232. UJIAN

 Bab 232. UJIAN


★★★★★


Alhamdulillah!


Inilah hari pertama ujian. Semuanya sudah ku siap untuk hadapi ujian hari Senin ini. Konsentrasi buat untuk nilaiku nanti. Aku tak ingin nilaiku jelek.


Tubuhku bergetar sesaat, dan aku melihat sesuatu hal dihari ujianku. Antara senang juga khawatir. Sedih juga ada. Namun, ku nikmati hariku saja.


"Bismillah!" Ku mantapkan hati dengan berdoa semoga keadaanku akan baik baik saja.


Tentu saja aku belum sarapan, biasanya aku senang masak, tapi entah mengapa akhir akhir ini aku malas melakukan apa apa.


Ku jalan motor ku agak pelan, ku nikmati udara kota yang berpolusi.


____________


Rencana, hari ini Angga dan Putri akan ikut ujian begitu pun Raya dan Alex.


Mungkin pulang dari rumah sakit langsung ke sekolah. Tapi saat di sekolah aku tidak melihat Raya, Angga dan Putri. Kalau Alex dan Riko satu ruangan dengan ku.


Jam tujuh ujian sudah dimulai...


Benar apa yang ku lihat, ternyata muridnya di acak. Aku berada diruang satu, dan itu tentu anak yang ber IQ lumayan.


Tentu saja ujiannya tidak boleh bicara sepatah katapun. Jadi tidak ada gangguan.


Jadi mengerjakannya dengan tenang.


Ku lihat jam, sambil tersenyum...


Aku tidak peduli jika pun ada, Alex yang masih memakai gips lehernya, Riko, Revika, sebagian dari kelasku.


Tubuhku bergetar, sesaat...


Setelah normal kembali. Dengan cepat ku kerjakan soal ujianku tanpa hambatan.


Lima belas menit kemudian, aku pun maju kedepan. Tentu saja guru pengawasnya kaget dengan ku karena aku menyelesaikan tugasku dengan cepat.


Tentu saja murid yang lain terheran heran karena aku menyelesaikan tugasku sangat cepat. Aku tak peduli dengan ekspresi mereka terhadapku.


Guru pengawas melihat name tag ku.


"Bening Ria Saputra?" tanya pengawas keheranan.


"Iya pak, saya" jawabku. "Saya sudah selesai pak" pungkasku memberikan lembar jawabanku serta soalnya.


"Coba saya periksa tugasmu" guru pengawas itu pun memeriksa lembar jawabanku. Pun terheran heran dengan jawabanku. Aku hanya tersenyum simpul.


"Ada yang salah pak?" guru pengawas pun hanya menggeleng penuh keheranan. "Biar saya perbaiki"


"Ti- dak,,," cegahnya dengan tatapan heran. Kembali aku tersenyum ramah.


"Kalau begitu saya permisi pak. Assalamualaikum,,,"


"Baiklah. Silahkan,,," titahnya mengijinkan ku keluar sambil gelengkan kepalanya terheran heran.


Tentu saja murid yang lainnya menatapku tajam dengan berbagai pertanyaan di isi otak kepala mereka masing masing. Padahal waktunya sangatlah panjang sampai 120 menit.


Tujuanku kantin kali ini, ingin ngisi perutku yang minta di isi karena belum sarapan. Jadi aku bisa santai, sendang mereka yang didalam kelas sedang berjuang mati matian menguras otak untuk mengisi jawaban supaya benar.


Waktunya sampai jam delapan lebih lima belas menit istirahat.


"Bu pesan soto ayam sama es teh hangat ya" pesanku pada Bu kantin yang menatapku heran.


"Eh nak Bening, kok sudah keluar. Bukankah masih waktu ujian?" tanya bu kantin sambil menyiapkan pesananku.


