Lagi lagi tanpa ku sengaja aku menyenggol sesuatu dibawah yang sudah tegang.


Namun aku diam saja hal itu.


Nafas mas Surya juga sedikit aneh, agak tersengal, apa begitu hebat reaksi tubuhku hingga mas Surya begitu kesangean ketika memelukku.


"Dek,,, hupfff,,,?" ucapnya menggantung.


"Terima kasih mas" kataku, bukannya tidak ku respon ucapannya. Namun, aku dihadapkan pada situasi yang membingungkan.


Mataku sudah tidak bisa ku kompromi lagi sangat berar. Wajahku ketenggelamkan didada bidangnya, aroma musclenya nguar, namun dengan cepat ku tepis rasa itu hingga perlahan namun pasti, aku tenggelam dalam alam mimpi. Entah mengapa, aku begitu ngatuk berat. Mimpi yang begitu indah. 'Maafkan aku, mas,,,!'


Aku teringat sesuatu ketika awal tadi mas Surya membawakan minuman. Es boba. Atau...?.


Mimpiku kali ini terasa aneh, mas Surya berdiri dihadapanku, tububnya yang tidak tertutup nampak berkilat, karena minyak ditubuhnya. Makin seksi, sempurna dengan nafas yang terengah engah.


Tanpa ijin, mas Surya melumat bibirku bahkan begitu rakusnya, nafasnya menerpa wajahku. Kumisnya mengenai ku.


"Dek, bibirmu terasa manis. Aroma tubuhmu yang bikin aku sangean jika dekat kamu" bisiknya lirih hampir tertutup dengan deru nafasnya. Bahkan telingaku dijilatinya, lalu kulum pelan tentu saja ku rasakan beda. Leherku juga jadi sasaran selanjutnya. Di beri tanda kepemilikannya. Sebanyak tiga kali, cukup dalam. Ku yakin itu sangat membekas. Lalu dijilat jilatnya pelan, menyusur kebawah dengan nafas yang makin membabi buta. Dengan rakusnya mencucupinya nenenku bergantian. Digigitinya kecil kecil membuat tubuhku melengkung, gairahku kian berkobar.


Merambat kebawah dengan lidahnya, ditengah tengahnya, perutku jadi sasaran selanjutnya. Dikecup kecup manja, pelan penuh rasa. Nafasnya menerpa panas, terputus putus. Apa yang dilakukannya, hal itu hampir membuatku memuntahkan isinya. Seketika mas Surya menghentikan aksinya.


("Dek, aku sudah gak tahan lagi,,," ucapnya, tubuhnya kian mengkilat.


Aku yang dalam keadaan terlentang pasrah, kini disungguhi oleh pentungan juga, diujungnya sudah pad memeleh air madzi, tak bisa menampung lagi.


Ku beri isyarat iya dengan tatapanku. Mas Surya nampak tersenyum penuh arti.


Batang jumbo miliknya disodorkannya. Dengan suka cita ku terima dengan senyum mereka.


"Hmmm,,,?" gumam mas Surya keenakan saat batangnya sudah diujung mulutku.


Ku jilati layaknya es krim, air madzinya ku seruput nikmat. Tak sampai di situ, kepalanya ku kulum juga.


Sungguh rasanya begitu nikmat terasa.


Perlahan namun pasti, batangnya dilesakkan masuk kedalam, namun aku bisa menerima batangnya yang makin dalam menyentuh tenggorokan.


"Hmmm,,, oughhhh,,, hmmm,,," lenguhnya kenikmatan.


Mas Surya berada di atasku, hingga buah dazakarnya menyentuh hidungku, aroma bisa ku cium. Aku makin terangsang hebat. Dalam diriku seperti ada yang mendesak perlahan.


Kini mas Surya memulai aksinya, mengentoti mulutku, maju mundur penuh ritme. Cukup lama dilakukannya. Hingga tubuhnya makin berkeringat, perutnya kembang kempis. Jembutnya yang tebal menyentuh bibirku. Nafasnya kian ngos ngosan tak terkontrol. Sesaat tubuhnya menegang. Mengejan. Kuat. Tubuhnya makin tertonjolan. Sesaat nafasnya ditahannnya.


Bukan hanya mas Surya, tubuhku juga berkeringat akibat desakan batangnya yang mengetoti mulutku, walaupun dilakukan agak slow.


