25. Hilang.

 25. Hilang....


★★★★


Hari Minggu di pagi buta sehabis subuh rumah keluarga Sanjaya kembali heboh karena putra kesayangannya hilang tanpa kabar berita.


Mama Riko bernama Kinasih Sanjaya pun meraung raung bagai orang kesetanan karena putra kesayangannya hilang tanpa kabar berita.


Semua pembantu rumahnya semua berkumpul diruang tengah yang sangat luas....


Termasuk aku pun ikut berkumpul menyaksikan kehebohan yang terjadi.


"Nak, kamu tau dimana keberadaan den Riko?" bisik ibuku yang ikut kawatir karena anak majikan mereka hilang.


Aku hanya menggeleng lemah dan memilih untuk diam karena aku memang tidak tau. Kemaren saja Riko cuma diam dari pulang sekolah sampai kembali seperti menyembunyikan sesuatu.


Kini ibu Kinasih menatap kearahku sepertinya aku orang yang tau tentang keberadaan Riko.


Air mata Bu Kinasih masih mengalir sesekali di usap dengan tisu sedang bibiku selalu berada didekatnya yang membawa tissu untuk mengelap air mata Bu Kinasih.


Pak Mahendra Sanjaya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, air matanya juga menetes terus menerus dipipinya yang kokoh. Sekalipun terlihat tegar aku tau kalau hatinya rapuh karena putra kesayangannya hilang tanpa jejak. Tak seorang pun mengetahuinya karena setiap malam Minggu Riko selalu keluar malam. Biasanya akan pulang saat menjelang subuh itu kata ibuku. Tapi kali ini Riko tidak pulang dan tidak ada kabarnya bahkan hpnya pun mati tidak dapat dihubungi.


"Nak Bening, apa kamu tau dimana anak saya Riko?" tanya Bu Kinasih dengan berurai air mata, bahkan dengan bahu terguncang menahan kesedihan yang begitu mendalam.


"Nak apa kamu tau?" tanya ibuku menanyakan dengan hati hati terlebih disini banyak sekali yang menatapku penuh harap.


Aku seperti tersudut pada suatu masalah...


"Nak kamu tau tidak?" tanya ayahku juga penasaran.


"Maaf tuan, nyoya saya tidak tau sama sekali" balasku menggeleng lemah sambil ku tundukkan kepala karena aku memang tidak tau sama sekali keberadaan Riko saat ini.


"Bukankah kemarin kamu bersama putraku?" tanya pak Mahendra, sepertinya belum puas dengan pernyataanku.


"Maaf tuan. Kemaren memang den Riko bersama saya sampai pulang. Tapi, den Riko tidak cerita apa apa ke saya" terangku sehingga terlihat desah berat antara pak Mahendra dan Bu Kinasih.


"Maaf tuan, semalam den Riko keluar tapi sendiri, cuma melambaikan tangan kearah saya. Maaf nyoya saya tidak berani menanyakan kepada den Riko perginya. Den Riko cuma senyum berlalu" jelas ayahku karena sebagai scurity pasti tau siapa yang keluar masuk rumah ini.


"Sayang, kamu dimana sayang" tangis Bu Kinasih histeris setelah itu pingsan dan digotong serta diletakan di sofa panjang.


Semua yang ada hanya jalan buntu. Tak ada yang tau kemana perginya Riko.


Aku sendiri tidak tau kemana perginya Riko.


Pagi telah menjelang hingga dunia kini telah terang benderang. Bahkan suasana begitu cerah.


Tak ada kicauan burung yang terdengar, mungkin disini spesies burung sudah langka ataupun sudah tidak ada.


Yang ada dirumah mewah ini hanya tangis dan kesedihan. Karena Bu Kinasih tidak pernah berhenti menangis. Pak Mahendra masih terlihat kesedihannya dengan mata merah.


Ayah, ibuku, paman serta bibiku hanya berdiri takjim karena tidak tau apa yang musti dilakukan.


