230. PERGILAH!.
Bab 230. PERGILAH!.
★★★★★
Pantang bagiku untuk sedih apalagi menangis. Kenapa mas Surya begitu tega membohongiku, jelas jelas aku paling tidak suka dibohongi. Aku paling benci dengan orang yang suka berbohong. Namun, masih aku tahan, ingin tahu alasannya kenapa? Sabar, sabar, sabar! Ku beri sugesti paoda diriku supaya kuat.
"Buat apa mas berbohong"
"Sumpah dek, aku nggak bohong, aku tidak mengenal Cindy sama sekali"
"Mas sudah nge-sex dengan Cindy berkali kali, mas bilang nggak mengenalnya. Bulshit! Nggak, nggak, aku nggak percaya" cercaku karena tidak mungkin selama ini hanya main diranjang tidak kenal identitas dari Cindy alias Sandy Pranata.
"Sungguh Dek, percayalah. Aku tidak mengenal nya sama sekali"
"BOHONG!" bentakku. Habis rasanya kesabaranku. Masih untung sepi, jadi tidak menganggu yang lain. "Kenapa mas harus bohong? Oke, oke, aku nggak apa apa mas punya hubungan dengan Cindy. Aku terima, itu hak mas buat punya hubungan dengan siapa pun. Bahkan dengan Cindy sekalipun. Aku tidak akan menghalanginya lagi. Tapi, aku mohon jangan pernah temui aku lagi. Tidak ingin menyakiti hati dan perasaan Cindy. Jika di posisiku tentu aku tidak terima" ujar ku panjang.
"Dek, mas minta maaf. Tapi, jika kamu melarang ku untuk bertemu denganmu, itu tidak mungkin" tolaknya.
Tidak ada alasan buat ku untuk terus bertahan, untuk menerima nya. Hal itu akan menyakiti hati dan perasaan yang lain. Mas Surya telah bermain dengan hati dan perasaan maka akan merasakan bagaimana itu rasanya.
"PERGILAH, mas,,,!" ungkapku, sambil menunduk. Tak bisa lagi ku bendung air mataku, langsung tumpah ruah.
"Dek maafkan mas" lirihnya, tak berani menyentuhku.
Ku anggukan kepalaku, tersenyum getir. Terlebih selama ini bohong padaku.
"Aku pergi dulu. Tapi, suatu saat aku akan menemuimu Dek. Assalamualaikum,,,"
"Hiks, hiks, hiksss,,, wa-alaikum salam" jawabku. Ku tatapi punggungnya yang menjauh pergi. Saat berada ditikungan. Mas Surya balikan badannya, menatapku sambil lambaikan tangannya kearah ku. Ku gelengkan kepala hingga bayangan pun menghilang dari pandanganku.
"Bening, kamu ada disini. Sejak kapan, nggak ngasih kabar sama bibi?" tanya bibi dikeluar dari dalam, terlihat wajah kuyunya kurang tidur. Aku tak berani lama lama menatap bibiku. Aku takut bibi tahu keadaanku yang baru selesai nangis.
"Dengan siapa kamu kesini Bening?" ulas bibi bertanya lagi, karena aku diam untuk menenangkan diri. Clingak clinguk mencari. Harus kah aku bohong, atau aku jujur. Aku tidak tahu musti bilang apa jika nanti bibi tanya padaku.
"Ehmmm,,, tadi di antar sama mas, eh pak Surya bi, tapi sudah pulang. Maaf bi"
"Lha, gimana to?, harusnya bilang. Lalu kemana sekarang pak Surya nya, Bening?" bibi masih penasaran mencari. Berharap mas Surya masih ada. Bibi terlihat sangat kecewa. Andai, mas Surya balik tentu bibi nggak akan kecewa padaku seperti ini. Tadi sudah ku usir. Padahal tadi niat buat nemuin Alex, Angga dan Putri, tapi telah ku usir.
"Maaf bi" rasanya sedih, tak enak hati. Namun, aku bisa apa, semua sudah terjadi. Lebih baik diam saja karena tujuan ku buat besuk hari ini. Masalah datang silih berganti menderaku. Ya Alloh!.
"Hmmm,,,"
Saat suasana tegang, ada suara deheman yang bikin kaget.
Tentu aku dan bibi sama sama melihat kearah sumber suara.
"Pak Surya?" Bibi terlihat senang.
"Mas Surya" gumamku lirih. Dengan mata berbinar tak percaya. Hupf, mas Surya menyelamatkan ku kali ini. Entah dengan apa aku harus berterima kasih.
Tentu saja kami berdua tak menyangka jika mas Surya kembali lagi. Tapi ditangannya ada sesuatu yang bawanya.
"Bu, ini oleh oleh, silah kan ibu sarapan" ujarnya memberikan bikisan itu pada bibiku.
Tentu bibi makin senang karena dapat makanan dari mas Surya.
Aku hanya tersenyum biasa, aku agak tenang karena mas Surya tidak jadi pergi padahal tadi sudah ku usir dengan tegas. Ada rasa penyesal, ada rasa tidak suka saat dia kembali tapi juga telah menyelamatkan ku.