"Aku sudah selesai Bu, ngerjain soal ujiannya, jadi aku keluar dulu buat sarapan. Tadi dirumah nggak sarapan. Jadinya lapar" ujarnya masih terus menanyaiku.


"Apa soalnya nggak sulit sulit nak Bening?"


"Gimana ya Bu, aku nggak bisa bilang, sulit atau mudah. Yang penting aku bisa ngerjain dan menyelesaikan, cukup"


Aku pun duduk dengan santai sambil menikmati kesendirianku. Serta menunggu pesanan ku jadi dan diantar.


"Oh begitu ya. Pasti nak Bening sangat pintar sekali"


"Biasa bu, rajin buka buku"


Ibu kantin tersenyum bersahaja. Sambil mengantarkan pesanan ku.


"Terima kasih bu" ucapku lalu ku nikmatinya dengan rasa nikmat karena lapar.


Aku bisa santai beberapa jam kedepan.


Terlebih keadaan masih sepi belum ada yang membeli. Ditempat ini banyak sekali kenangan yang terjadi. Hingga tak terasa makananku sudah pindah ke perutku. Nanti aja bayarnya, santai dulu.


"Alhamdulillah!" pujiku bergumam karena kenyang. Jadi mikirnya biar makin lancar.


"Hmmm,,," ada suara deheman. Tumben ada orang yang datang ke kantin disaat ujian berlangsung.


"Eh pak Surya, mau pesan makanan serta minuman pak?" tanya bu kantin tersenyum masgul melihat mas Surya.


Ada angin apa membawa nya kesini. Perasaan tidak janjian kok ketemu lagi. Mungkin takdir ku bertemu.


"Biasa bu, sarapan. Soto ayam-"


"Sama teh hangat nya kan pak Surya. Oke, secepatnya pak" kata Bu kantin tersenyum riang saat melayani kedatangan mas Surya, sangat ceria. Heran, ibu ibu sudah kepala empat lihat yang bening langsung klepek klepek.


Lagian, aku mau pergi, pergi kemana, aku jadi bingung. Ah, mendingan aku menyendiri saja, ke pinggir lapangan buat ngadem, atau ke perpus buat baca. Dulu aku suka ke perpus buat sendirian dan baca untuk menghindari biar nggak jajan karena tak punya uang, selalu sarapan dari rumah. Atau, pergi ke loteng atas lebih damai.


Tak terasa kakiku melangkah pergi. Aku telah mempermalukan mas Surya didepan umum kemaren, pasti hal itu membuat nya malu, tapi sikap Bu kantin masih saja keganjenan lihat mas Surya. Dasar emak emak nggak nyebut.


"Dek mau kemana?" tanya mas Surya. Tak ku pedulikan. Karena mendadak suntuk. Aku juga tak ingin tambah masalah. Terlebih nantinya berurusan dengan Cindy, bisa saja dia muncul dimana saja, jadi detektif.


"Pak ini spesial buat pak Surya, gratis" tambahnya, makin menjadi Bu kantinnya, keganjenan.


"Bu, terima kasih, ini uangnya"


'Aduh! Mati aku, mana lupa bayar lagi. Mas Surya buntuti aku lagi. Maunya apa lagi manusia sok kegantengan itu?' gumamku dibantin dengan rasa sesal yang dalam.


"Dek tunggu! Mau kemana? Aku ada penting sedikit sama kamu. Please kamu jangan seperti itu, Dek"


Gegas aku menuju kearah pinggir lapangan, buat ngadem juga santai, karena dipinggirnya ada taman bunganya juga.


Ku duduk santai, mas Surya datang tergopoh. Menatapku sendu.


Sok kiyut, muka dibikin sendu. Dia kira aku akan terpesona. Nggak bakalan, selama dia masih jalan sama lelaki jadi jadian. Nggak bakalan aku akan nerima dia.


"Kok kamu nggak ikut ujian dek?" tanya mas Surya santai.


"Apa peduli mu?"


