239. Liburan ke pantai Pangandaran 2.
Bab 239. Liburan ke pantai Pangandaran 2.
★★★★★★
Peringatan!
(Area +18)
Banyak hal telah kami lakukan di pantai Pangandaran, berbagai wahana aku coba bersama Riko. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa bagiku, seumur hidupku aku tak akan mungkin melupakannya. Terlebih dengan Riko orang yang pengertian begitu besar padaku. Akulah yang selalu egois dengan nya. Dengan keadaanku juga. Aku selalu plin plan belum bisa menentukan pilihan.
Kini, ku nikmati sunset terakhir di Pangandaran....
Bersama Riko untuk terakhir kalinya di pantai Pangandaran. Banyak momen yang kami abadikan disini.
Entah kapan lagi aku bisa berkunjung disini lagi. Kami tidak peduli dengan orang orang disekitarku yang menatapku dengan berbagai pandangan bahkan tanpa bisa ku cegah dan ku tahan lagi aku memeluk Riko dari samping menangis terharu tak bisa ku lukisan perasaanku saat. Ada rasa bersalah yang begitu mendalam ku rasakan. Namun aku tidak bisa mengungkapkannya dihadapan Riko malah aku sembunyikan dengan rapat.
NAIF!
Mungkin itu kata yang tepat buatku, aku masih terlalu labil dengan keadaanku sendiri.
Dengan sangat pengertian Riko mendekapku, menenangkan ku hingga aku merasa hatiku kembali tenang. Mungkin, timbul banyak pertanyaan dihati Riko tapi tidak berani menanyakan padaku, tentang kenapa tiba tiba aku nangis dan memeluknya tanpa peduli keadaan.
Hingga sunset benar benar tenggelam dicakrawala. Kembali lagi ke villa. Tentu berbeda dengan Riko hingga tidak ada batasan buat dia. Sedangkan di pantai Pangandaran ini buka jam 06:00 sampai dengan jam 18:00.
Disepanjang perjalan menuju villa Riko menggandengku. Memeluk ku dari samping penuh pengertian terlebih melihatku bersedih, dia tidak tega membiarkan ku.
Sampai di villa, dimeja telah terhidang makanan yang menggugah selera.
"Makan dulu, pasti kamu lapar kan. Kita makan bareng. Jangan sedih terus. Aku,,," Riko tidak meneruskan ucapan nya menatapku penuh arti dengan senyum khasnya yang menenangkan.
"Sudahlah" dia nampak cengengesan membuatku sedikit terhibur dengan kekonyolannya.
"Nanti aku minta emut lho biar kamu gak mewek kayak bocah kecil minta dot, he he heee,,,," hiburnya sambil nunjuk kepunyaannya. "Nah, tegangkan. Aduh, junior ayolah, kamu gak tahu sikon, pake tegang mulu. Baru juga tadi siang lemes, kini kok on mulu" tambahnya dengan sikap konyolnya. Tentu aku hanya tersenyum.
"Ayo habiskan makanannya, setelah itu kita istirahat. Besok pagi subuh kita harus balik lagi ke Jakarta, buat ujian" ungkapnya. Tanpa sadar kini aku menyadari kalau besok itu akan ujian hari ketiga sungguh sampai aku lupa akan hal itu.
"Rik, terima kasih atas semuanya"
"Iya, kamu gak usah khawatir"
Kami nikmati hidangan yang tersaji kini sudah pindah keperut. Mungkin yang menyediakan semua ini adalah pengurus villa milik Riko. Namun, aku tidak tanyakan hal itu.
Selesai makan malam...
"Rik, gak diberesin?"
"Biarin. Besok pasti ada yang ngurus kok"
"Tapi berantakan dan jorok gitu Rik, aku agak risi lihat nya. Aku beresin ya"
"Terserah kamu,,,"
"Bantu dong, Rik"
"Tapi ada syaratnya?"
"Apa syaratnya?"
"Buat dedekku tidur ya"
"Hadeh, itu lagi- itu lagi. Iya deh,,,"
"Janji!"
"Iya,,,! Janji,,,"
Sudah beres, dan akan menuju kearah kamar.
"Makasih sayang. I love you,,,"
Aku langsung terdiam dengar kata kata terakhirnya yang begitu dalam bermakna. Rasanya aku tidak pantas untuk perlakuannya yang sangat istimewa. Apakah Raya pacarnya pernah diperlakukan seistimewa ini, atau hanya aku saja.
"Rik,,," aku pun menghambur ke pelukannya. Aku pun kembali terisak didada bidangnya. Hingga kaosnya basah oleh air mataku.
"Say,,, kenapa kamu nangis dari tadi?"
Kini aku dan Riko satu kamar di bad sedang dengan sprei putih.
