245. Mati kutu.
Bab 245. Mati kutu.
★★★★
Warning!
(Area +18)
-----------
Raut muka Alex langsung memucat tatkala dengan tatapan tajam ku pandangi dia yang tadi mengatakan NAJIS ketika Riko panggil sayang kepadaku. Kini, aku ku pupus kesombongannya karena ku tahu Alex ada rasa yang begitu dalam padaku.
"Ak-ku,,, ma-maafkan aku Bening" gagapnya. Nervous.
"ULANGI!" tegasku. Tidak ingin jawaban yang lain. Aku semakin dekat. Intens pada wajah Alex masih berjarak beberapa centi.
"Ap-pa yang akan kamu lakukan?"
"Berisik amat!" Lototku, membuatnya kecut.
Dia agak mundur, kepalanya kepentok. Dia berkeringat. Aku tersenyum mesum.
'Siapa suruh ngehina aku. Tahu rasa kan kamu' batinku berkata. Penuh kemenangan mendekatinya makin dekat. Hingga hampir gak ada jeda. Dia menatapku lekat, tak percaya.
Tangan kiriku meraih kepala belakangnya. Sedangkan tangan kananku sudah meremas kontolnya yang sudah maksimal tegangnya. Bahkan aku susupkan dicelananya. Hingga telapakku menyentuh kulit kontolnya yang lembut, juga menghangat.
Aku tersenyum penuh kemenangan.
Berhasil!
Tak bisa ia tolak apa yang ku lakukan.
Perlahan bibirku melumat bibirnya. Hmmmm,,,
"Bukakah bibirku manis, Al?" rayuku, binal. Dia hanya mengangguk pasrah.
Kini semakin dalam aku melumatnya. Ku kocok kontolnya yang melengkung bak bulan sabit. Lumatanku semakin dalam. Hal itu membuatnya makin tak berdaya menahan nafas.
Tangan kananku akhirnya mengocok nya. Tubuh Alex seketika menegang disergap birahi yang memuncak. Saat ku rasakan kontolnya dalam ketegangan yang maksimal saat itulah. Ku lepas kocokanku, pun dengan lumatanku. Dia di ujung ke-Sange-an. Tentu bikin mupeng. Karena hasratnya yang akan membuncah langsung ku hentikan.
Ku tatapi wajahnya yang tak biasanya.
"Hmmm,,, enak. Itu harga yang harus kau bayar dari ucapanmu yang tadi mengatakan AKU NAJIS!" ledekku. Keluar dari mobilnya. Tentulah rasa Alex akan terasa hambar. Terlebih tidak jadi crot. Masih diubun ubun. Tentu sangatlah tidak enak juga sangat menyiksa.
"BANGSAT. ANJING. KEPARAT!" umpatnya, sumpah serapah keluar dari mulutnya, aku tidak peduli, ketika aku berada di luar mobilnya serta ku banting keras pintunya. Sambil tersenyum mesum kearahnya.
",,,BERANI KAU KOCOK UNTUK KAU TUMPAHKAN, JANGAN HARAP KITA AKAN BERTEMU!" ancamku tidak main main pada Alex. Bisa bisa aku lakukan itu disaat Alex mumpeng.
KEJAM!
Itulah hukuman buat dia yang berani bermain main denganku. Jika berkata kata harus berpikir dua kali, sekalipun aku tidak sudah memiliki kemampuanku tapi aku masih bisa untuk melawan dengan cara yang lain, dengan cara halus. Tapi bikin mati kutu.
Ku buka pintu mobil Riko. Dia nyengir kearahku. Dia tidak tahu apa yang terjadi antara aku dan Alex karena waktunya agak singkat. Lagi lagi aku tersenyum mesum kearah Riko. Aku juga akan memberinya pelajaran karena bikin aku kesal terus. Aku ku buat dia mengalami hal yang sama dengan Alex. Hasrat yang pupus ditengah jalan.