"Oughhhhh,,, heeegggg,,,!" matanya setengah terpejam, dengan kepala tengadah keatas, detik selanjutnya ada suatu pancaran yang membucah dimulutku. Sangat kental, beraroma khas. Begitu banyaknya. Bahkan dimasukan lebih dalam hingga semua pejuh hangatnya langsung tertelan. Dikedut kedut untuk sesaat. Didiamkannya didalam. Tapi, tak kunjung kendor, masih tegang perkasa dimulutku. Perlahan mas Surya menariknya, serta agak memencetnya. Tapi, saat sudah diujung lingkar kepalanya, ku tahan. Karena ingin ku kenyot pelan, untuk sensasi yang tak akan pernah dilupakannya.


"Ya Alloh, Awww,,, hessshhh,,, awwww,heessshhh, ngilu dek, tapi uenakk,,, haahhh,,," lenguhnya pelan. Tapi aku ingin lama ngemutnya karena saat akan dilepas aku menahannya dan membisrkanya batangnya ku emut terus.)


Mas Surya menarik nafas berat, tersenyum penuh arti sambil merebahkan tubuh besarnya, tapi dibiarkan batang dimulutku. Bahkan dengan nakalnya ku kenyot membuat yang mpu-nya kelojotan nikmat tapi tak berusaha melepasnya. Perasaanku makin bahagia. Walaupun tidak semuanya masuk ku kulum, bahkan aku sambil pegangi batangnya yang masih tegang sempurna. Ku permainkan dua buah bola dibawahnya, mas Surya hanya bisa pasrah saja ku perlakukan seperti itu.


Mungkinkah mimpi yang alami ini REAL, atau ILUSI?.


Bangun  pagi subuh, mulutku rasanya ada yang berbeda serta sekujur tubuhku terasa lebih tapi segar, namun ku abaikan hal itu. Karena saat bangun mas Surya masih dalam keadaan memelukku hangat. Ada seulas senyum tersungging disana, seperti merasa puas, akan tetapi aku hanya bisa menggeleng lemah, tersenyum simpul.


Hanya memakai celana dalam jika tidak ku cegah, pasti bugil, itu pun tidak mau diselimuti.


Aku teringat minuman yang dibawakannya semalam, ingin aku tanyakan namun ku urungkan niatku.


"Mas bangun, sudah pagi"


"Males dek, kan hari minggu" jawabnya ngeles.


Padahal aku merasa gak enak terlebih ini bukan rumahku ataupun apartemennya.  Bisa saja salah satu keluarga paman datang, ataupun keluargaku kesini, aku harus beralasan apa. Rasa takut pasti ada, terlebih jika ketahuan terlebih mas Surya keadaannya seperti bayi besar, hanya memakai cawat putih saja, itupun batangnya kelihatan tegang dibaliknya. Tubuhnya terpahat sempurna.


"Mas, aku gak enak. Bagaimana jika nanti ada yang datang?"


"Baguslah. Aku bisa ngomong buat jadi teman kamu, karena kamu sendirian dirumah ini"


"Mas,,," potongku tak bisa bicara lagi.


"Iya Dek" balasnya cuek. Malas. Bahkan tangannya ditaruh dibawah kepala hingga bebuluan di ketiaknya nyembul, hal itu menyebabkan detak jantungku berpacu seketika. Bahkan aku langsung teringat mimpi semalam yang terasa begitu nyata. Tadinya tubuhku letih, kini terasa segar, seperti dapat asupan gizi atau pun tenaga baru. Kelihatannya mas Surya juga terlihat enjoy, kadang adakalanya senyum senyum simpul seperti nyembuyiin sesuatu.


Oke!


Aku bangun, menatapi tubuhnya, serta ku tatap kearah matanya sendu. Kali ini aku harus tegar dan kuat menghadapi nya. Tak boleh lemah karena melihatnya pasrah.


"Aku mau dua hal yang terjadi padaku. Oke. Mas tidak tahu tentang Cindy tapi kini mas Surya sudah tahu siapa Cindy sebenarnya. Pertama, mas kasih apa diminuman yang mas bawa semalam. Kedua, semalam mas ngelakuin apa padaku?" cercaku dengan dua pertanyaan sekaligus. Aku ingin tahu jawabannya apa.


