24. Kenyataan.
24. Kenyataan...
★★★★
Ku guyur seluruh tubuhku...
Aku mandi junub, sekalipun aku tidak sadar itu mimpi atau bukan. Tapi, aku telah mengeluarkan cairan kenikmatanku. Entah apa penyebabnya?
Niatku akan membuat jera Riko tapi mendadak perasaanku berubah seketika.
Aku menjadi lemah...
Maka, sekencangnya aku berlari dan keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga yang menurutku cukup lumayan.
Entah mengapa aku seperti punya naluri kabur dari kamarnya Riko, padahal sebelumnya aku tidak pernah sama sekali memasuki rumahnya terlebih kamarnya. Tapi entah mengapa aku begitu hafal setiap letak rumahnya.
Setelah berpikir cukup lama baru ku menyadari satu hal, kenapa aku bisa begitu hafal letak rumahnya sedangkan aku belum pernah sekalipun menginjakan kaki ku dikediaman rumah besar keluarga Sanjaya, ada sebabnya yaitu aku pernah menemui Riko di alam mimpi. Itulah sebabnya aku begitu hafal setiap sudut rumahnya yang tanpa takut nyasar. Aku telah menyusuri setiap sudut rumahnya serta membawa Riko ke alam mimpi.
Setelah selesai mandi dan dibarengi melamun. Aku pun keluar dan telah bersiap untuk berangkat sekolah.
Ibuku hanya termangu ditempatnya sambil menatapku penuh keheranan. Seperti sangat penasaran dan ingin menanyaiku.
"Sarapan nak, ini sudah ibu siapin" ibuku menyodorkan nampan berisi sarapan pagiku. Nasi goreng, telor dadar.
Rasanya aku makan tak berselera...
"Terima kasih Bu" balasku karena ibuku telah repot membuatkan sarapan untukku.
"Kamu ditunggu ayahmu. Mau diantar tadi, disamping rumah" jelas ibuku sambil sesekali memperhatikan seperti ada sesuatu yang ingin ditanyakannya.
"Nak, sedari subuh ibu perhatikan kamu melamun saja, ada apa nak?" tanya ibu ku penasaran mungkin karena aku banyak melamun.
"Kalau kamu nggak mau cerita ibu takkan memaksamu" desah ibuku berat karena jika aku diam maka ibuku akan menyerah karena aku tidak akan mungkin cerita mengenai apa yang ku alami.
Ku coba untuk tersenyum menutupi kegundahan hatiku.
"Semalam kamu nginap dikamar den Riko ya nak?" Tanya ibuku kembali, aku tak bisa berbohong lagi, ku anggukan kepalaku membuat ibuku tersenyum simpul.
"Ibu tidak menyangka den Riko mengajak mu tidur dikamar pribadinya karena tidak ada seorang pun selama ini yang berani memasuki kamar den Riko tanpa seijinnya" terang ibuku ada nada kawatir. Tenang ibu, anakmu ini bisa mengatasi masalah yang berhubungan dengan Riko songong itu. Den, Den apa? Dasnya ganden iya (kepalanya peyang)! Ibuku begitu menghormati Riko, jika ibuku tau mungkin akan berpikir seribu kali dengan ucapannya.
"Iya Bu, selamam kan aku udah ngantuk berat. Eh, malah den Riko ngajak aku kekamarnya. Kata den Riko takutnya ganggu ibu istirahat" terpaksa aku berbohong demi untuk menyenangkan hati ibuku.
"Permisi, Bening ada bi?" tanya suara yang tiba tiba datang disaat aku selesai sarapan, mengejutkan kami. Aku sangat mengenal suaranya. Riko, entah mengapa pagi pagi manusia arogan itu sudah nongol kesini tanya tentang aku pada ibuku. Dengan sikap sopannya. Bikin sebel.
"Eh, den Riko ada, baru juga selesai sarapan. Den Riko sudah sarapan belum?" ucap ibuku ramah bahkan menanyai Riko segala.
"Sudah bi. Oiya, rencananya saya mau berangkat sekolahnya bareng, Bening. Gimana bi?" Riko meminta ijin pada ibuku untuk berangkat bareng aku padahal tadi ibuku berpesan kalau ayahku sedang menunggunya. Gimana ini? Pasti Riko ingin pdkt sama aku. Mati aku!. Gimana cara menolaknya?.
"Terserah Bening saja den Riko" ibuku hanya menatapku minta persetujuanku. Menolak rasanya juga tak mungkin, pasti ibuku merasa tak enak. Kalau aku tidak aku yang makin dilema.
