242. Hadeh? Bertengkar lagi.

 Bab 242. Hadeh? Bertengkar lagi.


★★★★★★


Panggilannya menghentikan langkahku. Aku kira tadi yang memanggilku Riko ternyata Alex karena suara hampir mirip. Bahkan karena saking fokusnya aku tidak bisa membedakan.


'Hadeh, cari penyakit lagi, nih orang?' batinku berkata ngedumel. Kenapa tidak dibiarkan sekejab saja aku tidak ada masalah. Selalu datang silih berganti masalah yang ku hadapi.


"Ada apa?" Tanyaku masih berjalan karena tujuanku ingin ke kantin.


Alex nampak cengengesan....


Dasar tidak tahu malu. Kalau, tidak ganteng dan macho sudah ku bejek bejek mukanya yang bikin gemes itu.


"Jangan cepat cepat, santai napa?" rajuknya, memang tidak tahu sikon Alex.


Kini dia mensejajariku, aku tidak tahu bagaimana reaksi Riko jika tahu kalau Alex bersikap seperti itu ke aku.


Mataku membulat, karena tadi pertanyaanku tidak dijawabnya. Mungkin mau milih kata kata yang tepat buat ngeles atau cari alasan yang tepat karena telah membuntutiku.


Ini masih hari ketiga, tinggal 3 hari lagi. Kenapa sampai hari terasa begitu lama. Kini, malah ada gangguan lagi. Ingin aku tenang sejenak tidak ada gangguan, baik dari siapapun termasuk Alex. Mana rombongan Latifah tahu tentang kepergianku. Dari mana coba mereka tahu, atau....


Kembali pandanganku ku arahkan pada Alex. Timbul rasa curiga ku pada nya terlebih kini Alex ingin nempel kayak perangko. Tadi pun saat akan masuk, saat ku pegang kontolnya cuma diam saja, bahkan ada sedikit ancaman.


"Ada apa, Al?" ulasku karena tadi cuma diam bahkan berkata lain.


"Ada hal penting yang ingin ku katakan sama kamu"


"Atau jangan jangan yang tahu mengenai kepergianku dengan Riko, itu adalah kamu?" tuduhku karena dia ingin dekat padaku.


Mendadak mukanya berubah, setelah itu diedarkannya lalu menarik nafas dalam dalam merasa aman tanpa terasa aku pun ikut mengedarkan pandanganku, terasa lengang. Tentu saja keadaan masih karena ini masih jam ujian dan masih beberapa menit lagi barulah istirahat.


Aku mendengar pengakuan Alex, apa benar kalau dia dalam dibalik semua yang diketahui oleh Latifah dan kawan-kawan nya. Tentu saja rasa penasaran itu menggelayuti hatiku. Apa mungkin anda akan mengungkapkan semua itu kepadaku. Kalau aku terserah dia mau mengaku atau tidak namun aku masih mencurigainya.


"Kenapa diam kamu punya mulut kan untuk ngomong?" Tanya aku dengan nada jutek. "Ternyata bukan banci aja yang pengecut" tukasku karena Alex hanya terdiam tanpa menyahut.


"Jadi benar kecurigaan kalau kamu dalam dibalik semua masalah yang terjadi" desakku karena Alex tidak mau mengakuinya.


"Maafkan Bening, apa yang kamu tuduhkan padaku, itu semuanya benar?" Aku-nya dengan wajah tertunduk.


Tentu aku terperangah mendengar pengakuan dari Alex bahwa Alex adalah dalangnya.


"Katakan terus terang jangan berbelit-belit Al. Aku tidak suka orang berbohong kau tahu itu kan" seruku tegas, dengan mata sedikit membulat ke arahnya.


"Iya sebenarnya aku telah mengikutimu karena bersama Riko. Sampai aku terkejut bahwa tujuanmu bersamaku ke pantai Pangandaran" ada jeda untuk sesaat. Aku masih menunggu cerita yang disampaikan oleh nya. Aku ingin tahu kebenaran sesungguhnya dari mulut Alex.


"Bahkan aku juga menginap di villa dekat villa yang kamu tempati bersama Riko. Namun saat jam 01.00 aku pulang. Sesampainya di rumah aku chat Latifah dan kawan-kawannya bahwa kamu dan Riko telah pergi ke pantai Pangandaran dan menginap di villa nya Riko" jelas Alex, dan itu tidak berbohong.


"Ya Allah Al, kenapa kamu melakukan semua itu? Maksud kamu apa, Al? Bahkan kamu sampai memberitahu keadaanku juga keberadaanku bersama Riko pada Latifah dan kawan-kawannya, apa maksud dari semua itu, Al?" Tak bisa ku bendung rasa kepedihanku, mendengarkan penuturan dari Alex.


"Ada belum cukup kau menyakitiku, Al. Saat kau bersama Putri aku sudah merelakan mu, bahkan berkali-kali aku juga sudah memperingatkan mu. Aku sudah tidak perlu lagi padamu, Al. Jangan pernah dekati aku lagi, aku tak ingin menyakiti hati dan perasaan Riko" setelah itu aku pun berlalu darinya tidak memperhatikannya lagi.


