246. Berkumpul itu rame.
Bab 246. Berkumpul itu rame.
★★★★★★
Nampak dari luar, ada Putri yang masih kurang sehat, ada Angga, Riko juga Alex, mereka berbarengan masuk kedalam menyalami bibi takjim dianggap seperti orang tua sendiri.
Tentu aku agak terkejut dengan kedatangan Alex dan Riko kerumah ini walaupun mereka berdua sering bahkan terbiasa kesini.
"Mas Bening kamu disini?" tanya Angga, pun dengan putri menanyakan hal yang sama. Agak kaget keduanya dengan kehadiranku. Tapi tidak dengan Alex dan Riko mereka berdua sudah tahu karena sejak awal jalanku mau menuju kesini tadi ada sedikit masalah dan gangguan dari keduanya.
Saat berada dirumah sakit beberapa kali aku menjenguk Angga dan Putri hingga akhirnya saat keduanya akan pulang aku malah nginap dirumah Riko, karena sedikit ada paksaan, setelah itu aku diajak ke pantai, tentu aku tidak bisa bertemu.
"Iya Ga,,," jawabku singkat. Kali ini Putri tersenyum, aku coba buat senyum ramah. Karena Putri seperti menyesal dengan apa yang terjadi. Sikapnya dengan Alex pun nampak biasa saja. Keadaan Putri sepertinya belum pulih sepenuhnya.
"Mas Bening, maafkan aku" ungkap Putri. Selalu itu saja yang jadi bahasannya.
"Aku juga mas Bening" ujar Angga penuh sesal. Aku sudah melupakan hal itu, tidak ada gunanya keduanya menyesalinya saat ini setelah semuanya telah terjadi. Tidak ada gunanya karena aku telah memperingatinya sejak awal.
"Sudahlah. Kenapa kalian bahas soal itu. Buat apa? Gak ada gunanya, bukan. Aku sudah memaafkan kalian jadi buat apa mengingat ingatnya kembali" pungkasku tidak ingin masalah itu berlanjut. Aku rasa sudah cukup, yang terpenting tidak mengulangi lagi. Jika nantinya aku punya penglihatan lagi untuk Angga dan Putri. Jika membahas hal rasa sedihku terasa, aku gagal mencegah kejadian yang akan dialami keduanya.
"Ayo masuk, kok malah berdiri. Putri cepat ganti baju, banyak istirahat" titah bibi pada Putri tidak ingin kecapekan.
"Iya Bu" balas Putri lemas. Tentu itu buat kebaikannya, tidak bisa nolak perintah bibi.
"Angga,,," bibi hanya memberi isyarat.
Keduanya pun masuk ke kamarnya. Tentu Putri tidak akan kesini. Kalau Angga tentu menemui Riko juga Alex.
Bibi telah menyiapkan minuman dingin berupa es teh juga camilan.
"Den Riko, den Alex silahkan duduk" bibi nampak ramah pada keduanya. Sangat menghormati keduanya terlebih lagi setelah kejadian yang menimpa Putri dan Angga. Tentu lah sangat membuat bibi sedih dengan kondisi nya saat ini.
"Ayo diminum den Riko, den Alex" ulas bibi mempersilahkan. Pada keduanya. Sekalipun bibi juga membuatkannya untukku.
"Gak usah repot repot bi Ros" ulas Riko.
"Iya bi,,, terima kasih" tambah Alex basa basi.
"Cuma minuman biasa den" ungkap bibi lagi pada keduanya sangat dihormati.
"Ayo diminum den" lanjut bibi sekali lagi pada keduanya. Kemudian berlalu untuk beberes dibelakang.
Kini tinggallah kami bertiga ruang tengah. Aku jadi kikuk terlebih lagi jika mengingat yang telah ku lakukan pada keduanya yang kini duduk ada dihadapanku dengan meja rendah. Wajah wajah yang menyedihkan buatku hingga aku tergelitik untuk mengerjai mereka berdua.
"Gimana, enak nggak?" ejekku.
"Nggak!" seru keduanya berbarengan. Muka tegang, mood kurang baik, tatapan padaku tajam.
"He he heee,,," aku hanya tertawa lirih pada keduanya yang geram padaku terlebih ingat dengan ancamanku, dengan hasrat belum tersalurkan. Rasanya itu seperti suatu siksaan tersendiri buat keduanya.
"Kenapa kesini? Belum puas bikin ulah" serangku dengan kata kata karena mereka berdua senang bikin onar juga masalah. Tumben kali ini tidak berseteru lagi, malah terlihat anteng. Namun bagiku membuatku malah tenang tanpa ada gangguan dari mereka berdua. Walaupun rasanya aku ingin melihat pertengkaran juga perkelahiran mereka berdua lagi seperti di parkiran juga di jalan raya tadi. pasti akan seru terlebih jika di sini di rumah Bibi aku tidak tahu bagaimana nanti reaksinya bibi terhadap keduanya terlebih lagi mereka berdua adalah anak orang kaya yang satunya anak bossnya bibi sedangkan yang satunya juga bibi kenal.
Ancaman keduanya tidak mempan bagiku....
Tapi tentu mereka tidak akan berani untuk melanggarnya karena ancamanku tidak akan pernah main-main buat mereka.
Keduanya saling pandang saling memberi isyarat dan juga dari tatapan mereka masih ada perseteruan karena dari salah satu nya harus bicara padaku. Ada-ada saja ulah keduanya yang membuatku tersenyum geli.
