244. Ada keharuan.

 Bab 244.  Ada  keharuan.


★★★★


",,, M- pak dari mana?" tanyaku pelan, karena masih ku rasakan ke canggungan. Kali ini memakai batik seragam untuk para guru, tubuh atletisnya tercetak nyata. Aku hanya menatapnya sekilas tak aku mau kagum akan sosoknya yang bikin berdebar.


Ketika pandanganku tertuju kebawah ku sadari kalau benda antik milik mas Surya sudah tegang. Ini cowok kok sange gitu kenapa? Pikirku tidak sampai, hanya bisa geleng kepala lemah. Heran sekaligus. Mas Surya hanya bisa nyengir kuda kepergok olehku. Ditanganya ada kresek hitam besar. Mungkin itu catring untuk makan guru nanti siang. Itu besar dugaanku.


"Ini ngambil catring, Bening. Sudah selesai ngerjain ujiannya" jelasnya sambil tanya tentang ujianku.


"Sudah. Ini saya mau ke rumah bibi, jalan kaki. Jarak dekat dari sini"


"Nanti biar aku antar saja" tawar mas Surya.


"Nggak usah pak. Ini saya sekalian olah raga kok, sudah lama gak gerak, he he heee,,," kilahku tak ingin merepotkan, dengan tersenyum.


"Oh, tapi ada yang mau aku sampaikan ke kamu. Penting gak penting,,," pandangannya diedarkan.


"Tentang aku mengerjakan soal dengan cepat aku selesai" tebakku.


Wajah mas Surya berubah, dugaanku berarti benar.


"Pasti jadi perbincangan. Apa bapak bicara pada mereka, karena aku bisa melihat masa depan"


"Gak, aku gak pernah nyinggung tentang masalahmu. Aku merahasiakan hal itu"


Ku hembuskan nafas lega. Jika pun mas Surya tidak merahasiakan hal itu mungkin aku akan kena masalah. Ternyata mas Surya masih berbaik hati padaku  karena mas Surya ku beritahu akan hal itu, begitupun Angga dan Putri.


Didepan ada mobil yang datang tak begitu ku perhatikan, pasti akan menjemput. Aku tidak tahu siapa yang akan dijemput. Baru ku ingat jika motorku masih didekat gerbang dirumah keluarga Sanjaya. Pasti aman disana.


"Terima kasih pak" anggukku. "Assalamualaikum,,," lanjutku pamitku tak ada hal lain yang perlu ku katakan. Semua sudah cukup. Hanya saja, apakah mas Surya masih berhubungan dengan Cindy alias Sandy.


"Waalaikum salam" balasnya dengan senyum penuh arti.


Aku melangkah dengan tenang keluar gerbang dengan jalan kaki.


Semakin jauh dari gerbang, dari sekolah permata bangsa.


Aku tidak tahu kemana, baik Riko atau pun Alex. Mungkin lagi berunding, entah tentang masalah apa? Ku gelengkan kepalaku pelan untuk menepis segala pikiran buruk ku. Kini lebih tenang,


Jalanan yang kulewati adalah jalanan yang penuh kenangan, kenangan yang takkan pernah terlupakan karena ada banyak cerita yang ke lalui di jalanan ini bersama Angga.


Dulu pernah aku digendong olehnya ketika aku di serempet mobil milik Riko, Angga lah yang menggendongku hingga sampai ke rumahnya.


Pernah juga aku alami nasibnya saat terekam sekolahku ketika pulang diguyur oleh rakyat dengan pewarna yang tidak bisa hilang kenangan itu sungguh sangat membikin hatiku mirip dan juga sedih namun aku tidak ingin semua kenangan yang dulu pernah aku alami sungguh sangat tragis. Kutatap jalanan dengan menguatkan hati yang saat ini sudah aku sedang galau memikirkan hati dan juga perasaanku.


Teringat kembali akan penglihatanku dengan orang-orang yang aku lihat di dalamnya. Alex, Riko mereka adalah sosok peran utama dari apa yang pernah aku lihat.


Nasib tragis di alami oleh mereka semua jika benar semua itu terjadi aku tidak akan pernah sanggup untuk membayangkannya. Semuanya tewas dengan sangat mengenaskan karena satu persatu dan pada akhirnya adikku pun mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol ke kepalanya sendiri. Tak terasa air bening mengalir di sudut mata sungguh itu suatu hal yang sangat tragis terjadi namun, bila aku bisa mencegah hal itu akan aku lakukan supaya hal itu tidak terjadi namun mungkinkah itu suatu takdir bagiku juga bagi orang-orang yang aku lihat di dalamnya, entahlah?. Aku usap bulir bening yang terjatuh di pipiku tanda rasa kesedihan aku rasakan mengenang semua masa lalu yang telah aku lalui.


Tiiinnnnnn,,,


Bunyi klakson sangat memekakkan telingaku, tentu saja aku bertingkat kaget dan merutuki orang yang telah mengagetkanku.


