252. Ujian ke-5, katakan.
Bab 252. Ujian ke-5, katakan.
★★★★★
Seperti apa yang ku rencanakan terkadang rencanaku tidak sesuai apa yang kuinginkan. Tidak sesuai dengan apa yang ku pikirkan namun sebisanya aku mencoba untuk mendekatinya. Aku tahu baik Riko ataupun Alex mereka berdua sama-sama mengerti akan keadaanku. Tentang apa yang kurasakan namun entahlah jika bagi mereka berdua apa yang aku ceritakan mereka tidak peduli bahkan mereka berdua merasa tidak malu ataupun canggung seolah itu adalah hal yang biasa atau memang mungkin di Jakarta ini hal yang tabu itu sudah dianggap hal yang biasa namun bagiku itu adalah sebuah aib yang harus aku tutupi. Aku tidak tahu siapa orang yang menyebar fotoku itu ataupun yang fotoku dikalah aku Riko dan Alex sedang tertidur. Namun Riko berjanji akan menyelesaikan semua itu hal itulah yang menyebabkan aku kini menjadi agak tenang.
Di saat ujian telah berakhir kucoba meminta bantuan kepada Riko namun Riko menolak secara halus aku tahu alasannya dia menolak karena dia ingin menyelesaikan masalahku karena ini juga menyangkut masalahnya. aku yakin Riko pasti akan datang ke rumah bibi untuk menanyai nya.
"Maaf aku ya say, aku mau kerumah bi Ros" ujarnya. Raut wajahnya menghiba, aku tahu hal ini sangat mengganggu pikiran dan sangat membuat hatiku sedih makanya setelah kejadian itu senyumku telah menghilang.
Aku menunggu Riko di parkiran hampir satu jam lebih karena aku telah menyelesaikan ujianku seperti biasanya.
Di belakangnya ada alat yang menyusul. Keduanya nampak tersenyum ke arahku namun aku hanya diam saja tanpa ada reaksi ataupun tersenyum.
"Ihhh jijik banget, Lo manggil manggil Say-" protes Alex seperti biasanya pasti komplain apa yang dilakukan oleh Riko padaku terlebih saat memanggilku. Aku tahu kalau Alex diliputi rasa cemburu karena panggilan sayang Riko padaku.
"suka-suka gue dong mau manggil sayang, honey, baby, itu terserah gue emang masalah buat Lo? Orangnya aja nggak keberatan lonya kayak orang kebakaran jenggot, huuuuh,,," sentak Riko emosi.
"Dia pikir gue cemburu enggak banget!" ucap Alex berkilah.
Masih saja kudengar pertengkaran keduanya bila pun sampai pada akhirnya ujung-ujungnya mereka pasti berkelahi. Menatapi keduanya yang nampak bertegang berseteru hingga nampak wajah tegas keduanya yang saling bersitatap tajam. Aku hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan keduanya yang bila bertemu selalu tidak ada akur akur-nya. Aku yang selalu ada di dekat mereka saja merasa capek melihat dan mendengar pertengkaran mereka yang hanya dipicu oleh hal yang sepele.
"Awas aja kalau Lo bilang sayang sama Bening, gue sumpahin titit Lo tidak pernah bisa bangun selamanya" ancam Riko tidak main main.
"Emangnya lu Tuhan pakai nyumpahi segala, nih kontol gue, masih kenceng ngacengnya" pamer Alex sambil pegang batangnya dibalik celana abu abunya.
"Kontol melengkung aja sok-sokan, mendingan punya gue yang lurus" ejeknya.
"Apa asyiknya, sama sekali nggak ada enaknya, nggak ada sensasinya seperti halnya kontol gue. Weekkkk,,," cibir Alex makin menjadi. Tentu saja wajah Riko berubah seketika. Tidak terima ledekan Riko.
"Ya Alloh, kalian nggak malu apa. Lihat sekitaran kalian, banyak siswa. Kalian bener benernya, urat kemaluannya pada putus-!"
Eh, salah ya. He he heeee....
Keduanya sambil pegangi kemaluannya masing masing lantaran aku marah dilanda emosi.
"Nggak!?" geleng keduanya kompakan. Hal ini yang menyebabkan selaku migran.
