236. Rasa kebahagiaan.
Bab 236. Rasa kebahagiaan.
★★★★★
Tak bisa ku tolak ajakan Riko kali ini karena tidak ada yang bisa ku lakukan untuk mencegahnya. Terlebih aku mau pun Riko menikmati hari bahagia hari ini.
Riko membawa mobilnya serta aku dipaksa untuk bersamanya.
Dia sering mencuri curi pandang saat aku fokus melihat kearah depan.
Selalu senyum senyum penuh kebahagiaan.
Motorku masih didekat post, sama paman agak didekatkan dipost biar gak ganggu.
Mungkin karena rasa bahagia yang terasa jadi sampai sekolah Permata Bangsa pun kayak sebentar.
Aku belum cerita mengenai rencana ku nanti buat pulkam selesai ujian.
Entah bagaimana reaksi Riko jika tahu hal itu. Aku tak ingin merusak kebahagiaannya kali juga hari hari selanjutnya. Mungkin nanti saat aku akan pulang, bilang sama Riko.
Alhamdulillah!
Sampailah diparkiran yang luas, tentu saja sudah ada murid yang banyak berdatangan. Tentu heran melihat mobil Riko beda dengan yang lain karena orang kayak. Tentu tidak ada yang berani mengusiknya.
"Terima kasih" ucapku saat akan membuka pintu mobil.
"Tunggu!" cegahnya, ku hentikan aksiku. Tentu aku dilanda kebingungan dibuatnya. 'Ada apa lagi?' pikirku. Menatapnya. Ada seulas senyum mengembang.
Belum sempat aku bertanya, hal yang dilakukan Riko diluar dugaanku.
"Cuuppp" dia mengecup keningku hangat. Sikapnya sungguh mesra terhadapku. Sesaat aku membeku.
Tak ada kata dari Riko hanya senyum kebahagiaan mengukir wajahnya.
Tadi jantungku terasa berhenti berdetak, kini berpacu dengan hebatnya.
Hingga secepatnya aku keluar dari dalam mobil miliknya. Coba untuk redakan debaran dalam dadaku.
Perlakuan Riko sangat membekas, ku rasakan. Atas sikap serta perlakuannya pada yang istimewa. Aku tak bisa membalasnya.
Aku pun bergegas keluar dari mobil tentu disambut dengan pandangan mata para murid yang melihatku keluar dari mobil milik Riko. Siapa murid yang gak kenal dengan Riko karena sangat terkenal.
Riko pun menyusul hingga aku berdampingan dengannya. Tentu saja semua yang diparkiran pada heran melihatku bersama Riko selama ini tidak pernah bersamanya.
Sikap Riko tentu saja tidak peduli dengan tatapan serta pandangan mereka. Namun tidak denganku yang harus menahan segala rasa.
Mereka tentu saja langsung berbisik.
"Mas Bening" ada yang memanggilku. Suaranya khas. Itu Angga, karena fokus pada orang yang menatapku aku tidak tahu kehadirannya.
Ada Putri didekatnya terdiam. Keduanya dengan tatapan rasa bersalah. Aku tidak nginap karena Riko mencegahku untuk kerumah bibi. Tentu aku tidak ngobrol dengan mereka karena sudah pulang dari kemarin.
",,,, Mas Bening kok gak nginap?" Tanya Putri lirih. Murid yang lain ada yang pergi juga masih ada yang memperhatikan kami.
"Iya mas, aku dan Putri minta maaf pada mas"
"Buat apa? Supaya kalian bisa ngulangi perbuatan kalian lagi. Terus terang aku sangat kecewa dengan sikap kalian. Aku sudah peduli lagi dengan kalian. Mau nasib kalian baik atau seburuk apapun aku gak akan peduli. Toh, kalian gak menganggap ku lagi" suaranya ku keraskan supaya keduanya paham. Aku sangat kecewa dengan mereka berdua.
",,, Maaf aku mas" Putri tentu saja langsung menitikan air matanya.
"Mas aku akui aku salah" ujar Angga.
"Buat apa menyesal. Kalian tidak tahu bagaimana perasaan bibi sekarang. Biaya buat kalian dirumah sakit. Apa kalian gak mikir. Harus jadi babu seumur hidup buat bayar hutangnya dan itu karena kalian yang egois. Ku akui aku juga pernah ngelakuin kesalahan tapi aku tidak melakukannya dengan sengaja. Andai ada yang memperingatiku tentu akan aku dengar. Kalian sudah aku peringati tapi apa kalian didengar. Kalian sedikit pun tidak mau dengar kalian sekarang menyesal. Buat apa? Pergilah! Lakukan sesuka kalian, aku sudah kecewa dengan kalian karena kalian tidak menganggapku keluarga, jangan pedulikan aku lagi" pungkasku. Meninggalkan keduanya dalam tangis dan kesedihan.