Wajah mas Surya berubah walaupun tidak memucat, namun seperti memikir sesuatu serta bingung buat jawabnya.


"Mas,,,!" panggilku keras, hal itu menyebabkannya kaget. Ku pegang dadanya, ku sentuh bibirnya, serta ku susuri bagian perutnya sampai kebawah. Ku masukkan telapakku kebalik cdnya, bisa saja ku lakukan, ku singkap cdnya. Tapi tidak ku lakukan. Ku pegang urat batang perkasanya. Dia sedikit meringis, serta terlihat aneh. Rasa penasaranku memuncak disaat ku rasakan keanehan yang terjadi. Maka, ku sikap cdnya, ku lorotkan kebawah. Mas Surya tidak melakukan apa apa hanya pasrah saja. Mataku kagum melihat bentuknya yang memang panjang, gede, perkasa, berurat menonjol nampak sangar.


Terlihat aneh memang saat ku lihat, mengkilap. Aku mendekati batang miliknya yang tegangnya full, bahkan nampak lelehan percum diatasnya. Sange lagi.


Bahkan ku cium. Ada aroma khas. Aku tahu aroma ini. Ku tatap tajam, dia hanya nyengir kuda.


Masih ku pegang gemas. Sembari ku kocok, tak ada penolakan.


"Jujur mas, ini apa? Semalam apa yang mas lakuin ke aku?"


"Iya, maaf dek. mas masukin obat tidur. Mas juga ngelakuin ke kamu dek. Mas telah masukin batangku ke mulutmu Dek" jujurnya.


"Jad- jadi semalam mas ngelecehin aku. Mas gunain apa ke aku? Oh, aku ingat sekarang, mas pernah bilang ilusi ke aku. Apa mas gunain ilmu ilusi ke aku, jawab" tatapku tajam padanya. Tanpa rasa salah mas Surya hanya mengangguk cuek.


"Jadi mas lakuin semua itu padaku. Ya Alloh, mas" ku lepaskan peganganku. Mas Surya langsung memelukku karena aku sedih.


"Dek maafkan aku" lirihnya. "Aku benar benar sayang padamu, Dek" lanjutnya dengan dada bergemuruh.


"Maaf aku mas, aku tidak bisa seperti dulu lagi. Mungkin buat mas ini berarti. Aku tidak munafik dengan perasaanku. Namun, tujuanku hanya ingin fokus belajar"


"Dek, dengarkan aku. Aku tidak peduli kamu mengacuhkanku, atau apa pun itu. Namun, yang pasti aku sayang sama kamu, bahkan mungkin telah jatuh cinta"


"Itu tidak benar mas. Lalu, apa yang mas lakuin. Mas menghianati perasaan mas sendiri, hingga kini bersama Cindy. Lelaki jadi jadian itu sangat berbahaya buat mas. Apa mas gak sadar hal itu" raungku lirih, kesal dan emosi dengan sikapnya. Hanya badannya yang gede tapi pikirannya kayak udang. Cibirku dalam hati.


"Jika kamu sadar sepenuh, aku tahu kamu pasti tidak mau ngelakuin-"


"Aku kecewa dengan mas karena telah bersama Cindy. Ternyata benar fellingku kalau dia sangat berbahaya"


"Aku juga kecewa sama kamu Dek, kamu banyak yang menyukai, Angga, Riko bahkan Alex"


Jadi selama ini mas Surya cemburu pada mereka. Tentu hal itu manusiawi.


"Mas CEMBURU sama mereka-?"


"Iya, aku cemburu sama mereka, sama kamu.  Banyak yang menyukaimu, itulah yang membuatku cemburu, Dek"


Kini aku mengerti, jika hal itu yang menyebabkannya seperti ini.


"Mas akan seperti ini. Hari ini akan pergi, aku akan menjenguk Alex-!?"


Ups, tanpa sadar ku sebut nama orang yang membuatnya cemburu. Mata jernihnya langsung membulat, tanda tidak suka.


"Maaf kan aku mas" ku tangkupkan kedua tangan ku untuk meminta maaf.


"Please,,,!" mohonku, terlihat bibirnya ditekuk.


Maka hal tak terduga ku lakukan, biasanya ini akan manjur untuk meluluhkannya.


Tadi aku lupa menutupnya. Maka detik itu juga ku pegang batangnya yang pantang kendur. Stamina yang benar benar strong, apa gak capek dari mulai terbangun sampai kini masih true on.