"Hoeeee,,, aku nggak budek" teriakku emosi. Menoleh kearah belakang, melihat siapa biang keroknya.


Ternyata di belakangku ada dua mobil yang sedang berhenti tentu saja mataku membulat ke arah mobil yang berada paling depan yaitu mobil milik Riko yang kemarin hingga tadi pagi membawaku refreshing ke pantai Pangandaran. Begitu banyak kenangan yang kurang bersamaku sudahlah ku tepis semua hal itu, jikapun Riko benar-benar mencintaiku, maka apapun akan dia lakukan.


namun yang jadi keherananku adalah mobil milik Alex yang berada di belakangnya entah apa yang akan dilakukan selalu saja membuntuti dan bikin keonaran. Aku tidak tahu apa maunya manusia satu itu.


Tadi pun keduanya agak lama entah apa yang mereka berdua lakukan.


Setelah agak lamaku tilik ternyata wajah Riko terlihat biasa walaupun kelihatan agak lebam mungkin tadi tiada tahu UKS untuk mengobati nya. Mungkin juga bersama Alex.


Untung saja aku dan mas Surya tadi ngobrol tidak kepergok oleh Riko maupun Alex. Andai saja ku tahu mungkin dia akan marah ataupun meluapkan emosinya.


Karena aku masih ada ganjalan dengan mas Surya mengenai hubungannya dengan Cindy entah mengapa aku masih begitu peduli dengan mas Surya walaupun ku tahu mas Surya masih berhubungan dengan Cindy. Masih ada respek sedikit buat dia karena mas Surya adalah orang pertama yang kukenal di sekolah ini selain Angga dan mas Surya lah yang selalu perhatian kepadaku. Dia juga yang telah menolong ku maka aku tidak bisa menyampaikan hal itu terus terang jika pun aku harus memilih antara Alex, Riko dan mas Surya mungkin pilihanku akan jatuh pada mas Surya. Akan tetapi karena sikapnya yang akhir-akhir ini membuat aku ilfil jadi aku berusaha untuk melupakan mas Surya bagaimanapun sulitnya karena dia masih berhubungan dengan Cindy.


Mungkin jika pun aku harus pergi nantinya pulang ke kampung rasanya aku tidak ingin kembali lagi ke sini dan hal itu tidak banyak yang mengetahuinya karena aku merahasiakan semua hal itu.


Namun yang pasti aku telah memberitahu kepada orang tuaku bahkan aku pun mengajak orang tuaku untuk pulang kampung hanya sekedar untuk liburan serta untuk menjenguk si mbah putri. Simbah Putri hanya ditemani oleh Ferdy di kampung. Dialah satu-satunya sahabatku yang paling pengertian dan mau mengerti aku bahkan cewek yang dulu naksir sama aku di kampung bernama Latifah aku kasihkan ke Ferdy untuk menjaganya. Ferdy pun pasti mengerti akan keadaanku namun tidak dengan Latifah mungkin telah tiba tidak akan pernah menerima keadaanku yang berbeda ini.


Pasti Latifah akan sangat kecewa sekali jika tahu aku seperti ini, namun ada alasan di balik itu semua kenapa aku melakukan ini, bukan tanpa alasan. Jawabannya yaitu ada pada ilmu penjara mimpi yang telah aku kuasai dan mendarah daging di tubuhku karena aku adalah keturunan ketujuh yang sah.


"Ayo naik!" perintahnya dengan sikap sengaknya. Dia pikir, dia siapa memerintah ku seenak udelnya. Mana lagi, galau, mellow gini. Ku lorotkan mataku kearahnya. Karena aku tidak suka dengan sikap arogannya yang ditunjukan.


Tiiinnnnn.....


"Woiii,,, cepattt,,,!" teriak Alex dibelakangnya tidak sabaran karena terlalu lama menunggu. Masih beruntung jalanan sepi dari kendaraan lain dan masih bisa lewat jika ada kendaraan yang melaju.


"Sabar anjing! sayang ku lagi ngambek gara gara kamu!" bentak Riko dari dalam mobilnya.


"Najis banget, Lo bilang apa tadi, sayang. Ha ha haaa,,," ejek Alex ngehina.


Tentu saja aku berjalan menuju ke belakang, akan ku bungkam mulutnya yang koar koar itu. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan nanti dengan apa yang akan ku perbuat pada Alex yang keterlaluan.


Alex menatapku tak percaya aku mendatanginya. Ku beri isyarat untuk membuka pintu mobilnya. Dia menuruti ku hingga pintu mobilnya terbuka.


"B- Be-Be-ning,,,?" Wajahnya jadi kecut ketika aku masuk kedalamnya.


Ku tatap tajam Alex, sambil ku tahan nafasku.


"COBA ULANGI LAGI, APA YANG KAU KATAKAN!" tegasku.


"Ha ha haaaa,,," Riko tertawa.


Setan! Perlu dikasih pelajaran juga tuh makhluk songong.


Tapi yang ini dulu!?.


_____________


Rb 28/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.