248. BERDAMPINGAN.
Bab 248. BERDAMPINGAN.
★★★★★
Entah apa yang ku pikirkan?
Terlebih dengan apa yang mereka berdua lakukan. Menurut ku berlebihan.
Belum juga aku ngambil makanan, tapi keduanya kini malah mau menyuapi ku. Duduk berdampingan disamping kiri dan kananku.
Aku hanya bisa pasrah apa yang mereka lakukan, aku tidak bisa menolak keduanya. Sikap perhatian yang berlebihan dan itu tidak luput dari perhatian nya Angga yang sesekali memperhatikan dan juga tersenyum tawar, juga nyengir saat aku tak sengaja memergokinya menatapku dengan yang dilakukan Riko dan Alex padaku. Aku hanya bisa jalani tanpa bisa nolak. Tentu, juga Putri diposisiku pun tidak bisa ambil keputusan siapa yang dipilihnya.
Kadangkala aku melihat kearah rumah, karena lampu masih menyala, tentu dari luar aku bisa melihat bayangan saat ada yang ngintip. Namun, aku tidak selalu fokus kearah rumah karena aku harus berbagi.
"Sama aku saja ya,,," pinta Riko. "Aku siapin,,," imbuhnya.
"Sama aku, biar aku suapin, sini..." pinta Alex sedikit memaksa.
Bingung, dan bingung ku rasakan...
Tidak tahu apa yang ku pilih, juga perbuat.
Ku tatap Angga minta pertimbangan, tentu Angga tidak akan bisa memutuskan di antara keduanya. Bingung untuk memilih diantara salah satu nya.
Yah, aku hanya bisa pasrah...
"Yeah,,," sorak Riko.
"Yeee,,," Alex kegirangan.
Dikira aku mau disuapi, padahal aku jengkel dengan kelakuan keduanya yang tukan paksa. Pake mesra, disuapin seperti pacarnya sendiri.
"Kalian aku mau, nggak!" tegasku pada keduanya. Mereka berdua langsung melongo tak percaya.
"Lho kok,,,?" ucap Alex tak percaya.
"Lha,,,," Riko lemas.
Aku bangkit mau ngambil sendiri.
Sepiring ku ambil, lalu duduk kembali ditikar yang digelar ketempat semula diantara keduanya yang nampak bengong.
Ku pegang paha ayam yang dipanggang ingin tahu rasanya seperti apa?
Mak yuss!?
Saat ku gigit, rasanya lain dari yang lain, nikmat, lezat beda dengan yang ada di kampung. Tapi lebih istimewa yang dikampung rasanya. Walaupun disini special.
Hingga gigitan ketiga. Aku berhenti memperhatikanku dua orang yang ada disampingku pada diam, malah memperhatikanku.
"Ada apa dengan kalian? Bisu? Atau lagi sariawan?" ujarku lebih ke meledek keduanya yang masih menatapku. Keduanya langsung menggeleng pelan, tanpa ekspresi.
"Kalian mau ini?" sodorku bergantian. Lagi lagi kedua nya mengangguk. Ini dua cogan, benar benar bikin tensi darahku naik. Geramku, tapi aku bisa apa.
Ini pilihan yang sulit buatku, harus siapa dulu yang ku kasih.
Riko atau Alex dulu?.
Sejenak aku terdiam menatapi keduanya selingkuh ganti karena aku dilanda kebingungan.
Keduanya seperti menahan nafas, menunggu siapa yang aku beri duluan.
Ckckckkkk,,,
Kenapa semuanya sesulit ini? Decakku dalam hati.
"Al,,," akhirnya pilihan ku padanya untuk mengigit duluan.
Wajah Alex sumringah, namun tidak dengan Riko langsung merengut.
"Huh,,," dengus Riko.
"Terima kasih ya" Alex seperti kejatuhan bulan. Riko kejatuhan matahari.
Kini giliran Riko, seperti ogah nerima, ku anggukan kepalaku pelan sambil ku ulas senyum tulus. Ku ekspresikan di mulut terbuka.
"Akkk,,," prakter supaya Riko mengikutiku. Perlahan Riko dengan senyum yang dipaksakan akhirnya mau juga menggigitnya. Ada perasaan lega karena fix aku sudah ngasih keduanya. Kini aku tenang juga lega. Mungkin di Riko ada ganjalan.
Akhirnya aku yang suapi keduanya, Riko dan Alex gantian nyuapin aku. Hanya saja Riko dan Alex tidak pernah melakukannya.
"Rik, ambilin soft drinknya?"
"Ambil sendiri, ribet amat Lo!"
"Kalau gak mau ambilin ya sudah, gak usah sewot. Gitu aja repot Lo Rik"
"Lo tuh ngajak ribut Mulu, Lex!"
"Itu persepsi Lo, gue udah bikin biasa, tapi tanggepan Lo aja Rik"
"Udah, udah, kenapa sih kalian seneng banget berantemnya. Apa sih susahnya ngambil. Gitu aja diributin"
"Kan dia nya ngambil minum Bening, masa gak mau. Kan aneh?" Protes Alex sama aku.
"Lo kan punya kaki buat jalan, tangan buat ngambil kan. Ya udah ngambil sendiri sono, gak usah nyuruh, kecuali Lo buntung baru gue bantu"
"Sudah, sudah!" Leraiku tidak ingin keduanya bertengkar terus dengan hal yang sepele.
Tentu saja Angga tidak berani turut campur, nampak sesekali menarik dan menghembuskan nafas pelan melihat kelakuan Alex dan Riko sesekali menggeleng lemah dengan perseteruan mereka yang hanya karena hal sepele saja.