"Ak- u terharu dengan semua perlakuan mu Rik. Aku tidak pantas mendapatkan istimewa dari kamu. Kamu buat aku se-special ini. Apakah Raya pernah kamu perlakukan seperti ini"
Riko hanya menggeleng lemah,,,
Ada rasa sesal direlung hatiku yang paling dalam menanyakan hal itu padanya. Aku takut hal itu akan menyinggungnya.
"Maafkan aku Rik"
"Tidak apa apa, aku ngerti pasti kamu merasa aku pernah memperlakukan mantanku seperti yang ku lakukan ke kamu saat ini. Tidak. Bahkan, tidak semuanya, mantanku tahu semua ini, sengaja aku merahasiakan pada siapapun"
Riko begitu hebat menyembunyikan hal ini dihadapan siapapun karena aku pun baru kali ini. Ini suatu keberuntungan buatku.
"Gak usah bahas dia lagi. Aku sudah muak lihat tampangnya. Lupakan tentang dia, anggap angin lalu"
"Apa kamu akan perlakukan aku seperti mantanmu itu?"
"Say, kamu ngomong apa. Aku tuh sayang banget sama kamu, bahkan C-,,,"
Ku tutup bibirnya dengan bibirku hingga bersatu. Matanya langsung membulat tak percaya dengan perlakuan ku. Maka, detik selanjutnya, bibirku dilumatnya kemudian secara perlahan tubuhku dan tubuhnya direbahkan ke bad masih dalam keadaan firstkiss. Melumat pelan penuh perasaan. Oh, dunia terasa begitu indah ku rasakan saat ini.
Dibawah milik kami masing masing sudah tegak menjulang.
Ditangkupnya wajahku, dilumat habis habisan seakan Riko tidak bosan melumat bibirku hingga dia maupun aku sama sama terengah engah.
Entah apa yang dilakukan oleh Riko tubuh atasnya sudah toples. Dengan agak tidak sabaran dilorotkan celana setengah tiangnya serta tidak memakai CD lagi. Lucu memang. Kali ini Riko malas untuk memakai CD. Maka kontolnya pun langsung mencuat sempurna bahkan diameternya pun sudah beda.
"Oughhhh,,, emutnya. Ini,,hahhhh,,, sudah diujung, Say,,," matanya setengah terpejam membuatku kasihan. Maka detik selanjutnya aku melotot kebawah dan mendapati miliknya sudah banyak percum yang berlelehan seperti es krim yang mencarinya, merahnya makin merona dalam ketegangan maksimal.
"Hmmm,,," gumamku ketika kini mulutku sudah penuh dengan kontolnya. Bahkan perlahan ku masukan seluruhnya hingga semuanya masuk.
Tubuh Riko menegang hebat, mengejan kuat. Matanya membeliak...
Nafasnya terhempas kuat bersamaan dengan lahar panas yang menyembur dasyat, sangat banyak dan kental, serta rasanya legit, ada manis manisnya. Bersamaan denganku juga ikut klimaks saat ku emut milik Riko. Aku kelenger diperut ratanya sambil mencoba redakan nadanya yang tersengal. Butuh waktu untuk meredakannya. Begitu apa yang ku alami. Aku juga meredakan nafasku serta deburan dadaku juga detak jantungku. Ku rasakan detak jantung Riko mulai normal. Sesekali nampak menarik nafas dalam dalam.
"Terima kasih ya Say, kamu sangat berarti dihidupku. Andai di Indo ini bisa melegalkan hubunganku kita. Maka aku akan lakukan itu. Namun, disini sangat lah dilarang karang di anggap tabu serta menyimpang dari norma norma" ucapnya diakhir akhir aku melepas kan kulumankum. Dia sedikit merintih, merasa ngilu. Sambil tersenyum penuh kepuasan.
"Aku pantas melakukan ini kekamu. Aku tidak bisa membalas apa apa"
"Apa yang kamu lakukan buatku, sudah lebih dari cukup?"
"Ini tidak sepadan dengan semua pengorbanan yang kamu lakukan ke aku"
"Tapi aku bahagia, itu sudah lebih dari cukup buat, Say"
"Aku tidak pernah merasa membuatmu bahagia. Bahkan aku sering membuatmu kecewa"
"Sudahlah. Bagiku kamu segala buat aku,,,"
Kini aku merangkak keatas, dibantu ditariknya pelan. Aku pun langsung mencium pipinya. Tapi Riko balas mencium bibirku, serta melumatnya penuh gairah.
Yang tadinya sudah reda, kini mulai lagi, nafas Riko mulai tersengal, dia sudah memegang bawahnya yang ku rasakan....
MENEGANG KEMBALI!
____________
SL 27/12/2022.
Komentar
Posting Komentar