"Bening, please bareng aku ya, biar aku ada kawannya" mohonnya kayak anak kecil membuatku makin terpojok.
"Nak, kamu ikut den Riko saja. Buat nemenin den Riko. Kasihan kan kalau ditolak udah nyamperin kesini" pinta ibuku membuatku makin tak enak.
"Puas kamu, membuatku terpojok" sungutku pada Riko. Tentu saja ibuku melotot karena aku tidak sopan dengan anak bossnya karena kedua orang tuaku kerja disini. Riko hanya cengengesan penuh kemenangan.
"Yess!" Girangnya, dengan gaya tangannya yang distrongkan, tersenyum puas karena berhasil membujuk ibuku untuk berpihak padanya.
Aku keluar bersama ibuku, dibelakang Riko masih senyum senyum nggak jelas, mungkin lagi senang hatinya.
"Assalamualaikum Bu" aku menyalami ibuku takjim.
Sebenarnya aku ingin cepat berlalu tapi selalu dibututi oleh Riko yang cengengesan sedari tadi. Bikin aku emosi karena kelakuannya yang bikin badmood.
"Aku tidak mau naik mobil. Mending aku minta antar ayahku" desakku karena memang tidak suka naik mobil terlebih mobil Riko yang super mewah.
"Kan enak naik mobil, nggak kepanasan, kalau hujan nggak basah" jelasnya, tentu saja aku cuek. Menatapnya malas, percuma juga ngomong sama orang yang keras kepala kayak Riko bikin naik darah.
"Terserah. Jalan aja sendiri nggak usah ngajak aku. Nyesel aku ngikuti keinginanmu" sungutku kesal. Tapi, entah mengapa tanganku malah di tariknya, entah kemana?.
"Eh, kamu mau aku ajak kemana? Jangan bertingkah aneh" rutukku makin dibuatnya.
"Bawel amat. Katanya mau naik motor?" kayaknya Riko juga terpancing emisinya.
"Motor matic aja" pintaku tetap masih ditariknya.
"Udah nggak usah komplain, Napa?" sungutnya. Eh, nih bocah kok malah bikin kesel ya. Padahal yang maksa ngajak dia, aku punya permintaan dianya sewot. Dasar cowok arogan yang tengil.
"Kenapa mandang aku segitunya. Naksir ya..."
"Ih, amit amit. Kamu aja yang ngebet sama aku"
"Enak aja. Yang ada kamu tuh yang suka aku"
"Serah lho"
"Kok gitu"
"Capek ngeladeni kamu"
"Kan cuma ngomong"
"Tapi nggak ada ujungnya"
"Aku punya kok"
"Ngomong apa?"
"Bukan"
"Dasar sinting lho Riko"
"Tapi ganteng"
"Gantengan monyet"
"Ngehina ya"
"Buktinya"
"Heleh,,,"
"Kalah gitu, huh"
"Kamu tuh ya, bikin..."
"Sudahlah. Mending aku minta ayahku buat ngantar. Lelet,,," aku sudah kesal dengan sikap Riko. Setelah ku perhatikan begitu banyak koleksi motornya. Aku cuma berdecak kagum melihat begitu banyak motor didalamnya. Ada puluhan motor berbagai bentuk juga merk.
"Ya ini gimana? Ini mantep!" celotehnya aku masih diam dalam kekaguman.
"Dasar udik. Liat gini aja udah ileran. Gimana aku ajak keserum papaku? Mungkin bisa berhenti jantungmu"
"Enak aja. Emang jantungku made in China ada tanggal expired-nya" balasku tak kalah sengit.
"Sudah. Pake ini aja"
"Terserah kamu"
"Nah, gitu dong" sambil mengedip kearahku. Aku cuma cuek tapi dilubuk hatiku ada desir aneh ku rasakan. Namun, rasa itu ku tepis karena aku tak ingin berharap terlebih dengan manusia arogan satu ini.
"Ini helmnya" Riko menyerah helm kearahku, sebelumnya dia memakai helm dulu sambil menatapku.
"Bisa pake nggak? Orang kampung mana bisa" ejeknya. Membuatku geram terus di hina orang arogan kaya didepanku dengan senyum mengejek.
"Terserah. Aku capek ngomong sama kamu. Nggak ada benarnya" sungutku kesal karena selalu di ejeknya.
"Duh, ngambekan terus, kayak cewek" ledeknya lagi, mana moodku belum pulih.