"Pak terima kasih ya" ucap bibi masuk kedalam mungkin akan berbagi makanan dengan Angga dan Putri.
"Iya Bu sama sama" angguk mas Surya tersenyum ramah.
"Pak silah masuk,,,"
"Iya Bu nanti, ada sedikit urusan sebentar"
"Iya silahkan" bibi mempersilahkannya, setelahnya masuk tanpa menutup pintu, dibiarkan sedikit terbuka.
",,, Terima kasih,,," tanpa ku sebut mas seperti biasanya.
"Buat apa?"
"Tadi bibiku menanyakan mu,,," balas ku cuek. Ku hembuskan nafas pelan karena bebanku telah berkurang. Tadi aku merasa tak enak dengan bibiku yang menyalahkanmu karena kepergian mas Surya.
"Ooo,,,"
"Tadi bibi menyalahkanku karena telah membuatmu pergi" ada rasa canggung saat aku tak memanggilnya mas. Maafkan aku mas!.
"Kamu masih marah pada ku Dek?"
"Masuklah, bibi akan senang kalau mas masuk" aku berdiri. Tapi tanganku ditahannya.
"Dek temani aku kedalam"
"Nggak mas, mas sendiri saja. Aku mau jenguk Alex"
"Kalau kamu tidak mau nemeni, aku pulang saja!" tegasnya mengandung ancaman. Jelas bibi tadi kesal serta menyalahkanku, rasanya aku tidak ingin masuk. Tapi mas Surya mengancam ku, aku tidak punya pilihan lagi.
"Baiklah" dongkol ku makin kesal dengan sikapnya. Entah mengapa sikap semua orang orang hari ini sangat ngeseli.
Aku masuk lebih dulu karena tadi sudah dapat peringatan, aku tidak mau jika bibi nanti marah padaku karena mas Surya tidak mau masuk.
Didalam bibi sedang makan menyuapi Putri, Angga sepertinya sudah selesai, sehabis minum. Putri nampaknya juga.
"Pak Surya, terima kasih atas kedatangannya juga makanannya" mata bibi berbinar atas kedatangan mas Surya.
"Pak,,,"
Sapa Angga dan Putri berbarengan. Mereka tidak ada yang peduli padaku. Sebenarnya apa yang terjadi? Mendadak hatiku sedih.
Lebih baik aku pergi saja dari pada aku dicuekin disini. Semua orang pada menyebalkan saat bertemu dengan mas Surya. Entah apa yang dilakukan mas Surya terhadap mereka.
ILUSI?
Kini baru ku ingat lagi. Apa mungkin mas Surya menggunakan ilmu ilusi untuk mengendalikan keadaan.
"Dek, Dek, Dek,,," panggil mas Surya.
"Sudahlah pak biarkan saja,,,!" ujar bibiku tidak peduli padaku.
"Bu maaf saya permisi dulu" pamit mas Surya. Aku cepat bergegas dari ruangan menuju ke ruangan Alex.
Kenapa aku tidak melihat pertanda itu, dengan apa yang dilakukan oleh mas Surya. Dia begitu rapi melakukan hal itu. Bahkan tidak terdeteksi. Atau karena tidak begitu membahayakan sehingga hal itu tidak ku ketahui. Andai hal itu berbahaya mungkin aku dapat penglihatan. Tapi, ini sungguh sangat menyakitkan hatiku.
Yah, hatiku rasanya sakit sekali dengan sikap cuek keluarga bibi, aku harap orang tuaku tidak cuek padaku.
Tidak ada yang menyusulku, mas Surya tidak tahu kamarnya Alex, karena aku tidak memberitahu tempatnya. Syukurlah. Ku berharap mas Surya tidak menebarkan pengaruhnya pada keluarga Alex serta bersikap tidak wajar padaku. Rasanya sangat sedih sekali dengan perubahan sikap bibi juga yang lainnya. Aku bersikap diam itu lebih baik buatku.
Aku harus tegar. Harus senyum, tak boleh sedih dihadapan Alex nantinya.
Ku hirup udara dalam dalam, ku tenangkan diriku. Saat aku berada didepan kamar rawat Alex.
"Assalamualaikum,,," saat aku buka pintu dan masuk.
"Eh nak Bening,,, waalaikum salam, masuk!"
"Terima kasih bu Shella, pak Remond. Bagaimana keadaan Alex" tanyaku pada orang tuanya. Disitu juga ada Niko dan Angel kedua kakaknya Alex, menatapku cuek. Aku sudah paham dengan sikap keduanya yang seperti itu.
"Besok boleh pulang, nak Bening" balasnya tersenyum bersahaja. Pak Remond mengangguk ramah.
"Alhamdulillah. Syukur karena besok sudah ujian" terangku.
"Astaga, benar. Pa besok ujian?" ekspresi Bu Shella kaget.
"Iya ma,,," sahut pak Remond menjitak jidatnya.