"Say, say- ang....?" tatapnya Riko tak percaya, karena aku tajam menatapnya. Mendekatinya. Sama halnya ku lakukan pada Alex.
Kini telah ku lumat bibirnya sama halnya Alex tadi, bibirnya Riko juga luka, mukanya lebam tapi aku tidak peduli keadaannya.
"Hmmm,,, " gumamku lirih. "Manis bukan bibirku Rik" ungkapku sembari menarik nafas, ku beri jeda untuk menarik nafas karena setelah ini nanti aku akan buat dia keliyengan seperti hal nya Alex.
Tanpa kata pun Riko cuma anggukan kepala serta kedudukan mata.
Atau memang seperti ini sikap orang orang yang sedang jatuh cinta apa pun yang kita lakukan hanya pasrah saja bahkan tubuhnya mungkin nyawa nya diberikannya. Terbukti saat ini Riko hanya mengikuti permainanku, begitupun dengan Alex, aku seperti alat kendali buat keduanya juga yang orang orang yang dekat denganku termasuk Angga juga mas Surya juga mas Kharisma juga Ferdy. Mereka semua hanya pasrah apa pun yang ku lakuin pada tubuh mereka.
Hal yang memang ku tunggu dari Riko saat gairahnya telah mencapai puncaknya, saat lumayan dalam saling takut, nafas sudah nggak karuan, tubuhnya sudah menegang hebat, seperti ngeden, karena tanganku ku susupkan dibalik celananya. Saat itulah, ku hentikan aksiku.
Sesaat Riko terbengong karena hasrat sebentarkan lagi akan membuncah.
"JIKA PEJUHMU KAU KELUARKAN DENGAN PAKSA TANPA SEPENGETAHUANKU, BERSIAP SIAP SAJA KAU AKAN KEHILANGANKU UNTUK SELAMANYA. CAMKAN ITU. JANGAN KAU ANGGAP ANCAMANKU INI MAIN MAIN!" tegasku penuh tekanan. Menatapnya tajam sekali. Dia hanya bisa pasrah dalam kesangean yang tak tersalurkan hasratnya yang hanya tertahan.
Sumpah!
Dalam hati aku hanya bisa tertawa senang melihat keduanya tidak bisa menuntaskan hajatnya yang terpendam.
Dengan sangat tenang aku keluar dari dalam mobil Riko, Riko hanya diam saja tanpa sepatah kata pun, bahkan saking mumpengnya dia sampai menjambak rambutnya hingga berantakan. Frustasi akut.
Itu pelajaran berharga bagi mereka yang bermain-main denganku walaupun aku sudah tidak memiliki kemampuan namun aku punya otak yang encer, jadi aku kerjain mereka, ha ha haaaaaa,,,
Aku melenggang pergi tanpa peduli dengan kedua mobil mereka yang berhenti di tepi jalan. Menuju ke rumah bibi. Rasanya hatiku senang sekali hari ini, aku merasa plong.
Baik Riko ataupun Alex, aku tidak tahu apakah mereka masih mau menyusulku dan punya keberanian untuk menemuiku atau mereka akan balik ke rumah mereka masing-masing.
Karena selama dalam perjalanan yang tidak jauh ini di belakangku tidak ada suara mobil hanya sesekali kulihat pengendara motor melewatiku sambil menatapku dengan heran. Namun aku cuek karena mereka tidak aku kenal. Mau minta bantuan pun tinggal beberapa menit lagi aku sampai di rumah ibu. Rasanya waktu yang ku lalui terasa begitu lama terlebih lagi tadi ada insiden bersama Riko dan Alex. jadi perjalananku sedikit agak terganggu namun aku merasa sangat kuat sekali.
Ah, rasanya aku haus ingin membeli minuman...
Kulihat ada warung kelontong hingga aku mampir untuk membeli minuman di karena kan ingin menyegarkan tubuhku yang merasa haus.
berhenti sejenak kulihat sekelilingku terasa lengang namun sesekali ada sang pengendara motor, lagi lagi mereka menatapku dengan rasa heran terlebih aku memakai seragam SMA terlebih lagi berjalan kaki. Padahal selama ini sewaktu aku tinggal di rumah bibiku, aku selalu berjalan kaki bersama Angga.