"Rik, kamu mau ke rumah bibi?" tanyaku juga memastikan karena di awal bilang seperti itu.
"Iya, kamu sendiri-" ucapnya menggantung.
"Udah, biar aku yang ngatar Bening, he he he,,," Alex cengengesan.
"Ya sudah. Rencana aku mau pulang ke paviliun, buat ambil motor di post jaga, sekalian mau pamit, eh,,, bilang sama ibu dan ayah" terangku mengenai rencana ku, terlebih tadi keceplosan karena aku teringat untuk pulkam nanti. Terlebih lagi dengan kesedihan yang melandaku saat ini.
"Pamit,,, maksudnya say?" ulas Riko penasaran.
"Woiiii,,, Say, Say,,, biasa aja kali. Gue muntah dengernya, Riko!"
"Bangsat Lo Alex, bacot Lo tuh, mbok di rem, bikin emosi aja Lo ya. Gue tampol juga Lo nanti. Serah gue, apa peduli Lo,,, keparat!" Balas Riko tidak mau kalah.
Tentu saja aku makin sedih dengan kelakuan keduanya yang tak kunjung selesai...
Aku pun pergi meninggalkan keduanya yang masih saja bertengkar. Yang bikin aku geregetan sikap Alex. Aku juga agak risih di panggil Say oleh Riko hal yang menyebabkan Alex uring uringan sejak awal sama Riko.
"Bening, tunggu,,," panggil Alex. "Riko, gue yang anter dia, Lo cari tahu and selesai masalah. Oke,,,"
"Modus,,, Lo Alex!" Seru Riko.
"Terserah Lo Riko" sahut Alex cepat. Naik mabilnya lalu menyusulku yang berjalan agak cepat. Kalau masih bertengkar mendingan naik ojek aja. Biar gak pada ribut.
"Bening, please aku anter ke rumah Riko,,," mohon Alex berhenti didekatku.
Ku lihat sekitaran lumayan rame, ada yang memperhatikan ku. Namun, tak ada yang mengusikku. Ada juga yang berbisik bisik sambil menatap kearah Alex penuh cinta, berharap Alex mau menyapa para cewek ganjen. Tentu juga tak luput dari para mahluk yang ngiler lihat ketampanan Alex berharap bisa dekat atau sekedar menyapa. Namun, Alex tidak akan peduli dengan mereka karena sebenarnya Alex cowok straight. Tidak doyan batangan, hanya karena aku pernah menggodanya didunia mimpi hingga sekarang menjadi belok hanya sama aku saja. Selebihnya masih bermain main dengan cewek yang masih virgin untuk dijadikan korbannya. Aku yakin kalau Alex ada main dengan Revika.
Tanpa ekspresi aku pun masuk kedalam mobil Alex, namun punya sebuah rencana yang tidak akan diketahui oleh Alex, karena kulihat tadi dia begitu cemburu dengan Riko mungkin alasannya sangat klasik karena Riko selalu memanggil aku dengan sebutan sayang ini saatnya aku akan membuatnya seperti halnya apa yang dilakukan oleh Riko maka untuk itu aku akan benar-benar mempermainkan perasaan Alex. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya nanti apakah dia benar-benar memegang omongan tidak akan pernah memanggilku sayang ataupun sejenisnya, kita lihat saja nanti.
Dengan tenang Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang tentu jarak dari sekolah Permata bangsa ke rumah Riko kisaran satu setengah jam karena dulu ayah sering mengantarku disaat pagi dan menjemputku di saat dia ketika aku masih di kelas 11 semester genap.itupun fasilitasnya memakai motor milik keluarga Sanjaya. Namun kini aku telah memiliki motor matic sendiri walaupun harganya cukup mahal namun itu tidak apa-apanya dibanding motor matic milik keluarga Sanjaya yang harganya kisaran 30 juta mungkin juga lebih.
"Al, kenapa kamu mau mengantarku, apa kamu tidak pulang, bagaimana orang tuamu nanti?, pasti mereka mencarimu karena dari kemarin dan juga semalam kamu nginap di rumah Bibiku, pagi harinya kamu berangkat sekolah hingga siang hari ini kamu mengantarku" kataku datar dengan meliriknya, tak ada senyum karena hatiku sedang tidak enak. Mengenai foto yang diperlihatkan oleh Latifah.
