251. Ujian hari ke-4.
Bab 251. Ujian hari ke-4.
★★★★★★
Kini aku merasa sedikit agak tenang juga merasa kasihan dengan mas Surya yang dibawah ancaman Cindy. Entah ancaman apa yang dilakukan oleh Cindy pada mas Surya? Aku tidak tahu, mas Surya tidak pernah cerita akan hal itu seperti disembunyikannya.
Akan tetapi ada juga ganjalan di hatiku mengenai mas Surya namun apalah dayaku dia pun tidak pernah cerita mengenai Cindy padaku seolah dia menutup diri dengan masalahnya bersama Cindy.
Aku hanya bisa mendiamkan serta membiarkan mas Surya menjalani. Perlahan namun pasti jika pun aku mampu melupakan mas Surya maka akan aku lakukan, biarlah mas Surya berbahagia dengan pilihannya, entah itu siapa baik wanita ataupun laki-laki namun yang pasti aku ingin kehidupan mas Surya bahagia, tidak dibebani terus oleh masalah. Namun aku ingin mas Surya nikah dengan wanita sholehah, punya keturunan yang baik baik, tidak dengan lelaki jadi jadian seperti Cindy.
Sekali lagi pikiranku tentulah terpecah akan hal itu. Tidak mungkin aku tidak memikirkan tentang mas Surya yang pernah dekat denganku.
Masih fokus...
"Bening,,, Bening,,, Bening,,," ada tiga panggilan memanggilku pasti ada yang direncanakan oleh mereka.
Nampak wajah mereka nyengir ada sesuatu hal akan disampaikan entah apa itu, aku hanya menduga saja.
"Ada apa, Tif?" ku tanya hanya Latifah karena yang jadi pimpinan. Mereka seperti membentuk sebuah geng, tapi gak pernah bikin onar karena mati ketakutan dengan Alex. Sesekali memang bikin ulah.
"Be-gini Bening, kenapa kamu selalu bikin sensaional di aplikasi hijau, via sms pribad?" tentu saja aku bingung dibuatnya. Dengan ajuan pernyataan Latifah, yang lain mengangguk pelan agak takut. Mungkin takut menyinggung ku lalu aku tidak akan kasih contekan ke mereka lagi.
Namun rasa penasaranku lebih tinggi dengan apa yang disampaikan oleh Latifah.
"Katakan saja Tif" aku mulai berjalan pelan coba untuk mencari jawaban.
"Jadi begini, semalam ak- mmm bukan kami di group dapat pesan gambar tentang kamu. Ini gambarnya,,," Latifah menyodorkan hpnya, menunjukan sebuah gambar dari sang pengirim yang tidak diketahui pengirimnya.
"Hahh,,, ya Alloh???" mataku melotot, shock dengan apa yang ku lihat. Gambarku bersama Alex dan Riko aku sedang tidur ditengahnya tak bisa bergerak.
Lalu siapa yang mengirim gambar ini. Atau jangan jangan kiriman dari Putri, tebakku. Ingat kejadian semalam karena Putri jarang muncul. Hanya bibi yang sesekali membantu hilir mudik menyiapkan semuanya, acara barbeque.
'YA,,, YA,,, ALLOH,,,?' tubuhku langsung merosot kebawah setelah Latifah memperlihatkan foto itu padaku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya kesedihan dan luka dalam hatiku yang kurasakan saat ini. Latifah dan kawan-kawan pun tak bisa berbuat banyak ataupun membantu karena mungkin foto itu telah tersebar ke mana-mana dari seseorang yang tidak bertanggung jawab, mungkin juga jahat padaku. Tak terasa air mataku bergulir bagaikan mata air, tak dapat ku bendung lagi.
"Dari mana Tif?" Ulasku bertanya lagi, masih penasaran begitu tinggi.
"Nomornya baru, Bening" sela Sarah.
"Benar tuh, Bening" imbuh Oktavia. Menganggukkan kepala.
Semua mata menatap ku dengan penuh tanda tanya. Ingin penjelasanku. Tentu saja aku menjawab semua itu terlebih aku sendiri tidak mengabadikan momen itu hanya ada satu malam yang aku abaikan yaitu antara Riko dan Alex saling berpelukan ketika aku membangun kenyataan di pagi. Itulah momen yang aku abadikan di galeri. Tentu saja aku bingung untuk menjawabnya terlebih lagi untuk memulainya apalagi sebentar lagi akan diadakan ujian hari ini, hari kamis, hari keempat aku ujian.
Mereka para cewek yang berkerumun saling berbisik satu sama lain. Jumlah mereka kisaran sepuluh orang cewek.
Latifah langsung melotot kearah mereka tentu yang jadi bahan gunjingan itu aku. Aku tidak peduli.