Tak terasa aku telah sampai di rumah bibiku, terasa lengang seperti tidak ada penghuni walaupun pintunya agak terbuka. Minuman yang ku beli di warung tadi masih ada sisa masih aku pegangi hingga aku berdiri di depan pintu, ada rasa keraguan saat akan memasukinya rumah bibiku entah kenapa hatiku merasa tidak enak. Padahal sehari yang lalu aku masih tinggal di sini namun aku tidak pamit sama Bibiku dan itu dikarenakan oleh suatu hal.
Ah, nanti saja aku akan jelaskan semuanya pada Bibi apa yang terjadi. aku yakin Bibi pasti akan mengerti dengan keadaanku terlebih lagi aku diajak oleh Riko dan itu adalah anak dari bos kami tentu Bibi tidak akan keberatan ataupun akan komplain.
"Assalamualaikum, bi- bibi,,," salamku dengan memanggil bibiku. biasanya aku langsung masuk, nyelonong saja namun aku masih punya etika, terlebih lagi aku pergi tanpa pamit pada bibiku ataupun sama pamanku. Tidak etis rasanya jika aku langsung masuk terlebih lagi nanti masuk ke kamarnya Angga.
"Waalaikumsalam" terdengar tahu dari dalam dan itu adalah suara bibiku Bibi Rosmalia. Dengan wajah yang tak biasa serta tatapan penuh selidik Bibi menatapku. Gerangan ada apa dengan bibi? seolah mencurigaiku, aku mencoba untuk tersenyum, merasa tak enak dengan tatapan Bibiku sendiri.
Aku pun menyalliminya dengan takjim, sebagai bukti aku menghormati orang yang lebih tua dariku terlebih lagi bibi adalah saudara ibuku yang dituakan.
Hatiku rasanya mendadak tidak enak, entah harus dengan berkata apa untuk memulai percakapanku dengan bibiku, ada rasa canggung tersendiri kurasakan.
"Bibi, maaf aku tidak sempat pamit kemarin sama bibi, karena den Riko ngajak nginap dirumah. Aku tidak bisa nolak. Sehabis pulang ujian, den Riko mengajakku lagi buat refreshing. Den Riko mengajakku ke pantai Pangandaran. Katanya den Riko sudah minta ijin sama orang tuaku. Aku tidak diperbolehkan buat nelpon. Maafkan aku bi, karena gak ngabari bibi juga paman, karena dilarang oleh den Riko" jelasku panjang. Tadinya wajah bibiku nampak kecut, tidak enak dilihat, namun setelah mendengar penjelaskan ku dan itu mengenai Riko maka seketika wajah bibiku berubah, tersenyum dan menjadi sumringah.
"Gak apa apa, bibi ngerti Bening. Pasti kamu di ajak ke villa pribadinya kan" sambil bibi masuk lalu ku ikuti dengan bercerita.
"Bibi tahu tentang hal itu"
"Iya, karena saat pembangunan villa milik den Riko bibi ikut menyaksikan peletakan batu pertama, bahkan saat sudah selesai kamipun sempet nginap. Semenjak saat itu bibi tidak pernah kesana lagi karena keluarga Sanjaya tidak pernah mengajak kami lagi" terang bibiku. Kini aku jauh mengenal siapa keluarga Sanjaya itu. Pastilah orang sangat terkaya disini. Punya aset dimana mana.
"Sekali lagi maaf ya Bi. Oiya bi, aku mau mengatakan sesuatu sama bibi, yaitu-?"
Dari luar begitu ramai, ada deru suara mobil setelah itu, ada salam dari luar. Hingga aku tidak bisa meneruskan perkataanku.
"Assalamualaikum,,,!"
_____________
Rb 28/12/2022.
Komentar
Posting Komentar