"Kok gitu Dek. Aku tanyanya baik baik"


"Bukan urusan mas juga kan"


"Hupfff, syukurlah"


"Dasar aneh?"


"Aku masih mau panggil mas"


"Kepedean. Sudah lah mas, kenapa selalu ganggu hidup aku?"


"Aku gak ganggu, dek. Aku ada urusan,,,"


"Urusan apa, Cindy?" sindirku mulai agak emosi.


"Kalau mas masih ada hubungan dengan tuh cowok, jangan pernah kenal aku, paham,!"


"Aku ingin bahas masalah itu dek. Tapi kamu tidak pernah memberiku kesempatan sedikitpun"


"Apa yang perlu dibahas mas?"


"Banyak dek"


"Lalu aku harus dengarkan mas, gitu. Sudahlah, aku capek mas. Tak ada yang perlu dibahas. Mas masih ada hubungan kan dengan Cindy?" tuduhku tidak main main. Bahkan aku serius.


"Iya, aku salah. Aku akan coba perbaiki. Aku butuh waktu"


"Mas, dari dulu sudah ku bilang. Kalau aku tidak pernah ada rasa sama mas. Anggap saja have fun"


"Apa dek?"


"Lalu mas dengan Cindy selama ini, mas anggap apa?"


"Ak- ku,,,"


"Terbukti jika mas itu plin plan. Mas kadang nyalahin aku juga plin plan lalu sekarang mas apa namanya?" cercaku tak terima dituduh.


"Kemarin mas sudah ku peringati, dan terbukti. Lalu mas kurang percaya. Perlu bukti apalagi?"


"Iya aku percaya. Aku butuh waktu dek"


"Baiklah. Sekarang apa yang mas inginkan?" Akhirnya aku nyerah karena dipaksakan pun rasanya percuma juga.


"Aku sayang kamu dek"


Deg?


Walaupun ungkapan itu dulu sering dikatakan, namun hal itu tetap membuatku tak bisa bicara lagi. Mataku menajam sesaat. Mas Surya malah tersenyum sumringah melihatku gugup. Ku coba untuk redakan debaran jantungku yang tak menentu.


"Ya, aku tahu,,,"


"Pasti kamu menolakku"


"Mas sering mempermainan perasaan".


"Kamu sendiri dek"


"Ya aku salah mas. Apa aku harus masakan hati ku untuk menerima?" Jeda sejenak. "Semua butuh proses dan waktu. Tidak instan" tambahku.


"Aku ingin kita berteman biasa. Bukan TTM" lanjutku.


"Tapi dek"


"Mas, jangan paksa untuk membencimu lagi"


"Iya aku ngerti. Akan ku coba"


"Terima kasih mas"


"Iya. Aku pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" jawabku. Ku tatap kepergian nya semakin menjauh hingga tak terlihat.


Bahkan ini saat nya buat istirahat. Nanti pun ujian kedua ingin Ku selesaikan dengan cepat. Biar aku cepat pulang juga. Aku coba untuk menghindari serta kontak dengan yang lainnya, terlebih dengan orang orang yang terlibat dalam penglihatanku yang akan datang. Sebisanya aku tidak interaksi dengan mereka. Ada rasa takut tersendiri dihatiku terlebih atas ancaman Cindy, jadi pikiranku.


Tinggal lima dan setengah hari lagi waktu ku disini.


"Bening, ada apa pak Surya menemuimu?" tanya Latifah tiba tiba bersama Sarah dan Okta. Kayaknya ketiganya masih bersama. Tadi aku juga lihat Revika dikelas dengan tatapan aneh kearahku. Sepertinya Alex juga cuek padanya. Makin aneh saja kelakuan mereka. Seolah apa yang pernah terjadi dianggap biasa. Aku tidak tahu jalan pikiran mereka kayak apa.


"Tadi ada penting sedikit" jawabku singkat.


"Tapi kayaknya serius gitu, Bening" ulas Sarah kepo.


