231. Keributan.
Bab 231. Keributan.
★★★★★
Alangkah terkejutnya mas Surya atas tindakanku.
Membeku?
Tentu mas Surya tidak akan pernah menyangka jika aku menciumnya ditempat umum. Dan itu disaksikan oleh orang banyak didepan rumah sakit yang besar.
Cukup dalam, agak lama ku lakukan.
'Tahu rasa kau mas, inilah balasan untukmu!' geramku dalam batin, tersenyum puas.
"Ihh,,, homo tuh!?"
"Kok ada ya zaman sekarang!?"
"Dunia udah kebalik!?"
"Cowok sama cowok, ihhh, amit amit!?"
"Jeruk minum jeruk!"
"Masih banyak kok cewek"
"Ganteng ganteng suka batangan, hiyyy,,,!?"
"Mana diem lagi?"
"Huuuuhhhh,,,!"
"Mau kiamat!"
Setelah apa yang ku lakukan, aku pun pergi meninggalkan depan rumah sakit. Itu cibiran buat mas Surya yang telah berani bermain denganku. Itulah akibat yang harus ditanggung nya.
Mas Surya sudah tidak berani memanggilku lagi. Sudah malu tentu. Karena ku permalukan didepan umum. Mana aku peduli, toh ini Jakarta, aku juga nggak kenal sama orang orang itu tadi. Mungkin mas Surya kenal sebagian dari mereka karena sudah lama tinggal di Jakarta.
"Hey manusia laknat!" tiba tiba ada yang membentak ku. Tapi dari suaranya begitu asing buatku.
"Cindy!" desisku memanggil nya, sedang kan dia tampak tajam menatapku dengan raut tidak suka. Apa Cindy tahu dengan yang telah ku lakukan di depan rumah sakit. Apa mungkin tujuan Cindy kesini mencari mas Surya serta memergoki ku sedang mencium mas Surya.
"Iya aku Cindy. Dasar jalang murahan. Aku tidak pernah mempermalukan mas Surya ditempat umum seperti yang telah kau lakukan. Menjijikan sekali sikapmu, tidak tahu norma!" umpat nya kesal dengan apa yang telah ku lakukan.
"Apa urusanmu manusia jadi jadian? Itu setimpal apa yang telah dilakukan nya hari ini padaku. Apa aku salah membalas apa yang telah dilakukannya terhadapku?"
"Memang nya apa yang telah mas surya lakukan padamu? Atau ini hanya akal akalanmu saja. Dasar katrok!"
"Cukup manusia kaleng rombeng! Asal kau tahu, aku tidak pernah mengejar ngejar mas Surya. Dia yang datang padaku. Dia sudah muak denganmu! Kau tahu itu. MU AK! PAHAM! Tidak perlu ku ulangi lagi, kau pasti mengerti. Mustahil jika mas Surya tidak tahu identitas mu yang asli. Nama kamu sebenarnya Sandy pranata bukan"
"Darimana kau tahu semua itu?"
"Jika pun aku cerita sama kamu, belum tentu kau percaya sama halnya mas Surya. Kamu tidak perlu tahu dari mana aku tahu. Cukup aku sendiri. Aku juga cerita sama mas Surya jika kamu ingin tanya ke dia silahkan. Kalau dia mau cerita sama kamu. Aku lihat kamu sangat mengenal baik keluarga Sanjaya. Apa yang kamu rencanakan, atau kamu berkerja sama dengan mereka" terkaku ingin tahu. Aku yakin Cindy tidak akan buka mulut lebar lebar tentu akan disembunyikan serta dirahasiakan.
"Lancang sekali kau menuduhku seperti itu" kilahnya tidak terima.
"Baguslah jika kau tidak ada hubungan dengan mereka. Mungkin tebakan ku salah. Tapi, perlu kau ingat, jika memang kau berbohong tidak mengapa. Asal kau tahu Cindy, bahwa suatu saat nanti kau akan mati ditembak, ditangan Riko, itu akibat ulahmu, juga mas Surya terbawa bawa dalam masalahmu. Camkan itu! Dari mana aku tahu, tidak perlu kau ketahui dari mana asalnya. Suatu saat nanti kau akan menyesal. Dan disaat penyesalan itu datang, semuanya TERLAMBAT!"
"Beraninya kau menuduhku seperti itu. Pake bilang segala aku akan mati bersama mas Surya?" ujarnya dengan tatapan tajam kearah. Namun, ku lihat dia nampak bergidik, ngeri, juga takut.
"Kau mungkin bisa berkilah atau berdalih. Tapi, itulah fakta yang nantinya bakal terjadi. Kau akan mati bersama mas Surya. Mati! Ha ha haaa" tawaku berderai.
"Cukup, dasar sinting, tidak waras!"
