229. Baru percaya, jika bertemu.

 Bab 229. Baru percaya, jika bertemu.


★★★★★★


Mas Surya berada dibelakangku, masih memangil manggilku, tak menyadari jika aku sudah berhenti, berhadapan dengan seseorang.


Dia begitu terkejut melihatku, tidak menyangka bakal bertemu, padahal ditoilet tadi aku melihatnya sekilas kemudian pergi. Dia sendirian, sepertinya type setia pada pasangannya. Dengan wajah serta uang yang dimilikinya tentu akan mudah buat dia untuk cari pasangan, mungkin tidak mau berpaling karena terlalu perfect.


"Kamu Bening?" tanyanya kembali, masih dengan wajah kagetnya. Kalau hanya biasanya saja.


"Iya aku Cindy. Kenapa kamu kaget seperti itu. Aku bukan penampakan?" selorohku karena tidak enak dengan tatapannya.


"Kamu dengan siapa datang kesini?"


"Bukan urusanmu juga kan. Nanti kamu akan tahu sendiri siapa yang mengajakku kesini?"


"Apa maksudmu?"


"Tidak perlu ku jelaskan. Orangnya ada dibelakangku"


"Ma-na,,,!" ulasnya, kini pandangannya diarahkan ke belakang.


"Dek, tung- gu,,,?" Tentu saja mas Surya kaget luar biasa.


Cindy juga tidak menyangka jika akan bertemu dengan ku juga mas Surya.


"Ternyata kamu disini mas. Aku telpon kamu sibuk, ada urusan. Jadi urusanmu bersamanya. Tega sekali kamu mas Surya" ucap Cindy tegas dengan wajah tegang.


Mas Surya juga sedikit tegang...


"Mas Surya sekarang tahu siapa orang, sekarang ada dihadapan mas Surya!" tegasku masih diliputi emosi. Biar mas Surya tahu rasa bagaimana rasanya. Bingung nggak tuh? Makan Cindy!.


"Cindy, aku,,," ucap mas Surya kikuk. Ternyata ada rasa takut pada Cindy. Bila dari cara nya tentu hubungannya dengan Cindy sudah terlalu dalam.


"Apa belum cukup semua pengorbananku selama ini mas?. Cuma dengan manusia seperti dia kamu berpaling. Tega sekali kamu padaku mas, hiks hiks hikss,,," Cindy menangis pilu.


Aku tidak tahu pengorbanan apa yang dilakukan pada mas Surya. Itu pribadi keduanya, aku tidak perlu tahu.


"Ini tidak seperti yang kau lihat Cindy" kilah mas Surya masih saja ngeles.


"Aku tidak buta mas. Kau ternyata tega membohongiku demi dia. Apa yang diberikannya padamu. Hole-nya yang masih perawan. Punya ku sudah kendor, begitu"


Sumpah! Ingin rasanya aku tertawa terpingkal pingkal dengan kejujurannya tanpa ditutupi didepan umum.


"Heh, apa yang kau lakuin hingga mas Surya tidak bisa moveon dari kamu, hah?" hardiknya padaku dengan mata membulat, masih berderai air matanya karena sedih.


"Dengar makhluk jadi jadian, aku tidak kegatelan dan jual hole burik kayak kau untuk dapatin mas Surya, camkan itu!" geramku atas tuduhanya yang tak beralasan. Yang deketin serta perhatian mas Surya duluan.


"Hey, mulutmu pedas juga ya kayak cabe rawit. Kayak emak emak jual tomat! Aku heran orang kayak kamu banyak yang suka. Mulut tajam tidak ada tatakramanya" ejeknya tajam. Tapi tidak ku tanggapi percuma juga karena dia pasti pandai bersilat lidah.


"Ini semua gegara kau, kau yang memulai duluan. Bahkan aku tidak pernah berurusan denganmu. Kau selalu memgusikku. Kau lihat sendiri mas, siapa Cindy itu sebenarnya?" Cercaku pada mas Surya yang terlihat biasa, bahkan tidak ada masalah sama sekali.


"Buat apa? Itu bukan urusanmu!" elak Cindy.


"Oh, jadi kau takut untuk mengakuinya, siapa sebenarnya dirimu Cindy. Kalau kau,,, sebenarnya,,,?"


"Hmmmm,,,,!"


"Dek,,,"


Ada deheman sekaligus pamggilan.


Yang pertama aku tidak tahu maksud arti deheman itu yang ku tahu itu berasal dari pak Mahendra. Kedua, panggilan dari mas Surya coba menghentikanku.