"Iya lho, Bening kayak gimana ya?" ungkap Okta lebay.


Gini nih kalau punya teman pada rempong, usil urusan orang lain.


"Sudahlah, nggak usah bahas masalah itu kenapa?" ku stop supaya tidak di ungkit lagi.


"Bening aku mau tanya, soal- ehmmm,,,,?" Latifah seperti ragu.


Ketiganya saling tatap ragu. Hatiku jadi tidak enak. Atau jangan jangan ini masalah yang ada dirumah sakit. Atau ini yang maksud ancaman dari Cindy. Detak jantungku berpacu tak karuan. Tentu aku takut. Tapi, mereka hanya sekedar ingin tahu kebenarannya tanpa ingin mengusik kehidupanku. Hal itu dianggap sudah lumrah.


Latifah menunjukan hpnya, scrol lalu menyodorkan padaku.


Astaga!?


'Itukan kejadian kemarin,,,?' batinku tak percaya jika hal itu menyebar di sosmed. Ya Alloh!


Tak terasa air mataku akan tumpah. Harus menjelaskan apa pada mereka. Tapi, baiklah karena itu sudah resikoku. Jadi, harus ku jelaskan.


Ku usap air mataku...


"Sebenarnya aku sudah emosi sekali dengan pak Surya karena selalu mengikutiku. Jadi aku memberinya pelajaran buatnya. Tapi, seperti yang kalian lihat tadi, masih saja menemuiku. Aku sudah kehilangan akal buat menghindarinya" rasanya kini sudah plong.


"Tapi tidak dengan men-cium-nya kan?" Wajah Sarah nyengir saat mengatakan.


"Betul betul betul,,," imbuh Oktavia.


"Iya, mana ditempat umum, dirumah sakit. Aku gak bayangankan reaksi orang orang disana" tambah Latifah.


"Aku tidak tahu" gelengku. Namun, di  Jakarta ini, sepertinya itu hal lumrah, banyak yang nggak peduli apa yang ku lakukan. Mas Surya bukannya kapok malah makin terobsesi sama aku, hingga aku kehabisan akal untuk menghindarinya, selalu mengejar ngejar aku.


Aku tersenyum kecut dengan interograsi mereka ke aku.


"Sudahlah, nggak usah bahas masalah itu" pungkasku nggak ingin memperpanjang masalah lagi.


"Oiya, tadi kamu ngerjain soal ujiannya cepet banget, Bening?" tanya Latifah penasaran.


"Iya" timpal Okta.


"Betul " tambah Sarah.


Ketiga nya yang satu kelas denganku pada heran melihat aku tadi menyelesaikannya dengan cepat beberapa menit. Sedang yang lainnya butuh waktu cukup lama bahkan sampai ada yang jam pelajaran habis baru dikumpul.


"Apa nggak takut salah?. Sayang lho Bening kalau kamu nggak juara, kalah sama Alex atau Revika. Mereka mereka sainganmu termasuk kami, he he heeee,,," seloroh Latifah tersenyum manis padaku.


"Yakin!" balasku singkat. Karena aku yakin jawabanku akan benar semua.


"Kamu terlalu yakin" ucap Sarah.


"Iya, kayaknya sudah tahu jawabannya" terka Okta.


"Rahasia dong. Tenang, aku pertahankan juaraku bahkan sampai tamat nanti. Aku juga ingin segera lulus dari sini. Bisa kuliah, serta tidak mau mengingat ingat lagi kenangan disini. Sangat menyedihkan" ucapku sendu. Sejak Awal disini aku sudah banyak yang tidak menyuksiku. Kenangan yang terlalu pahit ku rasakan terlebih aku orang tak punya. Hanya mengandalkan otakku.


"Bening, maafkan kami, tak bermaksud membuat mu sedih" ujar Latifah diangguki yang lain. Aku tersenyum getir ke mereka karena sedang bersamaku.


