237. Rasa kesal.
Bab 237. Rasa kesal.
★★★★★
Kaget?
Ditilik dari suaranya aku sangat mengenal sekali suara. Apa mungkin dia sudah selesai mengerjakannya, padahal aku tahu dia tidak belajar sama sepertiku. Apa mungkin dia juga melihat isyarat ku yang ku berikan pada Latifah dan kawan kawannya. Apa perlu ku tanyakan hal itu? Ah, kayaknya tidak mungkin, aku tanyakan hal itu. Kalau dia mau cerita juga gak apa apa.
Barulah aku berhenti dipinggir lapangan yang masih sepi. Tentu tidak akan ada yang bermain dilapangan yang begitu luasnya. Ada lapangan volley ball, basket, bulu tangkis, dan masih banyak lagi yang lainnya. Duduk dikursi putih panjang yang telah disediakan pihak sekolah.
"Rik, apa kamu sudah selesai ngejain ujian mu?" tanyaku, sedikit heran tidak biasanya.
Menghela nafas, Riko baru menatapku sendu serta tersenyum penuh arti. Bawaannya romantis semenjak kejadian tadi malam. Sikapnya sangat berbeda sekali. Hatiku rasanya berbunga serta bahagia melihatnya seperti ini, adem rasanya.
"Bening, nanti jalan jalan yuk selesai ini, nanti sore. Aku ingin ajak kamu, rasanya suntuk. Untuk refresh otak " ajaknya. Bukannya jawab pertanyaanku tapi malah yang lain. Tapi, aku senang juga mendengarnya terlebih atas ajakannya. Buat jalan jalan nanti sore tapi kan aku harus belajar. Aku tak ingin hanya ngandelin kemampuan tanpa usaha dan berusaha. Terlebih aku kan cepat nyelesaiin tugasku.
"Bagaimana, mau kan?"
"Aku pikirkan. Tapi, aku ingin ketempat bibiku"
"Baiklah, nanti aku akan sehabis pulang sekolah. Bagaimana? Setelah itu kamu harus mau ku ajak jalan jalan"
"Oke. Aku gak lama, cuma mau lihat keadaan bibi. Pakaianku sebagian ada disana?"
Tak terasa aku mengatakannya, Riko nampak menatapku aneh. Ada apa dengan Riko, apa berpikir sesuatu. Memang, aku tak akan mengambil pakaianku, aku tinggal disana, jadi saat aku akan pulkam tidak repot repot lagi buat bawa barangku. Tentu hal itu aku rahasiakan dari Riko. Tapi, aku sudah mengatakan bahkan mengajak orang tuaku untuk pulkam.
"Bening, nanti kalau liburan mau gak kamu ku ajak?"
"Kemana Rik?"
"Keluar negeri. Kamu punya keinginan kemana?" tawarnya. "Atau punya impian kemana?"
"Banyak tempat yang ingin ku kunjungi. Tapi, gak ah, aku bukan orang mampu. Maaf Rik, aku gak bisa"
"Katakan, kamu mau kemana, negara mana yang kamu impikan buat kamu kunjungi?"
Kali ini ku gelengkan kepala ku lemah, tentu saja aku kepikiran dengan hutang kami karena pengobatanku.
",,, Sudahlah Riko, lupakan saja. Jangan bahas soal itu. Aku tahu, uang bagimu hal kecil tapi bagiku sangat berarti" tolakku halus. Ku katakan dengan jujur. Ku lihat Riko kecewa berat dengan ungkapanku. Terus terang, aku tak mau jika orang tua Riko nantinya menyalahkan ku terlebih kali ini aku sangat dekat dengan Riko. Tentu hal itu akan menyebabkan Bu Kinasih dan pak Mahendra membenciku.
"Rik, bagaimana tadi ujiannya? Gampang kan" kataku, walaupun wajahnya terlihat kecewa namun coba untuk tersenyum padaku.
"Lumayan lah. Kok cepet kamu, biasanya juga agak lama" lanjutku karena tidak mungkin kalau Riko gak mikir begitupun yang lain. Walaupun Latifah dan kawan kawannya telah ku beri jawaban mereka juga agak lama, mungkin kurang sepuluh atau lima menit baru keluar biar tidak kelihatan.
"Aku perhatiin dari kamu kayak beri kode gitu. Kini aku ngerti, makanya aku ikut aja. Setelah ku teliti jawaban nya benar semuanya dari satu sampai dua puluh. Kenapa kamu kasih tahu mereka? Darimana kamu tahu jawabannya?"
Tentu saja aku bingung buat menjawabnya. Haruskah aku jujur. Kalau aku dan Latifah dan kawan kawannya ada perjanjian bukan perjanjian aku cuma bantu, giliran mereka nantinya bantu aku kalau aku membutuhkan.
"Kenapa, gak bisa jawab" desaknya, membuatku makin kebingungan.
