228. Ragu.

 Bab 228. Ragu.


★★★★★


"Tidak ada tapi tapian"


"Sudahlah" akhirnya aku menyerah.


____________


Akhirnya dengan dipaksanya aku, menuruti permintaannya. Diboncengnya, serta dibawanya membelah jalanan kota yang tidak terlalu ramai. Tapi, hari minggu banyak keluarga yang berekreasi ketempat hiburan di Jakarta sangat banyak, tinggal pilih mana yang jadi tujuan.


Hatiku berdebar debar bukan karena aku disuruh memeluk pinggang kokohnya, tapi aku khawatir dengan penglihatanku pada orang yang nantinya akan bertemu.


Cukup lama perjalananku saat ini. Walaupun dalam bayangan aku sudah bisa menduga tempatnya dimana. Sekalipun tempatnya sangar asri, seperti keadaan area pedesaan, bahkan ada kolamnya serta bangunan yang mirip gubuk disawah yang ada di kampungnya, berdiri ditengah kolam, sungguh pemandangan yang sangat asri, enak dipandang mata.


Tak selang berapa lama, kami memasuki sebuah area...


"Sudah sampai Dek. Ayo turun. Dari tadi ngelamun aja. Mikirin orang akan kita temui, siapa orangnya Dek?" tanya nya penasaran karena aku tidak mau memberitahunya.


"Nanti mas juga tahu orangnya, kok" jawabku masih ku rahasiakan.


"Riko ya?" Tebaknya. Sambil berjalan, kini mengiringiku karena aku berada dibelakangnya.


"Bukan" jawabku singkat. Dari ucapannya, masih ada rasa cemburu tersirat. Tentu, tidak ditujukan untuk Alex. Tapi, masih segar diingatanku akan ucapannya yang menyatakan kecemburuan nya pada mereka yang ku kenal. Terlebih nanti, saat berada dirumah sakit, pasti mas Surya akan cemburu. Tapi, dia belum tahu kalau aku dan Alex sudah agak regang karena hubungannya dengan Putri. Pun dengan Angga yang lebih memilih Raya buat pergi kencan. Belum juga melepaskan syahwatnya tapi keburu kecelakaan duluan. Syukurin. Biar tahu rasa mereka semua.


"Lalu siapa?"


Tak ku jawab, hanya diam.


Ketika kita memasuki area ruangan yang luas, seperti ada ruang untuk pesan, serta tempatnya yang untuk nantinya diantar, karena area agak luas serta asri. Ada pohon kelapa hibrida yang tumbuh subur sedang berbuah lebat.


Pasti dikirannya mas Surya gak ganti baju semalam, tapi aku duga seperti itu, tapi persepsi salah. Ternyata mas Surya bawa pakaian ganti. Makin muscle, macho serta keren, bahkan saat berpas pasan dengan para cewek, mereka tertegun, sampai tak berkedip dibuatnya, melambai kegenitan, berharap bisa mengenalnya lebih dalam. Tapi, mereka salah persepsi kalau cowok bersamaku itu tidak suka mereka, bukan berarti tak suka cewek, tapi kecewa dengan makhluk yang namanya cewek.


"Dek, kita cari tempat yang diujung" ucapnya, mengajak ku jalan lagi. Sepertinya mas Surya sering datang ketempat ini.


"Mad duluan, aku mau ke toilet dulu" karena urine ku minta dibuang.


"Hadeh,,," keluhnya agak kecewa dengan ku. "Cari tempat paling ujung ya Dek, aku disana" jelasnya.


"Iya, huh,,," sungutku. Mas Surya berlalu, aku akan mau kearah toilet. Ku lihat sekelebatan seseorang yang familiar. "Hah itu,,,?" Dadaku berdebar. Untuk orang itu tidak melihatku, atau hanya pura pura tidak memperhatikanku.


Namun, aku cuek, bergegas berlalu menuju ke toilet akan tetapi pikiranku masih tertuju pada orang tersebut.


Selang, sekembaliku dari toilet mencari tempat yang dimaksudkan oleh mas Surya, tempat paling ujung. Tentu apa yang ku lihat tadi tidak akan ku ceritakan pada mas Surya, biar takdir yang mempertemukan keduanya. Aku ingin tahu reaksinya bagaimana?.


Aku melalui jalan setapak, ditumbuhi oleh tanaman hiasa berwarna ungu. Disampingku ada kolam serta terlihat ikan emas yang cukup besar begitu, berwarna warni. Berada dipermukaan, bersenang senanh. Aku tersenyum dalam hati.


Saat aku melewati satu gubukan yang terbuka karena tidak ada pintunya. Namun aku begitu jelas mendengar suaranya. Akan tetapi aku abaikan semua itu. Selama ini toh tidak peduli dengan ku, terlebih dengan apa yang dialami nya selama ini.


