253. Rasa yang tak terungkap.

 Bab 253. Rasa yang tak terungkap.


★★★★★


Alex menatapku intens. Ada setitik senyum di bibir walaupun tidak begitu kentara namun itu menunjukkan bahwa saat ini dia sedang serius tentang apa yang aku tanyakan.


Aku tahu Alex itu adalah orang yang cerdas, maka dia tidak mungkin akan kehabisan akalnya hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan namun aku tahu dia pasti sedang berpikir.


"Kalau perasaan kamu sendiri bagaimana?" tanyanya balik padaku. Aku sudah menyangka akan hal itu pasti akan bertanya balik tentang bagaimana perasaanku.


"Kamu ingin tahu perasaanku, ke kamu atau ke Riko?" Ku balikan keadaan.


Tentu akan sulit buat dia untuk menjawab nya. terlebih lagi ini adalah dua pilihan antara dirinya dan Riko yang saat ini mungkin telah sampai ke rumah bibi serta mengintrogasi baik bibi mau pun Putri. kalau Angga aku yakin dia pasti tidak akan terlibat namun bisa saja Angga terlibat dalam masalah ini karena tidak menarik kemungkinan hal itu bisa saja terjadi.


"Kenapa Al kamu diam, kamu bingung? Tentu ini akan sulit bagimu aku tahu akan hal itu? Jika kamu ingin tahu perasaanku maka pilihannya antara kamu dan Riko. Maka aku akan menjawabnya" tegasku dengan tatapan tajam. Kini aku duduk biasa tanpa melakukan apa apa ditubuh nya.


"Hmmm,,, aku" balasnya.


"Kenapa kamu tidak marah atau menolak ku jika aku melakukan ini ke kamu? Lalu, buat apa kamu tanyakan perasaanku ke kamu? Jawabnya itu ada padamu, jadi aku tidak perlu menjawabnya. Jika kamu tidak memiliki perasaan apa apa ke aku. Maka kamu akan menepisnya bahkan menolaknya saat aku melakukan nya padamu seperti ini" maka detik berikutnya aku pun mengulum kontolnya. Dari ujung kepala lalu perlahan ku masuk kan lebih dalam.


"Ahhh,,, bangsat, enak banget!" lenguhnya tak ditahan lagi sambil mengumpat. Saat itulah, ku kenyot kuat sampai kepalaku ditahannya, tapi ku tepis tangannya cepat. Bahkan kontolnya dilesakan lebih dalam. Saat itulah aku lepaskan. Ku tatap dia penuh arti.


"Bagaimana Al? Nikmat bukan" Alex mengangguk pelan dengan tatapan sayu.


"Lakukan Bening, lakukan sesukamu. Aku tidak tahan lagi. Aku mohon, jangan buat aku kayak kemarin, aku gak kuat menahannya, aku bisa gila kalau kamu aku seperti itu terus menerus" dia terengah, mengungkapkan perasaannya satu persatu. Akan aku buat dia mengakuinya hingga pada titiknya dia tidak bisa mengelak lagi.


"Lepaskan bajumu" pintaku, bukan sedang berkata kata tapi lebih ke perintah. Maka tanpa rasa canggung pun Alex melepaskan seragamnya hingga kini atasnya terekspos. Bawah melorot sebagian. Nampak kontolnya berkedut kedut. Dia begitu pasrah. Dua tidak mau jika aku membuatnya mumpeng tidak sampai crot. Biar dia tahu rasa, bagaimana rasanya kalau konyol, sungguh tidak enak jika hal itu terjadi. Dia sudah siap aku apa apa apakan.


"Kamu sayang aku Al" bisikku lirih ditelinganya. Kini leher kokohnya jadi sasaranku. Kembali dia mendengus pelan. Ku kecup penuh rasa. Lalu turun kedada bidangnya, ku kenyot pentilnya yang coklat, ada lingkarannya sudah mencuat keras karena gairahnya telah naik dari tadi. Maka secara bergantian ku kenyot.


Bukan hanya itu saja, tanya aku kecup dan kuberi kissmart di dadanya di beberapa bagian hingga nampak memerah tentu saja gairah Alex makin memuncak terlebih lagi sapuan lidahku kini mengarah ke perutnya yang ada roti sobeknya dan di tengah-tengahnya ada bebuluan halus yang membuat darahku mengalir dengan cepat. Tentu bagian itu telah ku ekspos, maka detik selanjutnya Alex pun tidak bisa mengontrol dirinya lagi, lenguhan demi lenguhan lepas dari mulutnya, dia tidak berani mengumpat lagi seperti tadi jika pun dia lakukan pasti akan ada konsekuensinya yang harus dia terima.


Tubuh Alex semakin menegang, nafasnya ngos-ngosan tak terkontrol, dadanya bergemuruh naik turun, begitupun perutnya yang rata, nampak kembang kempis.


