250. NELANGSA.
Bab 250. NELANGSA.
★★★★★★
Jika aku mengingat terjadinya insiden Riko dan Alex rasanya aku menjadi diri sendiri. Suatu ekspresi yang tak pernah aku bayangkan dari wajah keduanya ketika keduanya sedang berpelukan sungguh suatu momen yang sulit aku lupakan hal itu terkadang membuat aku tersenyum-senyum sendiri.
Setelah kejadian itu aku pun, dengan cepat menyelesaikan semua tugasku baik dari melaksanakan kewajibanku juga mandi serta memakai seragam sampai aku telah bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Aku tidak memperhatikan baik Alex maupun Riko mungkin mereka berdua telah membawa pakaian ganti di dalam mobil mereka dan juga membawa ganti pakaian seragam mereka karena tidak mungkin keduanya akan memakai pakaian seragam yang kemarin.
Tentu keduanya juga membawa handuk sendiri karena di rumah bibi ada tiga kamar mandi masing-masing yang pertama di kamar Angga yang kedua untuk keluarga yang ketiga kamar mandi di kamarnya Putri.
aku juga tidak sarapan dan aku memilih untuk jalan kaki daripada nantinya akan ada keributan lagi di antara Alex ataupun Riko. Jadi aku mencari aman.
walaupun Angga dan Putri keduanya diantar oleh mobil yang sudah disewa oleh bibi untuk antar jemput keduanya selama ujian ini, aku pun tidak ingin merepotkan, numpang, lebih baik aku jalan santai karena keadaan masih pagi sekalian aku berolahraga.
dalam perjalanan aku lebih happy dan tenang karena tidak ada gangguan dari siapapun namun dalam pikiranku masih mengenal kejadian-kejadian dari awal hingga pagi tadi hal itu menyebabkan ku hanya bisa tersenyum, tersenyum geli.
Karena jarak tempuh dari rumah Bibi ke sekolah cukup memakan waktu 15 menit saja dengan jalan kaki. Rasanya tidaklah jauh terlebih lagi jika hati dalam keadaan bahagia dan senang maka akan terasa lebih dekat.
Suasana sekolah Permata bangsa ketika aku memasuki gerbang dan ada bapak satpam yang menyapaku seperti biasanya karena kali ini, setelah semenjak kejadian itu bapak satpam rajin menyapaku serta menjadi ramah, suasananya tidak begitu sepi karena sebagian murid Permata bangsa telah berada di lokasi karena jika terlambat satu detik saja maka akan mendapat sanksi yang sangat berat. Namun hal itu tidaklah berlaku untuk Alex ataupun Riko Karena aku tahu bagi keduanya hujan ini hanyalah formalitas saja. Begitulah anak-anak orang kaya dan tajir melintir sekolah tidaklah berarti apa-apa buat mereka karena uanglah yang berkuasa.
Namun beda lagi halnya denganku sekolah itu yang lebih utama karena pendidikan lah yang nantinya akan meningkatkan derajatku serta keluargaku karena keadaan kami lah yang menyebabkan hal itu jika pun kami hidup tanpa kan dan kedua orang tuaku hanyalah sebagai art namun aku tidak berkecil hati. Aku harus berprestasi gemilang untuk meraih cita-citaku namun terkadang aku harus terbentur oleh keadaan yang terkadang memaksaku untuk aku mundur menjalaninya karena hal itu sungguh sangat sulit bagiku terlebih lagi aku hanyalah anak orang yang miskin. Ternyata hal itu menjadi penghalang yang begitu besar terlebih lagi jika kita hidup di Jakarta ini tentulah uang itu sangatlah berharga.
Berbagai pikiran berkecamuk di otakku hingga aku tidak melihat keadaan sampai ada seseorang yang menyapaku.
"wah, yang terlihat bahagia dan senyum-senyum tidak bagi-bagi, ada apa?" sapa siapa mas Surya saat aku melewati parkiran sekolah. Karena saat memasuki sekolah aku harus melalui parkiran sekolah karena itu adalah akses utama.
"He he heee,,, itu hanya perasaan mas Surya saja" aku berkata seperti itu melihat keadaan takut jika ada orang ataupun para siswa yang melihatku karena aku sedang bersama dengan mas Surya lagi sedang ngobrol berdua, tentu akan menimbulkan kecurigaan tersendiri karena keakraban antara aku dan mas Surya namun tidak banyak yang mengetahuinya kalau selama ini aku dan mas Surya sangatlah begitu akrab dan dekat.