Pak Mahendra sudah menelpon polisi bahwa anak mereka menghilang, maka secepatnya pihak kepolisian pun bertindak serta dikerahkan untuk pencarian dimana keberadaan Riko saat ini, masih hidup ataukah sudah meninggoy.


Bahkan sampai siang belum ada ada kabar beritanya...


Kini aku sedang beristirahat karena lelah. Sedang orang orang dewasa seluruhnya sedang berkumpul diruang tengah yang begitu luasnya.


Bahkan saudara saudara Riko yang lainnya pada datang saat 'Asar menjelang.


Tangisan kembali merebak ketika kedua anak Bu Kinasih datang dari luar negri.


Aku tidak tau nama mereka karena sudah pada menikah.


Anak pertama Bu Kinasih dan pak Mahendra itu laki laki sedang anak keduanya itu perempuan. Sudah punya cucu.


Karena aku capek aku putuskan buat memejamkan mataku sejenak.


______________


Aku terbangun saat adzan magrib berkumandang lirih sepertinya agak jauh.


Aku putuskan untuk menemui ibuku karena merasa lapar. Tadi siang aku makan didapur mewah milik keluarga Sanjaya.


Dapur yang sangat mewah dan elegan bahkan rumah dikampung ku tidak ada apa apanya dibandingkan dapur milik keluarga Sanjaya.


Kebetulan aku bertemu dengan laki laki yang sangat gagah dan tampan, ada kumis tidak begitu tipis tapi sangat pass berada dibawah hidungnya yang sangat mancung menurutku bahkan wajahnya mirip dengan seseorang yaitu Riko.


Laki laki keren itu memakai baju pendek warna biru laut dengan celana hitam panjang dengan potongan rambut pendek, ku lihat rambutnya hitam legam mengkilap agak tebal lurus belah samping.


Sesaat aku terpesona dengan kharismanya terlebih senyum cool, makin tampak macho dan gagah. Setiap wanita pasti jatuh hati dan menyerahkan diri jika melihat pria tampan dihadapanku.


Aku saja sebagai laki laki seperti terhipnotis oleh pesonanya.


"Hey,,," sapanya suaranya sungguh enak dan membius.


"Iya, saya,,," jawabku kikuk tak berani lama lama beradu pandang dengannya.


"Siapa namamu? Aku tidak pernah melihatmu. Tadi pagi aku baru melihatmu. Apakah kamu juga kerja disini?" tanyanya lagi. Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkannya.


"Panggil saja saya, Bening. Orang tuaku kerja disini. Aku teman den Riko. Siapakah anda ini? Tapi melihat wajah anda seperti anda mirip sekali dengan den Riko" terbaikku memperhatikannya sejenak.


"Saya kakak pertamanya. Namaku Xxaqie Sanjaya" jelasnya sambil tersenyum ramah. Tatapannya sangat meneduhkan bahkan jika didekatnya membuat seseorang betah dan nyaman.


"Ooh,,," anggukku mengerti, walaupun sedikit agak bingung dengan panggilan namanya. Sepertinya kakaknya Riko yang ganteng ini mengerti kebingunganku.


"Panggil saja Xxaqie. Namamu ternyata lucu ya" senyumnya seperti tertawa geli mengingat namaku. Apa dia tidak merasa kalau namanya itu juga aneh. Dasar orang kaya arogan, suka mengejek.


"Terima kasih" jawabku singkat sepertinya aku kurang nyaman dengan tatapan tajamnya seperti menyimpan sesuatu. Tapi hal itu ku tepis.


"Sudah berapa lama kenal adikku Riko?" tanyanya seperti ingin menggali tentang kedekatan ku dengan Riko.


"Belum lama" balas singkat. Seperti Xxaqie sangat penasaran.


"Kalau paman Sarifudin dan bi Rosmalina sudah lama kerja disini. Apakah kamu ada hubungan saudara dengan mereka" tatapannya membuatku tidak nyaman.


"Beliau paman dan bibiku" kembali ku persingkat ucapanku. Ingin rasanya aku berlalu dari hadapannya tapi karena dia sepertinya kepo aku tidak bisa pergi bahkan selalu diajaknya ngobrol.