"Bening maafkan kami. Kita masih dalam kesepakatan, kan?" Latifah nampak khawatir sedangkan aku tidak memikirkan hal itu.
"Iya Bening. Kamu jangan marah sama kami" lanjut Okta.
"Iya Beming, kita kita sangat membutuhkan bantuan mu dalam ujian ini. Terlebih nanti bahasa Inggris dan PJOK" jelas Sarah karena pelajaran yang dia sebutkan itu sulit menurutnya. Juga yang lainnya. Mengangguk lemas jika pun aku tidak mau bantu lagi.
"Iya..." Aku pun gegas dari hadapan mereka yang masih saja memperhatikanku tentu saja di pikiran mereka berkecamuk berbagai pikiran yang tidak baik terlebih mengenai foto yang tersebar itu pasti akan membuat pikiran mereka tidak baik padaku sungguh hal itu mencoreng nama baikku.
"Bening terima kasih ya!" seru ketiganya ditambah oleh yang lainnya hingga sedikit riuh. Karena sudah sepakat jika kelas ku nanti ingin yang jadi nomor satu.
Saat aku merasa galau serta memikirkan gambar itu aku terus berjalan menuju ke kelas yang nantinya aku akan mengikuti ujian aku tidak menyangka jika di belakangku ada orang-orang yang mengundutiku namun aku tidak peduli karena saat ini hatiku sedang tidak baik-baik saja ataupun lagi bersedih.
Dan setelah aku ketahui siapa mereka ternyata mereka adalah Alex dan Riko yang ada di kedua sampingku.
Tentu saja keduanya langsung menatap ke arahku dengan tatapan heran karena melihat mataku pasti masih memerah kanlah tadi aku sempat menangis jika keadaanku.
Ingin rasanya aku menjauhi keduanya ataupun juga Angga aku tidak ingin bermasalah lagi namun apa yang kulakukan itu adalah untuk membuat kenangan untuk yang terakhir kali karena nanti selama liburan aku mungkin tidak akan ada di sini maka sebaik mungkin aku coba untuk lebih dekat dengan mereka.
"Ada apa dengamu Bening?" Tanya Alex heran.
"Iya betul, kamu kenapa Bening?" tanya Riko juga penuh kekhawatiran.
Namun aku hanya menjawab dengan gelengan kepala, itu pun lemah, karena aku tidak ingin memikirkan hal itu, ataupun mengulasnya lagi, biarlah aku pendam untuk sementara waktu apa yang telah terjadi padaku.
Keduanya perlu tahu dan aku akan menceritakan hal itu pada mereka nanti saat istirahat ataupun taat akan pulang nanti.
"Kenapa tidak bareng aku tadi berangkatnya?" seru Riko.
"Seharusnya sama aku aja, bukan sama si tuh songong" tuding Alex dengan bahasa isyarat dengan mulutnya dimajukan.
"Sudah sudah, apakah kalian gak capek dan bosan setiap kali bertemu selalu saja berseteru dan bertengkar?" Sungutku kesal.
"Nggak,,," jawab keduanya hampir berbarengan, tentu saja aku menatap mereka berdua dengan tatapan tajam. Heran pun juga karena keduanya sangat kompak sekali padahal jarang bersama.
"Sudahlah" ucapku lirih. Berlalu dari hadapan keduanya dengan wajah sedih.
"Tunggu!"
Keduanya mensejajariku kanan kiri. Aku memilih diam saja, terlebih waktu berjalan sebentar lagi masuk serta ujian.
Benar dugaanku saat aku memasuki kelas ada pengumuman dari pengeras suara hingga seluruh siswa ujian pun masuk kekelas masing masing sesuai nomor urut.
Setelah beberapa saat guru pengawas datang. Kali ini berbeda lagi, karena setiap hari ganti. Dan aku juga tidak mengenalnya bahkan mukanya sangar, menyeramkan. Kali ini ku tidak bisa berkutik untuk memberitahu sama Latifah dan kawan kawannya karena pengawasnya, sepertinya tidak bersahabat.
Tentu aku tidak akan kehabisan akal, karena aku berpesan jika pengawasnya agak sulit atau sulit, mereka harus perhatian aku terus karena diselanya aku pasti akan memberi isyarat untuk ngasih jawaban. Waktunya sangat singkat.
Seperti biasanya doa bersama bagi lembar soal, juga jawaban, daftar hadir. Ngisi lain lainnya.
Mengerjakan?!.
Tentu aku pura pura berpikir dan diselanya aku beri isyarat dan itu butuh waktu sepuluh menit. Dua puluh soal telah dijawab. Mereka tersenyum puas.