"Ma, pa nggak usah khawatir, besok aku pasti ikut ujian kok" ungkap Alex sedikit memaksa.
Niko dan Angel tidak komen hanya tersenyum simpul.
Aku kenal keduanya, sikap mereka memang seperti itu, jadi aku tidak kaget lagi. Aku juga memberi pelajaran untuk mereka berdua.
"Oiya, sudah Bu Shella, pak Remond, karena Alex sudah membaik saya pamit dulu"
"Terima kasih atas kunjungannya nak Bening" kata Bu Shella dengan senyum ramahnya. Padahal awalnya menyalahkanku. Kini sudah tahu kesalahan putranya jadi tidak menyalahkan bibi dan keluarga.
"Iya nak Bening, terima kasih ya" ulas pak Remond juga mengulas senyum.
Kedua kakak Alex nampak cuek sedari tadi...
"Assalamualaikum!" pamitku dengan memberi salam serta ku anggukan kepala, pergi.
"Waalaikum salam,,," jawab keduanya, melangkah tenang, keluar.
"Bening. Ya Tuhan, aku mencarimu kemana mana, karena kamu tahu dimana Alex dirawat" ucap mas Surya muncul didepanku membuatku kaget.
"Supaya mas bisa ngerjaiku dengan ilusi mas, supaya orang orang pada illfeel padaku, gitu" sungutku kesal juga jengkel hari ini ketika bersama mas Surya. Hariku hari ini tidak baik baik saja, hingga beberapa kali aku dapat cibiran tidak mengenakan.
"Kamu ngomong apa Dek, aku nggak ngelakuin apa apa, suwer" sampai pis tangan kanan, jewer telinga kiri.
Ku tatap tajam dengan rasa tidak percaya. "Baiklah, jika itu mau mas, semoga mas beruntung, tidak kenapa napa setelah ini, sekalipun mas bilang tidak bohong, tidak ngelakuin apa apa. Oke, aku terima! Tapi tolong pergilah, menjauh dari ku"
"Dek, suwer, aku tidak melakukan apa apa sama sekali" serunya tertahan mencoba menyakinkan ku tapi aku tetap tidak percaya. Buktinya tadi saat aku ngobrol dengan keluarga pak Remond tidak apa apa, baik baik saja. Hanya kakak kakak Alex yang sedari dulu sinis sama aku.
"Dek, tunggu!" Karena aku pergi meninggalkan didepan ruangan dimana Alex dirawat karena besok boleh pulang serta mau ikut ujian.
Rasanya aku tidak sabar untuk ujian semester besok. Aku ingin cepat satu Minggu saat ujian cepat berlalu karena aku ingin pulang kampung.
",,, Dek, dek, tunggu!" Kekarnya dibelakangk melangkah cepat. Kalau dia masih seperti itu, jangan salahkan aku jika aku permalukan dia ditempat umum. Biar dia tahu rasa. Oke, kalau itu kemauan dia. Aku akan buktikan. Karena sikapnya aku sangat malu hari ini. 'Kau boleh punya ilmu ilusi mas Surya, tapi ilusiku akan lebih mempermalukan mu, karena kau selalu mengejarku!' aku tersenyum penuh arti. Berada di pelataran gedung rumah sakit. Disitu banyak orang orang lalu lalang, berkerumun. Tentu mas Surya yang berlari sedikit jadi pusat perhatian bagi yang lain terutama kaum hawa juga para pencinta sesama jenis. Ha ha haaaa,,,,
Tidak mungkin ilmu ilusinya akan mampu untuk banyak orang yang hadir. Maka, inilah saat aku permalukan dirinya. Rasakan oleh mas Surya.
"Ada apa? Mas tidak tahu malu ya, disuruh pergi masih saja ngikuti aku. Apa nggak caoekt"
"Aku akan mengantarmu pulang dek, itu tanggung jawabku"
"Termasuk membuatku di cibir dan cerca, itu maksudmu"
"Kok kamu ngomong gitu dek"
"Mas, aku capek denganmu. Pergilah, pulanglah jangan ikuti aku. Aku bisa pulang sendiri" bentakku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya.
"Kamu kok seperti ini. Ada apa dengan kamu dek?" serunya dengan keadaanku. "Dari tadi kamu bilang aku bohong, kamu bilang tentang ilusi, ilusi dan ilusi" teriaknya meluapkan perasaannya.
"Karena saat bersamamu, aku selalu dicibir, seolah aku ini banyak salah. Tadi, aku bicara dengan keluarga pak Remond, tidak terjadi apa. Kamu kira aku halu, begitu" ku bulat mataku, tajam kearahnya. Dia terlihat kikuk.
Tentu saja banyak yang memperhatikan.
"Apa mas juga bisa mengilusi semua orang disini?" Belum juga ada jawaban, aku melakukan sesuatu terhadapnya. Sekalipun ini ditempat umum aku tidak peduli.
"Cuuupppp!"
"Dekkkkkk?"
___________
Sl 20/12/2022.
Komentar
Posting Komentar