"Mau apa sih Riko"
"Nak,,,?" sapa seorang yang sangat ku kenal yaitu ayahku kini ada didekat kami memperhatikanku dengan heran.
"Nak, yang sopan dengan den Riko. Beliau ini anak majikan ayah. Tolong hormati beliau" terang ayahku membuatku mati kutu. Kini ayahku menasehatiku karena mendapatiku memanggil Riko dengan namanya saja tanpa embel embel 'Den' membuat ku makin membencinya.
"Tuh dengar apa kata paman. Paham kan!" ejeknya lagi menekankan kata paham dihadapan ayahku membuatku nggak enak hati terlebih ayahku menatapku tajam membuatku tertunduk.
Semakin membuatku tersebut ketika ayahku menyambung ucapannya...
"Nak, ayah mohon jangan bikin masalah dengan den Riko ya. Turuti apa kemauannya"
"Tapi yah,,, (manusia arogan ini tidak perlu dihormati ayah, karena dia manusia yang tidak tau diri. Menyebalkan),,,?" aku hanya bisa tertunduk lesu. Ku lirik Riko sekilas dengan tatapan tajam kearahnya.
Dasar manusia muka dua. Kenapa orang tuaku bisa diracuni oleh sikap santunnya padahal warna aslinya itu membuatku ingin mencekiknya. Dasar manusia munafik!.
"Den Riko tolong awasi Bening disekolah ya. Bila salah tegur, kalau tidak bisa dibilangin lapor ke saya"
"Iya paman, beres"
Makin dongkol saja hatiku. Riko seperti di atas angin, semena mena terhadapku terlebih ayahku sangat mendukungnya.
"Kami berangkat paman" pamit Riko tersenyum hangat kearah ayahku sambil menyalaminya takjim, yang terlihat ayahku begitu senang dan antusias. Tapi, hatiku sangat dongkol akibat ulah Riko yang meracuni pikiran ayahku.
"Senang lho ya bikin aku terpojok. Awas kalau lho macam macam, aku bunuh lho!" bisikku setelah aku menyalami ayahku serta naik diboncengannya. Membuat Riko keder dan ciut nyalinya. Tapi, senyumnya tampak mengembang.
"Tenang, aku nggak akan ngadu kok. Lagian aku bisa bersama kamu aja udah seneng banget" ancamanku tidak membuatnya gentar malah cengengesan.
"Dasar sinting!" Aku malah kesal dengan kelakuannya yang menyebalkan. Kenapa sikapnya kini malah lebay gitu. Sudahlah, hal itu memang yang ku inginkan, dari pada hidupku selalu dalam bayang bayang keresahan karena tidak tenang, itu lebih baik. Semoga kedepannya aku tidak punya masalah lagi baik Riko maupun Raya ataupun yang lainnya.
Setelah sampai dijalanan Riko bikin ulah lagi...
"Pegangan, awas kalau jatuh aku tidak tanggung jawab. Tadi paman sudah wanti wanti kalau kamu aneh aneh suruh ngelaporin"
"Dasar tukang adu"
"Bagus dong. Jadi kamu nuruti perintahku"
"Kalau bukan karena ayahku. Mending aku jalan kaki"
"Yah, janganlah. Emang kamu tau jalannya. Nyasar nyahok kamu"
"Mending nyasar dari pada sama manusia nyebelin kayak kamu. Bikin badmood"
"Udah, bawel banget. Pegang, biar cepet nyampek"
"Rikoooo,,,!" teriakku kencang karena Riko tanpa aba aba tancap gas membuatku otomatis memeluknya erat. Dasar sinting aneh!
Bisa ku rasakan aroma wangi tubuhnya. Wangi yang mahal tentunya karena aku belum pernah mencium parfum selembut ini, bahkan beda ketika pertama kali aku mencium parfumnya.
"Udah nyampek. Demen banget nempelnya. Tadi ogah olahan, sekarang udah tau rasanya mau nempel terus" ucapnya hal itu membuatku malu terlebih ini parkiran sekolah tentunya para siswa banyak yang memperhatikan Riko terutama kearahku. Tatapan mereka tampak aneh karena kini aku sekolah bareng Riko musuh besarku di sekolahku tapi tiba tiba kini malah bersama serta berboncengan.
"Eh, eh liat tuh kamseumpay ama ketua gank sekolah"
"Dunia kebalik"
"Berani amat tuh anak kismin ya"
"Gue heran. Kok bisa ya?"
