233. Tetap tak mau dengar.

 Bab 233. Tetap tak mau dengar.


★★★★★★


Kedua orang tuaku terdiam ingin mendengar penjelasan ku. Ayahku masih telanjang dada dengan kulit exotic. Kini, agak bersih karena nggak kesawah maupun keladang lagi kayak dikampung.


"Ada apa nak?" tanya ibu.


Ayah cuma mengangguk pelan...


"Rencanaku, sehabis ujian akan pulang kampung, buat liburan" terangku pada orang tuaku.


Keduanya tentu tidak heran lagi dengan keinginanku. Aku ingin setelah lulus nanti, keduanya juga ikut pulang kampung.


Ada hal yang memang sangat ku takutkan. Yang jadi ketakutanku selama ini. Ketakutan yang tidak mendasar, memang.


"Bagus itu nak, jadi bisa jagain simbah putri" ungkap ibu. Ayah memang jarang komen.


"Ayah, ibu apa gak kangen?. Nanti bisa liburan seminggu dikampung"


Terlihat ibu dan ayah berubah rautnya. Seperti tidak enak. Ada sesuatu hal yang disembunyikan, aku jelas melihat itu semua. Seakan dengar kata kampung itu hal menakutkan. Ada apa sebenarnya dengan mereka berdua.


"Ibu dan ayahmu sebenarnya ingin ikut liburan, tapi kami merasa nggak enak dengan keluarga ini terlebih atas jasa mereka selama ini, biaya mu dirawat dirumah sakit nak. Bila ingat itu semua kami tidak bisa untuk meninggal kan rumah ini. Jasa mereka terlalu besar. Makanya kami balas jasa mereka, entah sampai kapan?"


"Ya Alloh, ibu, ayah, Bu Kinasih dan pak Mahendra tidak mengungkit masalah biayanya. Tapi kenapa kalian pikirkan"


"Kita orang miskin punya perasaan nak, ibu dan ayah tidak bisa membalas jasa mereka kecuali dengan pengabdian"


"Sekalipun pada akhirnya, nyawa kalian yang jadi tukarnya. Ibu, ayah, aku pernah bilang ke kalian jika nanti aku lulus, kalian harus pulang, aku tidak ingin kuliah. Aku takut apa yang ku lihat jadi kenyataan. Kita akan terbunuh. Kita semuanya ayah, ibu. Kenapa kalian tidak mau dengarkan aku sedikitpun. Kejadian yang menimpa Putri dan Alex, Angga dan Raya aku melihat semua kejadiannya. Sekarang apa jadinya, bibi dan paman juga secara tidak langsung punya hutang balas budi dengan keluarga Sanjaya. Untung kemarin keluarga Raya tidak menuntut bibi, karena ada aku. Aku coba memberi pengertian"


"Akan kami pikirkan, nak" sela ayahku prihatin. Terlebih aku sampai nangis karena tak tahan dengan sikap orang tuaku yang keras hati juga keras kepala.


"Ibu dan ayah akan menyesalinya jika simbah putri tidak ada lagi. Karena hanya simbah putri yang kita miliki. Sedangkan bude  Sarinah Mukti dan pakde  Ganjar tidak pernah ke Sumatera"


"Nak, kamu bicara apa?  Kami hanya ingin balas budi, itu saja tidak lebih"


"Tapi aku takut hal itu terjadi  ibu, ayah. Aku lihat kalian mati satu persatu ditebak oleh- oleh,,, Riko!" ulasku, mengenang apa yang ku lihat. Bahkan mama dan papanya. Aku tidak melihat kedua kakaknya, Xxaqie dan Zsayefu, mungkin keduanya tidak terlibat.


"Baiklah, jika kalian tidak mau dengarkan aku, aku sudah memperungati ayah dan ibu. Jika memang itu terjadi maka apa pun yang terjadi dengan kalian berdua nantinya aku tidak akan pernah peduli. Kalian lebih sayang kerjaan kalian ketimbang nyawa juga simbah putri dikampung sendirian. Bahkan aku telah kehilangan kehilangan ilmu penjerat mimpi ku.  Tapi bersyukur Alloh memberi kemampuan lain, sehingga aku bisa melihat hal yang akan terjadi nantinya. Bahkan, mungkin ini juga ada kaitannya dengan Riko, karena keluarga Sanjaya juga ikut andil semuanya. Bahkan mas Surya dan pacar laki laki nya bernama Cindy terlibat. Bahkan kemarin aku bertemu dengan keluarga Sanjaya sedang makan di kedai. Juga bertemu dengan Cindy gebetan mas Surya. Yang ku tahu nama sebenarnya Cindy itu memakai nama samaran, yaitu Sandy Pranata. Tapi, mas Surya tidak mengenalnya sama sekali bahkan aku juga memperingatinya tapi dia kukuh tetap bertahan. Mungkin ini sudah takdir, jika apa yang ku lihat itu akan jadi kenyataan" ungkap ku panjang hingga air mataku sudah tak bisa ku bendung lagi.