Kenapa, semua orang orang ku benci bermunculan hari ini. Aku hanya menunggu endingnya saja. Miris. Tapi, aku tidak bisa merubah keadaan, tak bisa merubah apa yang akan terjadi nantinya.


Aku telah sampai dihubungkan paling ujung. Makanan sudah siap, tersaji dimeja karena lesehan.


"Lama banget dek dikamarnya?"


"Kan agak jauh, mas"


"Kamu sudah laparkan. Menunya ayam panggang, kamu suka, Dek?"


"Tentu, selama itu tidak diharamkan mas, he he heee,,," ulasku.


"Ayo makan dulu"


"Doa dulu"


Selesai berdoa, kami menyatap makanan yang terhidang.


Dalam makanku, teringat seseorang ku lihat. Juga yang ada di gubuk yang ku lewati, semua tak bisa ku abaikan. Ingin rasanya aku cerita ke mas Surya. Tapi, dia tampak cuek. Apa dia lupa kalau nantinya, disini akan bertemu dengan...


"Dek, dari tadi melamun terus. Apa yang sedang kamu pikirkan? Makan dulu, makanannya, habiskan" pungkasnya. Tidak tahu apa yang jadi keresahanku sejak dirumah paman hingga sampai saat ini.


Ku nikmati makanannya, dengan santai. Benar juga, toh kalau berlama lama disini tidak bakal ketemu. Aku tersenyum penuh arti.


"Kok senyum senyum dek, ada apa?" tanya mas Surya penasaran. Senyum terlihat olehnya, padahal tadi dalam hati.


"Siapa juga yang senyum mas?" Les ku tak ingin jujur terlebih mengatakannya. Toh, biar semuanya mengalir apa adanya.


"Lha siapa lagi, kamu lah dek, pasti ada yang bikin kamu senyum senyum gitu?" protesnya, tahu karena sedari tadi aku tidak mau jujur.


"Mas nanti juga bakal tahu" pungkasku.


"Dari tadi kamu main rahasia rahasiaan. Bikin penasaran saja Dek. Siapa orang bakal ketemu sama aku?" sungutnya dengan muka masam.


"Suprise, nanti akan tahu sendiri. Jika aku bilang, nanti dikira akan bohong. Siap siap saja mas akan shock, bukan kaget lagi"


"Ck, siapa sih dek?"


Tak ku balas, aku menghabiskan minumanku sampai tandas. "Alhamdulillah" ucapku, terasa sudah kenyang sarapan pagi ini.


"Kalau jujur aku bayari" ujarnya, bikin aku terkejut.


Aku memilih diam...


Memang aku salah, tapi tidak begitu caranya. Untung, aku selalu bawa Atmku, jadi hal itu tidak membuatku panik.


Mas Surya nampak santai melontarkan argumen tadi, padahal buatku itu sangat berpengaruh, terlebih akhir akhir ini sangat sensi banget. Aku pun tak nenatapnya, aku bersikap cuek padanya seolah tidak terjadi apa apa.


"Kenapa diam, Dek?"


Tak ku gubris perkataannya. Hatinya rasanya sedih. Andai tahu kejadiannya seperti ini. Lebih baik aku bawa motor sendiri, jadi aku bisa pergi bebas.


"Dek, kamu marah?"


"Menurut mas?" balikku bertanya dengan sikapnya. Rasanya aku sudah gondok menahan tangisku.


"Terima kasih telah mengajak ku kesini. Terus terang aku tidak mau jujur sama mas, takutnya mas tak percaya dengan apa yang ku lihat dirumah tadi. Jika mas ingin tahu,,," air mataku sudah tak bisa ku tahan lagi. Cukup hatiku tercabik karena sikapnya tadi. Dikira aku numpang traktiran, tak mampu bayar.


"Tenang saja. Aku yang bayar semua makanannya. Aku tidak kere amat mas, aku punya uang. Aku tidak ingin jadi beban buat mas"


"Dek, aku hanya bercanda"


"Mas anggap itu bercanda. Mas mikirin perasaanku gak. It's oke, mungkin aku egois tidak jujur sama mas"


"Bukan seperti itu Dek"


"Ternyata penilaian ku selama ini terhadap mas salah. Terima kasih. Mas tidak perlu antar aku kerumah sakit. Aku bisa jalan kesana sendiri"


Ku tinggalkan mas Surya yang bengong tak percaya. Aku bergegas keluar dari gubuk, niatku kekasir buat bayar makanan tadi.


"Dek, Dek,,, tunggu! Dek,,, tunggu, maafkan aku" teriaknya, bergegas mengejarku. Saat aku lewati gubuk yang tadi ada orang yang ku kenal. Juga gubuk yang ketiga. Saat itulah aku berpas pasan dengan seseorang yang ada di penglihatanku.


"Kamu,,,?" dia terkejut melihat ku. Tapi tidak denganku karena sebelumnya aku sudah tahu.


____________


Mg 18/12/2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.