("Hessshhh,,, aaahhhh,,," lenguhnya lirih karena dengan nakal ku kocok batangnya yang tegang.


"Awww,,, heessssh" desahnya lagi, karena ku kocok penuh ritme. Pelan, agak cepat, cepat. Makin tegang sempurna. Karena tidak butuh waktu lama, nampak makin memerah.


"Ak, akhhh,,, hupfff" tubuhnya makin menegang. Dan akhirnya, air maninya pun membucah, sangat banyak mengenai perutnya sebagian tanganku berlepotan.)


Mas Surya nampak menenangkan gemuruh didadanya serta nafasnya yang ngos ngosan mulai normal kembali. Tapi tetap aja batang tak mau loyo membuatku cuma geleng geleng heran.


Setelah tenang dan normal, menyuruhnya untuk mandi.


"Mas mandi junub" suruhku, didengar atau tidak nya.


"Bareng yuk dek" ajaknya. Ku jawab dengan gelengan kepala.


'Maaf mas!' senyumku terkulum. Terlihat wajah kecewanya.


Ya Alloh sampai lupa waktu. Sekilas ku kecup bibirnya...


Setelah itu langsung ngibrit, nyambar handuk. Masuk ke kamar mandi. Karena sekarang ada kamar kamar mandi tambahan.


"Dek Bening, kamu nakal ya,,, ha ha haaa,,, awas kamu ya" ancamnya dengan candaan, mas Surya tertawa girang dengan apa yang ku lakukan, terlalu binal. Biarin, hidup harus dinikmati.


__________


Hanya bikin teh hangat, tanpa camilan. Ku nikmati bersama mas Surya yang sesekali nampak tersenyum ceria. Sedang duduk santai diruang tengah.


"Dek, kamu jadi ke rumah sakitnya?" tanya mas Surya, memastikan.


",,, Jadi mas. Memang ada apa?" tanyaku balik, karena ingat tadi keceplosan menyebut Alex.


"Bagaimana kalau aku antar dek, sekalian cari sarapan. Kita belum sarapan"


"Apa gak merepotkan mas?"


"Gak, aku juga ingin jenguk mereka"


"Mas gak marah lagi sama aku"


"Buat apa? Aku bukan anak kecil lagi, Dek"


"Tapi mas-?" Tubuhku seperti tersentak. Setelah itu aku melihat sesuatu hal. Hal yang tak terduga. Hal yang tentunya akan membuatku juga mas Surya kaget karena tidak menyangka bakal bertemu seseorang. Gambarannya begitu jelas ku lihat.


"Ada apa dek?" tanya mas Surya keheranan. Tentu hal itu membuatnya bertanya tanya, terlebih melihat keanehan yang pertama kali terjadi serta melihatku dalam keadaan biasa.


"Dek, apa yang terjadi sama kamu? Kamu kenapa seperti tersentak tadi?" cercanya dengan pertanyaan berturut turut karena bingung.


"He he,,, gak ada apa apa mas" pungkasku tak ingin jujur apa yang bakal terjadi nantinya pada mas Surya. Lebih baik dia tidak tahu dulu, karena belum tentu nantinya bertemu dengan orang yang ku lihat.


Mungkin ini awal dari kebenciannya padaku karena aku bersama mas Surya, orang yang disuka bahkan mungkin di cintainya.


Ya Alloh, aku berharap apa yang ku lihat tidak akan pernah terjadi?


"Dek?" panggilnya.


"Iya, ya ada apa mas?" ucapku tergagap karena kaget, aku sedang mikir bagaimana cara menghidarinya.


Sarapan? pikirku.


Kejadiannya pass nanti sedang sarapan, di sebuah kedai.


"Kok melamun. Apa yang kamu pikirkan dek?"


"Mas, nanti bisa gak makannya tidak dikedai?"


"Lho, kok kamu tahu dek, kalau aku akan mengajakmu makan disebuah kedai? Darimana kamu tahu?"


"Lupakan soal itu!" tegasku.


"Tapi, makanan disana murah murah, juga enak Dek?"


Murah, enak tentu hal itu jadi tolak ukurku, karena hidupku pas pasan, tidak mau merepotkan mas Surya walaupun nantinya aku akan ditraktirnya.


"Tapi mas?"


____________


Sb 17/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.