"Sintingnya kumat tuh"
"Mau maunya ya Riko. Ih..."
"Carmuk!"
"Geli"
"Gimana reaksi Raya jika tau, ya?"
"Bacot! Bubar, anj#ng,,,!" teriak Riko melotot pada mereka yang menghujat ku semena mena.
Tidak biasanya Riko semarah itu jika aku dibully mereka, tapi sekarang amat berbeda.
Dengan santai aku berlalu dari parkiran menuju ke kelasku karena memang tujuanku untuk belajar.
Kebetulan aku berpas pasan dengan pak Dwi dan Pak Lexi dua guru tampan tapi tampak lain itu menatapku tidak suka tapi ada senyum merekah, ketika tatapan mereka kearah belakangku karena ada Riko yang membututi sedari tadi.
Bahkan tanpa sungkan kedua guru itu seperti ABG ganjen melambaikan tangan kearah Riko sambil tersenyum lebar. Sepertinya keduanya kayak fans beratnya Riko. Aku tidak peduli tanpa memperhatikan keduanya yang ke ganjenan sama Riko.
Nampak kedua guru itu saling berbisik menatap aneh kearah Riko. Aku seperti punya felling yang tak enak mengenai keduanya, terlebih terhadap Riko seperti akan mengalami suatu.
Aku tidak pernah berharap jika suatu saat Riko akan mengalami hal yang sangat mengenas melebihi apa ku alami.
"Hush, Bening kamu mikir apa?" tanya Riko ketika aku duduk santai sambil ku tatap keluar jendela.
Sebagian siswa sudah pada masuk tinggal nunggu bel berbunyi tidak lama lagi.
Tetap saja Riko seperti cari perhatian terhadapku padahal aku selalu cuek sedari tadi.
"Kamu liat nggak tadi, pak Dwi dan pak Lexi sikapnya kayak gitu. Ih, jijik aku liatnya" Riko seperti bergidik ngeri membayang kejadian yang di alaminya barusan. Mana aku peduli. Mau, jijik mau gelay terserah, itu urusan dia.
"Bodo amat!" balasku jutek.
"Segitunya amat" sambutnya kurang puas.
"Terus, aku bilang wow gitu. Karena kamu ada yang termasuk guru guru yang bela kamu selama ini"
"Ya nggak gitu. Paling tidak-"
"Sudahlah. Nggak penting juga kan..." potongku kesal karena bahasnya nggak penting banget.
___________
Hari ini pak Dwi dan pak Lexi yang jadi guru pengganti ada bicara dengan Riko dan itu kelihatan sangat penting.
Aku tidak tau hal apa yang mereka bicarakan.
Terlebih Riko hanya manggut manggut saja ketika sedang dibisikin oleh pak Dwi atau pun pak Lexi dijam yang berbeda.
Guru guru itu seperti punya rencana.
Sepertinya merencanakan sesuatu? Aku tidak tau itu apa? Namun, perasaan tidak enak mengenai hal itu.
Tapi apa urusanku!
Toh Riko juga nggak peduli seakan hanya setuju dan nurut.
Bahkan saat pulang, Riko tidak cerita padaku memilih untuk bungkam dan dipendamnya sendiri.
Aku pun tidak ingin tau ataupun menyakan hal apa yang di bicara Riko dengan pak Dwi dan pak Lexi sepertinya hal rahasia, yang orang lain tidak boleh ada yang tau.
Tidak seperti biasanya, Riko banyak merenung sehabis bicara dengan Pak Dwi dan pak Lexi.
Biasanya Riko akan selalu lemes kayak cewek tanya ini itu kepadaku tentang apa pun itu.
Tapi kali ini memilih untuk diam.
Aku merasa aneh?
Tapi, bukan itu yang ku inginkan karena sikap Riko bikin sebel dan emosi naik turun.
Terlebih besok hari libur dan itu membuatku tidak terasa.
Aku bakalan di paviliun seharian untuk istirahat.
Bahkan, saat berpisah pun Riko cuma diam saja seperti berpikir sesuatu?
___________
Hingga sore hari bahkan magrib telah menjelang tak ada kabar sama sekali dari Riko.
Entah mengapa perasaanku makin tidak enak.
Tapi perasaan tidak itu aku tepis jauh jauh mengingat Riko telah menyakitiku lebih dari...
Bahkan saat itu kembali pun aku masih termenung memikirkan Riko.
Ayahku sudah nampak bersiap akan sif malam menggantikan pamanku.