"Bening, nanti bantu aku ya. Kayaknya pelajaran nanti bakal sulit" ucap Latifah meminta bantuan padaku. Memangnya aku seorang Dewa yang bisa tahu.


"Iya Bening, paling tidak nilainya standar lah" imbuh Okta.


"Yup, betul. Bantulah dikit, gitu" tambah Sarah memohon.


Hadeh!


"Baik, nanti aku usahain. Buat bantu kalian. Tapi, ingat satu sampai dua puluh aja, ya" ujarku supaya membuat mereka senang.


"Sip" kata Okta.


"Oke" lanjut Sarah.


",,, Beneran, makasih Bening" teriak Latifah girang.


"Lebih dari cukup itu.  Biar nanti  yang lainnya kita yang usaha.  " tambah  Latifah sumringah.


"Ya sudah. Aku mau cabut dulu. Nggak enak banyak yang liatin, tuh" selaku pada mereka yang kegirangan.


"Bening, nanti kita akan tratir kamu selesai ujian ini" teriak ketiga hampir bareng. Aku sudah jalan.


"Nggak usah, terima kasih ya. Aku mau PULKAM!" seruku pada mereka yang sesaat pada terbengong kaget.


"Apa?" Teriak mereka bareng kayak koor.


----------


Sepeeti yang sudah disepakati sebelumnya, aku memberi isyarat dari nomor satu sampai dua puluh. Sedangkan pilgan-nya ada 45 soal, esay-nya 5. Aku bantu dua puluh itu sudah luar biasa.


Tak ada yang tahu apa yang ku lakukan demi membantu kawanku tadi yang mengerumuniku dipinggir lapangan bahkan mereka akan mentraktirku saat nanti Nerima raport, pas liburan. Tapi aku bilang akan pulang kampung liburan didesa lebih menyenangkan tidak banyak masalah seperti disini.


Rasanya sudah cukup aku membantu, dan sebentar lagi aku juga menyelesaikan tugas ujianku season 2, aku ingin cepat pulang tapi nggak enak. Terlebih lihat pandangan Riko dan Alex. Keduanya nampak aneh padaku. Tatapan yang misterius. Nanti, aku akan mampir dulu ke paviliun buat nemui ayah, aku ingin ngobrol banyak, aku udah kangen. Siang pasti ibu juga istirahat sejenak. Jadi aku ada waktu buat ngomong sesuatu ke mereka berdua, ini penting juga buat mereka berdua. Mengingat hal itu hatiku jadi berdebar.


Rampung ujian, waktunya sampai jam sebelas siang.


Satu...


Dua...


Tiga...


Empat...


Lima...


Enam...


Tujuh...


Delapan...


Sembilan...


Sepuluh...


'Ini saatnya aku cabut!' kata batinku, sudah mantap. Ingin segera keluar. Maka aku bangun dari dudukku.


Semua murid menatapku heran karen aku telah menyelesaikan sebelum waktunya. Ini, menit ke 60.


"Sudah selesai kamu-?" Tatap pengawas heran. Lihat name tag-ku. "Bening, cepat banget. Kamu yang dibilang oleh guru pengawas awal, mengatakan kalau kamu mengerjakannya cuma ngasal"


"Maaf, pak boleh diperiksa. Jika ada yang salah akan saya benarkan" ku coba untuk tersenyum sebisanya. Walaupun agak kaku, ku paksakan.


"Tunggu sebentar, akan saya periksa dulu!" sang pengawas coba menahan ku untuk pulang terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian nampak  memeriksa. Aku biasa saja, berdiri disampingnya dengan merendah memberi hormat karena sang pengawas sedang memeriksa hasil ujianku. Sesaat kepala manggut manggut sepertinya mencocokkan apa yang ada dihpnya. Kemudian nampak tersenyum puas padaku.


