243. Berkelahi terus, apa nggak capek?.

 Bab 243. Berkelahi terus, apa nggak capek?


★★★★★


Insiden saat istirahat sangat berkesan sekali...


Sangat lekat diingatanku, bagaimana aku candai keduanya yang seperti orang idiot.


Semua ku abaikan dulu, kali aku fokus mengerjakan soal ujian. Sekali lagi, pengawasnya pun ganti seperti itu aturannya.


Lagi lagi aku jadi pusat perhatian kedua pengawas padahal hari pertama dan kedua cuma satu orang tapi hari ini dua orang, entah apa yang terjadi, atau itu karena aku. Tentu berbagai pertanyaan memenuhi otakku. Namun, aku tidak pedulikan hal itu, selama aku tidak melanggar aturan yang telah ditentukan.


Aku tidak tahu apakah, kelas yang lain berlaku hal yang sama dengan kelas ini.


Kini aku baru ingat kalau aku akan berkunjung kerumah bibi, karena mungkin bibi selama seminggu belum bekerja karena memperhatikan kondisi Angga dan Putri.


Selama tiga hari ini walaupun satu sekolah aku tidak melihat Angga dan Putri karena memang beda kelak terlebih lagi aku harus fokus dengan ujianku dan juga membantu teman-temanku.


Tidak banyak yang kulakukan seperti biasanya hingga menit ke 40 aku telah menyelesaikan soal yang diujikan dengan mapel MTK.


Lagi dan lagi aku harus menghadapi kedua pengawas yang sangat terasa mencurigaiku. Seolah aku adalah seorang penjahat.


Seperti biasanya aku pun maju ke depan untuk menyerahkan lembar soal dan juga lembar jawaban yang telah aku selesaikan.


Tentu aku akan ditanya dan itu pasti oleh kedua pengawas yang menatapku dengan tatapan tajam penuh selidik.tentu saja rasa curiga pasti ada untuk mereka karena waktu 40 menit itu adalah waktu yang singkat terlebih lagi ini adalah mata yang di ujian adalah MTK.


"Ini pak,,," ku sodorkan lembar jawaban dan kali ini pengawasnya adalah dua orang guru laki-laki.


"Tunggu sebentar!" Titah salah seorang guru pengawas padaku mencegahku untuk tidak berlalu.


Nampak guru yang satunya berbisik entah apa yang mereka bisik kan aku tak peduli walaupun aku jelas sekali mendengarnya.


Keduanya sibuk juga mencocokkan lembar jawabanku dengan lembar jawaban yang mereka bawa itu nampak jelas sekali di depanku namun reaksiku hanya diam saja memperhatikan sambil menunduk.


Rencanaku sehabis pulang ini aku akan ke rumah bibi aku ingin melihat keadaan mereka akhir-akhir ini bagaimana. kaloriku tidak mau mengantarku maka aku akan jalan kaki karena dari sekolah menuju ke rumah hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan jalan kaki.


Jika ingat hal itu, aku ingat pertama kali aku masuk sekolah di sini dan banyak kenangan yang sudah kulewati sungguh ironi bukan, aku menang ke masa lalu namun masalahnya tidak perlu untuk diingat apa ataupun diungkit. Karena tak ada uang aku dan Angga jalan kaki bersama menuju ke sekolah, di sepanjang jalan aku dan Angga selalu bercanda bersendau gurau, melupakan masalah yang ada. Dari rumah sudah sarapan pagi, saat istirahat aku melihat para siswa pergi ke kantin n untuk memberi makanan ataupun minuman sedangkan aku yang tidak punya uang pergi ke perpustakaan untuk membaca dan menambah ilmu. Beda dengan Angga Dia punya boss bernama Riko, karena Riko selalu memtraktir Angga yang dijadikan kacung olehnya.


Aku menunggu di parkiran sampai 30 menit sambil mengenang masa lalu. Jika pun Riko belum selesai maka terpaksa aku akan jalan kaki menuju ke rumah bibi.


Satu...


Dua....


Tiga...


Empat...


Lima...


Dari waktu yang telah ku tentukan sambil ku hitung namun dari Riko tak jua datang. Perlahan ku langkahkan kakiku pergi dari area parkiran.


Namun masih 10 langkah ada yang memanggilku...


"Bening tunggu!" panggilnya, suaranya begitu khas dan familiar.


Ku hentikan langkahku untuk memperhatikannya siapa orang yang memanggilku walaupun aku sedikit menduganya.


Saat aku menatapnya tentu saja aku kaget dibuatnya. namun yang lebih mengagetkanku yaitu orang yang ada di belakangnya yaitu Riko.


Ini bakal akan ada perkalian season ketiga. Wajah keduanya nampak menegang seperti biasanya. Tentu saja luapan emosi keduanya menggebu-gebu.


Tadinya aku akan menyahutnya namun karena melihat orang yang ada di belakangnya niatku ku urungkan.