"Kamu kenapa sih Rik? Aku hanya bantu mereka, itu saja, gak ada yang lain"
"Gak ada hal lain kan Bening?"
"Gak, cuma itu doang. Kamu kenapa Rik, sensitif banget? Tidak biasanya"
"Sudah Bening, lupakan" pungkasnya tidak ingin memperpanjang masalah yang ada.
"Aku cuma bantu mereka. Apa aku salah. Mereka juga selalu membantuku Riko. Selama ini kau kemana?" aku tak dapat membendung kesedihanku. Disaat itulah jam istirahat untuk season pertama usai. Itu terdengar dari pengeras suara yang sudah canggih karena suaranya keras, terdengar dimana mana, tentu hal didengar semua murid di sekolah Permata bangsa.
Ku coba untuk membendung air mataku. Aku merasa sendirian selama ini. Tak ada yang peduli, tapi mereka masih ada rasa peduli serta membantu, walaupun tidak banyak paling tidak mereka membantuku.
"Maafkan aku Bening"
"Aku tahu, aku juga akan lakukan hal sama jika aku melakukan kesalahan. Tapi aku tidak semudah itu. Kau tahu Riko, selama ini aku merasa sendirian. Aku diabaikan. Yah, aku terima maafmu" mataku terasa panas. Aku tidak mau cengeng. Cukup sudah selama ini aku bersedih, banyak sudah air mata ku terbuang karena duka yang ku rasakan selama ini.
"Apa itu belum cukup buatmu? Apa kau sudah puas?" setitik air bening hangat karena tak mampu ku tampung sudah meleleh dengan sendirinya.
"Bening,,,,"
"Bening,,,"
"Bening,,,"
Tiga panggilan dari para cewek yang ku bantu meleking,
"Kalian bisa pelan gak sih memanggilku" sungutku kesal dengan kelakuan mereka. Menoleh kearah mereka. Tentu melihat keadaanku yang sedang menangis.
"Maaf!" Sarah, Okta dan Latif tangkupkan kedua tangannya meminta maaf. Ku beri mereka senyum tapi kecut melihat kearah Riko disampingku.
"Kenapa kamu nangis, Bening?" tanya Latif.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Sarah.
"Tidak biasanya kamu seperti ini, Bening" tambah Okta.
Mereka ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Gak ada apa apa kok kawan" kilah ku berbohong. Mereka mengerti keadaanku, jadi tidak banyak tanya lagi.
"Bening, ayo ikut ke kantin" ajak Latif juga yang lain. Bahkan tanpa ragu mengajak, menarik tanganku seperti menyeretku. Mau tak mau aku pun ikut, mereka baik padaku karena aku selalu membantu mereka.
"Riko aku pergi dulu" pamitku, merasa tak enak karena membiarkan Riko sendirian. Mungkin merenungi ucapanku tadi.
"Tunggu. Bareng,,," serunya bergegas membuntuti ku dari belakang sedang dibelakangku para cewek mengiring ku layaknya raja.
Terlihat Riko nampak biasa saja. Aku tidak tahu hatinya. Kini aku baru ingat jika aku dulu pernah bisa dengar suara hati, tapi kini hal itu tidak bisa lagi.
Sampai di kantin sudah ramai, kalau tadi mungkin tidak ada siapa siapa. Tentu saja kedatangan kami jadi sorotan terlebih ada Riko dibelakang seperti pengiring.
Ada Alex yang mandang kearah kami terutama ke aku dengan tatapan aneh. Tapi, aku respecku sudah hilang. Aku tidak peduli lagi padanya. Karena dia telah menyakitiku.
Latif, Sarah, Okta dan kawannya maju untuk memesan. Ada yang kembali ada yang menunggu buat pesanan.
Riko nampak santai ditempatnya....
"Kamu gak pesan Rik?" Tanya ku padanya. Karena cuma diam saja.
"Mereka baik ya sama kamu" balasnya dengan jawaban yang berbeda.
Padahal diawal sudah ku katakan kalau aku cuma sekedar membantu mereka selama ini. Riko masih tanya hal itu, atau curiga padaku.
Ku lirik Alex kepergok sedang memperhatikan ketika dia sedang minum. Tentu hal itu tidak luput dari Riko.
"Kenapa dia? Sok kegantengan!" sungutnya tidak suka. Dengus Riko sambil kepalkan tinjunya.
"Sudahlah, gak usah dipedulikan" jawabku cuek.
"Jadi kamu sudah gak respec sama Alex" ulasnya.
"Sudahlah Rik, aku tak ingin bahas itu" pungkasku tak ingin memperpanjang.
"Awas saja dia berani dekati kamu lagi!" geramnya, sekali lagi. Dengan tatapan dingin, membunuh.
Aku dibuatnya bergidik ngeri!?.
____________
Sn 26/12/2022.
Komentar
Posting Komentar