"Bagus!" ungkapnya setelah memeriksa hasil ujisnku. Tentu hal itu tak luput dari pandangan yang lainnya.


"Bagaimana pak, ada yang salah. Nanti akan saya benerin"


"Cukup" potong nya. "Kamu boleh pulang" titahnya. Tersenyum masgul.


"Terima kasih pak, saya permisi. Assalamualaikum" pamitku meninggalkan ruang ujian. Bersama dengan tatapan tajam mengarah padaku dari semua murid murid. Tak ku pedulikan  itu. Aku terus melangkah menjauh dari kelas menuju ke parkiran.


Membawa motorku menuju ke kediaman keluarga Sanjaya. Untuk menemui kedua orang tuaku juga mengenai liburan ku nanti.


------------


Ada rasa sesak ku rasakan saat motor yang membawaku telah sampai pintu gerbang milik keluarga Sanjaya. Tentu Riko gak menyangkan jika aku datang kerumahnya.


"Assalamualaikum paman" sapaku pada pamanku yang sedang berjaga membukakan pintu gerbang karena ada tombol otomatis nya.


"Waalaikum salam Bening. Kok sudah pulang, bukankah masih jam ujian ini.


"Iya paman, tapi tugasku sudah selesai. Jadi aku bisa berkunjung kesini, buat nemui ibu dan ayah" aku turun dan menakutkan motorku didekat post jaga. Ayah biasanya juga istirahat disini. Aku ingat kala ayah bercinta dengan ibu saat aku pulang dari sekolah, ku dengar ayah dan ibu sedang ada dikamar. Ingat itu aku hanya bisa geleng kepala.


"Paman, aku pamit dulu. Assalamu'alaikum"


"Ya, waalaikumsalam" paman melambai kearah sambil tersenyum riang.


Aku bergegas menapaki jalan melewati samping rumah besar menuju kebelakang, biasanya ibu masih didapur kalau saat seperti ini. Begitupun ayah pasti sedang tidur. Kalau nggak, pasti lagi gunain kesempatan buat kikuk kikuk sebentar. Mikir apaan aku coba? Ya Alloh, pikiranku kearah jorok terus.


Aku pun telah sampai ke paviliun, didepan pintu. Pintu terbuka sedikit. Suasana terasa lengang.


Tok, tok, tok,,,


"Assalamualaikum, ibu, ayah,,, kalian ada" panggil ku keras takutnya mereka berdua lagi asik asikan, takutnya ganggu.


"Waalaikum salam,,,," seru ibu dari dalam, tergopoh keluar sambil membenarkan letak pakaian yang amburadul. Dibelakang ayah telanjang dada dengan dadanya yang coba diredakannya. Mencoba menenangkan nafas, masih berkeringat. Tentu ibu tersipu menatapku, ayah hanya tersenyum malu malu. Kepergok lagi cabul.


"Ya Alloh, nak kamu nggak kasih kabar kalau kesini?"


"Mendadak Bu, tadinya nggak akan kesini, tapi kepikiran kalian berdua, jadi aku putuskan kesini" pelukku sama ibu agak lama. Kemudian ayahku, yang telanjang dada serta masih berkeringat tentu aromanya menguar habis menghajar ibuku dengan cinta mautnya.


"Ayah, aku kangen kalian" pelukku agak lama membaui aromanya yang manly, tapi sangat enak ku cium.


"Nak, ada apa? Kenapa kamu seperti ini?" Ayah coba menenangkanku.


"Ayah, ibu,,," ucapku setelah duduk santai dikursi berhadapan dengan orang tuaku.


"Iya ada apa nak?, ibu terkejut dengar kedatanganmu yang mendadak ini" ucap ibu lembut. Tidak menyangka aku kesini. Karena sejak awal aku ingin tinggal dirumah bibi.


"Iya nak, kenapa tidak memberitahu dulu?" ulasnya lagi.


"Ibu, ayah dengarkan aku,,,"


____________


Km 22/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.