Akhirnya Alex yang bicara...
"Ingin lihat kamu"
"Iya, betul,,," pungkas Riko. Hanya itu alasannya. Alasan yang tidak masuk akal.
"Sudahlah. Gak mutu juga. Alasan apa itu. Biak, dasar brengsek!" protesku tak terima.
"Mas Bening" sapa Angga, ikut gabung duduk didekatku. Sudah ganti baju.
Aku, Riko dan Alex masih memakai seragam sekolah.
Aku tinggalkan ketiga buat ngobrol untuk ganti baju juga melaksanakan tugasku biar tenang, terlebih nantinya pasti ngobrolnya lama, palingan hal yang nggak penting penting banget.
Pakaianku masih utuh, menatapinya tertata rapi. Ada desahan pelan, ku rasakan beberapa hari lagi aku akan meninggalkan Jakarta.
Ah, lebih baik aku menunggu bibiku untuk mengatakan hal ini padanya biar nantinya aku tidak menyesal karena tidak memberitahu akan kepergianku nanti ke kampung halaman. Aku tahu kalau keluarga bibi juga sangat kangen ingin pergi ke kampung lama ada hal yang memberatkan untuk mereka pergi aku tahu masalah yang mereka hadapi.
Setelah aku berhenti padamu serta menunaikan kewajibanku aku pun mencari bibiku. Akan tetapi aku tidak melihat ibu aku pun pergi ke belakang mungkin bibi ada di belakang dan ternyata dugaanku benar. Sedang mengangkat jemuran mungkin sudah kering karena jika tidak kering, tidak mungkin akan diangkat, terlebih lagi cuaca hari in,i sangat panas, jemuran akan cepat kering.
"Eh, bibi ada disini toh?" Sapaku tersenyum datar.
"Ada apa mencari bibi, Bening?" Tanya bibi heran.
"Ada hal penting yang akan ku katakan sama bibi"
"Oh, apa Bening? Kayaknya penting sekali" bibi telah selesai mengangkat jemuran. Duduk dikursi yang kuat dua orang. Aku pun ikut duduk bersama bibi.
Sebelum aku mengatakan pada bibi, apa yang akan aku katakan tidak lupa aku melihat keadaan, apakah ada yang tahu, aku tak ingin apa yang aku katakan ini nanti didengar oleh yang lain.
"Ada apa Bening, kok lihat keadaan,,,"
"He, he, heeee kok bi. Hanya takut saja"
"Katakan,,,"
"Bi tolong, jangan ada yang tahu soal ini. Bibi harus janji padaku"
"Baiklah, bibi janji"
"Jadi gini bi, nanti saat liburan tiba aku akan pulang kampung, aku sudah bilang sama paman, juga mengabari ortuku. Bahkan aku mengajak mereka tidak mau. Dengan alasan sayang dengan kerjaan karena gajinya bagus. Tapi bukan itu alasannya karena ibu dan ayah balas budi, tidak enak dengan hutang jasanya keluarga Sanjaya karena aku dirawat dirumah sakit ketika aku kecelakaan. Biayanya tentu sangat mahal" jelasku coba untuk menerangkan apa yang ku rasakan.
"Tolong Bu, jangan kasih tahu siapa siapa soal baik".
"Baiklah, bibi gak akan kasih tahu siapa pun"
"Terima kasih bi. Aku kedepan dulu bi, assalamualaikum"
"Ya, waalaikum salam"
Gegasku kedepan namun aku memergoki Putri ada dibalik pintu seperti celingukan gitu, berlalu menuju kearah kamar menutup pintunya rapat. Tidak ada rasa curiga sedikitpun aku terhadap Putri.
Mungkin Putri dengar apa yang ku katakan sama bibi. Sudahlah, Putri juga diam saja, tidak tanya apa apa. Toh, aku yakin Putri tidak akan cerita ke siapa siapa mengenai rencanaku itu.
Kembali aku gabung, yang ku dapati hanya mereka nampak diam, aku tidak mengerti selama tidak ada aku apa ketiganya tidak bicara sama sekali.
Minumannya yang dibuat bibi pun hanya sedikit diminum, camilannya tidak disentuh.
Ketiganya juga saling tatapan ingin menyampaikan sesuatu hal penting.
Apa mungkin mereka merencanakan sesuatu. Tapi apa? Aku tidak tau, tadi cukup lama dibelakang karena bicara hal penting sama bibi. Tapi saat aku kembali mereka nampak diam. Seakan tidak ada komunikasi.
"Mas Bening, ini rencana mereka kalau nanti malam diajak dan mau manggang, gimana?" ungkap Angga. Ternyata baik Riko atau Alex tidak ada yang berani menyampaikan ke aku. Kini baru ku ingat jika Riko mungkin terkenang acara manggang ketika berada di kampung. Bahkan kurang sehat serta ku usir saat kembali ke Jakarta.
"Aku pikir dulu deh. Nggak janji yea,,,," ulasku pura pura nolak tawaran mereka.
Wajah mereka terlihat sangat kecewa tapi tidak bisa berbuat apa apa.
"Mas Bening, ganti pakaian kok lama. Ada apa mas Bening?" tanya Angga lirih. Aku tidak bakal menjawabnya. Aku akan merahasiakan semua nya dari Angga juga yang lainnya mengenai semua rencanaku.
"Bagaimana mas Bening, mau kan ikut manggang?"
"Nostalgia,,," Riko menambahi.
___________
Km 29/12/2022.
Komentar
Posting Komentar