234. Tidak biasanya. Ada keanehan?.

 Bab 234. Tidak biasanya. Ada keanehan?


★★★★★


Setelah mendapat pesan dari pamanku aku pun bergegas menuju ke rumah besar tujuanku untuk menemui Riko.


Tentu saja aku berusaha untuk menenangkan debaran dadaku yang berdetak seperti berlari ribuan kilometer padahal jaraknya hanya beberapa langkah, ada rasa kecanggungan saat aku berada di depan pintu rumah besar keluarga Sanjaya. Dulu aku terbiasa memasukinya, bahkan aku tak pernah permisi kepada sang pemilik. Hubunganku dengan kedua orang tua Riko baik-baik saja.


Aku ragu untuk mengetuknya terlebih ingat dengan sikap mereka padaku akhir akhir yang berubah dratis. Ada perasaan takut tersendiri dihati.


Jika aku tidak menemui Riko, takut nya nanti ada imbasnya. Mereka begitu sensitif sekali.


Tok, tok, tok, tok,,,


"Assalamualaikum,,," ku ketuk pintu keras keras. Walaupun ada bel dekat pintu.


Kreekkkk,,,


"Waalaikum salam" jawab Bu Kinasih membukakan pintu. Ada senyum terlukis dibibirnya. Kali ini sangat berbeda. Dimatanya terlukis kesedihan yang mendalam.


"Eh, nak Bening, tumben"


"Maaf Bu, ada Den Riko. Tadi paman pesan aku disuruh menemuinya"


"Masuk saja, Riko ada dikamarnya, jangan sungkan sungkan. Ayo nak Bening, silahkan masuk" ucapnya ramah tidak seperti biasanya. Aku sedikit merasa aneh, ada apa gerangan sikap Bu Kinasih kini berubah tidak seperti biasanya.


"Iya, terima kasih, Bu" aku hanya bisa nyengir tidak tahu harus apa. Sumpah, rasanya begitu canggung.


"Langsung saja ke kamarnya nak Bening, Riko sedang menunggumu"


Sikap Bu Kinasih seperti awal aku mengenalnya bersama suaminya pak Mahendra.


Gegas aku menuju ke kamarnya. Seperti biasa nya tidak dikunci, dibiarkannya sedikit terbuka. Aku tahu kamarnya Riko kedap udara, maka suara dari dalam tidak akan pernah keluar.


"Assalamualaikum, Riko,,," rumah ini terasa sepi, entah pada kemana penghuninya. Kemarin lusa pagi aku bertemu keluarga Sanjaya yang liburan makan diluar.


"Waalaikum salam" suara tegasnya, menyambutku.


Perlahan dengan tubuh agak gemetar, hatiku juga merasa tidak enak. Akhirnya aku pun masuk kembali ke kamarnya yang sudah lama aku tidak pernah kemari.


"Rik, ada apa kamu memanggilku kemari?" tanyaku lirih. Ada rasa takut menyungkupi hatiku. Terlebih sikapnya sangat dingin padaku, tak ada senyum sama sekali.


Ku terdiam, terlebih dengan sikap dingin yang seperti es, membekukan hatiku. Pandangan begitu tajam seperti menusuk ulu hati. Aku di buatnya kecut. Terlebih ada rasa canggung. Dia seperti seorang pembunuh. Ya Alloh! Kini baru ku ingat kalau wajah yang ditunjukkannya saat sama pergi seperti apa ku pernah ku lihat. Aku sampai bergidik ngeri melihatnya.


"Rik, kenapa kamu memanggilku kesini, ada apa?" ulasku bertanya apa yang dia mau. Lagi lagi hanya kebisuan yang ada.


"Baiklah jika sikapmu seperti ini, lebih baik aku pergi dari sini" pungkasku tak bisa berkata apa apa lagi. Untuk menyingkapi kemauannya apa saat ini.


Suasana hening sejenak. Pintu kamarnya tidak ku tutup sepenuhnya, masih ada cela.


Sikapnya masih acuh dengan tatapan tajam serta dingin kearah, makin membuat bergidik tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Bahkan, seolah dia tidak bernafas.


"Tutup pintunya, kunci!" perintahnya. Hal itu tentu saja membuatku makin panik. Tubuhku tiba tiba berkeringat dingin, pikiranku sudah tak menentu. Terlebih terkunci didalam. Kalau dulu aku senang, bisa raba raba, pegang pegang dengan puas, pelukan, tidur bareng tapi kali ini berbeda.


Kini, aku yang diam tanpa kata. Tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku seperti terjebak.


Tubuh gemetar takut, ditempatku setelah aku kunci kamarnya. Pikiran tidak bisa berpikir lagi. Blank.


Terlebih lagi dengan keadaan Riko yang terlihat dingin, tanpa ekspresi.


"Ehemm,,," ringisnya, tersenyum miring, menunjukan kearoganannya padaku. Aku tak menggubrisnya. Aku hanya bisa pasrah. Aku sendiri tidak punya penglihatan untuk ini. Aku yakin tidak akan membahayakan diriku.


'Tapi apa maunya, hingga mengundangku ke kamarnya?' batiniu, tentu pikiranku memikirkan sampai ke situ. Namun, tidak sampai.