"Kau yang otaknya miring! potongku cepat. Sedari tadi menghinaku, maka aku balik menghinanya juga. Aku tak mau dipencudangi terus oleh makhluk jadi jadian yang ada dihadapanku saat ini.
"Aku juga berharap, apa yang ku lihat tidak jadi kenyataan. Tapi, dari pertanda yang ada saat ini sepertinya apa yang ku benar benar akan terjadi. Kau tidak bakal menyangka kan jika kau bertemu dengan mas Surya di gubuk tadi pagi. Itu bukan suatu kebetulan yang ku lihat. Tapi, telah jadi kenyataan" jelasku membuat Cindy langsung terdiam. Menelaah kata kataku. "Jika aku berbohong kau boleh tanyakan hal ini pada mas Surya, nanti dia bakal cerita. Dia juga tidak ingin berpaling darimu. Tapi, dia juga bukan type lelaki setia, maka hati hati. Tolong jaga dia. Assalamualaikum,,,!" Pamitku, tak ingin berlama lama disini takutnya nanti mas Surya menemukan kembali, tadi aku sudah berusaha untuk menghindarinya sebisa mungkin. Jadi aku tak ingin bertemu lagi. Untuk saat ini.
"Heh, jalang!? Mau kemana kamu? Urusan kita belum kelar! Bajingan kau! Keparat, heh jangan pergi BUTEK!"
"PANTAT BURIK,,,! KAU SEHARUSNYA NGACA. AKU JUGA PERNAH DI ANAL SEX OLEH MAS SURYA, MAKANYA DIA SANGAT PENASARAN DENGAN HOLEKU MASIH VIRGIN, TIDAK LOSS DOL SEPERTI MILIKMU!" cibirku tanpa tedeng aling aling karena Cindy sudah sangat keterlaluan. Pasti, kalau di diemin akan ngelunjak.
"Mulutmu yang terlalu lancang!" sentakku.
"Hmmm, awas kau Butek!"
"Aku tidak pernah takut sama kau laki jadi jadian"
"Kau akan terima pembalasan ku BUTEK!"
"Aku tunggu, saat itu!" decakku, tidak takut dengan ancamannya. Walaupun mungkin bukan gertakan biasa. Mungkin dimasa depan Cindy benar benar jadi hal itu nyata.
"Dek, huupppfff!" mas Surya menghempaskan nafasnya, sambil menariknya dalam dalam dengan membawa motornya. Lagi lagi dikejutkan bertemu dengan Cindy. Mukanya mas Surya nampak masam.
"Mas Surya mencarinya" sindir Cindy padaku. Sambil melirikku.
"Iya, kenapa? Apa ada yang salah?" tanya mas Surya cuek.
"Tega sekali kamu mas!" sahutnya dengan raut sedih. Seperi melankolis. Huh, lebay sekali sikapnya. Udah tua, burik. Sok sok-an teraniaya. Lihatnya sudah neg, ke kanak kanakan.
"Cindy!" bentak mas Surya geram. "Kamu lebay banget. Kau itu cowok kan" sentak mas Surya sebal dengan sikap Cindy.
"Mas,,,!" mata Cindy membulat tidak suka karena mas Surya membelaku.
"Awas kau!" Tuding Cindy padaku. Aku bersikap biasa. Dia sudah banyak mengancam ku berkali kali. Cindy pun berlalu pergi dari tempat itu, mencegat taxi masih menatapku tajam, tapi tidak berani karena ada mas Surya. Ternyata masih takut dengan mas Surya.
"Dek, ayo aku antar. Kamu tangung jawabku" kekeh nya tetap maksa mau ngatar aku pulang, padahal aku bisa pulang sendiri. Maunya apa sih nih orang? Maksa buat antar pulang.
__________
Aku masih punya rasa terima kasih pada mas Surya yang telah mengantarku walaupun sepanjang jalan tidak ada obrolan. Aku masih dongkol juga jengkel dengan Cindy.
Tidak akan aku tanyakan apa apa pada mas Surya. Karena aku hanya ingin diam. Aku juga tidak begitu saja mengabaikan ancaman Cindy yang menurut tidak main main.
"Terima kasih mas Surya, telah mengantarku pulang" ucapku senormal mungkin. Aku tidak mau terkesan aku tidak suka serta sebal dengan nya. Jadi aku coba buat tersenyum buat nutupi perasaanku saat ini.
"Nggak disuruh mampir nih?" sindirnya sambil menaikan alisnya.
"Hupfff,,, aku capek mas. Aku mau sendiri, tidak ingin diganggu" kilahku, walaupun aku merasa sepi karena tak ada teman. Tapi aku tak ingin menambah masalah lagi.
Cindy saja marah padaku serta mengancam ku.
Entah ancaman apa yang direncanakannya untukku?
Semoga aku tidak ada masalah lagi...
_____________
Rb 21/12/2022.
Komentar
Posting Komentar