Namun ada kesenangan tersendiri di hatiku melihat berseteruan kedua cowok ganteng di hadapanku walaupun yang diributkan adalah hal-hal yang sangat terpilih sekali aku merasa sangat terhibur dengan tingkah keduanya. Entah apakah nantinya aku bisa bersama mereka lagi berkumpul, berbaque-an serta tidur satu tenda.
Setelah perut kenyang karena acara tadi, masih ada sisa makanan, tentu sama Angga dibawa kedalam. Mungkin untuk sarapan besok pagi.
Kini pun, aku juga bingung untuk menentukan aku tidur dengan siapa. Aku tahu baik Riko ataupun Alex mereka pasti menginginkan ingin tidur bersamaku terlebih lagi malam sudah mulai larut.
Hanya Angga saja yang tidak pernah komplain selalu diam serta memperhatikan tingkahku juga Riko serta Alex.
Padahal jelas-jelas tendanya itu sama pun dengan yang ada di dalamnya.
"Ada apa? Mau ribut lagi, siapa yang tidur bareng aku?" ujarku didepan keduanya. Mereka berdua pun hanya mengangguk berbarengan.
"Ga, kamu tidur sama siapa?" Tentu itu pertanyaan yang sangat bodoh karena baik Riko atau pun Alex ingin tidur bareng aku. Itupun ada maunya, pasti.
Terlebih lagi, saat ada insiden aku telah mereka berdua tidak sampai ngecrot, tentu keduanya dendam denganku terlebih lagi aku telah mengancam mereka berdua. Tentu itu jadi ancaman bagi keduanya. Takut mereka tidak bisa bertemu aku lagi.
"Hmm,,,?" tentu saja Angga kebingungan untuk menjawabnya.
"Kalau begitu, aku tidur sama kamu saja-"
"Jangan!" Teriak keduanya seperti koor. Dari pada ribut ribut lagi. Maka...
"Ya udah, aku tidur bareng kalian berdua. Puas,,,!" Sungutku pada keduanya dengan mata membulat.
Tak komen Angga pun langsung masuk ke tenda, tanpa peduli lagi.
"Ayo,,,!" Dengan jengkel ku tarik kedua tangan mereka, seperti sapi yang cucuk hidungnya.
Hingga kini kita bertiga berada didalam tenda dengan suasana remang remang karena pencahayaan tidak terang. Tentu bagi yang sedang memadu kasih hal seperti ini suasana akan terasa sangat pass, tapi tidak denganku saat ini, dalam tekanan dilema.
Andai aku sama salah satu dari mereka berdua, maka ceritanya akan berbeda. Aku juga tidak pernah membayangkan jika akhirnya aku bisa tidur bareng sama mereka berdua. Bahkan aku ditengah tengah keduanya. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya diposisiku saat ini. Terlebih lagi, antara Riko dan Alex seperti bermusuhan selalu berseteru, ribut, berkelahi, bahkan ada jotos juga. Dan kini aku berada diantara coga yang arogan, serta sama sama menaruh hati padaku.
Dilema!?
Terlebih aku tidak bebas bergerak, hanya menatap keatas, tidak berani kesamping kiri ataupun kanan.
Karena Riko disebelah kananku, Alex disebelah kiriku. Aku harus bagaimana?.
Disaat aku dilanda kegalauan, kurasakan pipi kanan dan kiriku, kurasakan hembusan hangat nafas keduanya.
Tentu saja aku sangat shock mendapati hal tersebut. Aku tidak bisa berbuat apa apa.
Deru nafas keduanya makin dekat terasa.
Lalu...
Cup...
Cup...
Kedua pipiku dikecup dua orang cowok yang berbeda. Dan itu sangat lama. Tentu saja, dadaku langsung bergemuruh, detak jantungku tak karuan mendapati perlakuan sekaligus.
Yang bisa ku lakukan hanya memejamkan mata, agar aku bisa tertidur serta bermimpi. Namun, itu sulit ku lakukan, sekalipun sudah ku pejamkan mata, akan tetapi aku tidak jua bisa lena, sekalipun aku telah mencobanya, itu sangat sulit ku lakukan.
Terlebih lagi, ciuman kedua terasa begitu lama,bahkan nafasnya keduanya kini pun terasa aneh, menderu.
Keduanya pun melepaskan ciumannya itu pun hampir bersamaan.
Sedikit kelegaan saat ciuman keduanya lepas. Namun, ada hal lain yang membuatku hampir jantungan. Padahal tadi aku berusaha untuk menenangkan dan berhasil.
Kedua tanganku dipegang oleh masing masing, setelah itu diremas pelan, kemudian dituntun menuju kesuatu tempat yang penuh bebuluan,serta ada tonggak yang tegang kokoh.
Kedua tanganku dipegang kan dikedua batang masing masing. Batang yang berbeda walaupun sama panjang dan gedenya, tapi perbedaannya, yang satunya tegak lurus, keras. Yang satunya lagi melengkung seperti bulan sabit sama kerasnya. Dituntun oleh keduanya, disuruh untuk mengocoknya, aku sudah paham situasi nya. Jadi tidak perlu diajari lagi.
Kocokkan pun dengan ritme, itu pun ku lakukan sama sama dengan mata terpejam.
Kini ku dengar nafas yang menderu, detak jantung yang berpacu, menunjuk puncaknya, dan itupun bersamaan didalam celana keduanya.
"Oughhhh,,,!" Lenguh Riko.
"Oughhhhh,,,," lenguh Alex juga.
Aku merasa lelah dengan aktivitas yang ku lakukan, mataku juga sudah berat sekali. Terlebih malam semakin larut, semilir dingin angin menerpa. Mataku sudah tidak bisa ku komprom lagi.
Terlelap....
_____________
Km 29/12/2022.
Komentar
Posting Komentar