"Jangan siksa aku. Emut. Tuntaskan, tuntaskan hasratku. Aku ingin pejuhku dikeluarkan. Lakukan Bening. Lakukan, cepat!" Nafas Alex makin tak terkontrol. Kontolnya tumpah ruah percumnya tak tertampung lagi.


Ku hentikan aksiku, aku hanya diam saja melihatnya tanpa ekspresi. Mata Alex memerah karena gairahnya membludak dikepalanya.


Sumpah, aku tertawa dalam hati melihatnya keadaannya yang sange akut tapi tidak tuntas.


"CUKUP,,," tegasku pelan.


"Yeah,,," dengan nafas yang belum normal. Alex nampak kecewa sekaligus kesal dengan keadaannya.


"Jalan, aku ingin sampai ditempat ku" perintahku tidak bisa ditolaknya. "Pakai lagi bajumu. Apa kamu akan seperti ini. Jika kamu tidak punya malu" ku lirik sekilas. Tapi kontolnya masih ngaceng, masih ada sisa percumnya yang tadi tumpah ruah.


"Itu jawabanku dari pertanyaanmu tadi" ujarku cuek.


Pelan Alex memakai baju seragamnya kembali serta membenarkan letak celananya yang tadi sempat kedodoran. Ada rasa geli juga lucu serta ada rasa kasihan di dalam hatiku melihat keadaannya. Namun itu sesuai apa yang telah dia lakukan dan perbuat tadi. Karena dia tadi sempat menjenguk Riko atas panggilan sayangnya padaku. Mungkin juga ini adalah terakhir kalinya, aku mengekspos tubuh Alex. tentu saja hal itu tidak aku beritahukan kepadanya. Jika pun nantinya dia tahu pasti saat itulah akan ada rasa penyesalan yang paling dalam diri Alex. Karena ini adalah terakhir kalinya aku melakukannya pada Alex.


Aku tahu Alex pasti kecewa, mungkin juga dongkol dengan apa yang aku lakukan tadi, karena tidak sampai pada titik klimaks.


Alex hanya diam saja, perlahan dia pun menjalankan mobilnya.


Aku tidak peduli apapun dengan perasaan Alex karena dia tidak mau mengerti akan perasaanku.


Di sepanjang perjalanan pun Alex hanya diam saja bahkan tidak melirik ku. Dia sangat kecewa padaku. Biar saja dia merasakan karena telah bermain-main padaku. Jika pun dia mau pasti dia akan mencari seorang cewek untuk dikencaninya aku tidak akan ambil pusing akan hal itu. Untuk melampiaskan semua hasrat, setelah ini.


Bisa kulihat dari kejauhan karena rumah milik keluarga Sanjaya sudah kelihatan tinggal beberapa meter lagi dan di saat itulah aku mengatakan sesuatu pada Alex.


"Kamu tidak perlu punya perasaan sama aku, mungkin hal itu bukan perasaan, namun hanya rasa belas kasihan terhadapku. Anggap saja kita tidak pernah bertemu jadi kamu tidak pernah mengenalku, kamu pasti bisa melakukan untukku. Dan mungkin kita tidak akan pernah bertemu!" ujarku tanpa ekspresi bahkan tidak ku alihkan pandanganku bahkan aku tak pernah menatapnya.


"Ap- apa,,, maksudmu?" Aku hanya nyengir saja sebagai balasannya. Tentu saja Alex makin bingung.


"Kamu tidak perlu tahu Al. Setelah kamu boleh melampiaskannya ke cewek karena aku tahu hasratmu tadi tertahan. Kamu tidak perlu memikirkan perasaanku. Jika kau tanya tentang perasaanku, maka aku tegaskan padamu. Aku tidak pernah punya perasaan apa apa terhadap kamu, setelah kau sakiti hatiku ketika kamu bersama Putri, saat itu perasaan ku padaku sudah ku pupus. Aku tidak naif tentang perasaanku ke kamu kalau dulu aku pernah punya perasaan terhadapku, aku berharap bisa bersama namun harapanku hanya sia sia. Terima kasih Al, kamu orang pertama yang mampu membuat hatiku jatuh cinta tapi tidak saat ini hingga seterusnya. Terima kasih!" Pungkasku. Memeluknya dengan berurai air mata yang bergulir, aku biarkan mengalir tanpa bisa ku cegah. Saat itulah ku lumat bibirnya lembut.


"Kamu pernah mengatakan bahwa bibirku manis. Terima kasih Al, kamu jujur mengatakan itu. Bahkan kamu mengatakan jika aku melumat bibirmu atau kamu melakukannya, maka kamu bisa ngecrot!" Ku lumat dalam dalam bibir Alex yang lembut. Dia pun membalasnya penuh haru. Aku tidak bisa menahan perasaanku kali ini, sambil terus menangis dalam diam.


Selamat tinggal Al!.


Saat dia membalasku melumat lebih dalam aku perlahan menahannya, melepaskannya pelan. Hingga tatapan kami bertemu. Dan hal yang membuat ku kaget.


Alex,,,,?


______________


Sb 31/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.