"Tenang aja, aku telah SMS mama, papa-ku mereka juga mengerti keadaanku, karena aku punya alasan, kamu ingin tahu alasannya apa?" Alex mencoba mencairkan suasana interaksi tidak mengenakkan karena aku selalu berkata dengan datar saja.
"Katakan saja" ujarku cuek.
"Kok gitu sih, aku ingin lihat senyum kamu rasanya nggak enak lihat kamu sedih terus seperti ini" balasnya. Aku mendesah pelan, rasanya aku belum untuk tersenyum kali. Aku belum bisa tenang jika masalahku yang satu itu belum selesai, ingin tahu siapa dalang nya, barulah aku bisa tenang. Tadi ku lihat mobil Riko berada dibelakang, namun karena tujuan nya berbeda tujuan maka berpisah. Tujuan Riko kerumah bibi.
"Alasanku, belajar bareng teman teman untuk menghadapi ujian. Aku juga bilang akan barbeque, ortuku bilang tidurnya jangan malam malam, jaga kesehatan" terangnya cerita panjang lebar. Tentu, orang tua Alex tidak membatasinya bahkan dibebaskan bahkan Alex melakukan hal hal diluar batas, reaksi orang tuanya biasa saja. Seolah sudah tahu dari awal.
"Al, aku mau tanya. Apa kamu cemburu sama Riko kalau dia manggil aku SAY-?" tatapku sejenak kearahnya. Dia nampak grogi, lalu mengalihkan pandangan dengan menahan nafas sebentar. Kemudian dia nampak nyengir seolah apa yang ku katakan itu benar.
"Al,,, katakan. Kenapa kamu diam? Apa benar apa ku katakan?" Karena tak dia hanya diam, maka aku pun menyentuh wajah tegasnya.
"Ap- ap- a yang kamu lakukan?" Dia tampak grogi saat ku sentuh dagu tegasnya. Dadanya bergemuruh dengan cepat bahkan menghempaskan nafasnya pelan.
"Tidak ada, hanya memastikan jika kamu itu memang bohong, atau hanya untuk membohongi hatimu saja. Kenapa detak jantungmu begitu cepat, Al?" Tentu saja aku hanya senyum dalam hati. Lagi lagi aku menatapnya lekat terlebih Alex sedang fokus dengan jalanan yang mulai ramai takut kecelakaan.
"Bening, hentikan, aku gak kuat jika kamu perlakukan seperti itu" nafasnya kini tersendat sendat. Tentu aku makin tersenyum dalam hati, penuh kemenangan.
"Sebelum kamu jujur dengan perasaanmu, maka aku akan seperti ini" yang ku lakukan yaitu mengelus dadanya dibalik seragam putihnya. Dibawah, kontolnya sudah tak bisa dikontrol lagi. Andai senyum di hatiku nampak di wajahku mungkin Alex akan heran, terlebih aku melakukannya tanpa ekspresi. Tentu Alex tidak bisa berbuat apa-apa, karena aku tahu Alex sudah sange.
"Hmmm,,," gumamku lirih, melirik kejendolan bawah milik Alex. Maka dengan nakalnya, ku elus.
"Hesssh,,,!" Desah Alex tertahan. Maka, sabuk pengikatnya aku lepas, aku keluarkan isinya yang sudah membasah ujungnya.
"Oughhhh,,,," lenguhnya tertahan. Saat sentuhan lembutku pada kontolnya.
"Al katakan, benar kamu cemburu sama Riko" desakku. Ku elus elus dengan lembut kontol melengkungnya yang bagai bulan sabit. Diameternya cukup lumayan, panjangnya jika luruspun akan sama dengan milik Riko. Karena bentuknya yang beda jadi bikin gemes.
Shittt,,,,?
Alex menghentikan mobilnya. Nafasnya terengah engah karena ku elus elus kontol dari tadi. Bahkan pelernya yang bak kedua bola pingpong pun tak luput dari remasan lembut ku tentu makin membuat Alex blingsatan, terengah engah.
"Katakan Al!" seruku.
____________
Sb 31/12/2022.
Komentar
Posting Komentar