"Asalmu darimana?" sepertinya Xxaqie sedikit kecewa karena aku tidak suka dengannya.


Ku coba tersenyum ramah supaya aku tidak kena masalah, sepertinya kakaknya Riko ini lebih berbahaya dari Riko, kelihatannya.


"Aku dari kampung. Desaku bernama Tugu Mulyo" terangku.


"Apa tidak ada kota disana?" Sepertinya Xxaqie memang belum tahu dan mungkin hidupnya selalu diluar negri.


"Ada, tapi jauh. Aku sendiri belum pernah kesana?" jawabku jujur sepertinya kini Xxaqie melunak. Bisa tersenyum lembut lagi padahal tadi seperti akan jutek tapi setelah ngobrol lama aku menjadi terbiasa bahkan aku betah.


"Kamu pernah pergi kemana saja?" tanyanya kembali.


"Tidak pernah kemana mana, aku lebih menghabiskan waktuku diladang maupun disawah" jawabku jujur sepertinya Xxaqie penasaran.


"Jadi kamu belum pernah kemana mana?" Ku gelengkan kepalaku jujur karena selama ini aku tidak pernah kenal dunia luar bahkan datang kemari itu karena tuntutan ekonomi.


"Kamu itu semakin lucu ya. Jadi kamu belum pernah ke Paris, atau Singapura atau ke mana gitu?" Ku gelengkan kepalaku sekali lagi.


"Hadeh,,, ha ha ,,," tawanya renyah. Itu karena geli karena aku belum mengenal dunia luar sama sekali.


"Kok bisa ya aku bertemu orang seperti kamu"


"Aku selalu bersyukur dengan hidupku. Walaupun serba kekurangan. Paling tidak bisa ku rasakan kebahagiaan" aku merasa seperti diejek. Maka itulah yang bisa ku ungkapan supaya Xxaqie tidak terlalu menghinaku seperti yang dilakukan oleh Riko selama ini padaku. Walaupun akhir akhir ini sikapnya telah berubah.


"Wow,,, luar biasa. Seakan kamu orang yang merasa paling menderita-"


"Anda belum pernah merasakan diposisi saya. Jika hal itu terjadi, saya yakin saat itu anda akan bunuh diri-"


"O-iya,,, hebat kamu. Tapi hal itu tidak terlaku buatku" ucapnya menyombongkan diri. Tersenyum miring.


"Sombong" balasku lirih. Aku tidak tau apakah Xxaqie mendengarnya karena nampak mendelik sesaat.


"Huh,,," dengusnya tertahan.


Padahal aku coba untuk melunak. Ternyata, lama lama sifat angkuhnya kelihatan. Padahal sejak awal aku merasa simpati dengan sikapnya yang cool tapi ternyata sikapnya tak sehangat rupanya yang rupawan. Apakah memang seperti itu sikap semua orang kaya, selalu arogan dan sombongnya selangit mentang mentang mereka kaya.


Diam! Itu pilihanku dari pada aku nanti dibikin emosi, berujung pada dendam. Manusiawi jika aku masih punya sifat dendam jika tindak mereka tidak keterlaluan, mungkin masih bisa ku toleransi jika sudah melampaui batas maka aku akan ambil tindakan jika pun terpaksa aku harus melakukannya maka dengan terpaksa aku akan Membunuhnya!!!.


Sikapnya mendadak menghangat dengan senyum yang mengembang...


"Mau sarapan. Tentu BI Ijah sudah menyiapkan" tawarnya. Masih sempat sempatnya mikirin perutnya padahal adiknya belum tau rimbanya. Selamat ataukah sekarat. Aku hanya bisa geleng kepala lemah.


"Anda masih memikirkan urusan perut. Sedangkan adik anda diluar sana entah nasib apa yang alaminya?" ulasku balik. Aku saja masih memikirkan keadaan Riko sekalipun manusia satu sangat nyebelin. Jika terjadi sesuatu maka secara tidak langsung, aku ikut andil dalam masalah yang dialami oleh Riko.


