241. Apalagi ini?.
Bab 241. Apalagi ini?.
★★★★★★
Tak ku mengerti jalan pikirannya, tiba tiba saja memukul Riko tanpa alasan, baru saja dari parkiran melangkah beberapa meter saja.
Tentu saja aku terkejut bukan main atas tindakannya yang tiba tiba pun dengan Riko tidak bakal menyangka jika Alex memukulnya tepat diperut.
Riko memegangi perutnya sambil meringis, menahan nyeri karena tinju Alex sangat keras itupun tidak disangka sangka oleh Riko.
Kembali Alex maju serta nampak kepalkan tinjunya dan akan meninju Riko lagi.
"Keparat Lo Alex, banjingan!" seru Riko matanya merah menahan amarahnya. "Salah apa gue sama Lo, Anjing?"
"Lo gak ada salah sama gue. Hanya saja, itu peringatan buat Lo!" tandasnya terlihat juga emosi. Ku pegangi dadanya yang gempal, terasa alot dengan detak yang berpacu. Sesekali menatapku tajam, entah apa maksud dari tatapannya padaku.
"Gue gak terima, bangsat!" teriak Riko maju.
Hingga aku di antara dua cowok yang sama sama ganteng, gagah, macho serta seksi.
"CUKUP!" leraiku, dengan pertengkaran yang tiba tiba saja tanpa ada ujung pangkalnya.
"Ada apa dengan kau Alex, tiba tiba mukul Riko? Jelaskan! Apa kamu tidak malu, bikin masalah, bikin ulah. Aku sudah muak lihat mukamu" lanjutku kesal dengan sikap Alex selama ini. Tentu ada rasa benci yang dalam terhadapnya. Sama sama ku pegang keduanya. Dada keduanya berpacu tak beraturan.
Tak ada yang berani mendekat, itu sama saja cari masalah dan menantang keduanya jika turut campur urusan mereka. Hanya aku yang jadi penengahnya. Andai kemampuanku masih ada, hal seperti ini mungkin tidak akan terjadi. Namun, aku punya akal. Tanganku kiriku yang memegang dada Riko perlahan kebawah, pun tangan kananku yang memegang dada Alex. Tentu agak nakal apa yang ku lakukan, toh tidak pada melihat apa yang ku lakukan. Aku juga pernah mempermalukan mas Surya ditempat umum didepan rumah sakit. Kali ini aku ingin melerai keduanya yang bertengkar tanpa ada ujung pangkal permasalahannya. Karena keadaan sedikit agak pendek dari mereka hingga keduanya bebas untuk saling tatap tajam, meluap kan emosi masing masing.
Tak bisa dicegah lagi, ketika mendapat sentuhan ku, baik Riko atau pun Alex, hanya terdiam.
Mungkin dalam hati mereka berdua akan mengumpat dengan kelakuanku. 'Siapa suruh bertengkar, ditempat umum lagi!'
"Hmm,,," gumam Riko saat batangnya yang sudah menegang kena pegang.
"Sial,,,!" ujar Alex ketika batangnya perlahan menegang dalam remasan lembut ku.
Aku tersenyum penuh kemenangan diantar dua cowok yang ada hati denganku. Mungkin ini keberuntungan buatku, atau sebaliknya, petaka untukku. Dikelilingi serta di cintai oleh cowok cowok ganteng, tajir juga perfect.
Remasanku makin terasa...
Tentu saja keduanya setengah terpejam merasakan gairah yang tak dapat dicegah. Setelah itu, aku pun pergi meninggalkan keduanya yang seperti orang yang dipermalukan.
"Awas kau, ya,,," seru Riko lirih.
"Awas saja kau, Bening" ucap Alex pelan.
Seperti orang lainnya linglung. Tentu saja keadaan telah sepi karena semua murid telah masuk kedalam kelas.
Secepatnya aku berlari, jika terlambat bisa kena hukum yaitu push up. Sesuai dengan undang undang yang sudah ditentukan pihak sekolah. Mereka saat ini takut terlebih ada aku, karena nantinya jika tidak melaksanakan hukuman maka aku akan protes tentu akan membuat malu pihak kantor.
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
"Assalamualaikum,,,! Hupfff,,," aku hampir terlambat, karena pintu akan ditutup oleh pengawas.
Aku pun duduk dengan tenang di kursiku.
Diluar, Riko dan Alex gedor gedor pintu minta dibukakan pintunya.
Dengan bersungut dua pengawas wanita dan laki laki kali ini membukakan pintu. Tentu keduanya akan dapat hukuman karena pertengkaran yang mereka berdua lakukan.
"Kenapa terlambat?" bentak pengawas wanita galak pada keduanya yang berkeringat tubuhnya.