Satu langkah didepan, istilah yang tepat buat Alex. Namun seolah Riko tidak akan menyerah akan hal itu.


Wajah keduanya nampak membersih tentu hati mereka sangat panas. Dan ini masih di area parkir yang masih lengah karena seluruh siswa masih mengerjakan ujian MTK. Tentu mata pelajaran itu sangatlah menguras pikiran dan energi. Terlebih untuk 5 pertanyaan essay yang tentunya akan membuat kepala berdenyut sakit. Aku sudah membayangkan hal itu jika bagi murid yang tidak mampu.


Namun kali ini berbeda dengan apa yang ada di hadapanku yaitu dua orang laki-laki macho yang sedang berseteru dan entah apa yang menjadi pemicunya dari yang aku rasa mungkin akulah yang jadi pemicu pertengkaran yang terjadi di antara keduanya. Padahal jelas wajah mereka saja masih lebam-lebam akibat perkelahian saat akan istirahat menjelang dan kali ini mereka akan berkelahi kembali.


"Bangsat Lo Alex ternyata Lo mengambil kesempatan. Apa sebenarnya mau Lo?Apa tidak ada bosan-bosannya Lo mengganggu hidup nya serta ingin mendekatinya? Tidak tahu malu!"


"Jaga ucapan Lo, seharusnya gue yang berkata seperti itu, bukan Lo Riko"


"Dasar bangsat Lo Alex, pura-pura bodoh atau tidak tahu"


"Bukan urusan Lo. Bening aja gak keberatan gue deketin tapi Lo aja yang kayak kebakaran jenggot"


Kini tatapan Riko mengarah padaku ingin tahu kebenaran apa yang diucapkan oleh Alex.


Tentu saja aku menyangkal akan hal itu karena aku tidak tahu menahu tentang apa yang dilakukan oleh Alex terhadapku selama ini karena aku tidak peduli lagi dengan Alex. Aku sudah terlanjur kecewa dengan Alex. Terlebih lagi saat aku peringati ketika Alex dan Putri akan pergi jalan-jalan. Sejak saat itu aku tidak ada respek lagi sama Alex.


Tatapan tidak suka aku kutunjukkan pada Alex, ternyata Alex pandai sekali bersilat lidah. kini baru aku tahu sifat yang sebenarnya namun dari apa yang pernah aku lihat sikap elit tidak sepertikini baru aku tahu sifat yang sebenarnya namun dari apa yang pernah aku lihat sikap Alex tidak seperti ini. Atau mungkin ini hanya permainan dia saja supaya aku terkejam olehnya, bisa saja hal itu terjadi untuk menutup-nutupinya di hadapanku juga dihadapan Riko jadi dia selalu bikin ulah dan masalah.


Masih berfikir, tahu tahu mereka sudah adu pukulan saling hantam satu sama lain. Saling rangkul, saling tinju, saling pukul, jarang nendang.


Pada ujungnya aku bosan melihat perkelahian mereka berdua, dimuka bonyok bonyok serta darah bibir serta lebam lebam diwajah mereka yang ganteng, tapi tetap punya pesona tersendiri.


"Keparat Lo!"


"Bangsat Lo!"


"Anjing Lo!"


"Bajingan Lo!"


Itulah umpatan-umpatan mereka berdua yang tidak tahu sikon serta lingkungan mereka saat ini berada. Ternyata saat berkelahi toleransi tidak ada gunanya bahkan ucapan pun juga tidak terkontrol.


Akhirnya keduanya pun berhenti berkelahi dengan nafas ngos-ngosan serta tubuh penuh keringat bercampur darah serta muka yang tidak berbentuk lagi, lalu apa yang mereka dapatkan dari apa yang mereka lakukan. Yang ada mereka capek serta lelah sendiri, sambil keduanya meringis memegang wajah serta dada, perut mereka.


Itulah sebabnya tidak ada gunanya untuk kelahi karena ujung-ujungnya mereka sendiri yang menyesalinya.


"Sudah kalian sudah puas dengan apa yang kalian lakukan?" Bentakku pada keduanya dengan rasa sebal.


"BELUM!" jawab keduanya singkat. Bisa-bisanya keduanya masih menjawab nya bersamaan padahal mereka lagi bersitegang dengan tatapan tajam.


"MAU KALIAN APA?" bentakku lagi.


"Tidak ada" kali ini jawaban keduanya pelan, seolah tidak ada masalah yang terjadi.


"Sudahlah" pupusku, tidak peduli dengan mereka berdua yang masih saling berhadapan. Aku pun pergi meninggalkan keduanya yang masih berada diarea parkiran.


Bergegas cepat aku pun sampai di gerbang sekolah disambut oleh satpam dengan senyum ramah.


Entah suatu keberuntungan atau apa?, kali ini aku bertemu seseorang hingga aku pun menyapa dengan rasa canggung terlebih dilihat oleh pak satpam sekolah.


___________


Rb 28/12/2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.