235. Akhir yang terus terang.

 Bab 235. Akhir yang terus terang.


★★★★★


Saat yang ku nantikan akhirnya datang. Detak jantungku berdetak aneh, tidak biasanya.


Rasanya, menunggu untuk itu cukup lama.


Riko masih diam saja ditempatnya ditengah ranjang bad empuk miliknya.


Aku duduk dipinggirannya karena tidak tahu dengan apa yang ku lakukan.


"Terima kasih atas kesabaranmu, menunggu hingga saat ini" ada senyum samar diwajahnya. Atau hanya aku yang merasakan hal itu. Karena dari awal aku tidak pernah melihatnya tersenyum sama sekali.


Ingin rasanya aku pergi dari sini secepatnya, namun apalah dayaku tak bisa ku lakukan hal itu.


Sikapnya kini nampak lebih biasa, tidak terkesan kaku lagi. Aku merasakan hal itu.


"Kamu tidak perlu cemas, khawatir ataupun takut. Biasa saja" ucapnya santai. Ada senyum lagi disudut bibirnya. Dia sedikit bercanda bercanda kali ini.


What?


Dia bilang begitu santainya. Dari awal hatiku sudah kebat kebit, kini mengatakan hal itu begitu sangat mudahnya. Sudah cemas bukan main. Takut dengan keluargaku yang bekerja di rumahnya. Kini dia yang banyak bicara, akulah yang banyak diamnya.


Apa merasa dia kaya hingga bicara tanpa beban. Itulah orang kaya, ukuranya hanya harta.  Orang kaya mah bebas. Merasa dirinya sultan.


Aku juga tidak tahu apa Riko itu punya aset serta kekayaan sendiri. Selama ini aku tidak pernah tahu akan hal itu.


"Aku menahan mu untuk ini,,," perlahan Riko membuka kaos oblongnya. Dibuang sembarangan. Tentu tubuh atasnya makin terekspos. Mataku terbelalak tak percaya menyaksikan semua itu. Tindakan Riko makin aneh, menurutku, tidak seperti biasanya.


Aku membeku ditempatku, menatapi pahatan sempurna tubuhnya yang makin macho.


"Apa yang kamu rasakan dengan hatimu, Bening melihat keadaanku?" tanya Riko hanya ada senyum tipis. Dibawah hidung bangkitnya ada kumis yang membuatnya perfect dengan wajah tegasnya.


Riko makin gila...


Namun, aku tidak bisa berbuat apa apa, terlebih mencegahnya.


Lidahku kelu, kering, seperti sariawan melihatnya sedang topless.


Dibalik celana jeans panjangnya berwarna biru menyembul celana dalamnya bermerk. Makin membuat terlihat keseksian nya sebagai laki laki macho.


Entah apa maksudnya memamerkan keadaannya padaku, atau akan memperlihatkan sesuatu yang selama ini belum ku ketahui.


Sedari tadi saat tubuh atasnya tidak memakai kaos, milikku perlahan tapi pasti terbangun, rasanya aku tidak nyaman, namun semua itu ku tahan. Aku duduk ditempatku semula. Sedangkan Riko kini berdiri ditengah badnya terkadang tubuhnya seperti sedikot membal.


Bahkan saat tangganya yang berotot akan membuka kancing celana jeans-nya terlihat menonjol  kedua lengannya. Hatiku sudah tak karuan. Riko terlihat menahan nafas, bahkan nafasnya kini terlihat aneh. Sangat sensual sekali dia melakukannya seperti slow motion. Aku merasa tak tahan, gerah dengan apa yang dilakukannya. Sangat merangsang, sangat menggodaku.


"Lihatlah. Lihatlah dengan jelas, Bening. Apa ada yang salah dengan diriku? Sentuh aku" ujarnya. Mulai mendekatku. Tersenyum tawar. Akan tetapi berbeda dengan diriku, yang tiba tiba berkeringat dingin ketika Riko berdiri dihadapannya.


Tubuhku makin bergetar hebat.


"Sentuh!. Pegang!" serunya tertahan. Tubuh Riko bergetar hebat saat tanganku yang gemetar menyentuh perut ratanya, ada bebuluan lembut. Dulu bulu jembutnya tidak dipangkasnya tentu kali ini sudah memblukar.


Tadi menyisakan cd-nya, setelahnya dilorotkan, nampak menggantung, lunglai. Tapi diameternya sudah berbeda sekali dari dulu. Ada lebihnya.


"CEPAT PEGANG!" bentaknya padaku dengan mata membulat. Tentu aku kaget luar biar biasa dengan bentakannya yang tak biasa.


Tadi nya sempat kagum. Dengan miliknya yang telah berbeda dengan dulu.


'Ini mah bukan pisang biasa, ini pisang Ambon?' bisik batinku kagum, sejak aku melihatnya ketika tadi dibukanya.


Dengan tangan gemetar ku pegang batangnya yang menggantung dalam keadaan lunglai. Ku elus seperti memegang barang antik.


Perlahan namun, pasti batang miliknya yang semula lunglai mulai mengembang. Tentu saja aku kaget, jadi tanda tanya besar bagiku jika Riko itu benar benar impoten.