"Maaf Bu, tadi ke WC" ucap Riko tampak cuek. Riko bisa saja berbuat ulah dikelas jika dipersulit. Ternyata ibu pengawas memahami keadaan, hingga memutuskan suatu buat keduanya.
"Push up dua puluh kali!" serunya sekali lagi. Sedangkan pak pengawas hanya mengawasi keduanya jika bertindak hal lain.
"Baik bu" jawab kedua hampir berbarengan.
Sudah ku duga hal itu akan terjadi. Tentu para siswa menyaksikan Riko dan Alex kena hukuman di depan pintu. Mereka pun melakukannya hingga 20 kali, hingga keringat makin bercucuran ditubuh keduanya tentu hal itu jadi pemandangan yang memikat serta menggoda bagi kaum hawa dan homo. Wkwkkkkk ...
Mereka tentu menelan ludah lihat tubuh cowok seperti Alex dan Riko yang atletis nan perfect. Tak luput ibu pengawas pun selalu manatapi keduanya dengan penuh kekaguman.
",,, Ehemmmm,,," hingga pengawas pak pengawas yang aku tidak mengenalnya membuyarkan lamunan semuanya yang terpesona dengan keduanya.
Aku hahy tersenyum lihat salah tingkah mereka.
Keadaan aman, tenang terkendali...
Ujian pun dimulai. Kali ini aku lakukan dengan santai.
Tentu hal itu akan menimbulkan tanda tanya bagi yang jadi pengawas hari ini.
Aku tak ingin membuat pengawas hari ini mencurigaiku.
Maka...
Ku perhatikan mata kedua pengawas tertuju padaku. Aku benar benar seperti penjahat yang perlu awasi.
Dengan santai aku pun mulai mengisi kertas jawaban sambil memberi kode pada para cewek yang selalu membantuku, tentu mereka paham serta mengerti maksudnya.
Maka saat aku tulis dari nomor 1 sampai 20 mereka pun nampak bersiap.
Terlihat kedua pengawas berbisik, aku melakukan nya dengan cepat tak ingin yang lain jadi korbannya.
"Bening,,," panggil ibu pengawas karena setelah nomor 20 aku hentikan memberikan kode, karena itu janjiku pada mereka.
"Iya Bu, ada apa?" tentu saja aku berdebar, jika aku melakukan kesalahan.
"Ada yang ingin kamu tanyakan, ibu perhatikan kamu seperti gelisah dari tadi, apa yang kamu lakukan?" ucapnya seperti menyelidikiku. Aku tidak ingin kedua nya curiga dengan apa yang ku lakukan.
"Tidak bu, hanya saja saya belum sarapan, jadi,,,?" jawabku beralasan.
"Oh begitu, ya sudah, lanjutkan" ibu pengawas tidak mengintrograsiku seperti penjahat.
Kini aku agak tenang, walaupun aku selalu diawasi, entah ada apa denganku hingga mereka mencurugsiku sejak dibagikan soal ujian beserta lembar jawabannya.
Hingga 40 menit aku telah menyelesaikan, aku maju, hal itu tentu membuat kedua pengawas jadi keheranan terlebih, ujiannya tergolong agak sulit.
"Kamu,,, sudah selesai Bening?" tanya ibu pengawas juga pak pengawas menatapku penuh keheranan. Terlebih waktu yang diberikan 120 menit, itu waktu agak panjang, biasanya rombongan Latifah menit 100 sudah mulai keluar. Tentu hal itu bikin jadi keheranan buat yang ngawas dikelasku karena muridnya paling cepat mengerjakan soalnya.
"Bu, silahkan diperiksa,,," titah pak pengawas kurang yakin dengan hasil ujianku dilempar jawaban.
Terlebih nanti season kedua, pelajaran MTK, itu pelajaran yang sangat sulit bagi sebagian murid yang notabenya tidak menyukai pelajaran yang satu itu. Tapi aku oktomis untuk hal itu.
"Bagaimana bu, pak,,?"
Keduanya hanya manggut manggut setelah melihat serta mencocokkannya dengan kunci jawaban yang dibawa oleh pak pengawas.
"Ya, silahkan keluar Bening" titahnya Bu pengawas begitupun diberi anggukan oleh pak pengawas menatapku penuh kekaguman sekaligus rasa heran yang tinggi.
"Assalamualaikum bu, pak" pamitku juga pada yang lainnya dibelakang ku yang sedang mengerjakan ujian. Berjuang untuk mendapatkan nilai yang baik.
"Waalaikum salam" jawabnya.
Ku langkahkan kaki keluar ruangan, menuju kebebasan.
Aku berjalan menjauhi kelasku, menuju,,, ke kantin.
Namun....
"Bening,,, tunggu?"
_____________
Sl 27/12/2022.
Komentar
Posting Komentar