"Bening, tunggu aku mau mengatakan sesuatu padamu?"


Namun ada hal lain yang terjadi....


Bugh,,,,


Bugh,,,


Bugh,,,


"Keparat, banjingan,,, Lo  Alex! Gue sudah bersabar. Untuk apa yang telah Lo  lakukan?" seru Riko yang datang mendadak.


Ternyata datangnya karma itu lebih cepat tadi Alex memukul Riko tapi kini sebaliknya Riko memukul Alex.


Tak dapat dielakan oleh Alex, tinju Riko yang bertubi-tubi mengarah ke perutnya. Tentu saja Alex langsung kesakitan sambil terbungkuk-bungkuk.


Kali ini aku biarkan keduanya bertengkar bahkan berkelahi sekali pun, aku ingin lihat siapa yang lebih kuat di antara keduanya ha ha haaa,,,


Mungkin ini terdengar jahat ataupun sadis, tapi memang sengaja aku lakukan hal itu. Karena sudah sangat kesal dan jengkel terhadap Alex.


Tubuh keduanya sama gedenya bahkan juga benda pribadinya juga hampir sama, hanya perbedaannya, yang Riko tegak lurus, sedangkan Alex melengkung seperti bulan sabit he he heeee,,,,  Terdengar lucu tapi itulah kenyataannya, sekaligus perbedaannya.


"Lo yang bangsat!" teriak Alex tak mau kalah dari Riko yang otot otot pada keluar begitu pun keringatnya mulai basahi pakaiannya.


Ini bakal seru perkelahian kedua yang cuma ngandelin otot tanpa ada yang salah dari keduanya yang bisa bela diri. Tentu akan akan ada keseruan tersendiri. Aku ingat dengan perkelahianku dengan mas Kharisma yang saling adu kemampuan serta adu kekuatan.


Des, bug...


Bug, Des...


Des, bug,,,


Kedua saling adu pukulan serta saling tinju sekenanya, aku jadi penonton yang baik lihat keduanya yang mulai bonyok muka gantengnya. Kasihan, kasihan, kasihan,,,


Entah, apa pemicu utamanya hingga kini berkelahi sangat sengit. Bahkan kadang kala saling rangkul, disisipi dengan tinjuan ditubuh masing masing. Nafas keduanya ngap ngapan. Sungguh pemandangan yang miris sekaligus lucu. Akhirnya keduanya capek sendiri. Aku menatap keduanya dengan heran.


"Kok bisa kalian ini berkelahi tanpa pasti, apa penyebabnya?"


"KAMU,,,!" teriak keduanya berbarengan. Ini sungguh aneh, bahkan mereka berdua sampai bisa bareng begitu dengan nada tinggi.


"Jadi kalian memperebutkan aku, begitu?"


"IYA,,,!" seru keduanya lagi, dengan tatapan tajam. Lagi lagi mereka berdua bisa bareng.


"Sudahlah,,," pungkasku dengan tingkah keduanya.


"Beninggggg,,," teriak keduanya.


Barulah keduanya tersadar...


"Lho kok, Lo gitu,,,?" tanya Alex heran.


"Seharusnya gue yang nanyaj dodol, kok Lo gitu?"


Ribut keduanya, yang tadinya akan melangkah pergi, ku urungkan niatku. Aku berbalik melihat keduanya lagi ribut seperti anak kecil. Hal itu bikin aku gemes ingin jewer telinga mereka masing masing. 'Awas saja. Udah bikin malu!' sungutku kesal. Ku edarkan pandanganku masih sepi dan lengang sekitaran karena waktunya kisaran 15 menitan lagi. Mereka berkelahi serta ribut hampir satu jam lebih. Basah kuyup tubuh keduanya. Kini masih saja ribut, tadinya mereka berdua menyerang serta menyalahkanku. Ini terdengar aneh buatku. Bisa bisanya mereka berdua menyalahkanku. Kini, kalian rasakan apa yang ku lakukan ke kalian.


Ku jewer telinga keduanya. Hingga meringis kesakitan ku geret ke kantin sambil berteriak mengaduh tak ku gubris.


"Aduh, sakit Bening!" seru Alex kesakitan.


"Aduh, sakit sayang!" seru Riko tanpa sadar dengan kata katanya.


"Apa?" kaget Alex, melotot kearah Riko tak percaya.


"Kenapa? Gak usah heran!" sentak Riko dengan senyum miring kearah Alex penuh kemenangan serta ejekkan.


Keduanya masih dalam jeweranku saja bisa bisa berseteru. Maka yang ku lakukan selanjutnya, memuntir daun telinga mereka berdua tanpa ampun.


"BISA DIAM NGGAK KALIAN BERDUA?"


"Iya,,," jawab keduanya lirih. Pegangi telinganya masing masing yang ku jewer sekaligus ku pelintir.


KASIHAN!?


______________


Sl 27/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.