"Riko, katakan apa mau?" ulasku, ingin tahu hal sebenarnya aku disuruh kemari. Terlebih lagi, wajah paman kebayang tadi penuh kecemasan.


"Kalau kamu hanya seperti ini, maka aku akan pulang saja" finalku. Karena aku bingung dengan sikapnya yang dingin. Ngomong hanya hal penting, setelahnya diam.


Tentu saja aku harus berpikir ulang, terlebih pintunya dikunci atas permintaannya.


"Baiklah!" batas kesabaranku habis. Ku langkah kan kakiku untuk keluar dari kamarnya. Aku seperti dikacangi.


"Sekali kau melangkah keluar, maka kau akan tahu akibatnya!" bentaknya  dengan suara tinggi. Tentu aku sangat terkejut dengan kata katanya.


Ancaman apalagi yang akan dia lakukan?. Tentu orang tuaku yang jadi sasarannya.


"Apa maumu? Sejak tadi kamu diamkan aku. Aku tanya apa maumu, kamu diam saja, setelah aku mau pergi, kamu berteriak gak jelas!" dengusku kesal.


"Aku membutuhkanmu" ucapnya tegas, tanpa ekspresi, menyakinkan. Dengan sorot tajam.


"Boleh aku pergi. Aku ingin konsentrasi dalam belajar. Aku tidak apa yang orang tuaku usahakan selama ini tidak sia sia"


"Tidak. Kamu harus temani aku disini"


"Ya Alloh, kenapa kamu seperti ini. Setelah Raya mutusin kamu"


"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Raya"


"Tapi Raya mengatakan kalau kamu IMPOTEN. Apa semua itu benar? Kamu tidak ereksi saat memintanya padamu. Makanya Rata minta putus dan mengejar Angga"


"Semua itu tidak benar. Raya Bohong. Raya tidak tahu apa apa"


"Maksud kamu apa? Jangan berbelit"


"Aku tidak ingin mengatakan sekarang. Makanya aku ingin kamu nginap disini. Nanti kamu akan tahu jawabannya, kalau Raya itu tidak tahu apa apa"


"Jadi kamu tidak impoten seperti yang Raya bilang ke aku"


Tak ada jawaban, yang ada Riko hanya menggeleng lemah, tanpa ekspresi dengan tatapan tajam serta dingin kearah. Tanpa senyum sedikit ku, tetap dingin.


Aku tidak bisa berbuat apa apa. Aku hanya bisa menunggu jawabannya nanti malam. Apa maksudnya?. Saat ku tanya kan dia impoten, hanya gelengan kepala yang diberikan.


Jadi yang benar itu, Riko impoten atau tidak! Kalau tidak kenapa Raya ngomong gitu sedangkan Riko jawabannya menggeleng saat ku desak. Hingga membuatku bingung dengan nya. Yang harus ku percaya siapa, Riko atau Raya yang sekarang sudah putus.


"Rik, aku mau izin untuk mandi serta menunaikan kewajibanku" akhirnya aku hanya itu yang bisa ku lakukan. Terlebih untuk nanti malam.


Ku guyur tubuhku rasanya sejuk, penat yang ku rasa perlahan hilang saat air kran yang ku nyalakan.


Ku nikmati rintik rintiknya yang begitu.


Entah apa yang terjadi hari ini, aku tidak bakal pernah menyangkan. Mendadak Riko membutuhkanku?


Serta ingin mengatakan sesuatu, dan itu nanti malam. Rasanya, aku malu jika nantinya aku keluar dari kamar, tentu aku akan bertemu dengan kedua orang tua Riko juga orang tuaku, serta paman, bibi juga orang orang yang bekerja dirumah keluarga Sanjaya.


Apa yang harus ku katakan, rasanya waktu yang ku tunggu hingga malam pun rasanya terasa cukup lama.


Aku seperti orang sinting dikamarnya Riko, karena pemiliknya hanya cuek padaku. Sikapnya masih sama, dingin.


Yang bisa ku lakukan hanya berdoa semoga apa terjadi baik baik saja. Semoga tidak terjadi apa apa malam ini.


Saat aku selesai mandi, pakaian ganti sudah disiapkan. Entah suatu keberuntungan atau bukan.


Rasanya aku sudah plong setelah menunaikan kewajibanku serta berdoa.


Aku masih duduk santai dilantai, disajadah.


Kamar sepi, Riko entah pergi kemana. Aku hanya diam saja.


Sesaat dia datang, tapi tak ku perhatikan. Hingga ku dengar dia berkata.


"Makanlah, aku membawakan untukmu"


Perut ku sakit, juga lapar, tapi aku ingin bertahan. Karena dari siang aku belum makan. Jika ku tahan, aku akan sakit nantinya. Jika hal itu terjadi, aku tidak mau masuk rumah sakit, dan itu perlu biaya cukup banyak, pasti beban buat orang tuaku.


"Terima kasih" balasku singkat tak ingin debat atau pun menyalahkan keadaan.


Ku terima nampannya, serta ku makan. Aku dilayani oleh tuan rumah.


"Tidak perlu,,,"


Jawaban yang membuatku kaget.


______________


Sb 24/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.