Aku tidak tau apa paman dan bibiku pulang, karena biasanya pamanku lebih suka menginap dan menemaniku ayahku buat jaga dan buat menemaninya.
Terkadang bibiku pulang, kalau malas terkadang nginap disini bersama ibuku. Karena ada dua kamar sekaligus ada kamar mandinya. Tapi kali ini cuma ibuku saja yang ada.
Ayahku sudah pamitan untuk berjaga didepan.
"Nak bagaimana sekolahmu?" tanya ibuku tersenyum lembut. Ketika aku duduk santai menikmati acara tv yang membosankan.
"Alhamdulillah bu, baik" jawabku singkat sambil ku rebahkan kepalaku di pangkuannya.
"Den Riko sendiri sama kamu, baikan,,,"
"Iya Bu, baik" balasku singkat dan memang sikap Riko telah berubah semenjak aku telah memberinya pelajaran berharga di alam mimpi.
"Nak ada yang ingin ibu tanya satu hal sama kamu,,," ibuku menatapku ragu. Sepertinya apa yang akan disampaikan itu hal yang sangat penting dan privasi mengenai pribadiku.
Hatiku jadi berdebar. Entah hal apa yang akan ditanyakan oleh ibuku?
"Ibu mau tanya apa?" tanyaku cepat karena ada rasa penasaran.
"Ku harap kamu jujur sama ibu, nak"
"Aku harus jujur tentang apa Bu?"
"Begini,,,?" Ibuku terdiam menatapku tajam seakan mencari kebenaran dimataku. Aku sendiri tidak bisa bohong kepada ibuku orang yang telah berjasa dalam hidupku, orang yang telah melahirkan ku kedunia fana ini dengan taruhan nyawanya.
Aku diam menunggu sambil memperhatikan ibuku yang ragu...
"Katakan Bu. Jika aku bisa menjawabnya?" ulasku kembali. Mungkin akan membahas hal penting yang aku sendiri tidak tau, hal itu mengenai apa.
"Ini mengenai hal yang telah menimpa den Riko?" jelasnya menatapku sejenak tapi di alihkan untuk menatap kearah lampu kemudian berkeliling menatap kearah tembok.
Tentu saja detak jantungku langsung berpacu...
Aku gugup sekali...
Apa ibu tau kalau yang di alami oleh Riko itu karena perbuatanku. Itupun melalui mimpi.
Ku coba untuk menangkan debaran hatiku yang belum juga tenang.
Ku dengar desahan ibuku perlahan...
Berat!
Sama beratnya perasaan hatiku yang saat ini ku rasakan.
Sungguh! Aku merasakan begitu berat perasaan yang ku pikul selama ini. Aku seakan menyerah dengan hidupku yang penuh masalah disaat aku berada di Jakarta. Dulu, ketika aku di kampung tidak pernah mengalami hal seperti dibully, dihina, ataupun dicibir oleh teman teman. Toleransinya begitu tinggi.
"Apakah kamu telah belajar ilmu Penjerat mimpi pada kakekmu, nak?" tanya ibuku lembut tapi itu seperti sengatan listrik bagiku. Ibuku begitu tajam menatapku. Ingin kejujuranku.
Aku tidak mungkin berbohong jika ibuku menatapku seperti itu.
"Bening,,,!" suara ibuku seperti bergetar. Beliau seperti menahan emosi.
Tentu saja hal itu membuatku ketakutan jika ibuku sudah pada tahap emosinya.
"Ib- ibu,,, ak- aku,,," tentu saja aku tergagu untuk menjawabnya. Ibuku tidak mungkin bisa aku bohongi.
"Bening!" bentak ibuku sekali lagi. Matanya melotot tajam menatapku.
Lemas sudah tubuhku!
Dengan menarik nafas dalam, menahan gemuruh didadaku. Aku pun mulai menangis. Sejenak ku kumpulkan keberanian ku, untuk menceritakan hal yang telah menimpaku selama disekolah termasuk ketidakpedulian Angga padaku yang selalu dibully oleh Riko dan Raya.
Hingga terakhir aku dikurung di gudang sekolah serta di aniaya serta menyaksikan sesi pengentotan Riko dan pacarnya.
Semuanya ku ceritakan dengan bercucuran air mata, tanpa sedikit pun terlewatkan semasa aku sekolah.
Hingga ku utarakan niatku untuk keluar dari sekolah yang saat ini aku menuntut ilmu.
Ibuku langsung memelukku meminta maaf...