"Kamu bergitu bersimpati pada adikku. Jangan jangan kamu,,," ucapan digantung sambil menatap ku lekat, seakan dia curiga kalau aku ada apa apa dengan Riko. Padahal jika tau apa yang sebenarnya dilakukan adiknya itu sudah melampaui batas. Aku yakin manusia didepanku ini yang notabenya kakaknya pasti akan berpikir ulang. Tapi, aku tidak tau pikirannya seperti apa? Atau, mungkin malah senang jika melihat adiknya suka menindas seperti halnya aku. Entahlah?


"Anda sebagai kakaknya sedikitpun tidak merasa kawatir. Aneh?" Aku cuma menggeleng lemah.


"Bukan urusanmu. Siapa kamu?"


"Saya bukan siapa siapa. Hanya teman saja" terangku dengan rasa dongkol. Percuma juga berdebat dengan manusia yang hatinya keras.


Aku sendiri juga tidak tau, Xxaqie itu orangnya seperti apa? Atau hanya baik dari luarnya saja ketika sekilas dilihat atau memang baik dalamnya aku tidak tau. Buat apa aku mikir sejauh itu? Sudahlah.


"Maaf, saya harus menemui ibuku. Assalamualaikum,,," pamitku karena sedari tadi aku berada diruang tengah yang begitu lengang. Aku tidak tau dimana orang orangnya atau sibuk dengan diri mereka masing masing.


Waduh! Tadi, Xxxaqie mau sarapan. Apakah ibuku sama bibiku sudah selesai bikin sarapan. Karena tadi subuh subuh masih diruang tengah mendengar diskusi ruang rumah. Tapi kini sudah sepi pada pergi.


Ku cari ibuku. Sekalipun rumah ini luas bak istana tapi bukan suatu yang sulit bagiku untuk menemukan ibuku karena aku sudah hafal semua sudut rumah mewah milik keluarga Sanjaya.


Benar dugaanku ibuku hampir selesai buat sarapan pagi, untung ibuku cekatan dan ibuku membantu bibiku memasak di dapur yang mewah. Menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Sanjaya.


Memang benar kalau tuan dan nyonya rumah ini baik, ramah dan murah senyum. Aku terkadang heran kenapa anak anaknya pada arogan dan sombong, padahal orang tuanya itu sangat baik serta bersikap menghargai pada siapapun yang ada dirumah ini.


"Bi Ros,,," terdengar suara teriakan kencang, yang ku tau itu adalah Xxaqie manusia sombong satu lagi yang bikin sebel. Untung saja bukan ibu yang diteriakinya, mungkin belum begitu mengenalnya ataupun belum terbiasa.


"Iya den Riko?"


Dengan tergopoh bibiku menemui seseorang yang memanggilnya tadi...


Bibiku lewat didepanku dengan wajah khawatir.


Aku memilih menemui ibuku, aku ingin ngobrol dengannya karena aku selalu merindukan beliau.


"Nak, ada apa? Kamu kesini ada apa? Biar nanti sarapannya aku antar ke paviliun. Ini sebentar lagi beres" ibuku tersenyum lembut, tentu saja aku sangat senang karena wajah ibuku terlihat bahagia.


"Aku kangen sama ibu. Nggak boleh ya aku datang kesini?" Aku pura pura cemberut. Supaya ibuku memperhatikan ku.


"Ih manja banget anak ibu yang ganteng ini" ibuku mendekatiku kemudian menciumku dengan lembut penuh kasih sayang.


"Ibu masih saja nyium aku. Malu kan kalau ada yang melihatnya Bu" protesku padahal hatiku sangat senang bisa merasakan ciuman hangat ibuku yang penuh kasih sayang beda dengan ciuman Riko. Hadeh! Kenapa aku malah teringat manusia laknat itu? Seakan saat ini seperti didera masalah karena perasaanku tidak enak mengenai Riko.