Ingat betul, waktu itu Raya mengatakan kalau Riko itu impoten. Tapi pada kenyataan nya apa yang ku lihat berbeda jauh dari apa yang ku dengar selama ini. Aku melihatnya dengan mata kepalaku hingga membuat kepalaku sakit sebelah jika mikir hal itu.


'Apa Raya berbohong, tentang Riko, kalau dia impoten. Lalu apa yang dilakukan Raya hingga ngomong seperti itu?' desahku tertahan sambil mikir, tanganku megang batangnya yang kini mulai tegak, sempurna.


"Aaahhhg,,," lenguh Riko tertahan. Bahkan kini ku pegang dengan dua tanganku.


Tubuh Riko kini nampak berkilat, terlihat makin seksi. Percumnya nampak keluar karena dilanda sange. Inilah keanehan yang ku rasa pada Riko.


Seketika ku hentikan apa yang ku lakukan.


"Ahhh,,, kenapa?" rautnya terlihat kecewa dengan yang ku lakukan.


Ku gelengkan kepala tanpa kata...


"Kamu baru percaya kalau ini tidak impoten seperti wanita bicth itu katakan" matanya menajam penuh dendam. Seperti ingin membunuh, mengingatkan ku pada apa yang ku lihat. Wajahnya sama persi, wajah yang syarat akan membunuh.


"Iya" jawabku singkat. Sambil ku mendesah pelan.


Masih ku lihat dengan lirikan karena menunduk, kontol masih tegak sempurna. "Huaahaaahh,,," rasanya aku sudah ngantuk karena besok harus ujian kedua.


Riko terdiam, meredakan debaran dadanya dan juga detak jantungnya yang berpacu. Tersirat kekecewaan diwajahnya gantengnya yang berjambang.


Bahkan kini cd-nya yang tadi di lorotkan malah dibuangnya kini keadaan tidak memakai apa apa.


"Kamu ngantuk? Tidurlah. Besok kita ujian" ada seulas senyum, kini. Sambil menarik nafas dalam dihempaskan pelan. "Boleh aku memelukmu?" ijinnya. Aku membeku ditempatku. Riko sudah duduk tanpa ditutupi, batang miliknya dalam keadaan semi tegang. Tanpa sadar ku anggukan kepalaku, pelan.


Hawa dikamarnya sejuk, sedikit hangat. Karena ada ac-nya.


Ku rasakan rengkuhannya. Pelukan hangat mampu meredam gejolak yang tadi tak menentu. Ada sebersit rasa ketakutan dihatiku. Namun, untuk saat ini hal itu ku tepis.


Bisa ku cium aroma manlynya di hidungku. Membuatku makin terbuai.


"Tidurlah" katanya lirih sambil menguap. Bahkan kini tangannya jadi bantalan kepalaku.


Mataku rasanya sudah berat, tak mampu ku tahan lagi.


Tangannya mendekap ku erat. Hangat. Melenakan. Hingga aku pun terlelap.


___________


Rasanya tidurnya sangat nyenyak, lena. Hangat serta tanpa terasa aku terbangun masih dalam dekapan hangat Riko.


"Rik, bangun. Sudah pagi" ucapku, ku geliatkan tubuhku tidak bisa karena dipeluk olehnya.


"Hmmm,,," gumamnya lirih.


Aku membeku ditempatku, tak bisa berbuat apa apa.


Lalu...


"Cuuupppp,,,,!"


So sweet,,,


Riko menciumku hangat dikeningku, aku perlakukan lembut, mersa dan hangat. Ya Alloh...


"Rik- o,,,?" ucapku tak percaya, tentu saja aku terkejut dengan perlakuannya kali, jauh dari ekspetasiku. Memperlakukanku dengan istimewa.


Semalam aku tidur dalam pelukannya yang nyaman. Membuaiku.


Bangun diciumnya hangat. Dadaku langsung berdebar debar tak menentu.


__________


Hari ini terasa begitu ceria. Hatiku tidak seperti biasanya, ada bunga bunga yang bermekaran.


Tentu hal itu tidak luput dari tatapan ibuku yang keheranan melihat sikapku yang terasa berbeda hari ini.


Bahkan aku meluk ibuku hangat sambil senyum bahagia. Ada ayah didapur juga ikut ku peluk. Karena tadi malam jaga saat ini akan istirahat siang.


"Ada apa nak, kamu terlihat bahagia sekali hari ini" tanya ibu ku keheranan melihatku ceria.


"Ah bisa aja. Alhamdulillah, Alloh memberikan kebahagiaan hari ini untukku" pujiku penuh syukur pada Yang Kuasa. Amin!.


Dari mimiknya, ibuku juga juga terlihat bahagia.


"Tadi ibu melihat den Riko tidak seperti biasanya, wajahnya terlihat sumringah. Apa kamu yang membuatnya berubah nak?"


"Iya Bu. Bu aku pamit, assalamualaikum,,," pamitku pada orang tuaku. Muncul Riko dibalik pintu dengan senyum ramah.


Lalu menyalimi kedua orang tuaku. Aku bersyukur pada Alloh sikap Riko berubah total.


Namun, ada hal yang ku takutkan yaitu ketika nanti akhir ujian semester ganjil ini aku akan pulang kampung.


Entah bagaimana sikap Riko nantinya akan seperti ini, berubah atau pun sama.


____________


Mg 25/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.