Riko mengikuti dari belakang juga dalam diam.
Rasanya sedih aku mengatakan hal itu pada keduanya. Bagaimana pun Angga dan Putri saudaraku disini. Tapi, aku sudah kecewa. Jika hal itu membuat mereka berubah, aku bersyukur. Jika pun tetap bandel aku bisa apa.
Angga dan Putri tidak berani lagi memanggilku karena aku marah besar pada mereka berdua.
Didalam kelas sudah agak ramai, lagi lagi mereka yang ada didalam kelas menatapku. Tatapan yang tak bisa ku artikan.
Ada Alex yang nampak santai dan tenang duduk ditempatnya. Tatapan juga aneh ketika aku dan Riko jalan bareng.
Tentu aku cuek. Respecku padanya agak berkurang saat ini. Aku juga kecewa karena dia jalan dengan Putri. Lebih baik aku fokus pada ujianku saja.
Riko sudah duduk ditempatnya. Santai sesekali menatap kearahku.
Bel pemberitahuan buat masuk telah bunyi serta ada pengumuman buat seluruh siswa untuk tenang. Seluruh peserta ujian sudah masuk kekelasnya masing masing tak terkecuali kelasku sudah semuanya masuk, langsung tenang.
Seperti biasanya, aku pun langsung mengerjakan. Kali ini wali kelasku pak Lucky yang jadi pengawasnya. Tatapannya sesekali mengarah padaku seperti curiga. Aku hanya tenang wae lihat tingkah guruku itu yang curiga sama aku. Toh, aku tidak melakukan kesalahan.
Seluruh siswa larut dalam soal yang dikerjakan begitu pun Riko nampak serius, sesekali curi pandang melirikku, masih perhatian gitu, sesekali tersenyum penuh arti. Begitupun Alex juga curi pandang, dengan tatapan yang sulit ku artikan.
Begitupun yang lainnya memasuki menit ke tiga puluh. Sesuai janjiku aku pun memberi isyarat pada rombongan cewek ganjen, Latifah dan kawan kawan. Mereka langsung gercep saat ku beri isyarat tentu hal itu tidak dimengerti oleh pak Lucky. Saat ku beri contekan pada mereka dari soal nomor satu sampai dengan sepuluh.
Lumayankan saat istirahat aku makan di kantin mereka yang bayar makananku.
Menit ke enam puluh aku telah selesai mengerjakannya. Dengan santai aku maju, saat pak Lucky sedang duduk sambil sesekali mengawasi para murid mengisi soal ujian.
"Cepet banget kamu Bening ngerjain soalnya. Memang benaran sudah selesai. Ini ujian, tidak main main, kalau nilai kamu jelek bakal gak lulus nanti. Pikirkan masih ada banyak waktunya"
"Alhamdulillah pak sudah selesai. Dan saya yakin dengan jawaban saya, ini pak lebar jawaban saya"
"Baiklah. Tapi tunggu sebentar,,," cegah pak Lucky menahanku, seperti halnya guru yang lainya pun begitu. Saaa aku sudah lebih dulu mengerjakan tugasku.
Sepertinya pak Lucky sedang mencocokan lebar jawabanku dengan kerta yang dibawanya, mungkin itu kertas jawaban. Beliau nampak serius, menahan nafas, hingga akhirnya dihempaskannya nafas pelan pelan.
"Ya, silahkan. Kamu boleh keluar" ijinnya, tak bisa lagi berbuat apa apa setelah lihat lembar jawaban yang ku berikan. Aku tersenyum ramah serta menyalinnya sebelum melangkah keluar. Tak lupa aku juga melambai kearah para cewek yang gak jelas. Terakhir pada Riko, aku tersenyum simpul. Ku lirik kearah Alex yang menatapku dengan raut tidak suka.
Perutku masih agak kenyang, karena sarapan pagi juga rasa bahagia yang ku rasakan. Waktu ujian masih agak lama. Aku bingung sendiri mau kemana. Lebih baik aku kepinggir lapangan, nanti saat istirahat aku akan pergi kekantin.
"Bening, tunggu!" Seru seseorang menahan ku.
_____________
Sn 26/12/2022.
Komentar
Posting Komentar