"Nak, dari tadi aku panggil panggil tidak nyahut. Ada apa nak?" tanya ibuku sedikit khawatir tapi senyumnya tidak pernah lepas.


"Ibu, aku khawatir dengan den Riko. Sepertinya ada masalah. Tapi, aku tak tau apa itu. Hanya saja perasaanku tidak enak mengenai den Riko" terangku karena sedari tadi aku kepikiran tentang Riko. Sepertinya mengalami suatu hal. Terlebih ini sudah siang bahkan akan sore. Tapi belum ada kabarnya bahkan orang tuanya juga belum ada kabar padahal sedang laporan sama polisi tapi kakak kakaknya seperti tidak peduli malah asik dirumah tanpa mencarinya. Kakak macam apa itu tidak khawatir tentang adiknya yang sampai detik ini belum kembali. Aku masih menghormatinya didepan ibuku. Tapi jika dibelakangku aku tidak perlu menghormatinya karena dia begitu ku benci begitu sebaliknya sangat membenciku walaupun akhir akhirnya jauh lebih baik bahkan ada perhatiannya.


"Entahlah nak ibu sendiri tidak tau? Kerjaan ibu hanya disini tidak pernah kemana mana" jelas ibuku seperti berpikir sama denganku tapi tidak sekhawatir diriku. Mungkin ibuku begitu membenci Riko dan tak peduli dengan anak majikannya. Setelah mengetahuinya karena aku telah menceritakan semuanya pada ibuku. Rasa simpatinya telah hilang.


Sudah banyak obrolan aku bersama ibuku, membahas berbagai hal sampai kegiatanku disekolah juga private dengan teman sekelasnya Putri bahkan Putri sendiri belajar iqro' padaku bahkan hafalan surat surat pendek hingga semuanya hingga satu hal yang masih ku rahasiakan kepada ibuku yaitu kelakuan anak majikannya yang telah melampaui batas. Aku tidak ingin ibuku dilema dan sedih jika ibuku tau hal sebenarnya mengenai sikap Riko kepadaku selama ini tidak baik saat disekolah berbeda sangat jauh jika disini, baik murah senyum. Dasar manusia munafik, muka dua.


Aku pamitan pada ibuku...


Ibuku tersenyum senyum.


___________


Selesai sholat asar, kembali rumah besar mewah milik keluarga Sanjaya kembali gempar...


Aku yang sedikit tenang kini berlari menuju keruang tengah.


Sepertinya diluar sangat ramai sekali bahkan aku melihat ada beberapa polisi baik yang mengenakan seragam atau pun tidak, terlihat sangat gagah gagah mereka.


Disaat itu aku melihat dari ambulan ada sosok yang diletakan di atas bed pasien sedang diturunkan, dan hanya kepala terlihat. Wajahnya sangat pucat penuh dengan bercak darah mengering.


Dari wajahnya terlihat jelas begitu memprihatikan serta mengenaskan karena ada lebam biru.


"Anakku,,," teriak ibuku Kinasih histeris akan memeluk putranya tapi dicegah oleh seorang suster sembari menenangkannya. Para polisi sebagai ada yang mengawalnya sebagian berjaga.


Aku menyelinap masuk kedalam ingin tau sikon yang terjadi terlebih nasib Riko saat ini.


Karena diluar tadi aku melihatnya cuma sekilas.


Didalam kamarnya ibu Kinasih menangis sangat histeris....


Begitupun keluarganya tak terkecuali ibu dan bibiku ikut menangis sedih juga prihatin melihat keadaan Riko yang terlihat mengenaskan.


"Siapa yang telah melakukan semua ini pada putraku,,,?" geram pak Mahendra sambil mengepal tinjunya.


"AKU BUNUH KALIANNNN,,,,!!!" teriak pak Mahendra kalap dengan bercucuran air mata.


#bersambung,,,


******


Apa sebenarnya yang terjadi dengan Riko hingga mengalami hal tersebut?


Siapakah dalang dibalik kejadian yang di alami oleh Riko?


Ikuti kisah selanjutnya "PENCULIK"


Mg 13 mar 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.