"Hmmm,,," guru pengawas memberi instruksi. Entah apa maksudnya? Namun, aku cuek saja. Akan hal itu, hingga menit empat puluh ku selesaikan soal yang diujikan.
"Sudah. Hmmm,,, Bening ya?" ada rasa keheranan dari guru pengawas. Memperhatikan ku dengan seksama, lalu ada seulas senyum ramah dari dua pengawas. Terlihat wajah kekaguman dari keduanya. Aku balas dengan senyum datar, dengan hanya diam tanpa ekspresi. Karena suasana hatiku tidak baik baik saja.
"Permisi pak, Assalamualaikum,,," aku undur diri dari dalam kelas. Keluar dengan tenang, pikiranku sebenarnya sedang kacau. Aku tidak bisa tidak untuk memikir foto di hpnya Latifah yang dikasih tahu ke aku. Itu yang jadi kegelisahan yang ku rasakan.
Tujuanku sudah pasti di pinggir lapangan karena hanya di tempat itu aku bisa menenangkan diri untuk sementara waktu sampai jam istirahat, barulah nanti, saat istirahat tiba aku akan pergi menuju ke kantin, buat mengisi perut. Ah, lebih baik sekarang saja aku ngisi perut dari pada nanti banyak siswa kadang gak kebagian tempat. Sekarang mumpung sepi. Jadi bisa santai sampai istirahat kurang dari 70 menit lagi waktunya.
Hingga butuh waktu dua puluh menit aku sendirian di kantin barulah Alex nampak kelihatan batang hidungnya. Menyusul Riko lima menit setelah. Sudah dipastikan akan ada pertengkaran lagi.
Aku sudah mengisi perutku, tanpa kata aku pun pergi dari kantin, untuk menenangkan diri.
Ku lirik Alex cepat cepat, dan Riko nampak santai.
Setelah aku duduk dengan tenang dikursi panjang, terdengar dari pengeras 'waktunya istirahat'.
Masih merenung hingga aku dikagetkan dengan sosok duduk di sampingku. Dari aroma tubuhnya aku mengenalinya. Alex tersenyum kearahku. Menatapku tajam, sesaat.
Namun, aku memilih untuk diam, berpikir. Apa saatnya aku cerita pada Alex. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya Alex nanti. Ku menarik nafas dalam dalam, rasanya berat.
"Ada apa Bening? Dari tadi ku perhatikan kamu seperti bingung. Apa sebenarnya terjadi?" Alex mengintrograsiku karena kediaman ku serta cuek sekali.
Sedih, begitu dalam ku rasakan, lebih baik aku bicara saja pada Alex biar tidak ada ganjalan dihatiku.
"Bening..."
"Al, dengarkan aku. Tadi saat aku aku berangkat bertemu lagi badan kawan-kawan mereka menunjukkan sebuah foto padaku dan pengirim yang tidak diketahui, asal perlu kamu ketahui bahwa foto itu ada aku di tengah dan kalian berdua. Hiks, hiks, hiks,,,," aku tidak lagi dapat minum air mataku serta tangis ku.
"Apa? Makaud kamu, ketika kita tidur di tenda, ada yang memfoto kita, begitu maksudnya?" Ku anggukan kepalaku.
Alex tak percaya...
"Siapa pelakunya?" Ulasnya.
"Hiks,,, Latifah bilang itu nomor baru tanpa wellpaper" jelasku, karena aku juga memperhatikan nomor pengirimnya.
Kenapa aku sampai tidak ada bayangan akan hal itu, atau hanya aku yang berlebihan karena tidak membahayakan keadaanku. Tapi, aku merasa sangat malu sekali. Tidur diantara Riko dan Alex seperti....
"Aku malu Al, sangat malu sekali sama Latifah dan kawan kawannya. Mereka berpikir kalau aku itu,,,? Hiks, hiks, hiks,,, entah siapa yang begitu tega melakukan hal itu padaku. Atau memang punya dendam pribadi sama aku. Menyebar fotoku yang lagi tidur"
"Apa,,,?" terdengar bentakan yang baru datang. "Siapa biang keroknya?" lanjutnya tak terima. Riko hadir serta membuatku dan Alex kaget. Datang secara tiba tiba ketika serius membahas masalah.
"Entahlah Rik?" geleng ku lemah.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" terlihat geram Riko sampai kepalanya digoyang.
"Hiks, hiks, hiks,,," hanya nangis yang dapat ku lakukan.
"Tenang, tenanglah Bening, dalang nya pasti akan ketemu" ujar Riko berapi api.
"Benarkah itu?"
"Percaya-lah" sahut Riko, jawabnya singkat.
_______________
Jm 30/12/2022.
Komentar
Posting Komentar