"Mm- maafkan ibu nak, ibu tidak tau apa yang kamu alami ini. Sungguh ibu tidak menyangka jika apa yang kamu alami begitu berat. Ya Alloh,,," rintih ibuku nelangsa. Sepertinya rasa simpatinya sudah hilang terhadap Riko dan pacarnya. Mungkin ibuku belum pernah bertemu dengan pacarnya Riko atau sudah pernah bertemu tapi ibuku belum tau namanya.
"Sekali lagi ibu minta maaf nak?" sesal ibuku menangis haru menciumiku bertubi tubi serta meminta maaf padaku.
Ku lepaskan pelukan ibuku ...
Air mataku terlalu deras keluar sampai tubuhku terguncang, baru kali ini aku bisa menumpahkan seluruh keluh kesahku yang ku pendam selama ini.
"Ib- ibu tidak perlu meminta maaf. Aku salah. Ku akui aku yang telah memberi pelajaran pada Riko BANGSAT itu. Nyawaku hampir,,, melayang?" air mataku bercucuran sangat deras. Bisa ku bayangkan dengan kejadian kejadian yang ku alami selama ini. "Kalau tidak ada pak Surya yang menolongku,,," imbuhku dengan suara serak terbata. Mataku terpejam mengenang semua kejadian yang terjadi seperti film yang diputar ulang. Ibuku makin meraung dalam kesedihan memelukku erat merasakan apa yang menimpaku. Seakan telah kehilanganku. Air matanya tumpah ruah.
"Manusia itu pantas untuk menerima ganjarannya!" ucap ibu berapi api seakan diselimuti dendam.
"Sudah sudah Bu. Aku tidak ingin membahas hal itu. Aku ingin melupakan hal itu. Untuk itu aku tidak ingin ibu mengetahuinya. Aku merahasiakan semuanya dari ibu juga ayah termasuk paman dan bibi, Supaya ibu dan ayah tidak sedih. Aku ingin melihat ibu tersenyum dan bahagia" isakku telah mereda. Ibuku menatapku iba, kini. Tapi perasaanku bagai tercabik.
"Angga tau apa yang kamu alami, nak?" Ku anggukan kepalaku mengiyakan.
"Ibu sudahlah. Cukup!" Ku angkat tanganku supaya ibuku tidak melanjutkan.
"Ibu minta maaf nak, ibu tidak tau selama ini kamu mengalami hal itu"
"Sudah Bu, sudah. Jangan diungkit lagi"
"Apakah keinginanmu ingin pindah nak?" Aku hanya menggeleng. Ibuku tersenyum getir.
"Ibu tidak sadar bahwa saat itu kamu telah mengalaminya, nak. Kamu meminta ijin ingin pindah. Tapi ibu melarangnya,,," kenang ibuku, mengingat kembali apa yang dulu ku sampaikan.
"Ibu, aku sadar kita orang tak mampu. Sekolah disini sangat mahal biayanya. Jika aku pindah maka beasiswaku akan dicabut. Dengan alasan itu aku tidak mau keluar apapun yang terjadi, sekalipun hal buruk menimpaku" ulasku hal itu membuat ibuku memejamkan matanya. Kepiluan hatinya begitu terenyuh sekarang. Kembali air matanya bercucuran. Aku tau hatinya perih bercampur kepiluan. Tapi, tak mungkin ibuku punya keputusan sekalipun saat ini ada biaya untuk pindah sekolah.
Kini ku coba untuk tegar serta ku usut air mataku yang selalu mengalir bagai sumber mata air.
"Nak, maafkan ibu" hanya itu yang bisa dikatakan oleh ibuku sebagai bentuk rasa penyesalannya. Karena ada hal bisa dilakukannya.
"Ibu tau kenapa den Riko menemuiku. Dia selalu memaksaku untuk menjadi temannya. Aku tidak mau. Tapi, aku selalu menolaknya. Dan perlu ibu ketahui kalau Den Riko mengancam ku,,,!" ku hirup udara dalam dalam. Ibuku masih menghormati Riko dan masih ada embel embelnya den. Padahal aku saja geram sekali padanya.
"Asal ibu tau. Kalian akan di pecat bekerja disini. Itu ancamannya!" jelasku, kembali air mataku tumpah ruah.
"Apa,,,?" ucap ibuku shock sambil menutup mulutnya tak percaya. Air matanya juga mengalir deras. "Astagfirullah hal'adhim!" suara ibu bergetar.
#bersambung....
______________
Sel 8 mar 2022
Komentar
Posting Komentar