(Baca bab bab awal kedekatan ku dengan mas Surya bahkan yang telah menolongku).
Aku tahu mas Surya orang yang sangat berarti bagiku yang perhatian bahkan sampai sekarang pun mas Surya masih saja perhatian padaku walaupun dia masih punya hubungan dengan lelaki jadi-jadian bernama Cindy. Aku tidak ingin berlama-lama aku juga ingin mengetahuinya apakah mas Surya masih berhubungan dengan lelaki jadi-jadian itu dan kali inilah kesempatanku untuk bertanya akan hal itu.
"Mas, apakah mas Surya masih berhubungan dengan Cindy?" Tanyaku agak canggung walaupun aku tahu itu adalah hal pribadi mengenai mas Surya namun aku tidak ingin adakan jalan di hatiku karena aku tidak ingin nantinya mas Surya menyesali.
Kali ini, tentu saja ekspresi mas Surya tidak berubah namun aku tahu kalau dia masih mencoba dan mungkin juga berusaha karena tidak mungkin dirinya bisa begitu lepas dari Cindy. Aku tahu lelaki jadi-jadian seperti Cindy tidak akan mudah melepaskan orang seperti mas Surya.
"Mas,,," panggilku karena nampak mas Surya sedikit melamun dan tidak fokus dengan aku yang ada di depannya aku tahu mas Surya pasti memikirkan sesuatu. Entah apa itu, aku tidak tahu, namun satu hal yang aku tangkap dari raut wajahnya kalau mas Surya sedang ada masalah namun dia tidak berani mengungkapkannya atau mungkinkah dia dalam ancaman karena aku tahu orang seperti Cindy itu pastilah sangat licik sekali, segala hal pasti akan dia lakukan untuk mendapatkan apa yang jadi keinginannya.
"Tidak, tidak ada apa apa kok,,, he he heee,,," mas Surya hanya tersenyum dipaksa.
"kok nggak dijawab mas, apakah mas Surya masih berhubungan dengan Cindy?" Ulas ku karena mas Surya nampak berpikir menyembunyikan sesuatu.
"Kalau mas tidak mau terus terang tidak apa toh aku bukan siapa-siapa bagi mas. Aku hanya pelampiasan bagi mas Surya" kataku sendiri sambil berlalu pelan dari hadapan nya.
"Dek tunggu, mau ke mana Dek?" Seolah mas Surya mencegah aku pergi namun tidak ada gunanya aku bertahan karena hal itu hanya akan menyakitkan bagiku. berkali-kali aku sudah memperingatinya jika pun mas Surya masih ada hubungan dengan Cindy itu haknya aku bukanlah siapa-siapa dia.
"Iya dek, aku masih ada hubungan dengan Cindy. kamu pasti tahu orang seperti Cindy itu, dia sangatlah picik, dia mengancamku" akhirnya mas Surya mengungkapkan apa yang terjadi. Dapat kutarik kesimpulan bahwa mas Surya pasti di bawah tekanan dan ancaman dari sini. aku sudah menyangka sejak awal bahwa Cindy akan melakukan apa saja untuk bisa bersama serta mendapatkan mas Surya agar selalu berada dalam genggaman. namun aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya karena aku tidak memiliki kemampuan itu namun satu hal yang aku ingat bahwa mas Surya sekarang memiliki kemampuan baru yaitu ilmu ilusi.
Karena berkali-kali mas Surya melakukan hal itu padaku namun pengaruhnya tidaklah begitu hebat mungkin karena aku memiliki kemampuan melihat ke depan.
Ku hembuskan nafas pelan, kutarik pelan-pelan juga, rasanya aku ingin segera pergi namun melihat raut wajah mas Surya hatiku sedih membayangkan serta mengingat akan ancaman Cindy, pastilah sangat menyiksa bagi mas Surya.
Namun apa yang bisa ku lakukan?.
"Mas Surya, maaf,,," aku pun pergi dari hadapan.
"Assalamualaikum,,," tambahku, tidak melihat ekspresinya lagi.
"Dek,,, waalaikum salam" balasnya.
____________
Jm 30/12/2022.
Komentar
Posting Komentar