"Nak,,, nak,,, ibu,,,"


"Nak ayah hanya ikut ibumu"


"Percuma juga aku peringati kalian. Aku rasa sudah cukup. Aku akan pulang kampung selesai ujia. Mungkin aku tidak akan pernah kembali lagi kesini, apapun yang terjadi. Akan akan temani simbah putri sampai akhir hayat beliau. Kini perlahan ingatanku mulai kembali. Hanya saja, aku tidak bisa mengunakan ilmu penjerat mimpi ku lagi, kata Angga mau pun Putri katanya ilmu ku disegel. Entah siapa yang melakukan. Mungkin ini ada sangkut pautnya dengan Ki Angeng Madyo Santoso. Karena Ki Ageng ada kerja sama dengan keluarga Sanjaya. Berat dugaanku, bude Sarinah juga ada dibalik semua ini. Entahlah. Itu hanya dugaanku. Ibu, ayah, aku nanti akan pulang tidak akan kesini lagi, kalian sudah tidak peduli lagi dengan simbah putri di kampung" ku tutup ulasan ku pada kedua orang tuaku.


"Masyaalloh nak, ibu,,," ibuku nangis terisak.


Ayah hanya tertunduk sedih tidak bisa berbuat apa apa. Juga tidak punya keputusan sepertinya keputusan semua ada ditangan ibuku.


"Ibu, ayah aku pamit. Jaga diri kalian baik baik. Jika terjadi sesuatu jangan pernah disesali karena aku telah memperingati kalian berdua. Assalamualaikum...!" Pamitku dengan mengucap salam. Menyalami tangan ibuku. Ibuku ingin memeluk tapi ku tolak begitu pun dengan ayahku. Aku juga menyalaminya ayahku juga akan memelukku tapi ku tolak. Aku pun bergegas pergi dari dalam. Tidak ku tengok lagi biar aku tidak makin pilu.


"Nak maafkan ibu dan ayah" seru ibuku tertahan sambil menggapai ku. Ayah hanya diam didekat ibu menatapku.


Hatiku makin remuk karena aku tak bisa membujuk walaupun hanya sekedar untuk mengajaknya liburan ke kampung. Padahal masih satu semester, tinggal satu semester lagi selesai. Tapi aku sudah tidak tahan lagi.   Entah, aku mau lanjut atau tidak. Karena apa yang ku rasakan selama ini.


Tak terasa aku berjalan telah sampai di post dengan mata merah basah karena menangis terus. Aku tidak berhasil bujuk ibu juga ayahku. Itulah yang membuat sedih sekaligus menangis. Tentu jadi tanda tanya besar buat pamanku.


"Bening, kenapa kamu menangis? Ada apa, apa kamu ada masalah dengan kedua orang tuamu?" tanya paman ku bingung. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan orang tuaku.


"Sedikit paman. Tapi sudah selesai kok" balasku berbohong. Tentu aku merasa bersalah atas apa yang ku lakukan pada paman tapi jika aku tidak bohong maka paman akan banyak bertanya.


"Kalau paman ingin tahu, boleh tanya sama ayah nanti" pungkasku tak ingin berpanjang lebar segera ingin pergi.


"Paman aku pamit dulu" lanjutku, takut jika bertemu dengan Riko. Bukan apa apa hanya saja aku belum siap. Karena sikapnya kini nampak berbeda. Aku takutkan apa yang lihat, dan interaksi dengan Riko adalah awal dari pemicu masalah yang nantinya terjadi. Aku telah menyalah kan kedua orang tuaku. Bahkan aku tidak ingin bertemu mereka lagi.


Namun terlambat!


Tin, tin, tiiiinnnnnnnn.....


Suara klakson memekakkan telinga...


"Pamaaaannn, cepat bukaaaaa,,,,,,!"


Tin, tin, tiiiinnnnnnnnnn,,,,


Kembali suara klakson mobil memekakkan telinga, bising sekali. Tidak hanya sekali dua kali melain berkali kali. Sepertinya Riko sangat temperamen. Itu terbukti karena paman Syarif tadi belum membukanya. Aku merasa diawasi sedari tadi, karena mobil milik Riko tidak bisa dilihat orang nya dari luar, tapi yang berada didalam mobil tentu dengan jelas melihat di luar.


'Ada apa lagi, dengan manusia arogan ini. Sekian lama jarang melihatnya, sekarang sikap kembali ke awal. Mungkin dari apa yang di alaminya selama ini sehingga kepribadiannya kembali' batinku, melirik kearah mobilnya. Karena gerbangnya sudah terbuka.


Kaca mobil depan dibuka perlahan. Tak sengaja aku melihatnya, disaat itulah aku bertatapan dengan pemilik mata elang yang tajam menatapku.


Detak jantungku, terasa berhenti berdetak.


Keadaan Riko terlihat tidak terawat, kumisnya, jambang, rambutnya, kelihatan berantakan, makin tampak dewasa. Sikap tegasnya, serta arogannya terlihat jelas, makin macho.


Aku coba tersenyum. Nampak Riko mendengus tidak suka. Kini aku teringat, saat Riko datang ke rumah sakit. Kalau keadaannya sekarang jadi laki laki IMPOTEN!. Aku baru sadar sekarang. Seharusnya aku tidak menjauhinya karena hal, tapi sikapnya ke aku yang membuatnya aku menjauhinya.


"Paman,,, kesini,,,!" Panggilnya pada paman. Dengan cepat paman mendekat. Riko berbisik ke telinga paman sekejab. Kemudian tatapan Riko tajam kearahku. Dengan senyum miring. Lalu menjalankan mobilnya menuju kerumah besar.


Paman berdiri didekatku...


Ada rasa bingung ku lihat dari rautnya.


"Ada apa paman? Kenapa paman terlihat bingung begitu?" tanyaku, penasaran. Karena tadi Riko berbisik pada paman. Mungkin ada sesuatu yang akan disampaikan nya padaku.


"Bening,,, tadi Den Riko,,, berpesan buat kamu,,,"


"Apa?"


_________


J-23/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.