Ada bu Kinasih menatapku sinis serta Riko menatapiku cuek, juga mas Surya serta Cindy. Hampir saja aku keceplosan mengenai siapa Cindy sesungguhnya.


"Oh, kau ada disini,,,?" ujar pak Mahendra sinis kearah Cindy. Seperti sangat mengenalnya dengan baik.


"Kenapa papa urusi makhluk gak berguna itu!" timpal bu Kinasih.


"Sudahlah pa, ma, kita gak ada urusan dengan mereka" ucap Riko cuek pada Cindy. Namun, sesekali tatapannya mengarah padaku, itu sering bahkan menatap tajam kearah mas Surya tidak suka seperti menyembunyikan sesuatu. Aku makin khawatir serta mengaitkan dengan apa yang ku lihat. Mungkin, ketakutanku berlebihan.


"Kau masih ada urusan denganku makhluk jejadian!" dengus Riko tegas dengan tajam membulat kearah Cindy.


"Tapi,,," tangan Riko diangkat membuat Cindy terdiam. Mati kutu.


"Ayo ma, pa kita pulang" ajak Riko, kemudian berlalu dari hadapanku. Padahal yang bersitegang, antara mas Surya dan Cindy.


Setelah tiga langkah nampak Riko menoleh kearahku dengan wajah membesi.


"Kenapa lagi kamu lihat kebelakang, biarin aja. Siapa lagi sih?" dengus Bu Kinasih kesal dengan sikap Riko putra nya. Tentu saja memperhatikan ku dengan kilatan aneh. Tidak dengan pak Mahendra yang bersahaja.


Setelah keadaan agak hening setelah kepergian keluarga Sanjaya, masih saja Cindy nyerocos, menatapku dengan pandangan tidak suka dari bawah sampai atas.


"Ingat ya, aku juga tidak pernah berurusan dengan mu. Hello,,, kau selalu saja yang ngusik hidup kuhhh,,," ujarnya penuh kebencian. Heran, kenapa akhir akhir ini banyak sekali orang orang yang membenciku, padahal berurusan juga nggak.


"Cindy, cukup hentikan. Ini tempat umum, jaga sikapmu. Bikin malu saja kamu" gertak mas Surya dengan mata membulat kearah Cindy.


"Kamu telah berbohong mas. Kamu telah membohongi ku dibelakangku dengan alasan sibuk. Sibuk bermain ama dia. Apa belum cukup pergorbananku selama ini. Kau sudah memakeku berkali kali. Aku cinta kamu mas, aku tidak rela jika ada orang lain yang memiliki mu!" tegasnya, dengan air mata yang berlinang karena dibentak oleh mas Surya tadi.


"Cukup kataku, cukup! Kamu dengar nggak!" bentaknya sekali lagi. "Ini tempat umum, kau sudah bikin malu aku,,," teriak mas Surya gusar, terlebih banyak orang yang berkerumun tentu bikin malu.


Inilah alasanku tadinya, mas Surya akan bertemu, serta akan dipermalukan. Aku tidak tahu, apa setelah kejadian ini keduanya akan bubar.


"Cukup mas. Kamu malah membela anak bau bawang ini ketimbang aku. Tega, tega, tega sekali kamu mas. Tega!" kepala Cindy sampai digeleng geleng kan.


Ingin aku tertawa lihat adegan yang lucu serta menghibur, tapi karena keadaan serius hal itu tidak ku lakukan.


"Mas urus saja lelaki jadi jadian itu. Aku bisa pergi sendiri, tidak perlu mas antar. Terima kasih tratirannya. Pasti akan ku kembalikan" sentakku, berlalu dari sitegang ini. Karena aku tidak mau berlarut larut dalam masalah, sudah cukup banyak yang ku hadapi belum teratasi.


"Mas traktir dia. Sungguh tega sekali! Sakit hatiku mas, mas telah bohong sama aku" ujar Cindy lebay.


"Diam!" seru mas Surya tidak peduli bahkan bergegas menyusulku yang agak jauh. Bahkan aku lewati tempat kasir karena jalan keluar nya cuma satu arah.


"Dek,,," teriak mas Surya memanggilku.


",,,Mas, mas Surya! Keparat!" seru Cindy tidak digubris. Setengah berlari mengejarnya.


"Mbak ini,,," dengan agak tergesa mas Surya membayar makanan tadi.


Cindy masih agak jauh dibelakang masih memanggil manggil. (Mengenai baca Bab 200)


Aku sudah sampai diluar, agak bingung juga terlebih hari sudah beranjak siang. Tujuanku mau ke rumah sakit.


"Hufpp,,, huufffp Dek tunggu" pangginya, nafas mas Surya sampai ngos ngosan mengejarku, mungkin juga efek emosi dengan Cindy.


"Ada apalagi mas? Aku tidak mau lagi berurusan dengan nenek lampir itu. Hiksss, amit amit jabang bayik!"


"Dek, aku tidak peduli dengan nya. Tolong dengar aku kali ini?" Mas Surya coba menenangkan nafasnya yang tersengal. Tidak biasa mas Surya seperti itu, biasanya tidak ngos ngosan seperti itu.


"Ayo aku antar ke rumah sakit. Nanti aku ceritakan semuanya"


"Oke,,,"


Mas Surya bergegas mengambil motornya. Dibelakang Cindy menyusul dan panggil panggil hingga mengundang perhatian pengunjung lainnya.


"Ayo naik" pintanya, disuruh aku cepat naik dimotornya yang gede.


Disaat motor dijalankan, Cindy telah sampai didekat kami.


"Mas dengar dulu penjelasan ku. Tunggu mas" serunya memohon.


"Dan kau, kita masih ada urusan. Aku akan balas semua yang telah kau lakukan!" geramnya kearahku. Namun, ku bereaksi biasa saja.


Mas Surya yang mengenakan helm sama sepertiku matanya membulat kearah Cindy membuat lelaki jadi jadian itu agak kecut.


"Kalau sampai Bening kenapa napa, aku bersumpah akan membunuhmu!" tegasnya.


"Mas,,,!" seru Cindy membating kakinya kebawah tidak terima.


"Awas kau BUTEK. KAU BUKAN BENING!" serunya kearahku. Namun aku tak menggubrisnya.


Motor melaju dijalanan ibu kota menuju kerumah sakit...


Tak ada percakapan, diam dalam pikiran masing masing, terasa hambar karena telah terjadi percekcokan tadi.


Beberapa saat kemudian sampai kerumah sakit.


Gegas aku masuk, karena aku sudah tahu tempatnya, untung disini tidak dibatasi. Tapi jika ada orang yang dicurigai pasti akan di intrograsi.


"Dek tunggu" karena aku agak buru buru.


"Dek, dari tadi kamu diam terus. Kamu kenapa?"


Ku tatap tajam...


"Apa perlu penjelasan?" Masih saja aku jalan, kali ini agak santai.


"Iya aku salah" tak ku gubris.


"Tapi, sikapku jangan seperti ini dek, aku merasa diacuhkan"


Bagus, kalau merasa seperti itu.


Sebelum sampai diruang yang aku tuju, aku duduk sejenak. Aku ingin bicara supaya tidak ada kecanggungan lagi.


Ku tatap tajam lagi, ku beri kesempatan untuk memberi penjelasan, sekaligus aku akan memberitahu nya.


"Mas sudah percaya sekarang, apa yang pernah ku katakan? Kalau mas akan bertemu dengan seseorang, dan orang itu Cindy. Mas baru percaya dengan apa yang ku katakan jika baru temu"


"Iya, aku sampai shock Dek" sahutnya cepat. Tak ingin aku mengatakan lebih banyak lagi. "Sekarang aku percaya. Puas!" dengan muka cemberut.


"Hanya itu" aku tidak puas.


"Iya ya, aku minta maaf, aku salah. Lain kali aku akan dengarkanmu, Dek"


Rasanya hatiku plong. Lain kali, bukannya dia masih berhubungan dengan Cindy. Tidak mudah, bahkan Cindy akan melepaskannya begitu mudah. Terlebih, tadi ucapannya sangat membekas. 'DIPAKAI BEBERAPA KALI' aku dengarnya kok jijik. Bahkan semalam dia telah mencecokoki dengan kontolnya yang jumbo hingga muncrat sangat banyak bahkan ku telan.


"Kok kamu kelihatan nggak senang Dek? Ada apalagi? Apa kamu masih mikir tentang Cindy?" ulasnya. Aku memang tidak bersemangat.


"Iya, aku baru ingat. Mas berbohong padaku. Mas mengenal Cindy kan. Karena aku ingat betul kalau mas itu sangat mengenalnya dengan baik. Tadi pun pak Mahendra dan Bu Kinasih sangat mengenal Cindy dengan baik"


"Dek ak- aku,,," mas Surya gugup setelah ku jelaskan.


Ya Alloh!


Kenapa mas Surya tega membohongi ku?.


____________


Sn 19/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.