255. Ketika hati harus memilih.
Bab 255. Ketika hati harus memilih.
★★★★★★
Aku tidak akan menyangka jika Alex sampai melakukan hal yang dan terduga, di saat aku akan pergi meninggalkannya dan tinggal beberapa langkah lagi aku akan sampai di gerbang keluarga rumah Sanjaya. Dan itu sudah sangat kelihatan sekali pintu gerbangnya serta pas penjaganya serta pagar tembok yang mengelilingi rumah keluarga Sanjaya yang sangat besar serta mewah dan juga sangat luas.
Tadi aku hanya melumat bibirnya untuk terakhir kalinya. Hingga kami dikejutkan oleh suara yang sangat familiar. Riko!???.
"ALEXXX,,,,!" serunya. Karena saat aku akan pergi meninggalkan tiba tiba Alex menarik ku memeluk erat, hingga bisa ku rasakan degub jantungnya yang berpacu. Dengan tangisan yang dalam. Takut berpisah denganku.
Seketika aku pun mendorong tubuh Alex. Karena aku sangat begitu shock mendengar suaramu mungkin tadi aku tidak sempat mendengar suara mobilnya yang datang mendekat karena saking asiknya aku bicara serius dengan Alex hingga kedatangan Riko aku pun sampai tidak mengetahuinya.
Akan tetapi Alex tampak begitu tenang seolah-olah tidak terjadi sesuatu hal apapun. Namun tidak dengan Riko matanya nampakmu merah penuh amarah juga emosi yang meluap. Otot di tubuhnya sampai pada keluar, menahan rasa geram di dadanya. Sampai tangannya mengepal, membentuk tinju. Dengan tubuh yang bergetar menahan gejala amarah dalam dirinya.
Dengan tenang Alex hanya tersenyum kecut ke arah Riko. Seolah mengejek Riko bahwa dia telah berhasil mengecoh Riko.
"Dasar brengsek, banjingan Lo Alex. Lo embat juga akhirnya. Dan kau, kenapa kau begitu mudahnya,,," bentak Riko padaku.
Rasanya aku tak percaya dengan pernyataan Riko, seolah-olah menuduhku berbuat yang tidak tidak di depan matanya, padahal dia tidak tahu hal yang sebenarnya terjadi. Belum sempat aku menjelaskan Riko sudah dipenuhi dengan emosi, tentu akan sulit bagiku untuk menjelaskannya di saat dia sedang marah seperti ini. Jadi, perlu ada yang menenangkannya, jika semua masalah harus diluruskan.
"Ha ha haaa,,,," tawa Alex penuh ejekan. Aku tahu itu hanya sekedar pancingan Alex saja supaya Riko marah padaku. Benar saja Riko nampak mendengus padaku.
"Kasihan sekali Lo Riko, kalau Lo itu cuma dimanfaatin oleh dia, sadar Lo, Riko! Ha ha haaa,,," Alex mencoba memprovokatori Riko supaya semakin marah dan membenciku.
Aku tidak menyangka jika Alex sangat picik seperti itu, dia ingin membalasku dengan cara seperti ini. Memfitnahku didepan Riko, karena sedari tadi aku hanya mempermainkannya dan kini dia mempermainkanku balik.
Ku tatap tajam ke arah Alex, sambil ku gelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang dikatakannya pada Riko. Semua itu hanya kebohongan saja, hanya bualannya saja untuk membuat Riko semakin membenciku.
Yang tadinya aku respeck dengan Alex, kini aku benar-benar sangat membencinya, jahat sekali Dia berbuat seperti itu. 'Ya Alloh! Dia benar benar buat aku muak. Benar benar muak.
"Lo tahu tidak Riko, Lo itu cuma dijadikan kacungnya. Lo cuma diperintah perintah, Lo cuma nuruti permintaannya. Apa yang Lo dapati Riko. Ckckkk,,,," ejek Alex pada Riko.
Hanya ku dengar saja, apa yang dikatakan oleh Alex. Dia kecewa sama aku kini dia membalasnya, sangat menyakitkan.
"Be-Bening,,,!?" lirih Riko geleng kepala.
"Bajingan keparat kau Alex,,,!" seruku.
Plakkkk,,,!
Tamparan keras mendarat dipipinya. Setelah ku lakukan itu, aku berlari menuju gerbang. Yang ada hanya ayahku, tidak terlihat paman. Entah kemana paman, mungkin pergi, kalau tidak berkunjung kerumah untuk melihat keadaan Angga dan Putri.
Otomatis pintu gerbang terbuka. Sedikit....
Ayah melihatku, tersenyum bersahaja. Aku pun langsung menghambur ke pelukannya. Sambil tangisku pecah kembali. Tadinya, di saat aku ada di depan Alex dan juga Riko aku mencoba untuk menahan tangisku, aku tidak ingin menangis dihadapan Alex.
"Ayah,,," aku sesenggukan diperlukannya yang menenangkanku.
"Ada apa nak?" Tanya ayahku pelan. Melepaskan pelukanku. Tentu baju seragam ayah basah oleh air mataku.
"Tidak ayah, aku hanya sedih, karena tinggal beberapa hari lagi kita akan berpisah, bukan" ucapku bohong. Padahal tadi aku ingin jujur mengenai perasaanku. Tapi, kini aku coba untuk tahan, tidak mengungkapkannya, aku pendam saja. Ya Alloh, kenapa begitu banyak masalah yang menderaku. Seolah olah tidak ada habisnya.
"Nak, lihat ayah. Aku tidak bisa bohong sama ayahku ini. Katakan, apa yang terjadi sama kamu nak?" Desak ayahku, beliau tahu kalau aku telah berbohong. Padahal aku tidak menatapnya, bahkan aku menatapnya tadi tanpa kedip tapi cuma sejenak. Tapi, ayah bisa baca pikiranku. Kalau aku punya masalah yang belum selesai.
"Katakan nak, ayah siap dengar" pungkas ayah.
"Ayah, aku - aku..."
"Paman,,," sapa Riko sudah muncul tapi tidak Alex. Entah kemana manusia sialan satu itu.
Aku hanya diam saja...
Aku biarkan saja Riko. Biar ayah saja yang ngobrol sama Riko.
"Eh den Riko, sudah pulang. Gimana barbeque nya di rumah Syarif?"
"Berjalan lancar paman" jawabnya.
Aku tidak memperhatikannya. Maka...
"Ayah, aku belum sholat. Aku pamit dulu yah? Assalamualaikum,,," gegasku pergi dari post jaga. Tentu Riko tidak bisa berbuat banyak.
Melangkah agak cepat aku pun menuju ke paviliun yang berada dibelakang rumah besar.
Sampailah aku di depan pintu paviliun yang tentu sepi, walaupun begitu tetap aku mengucap salam sekalipun didalamnya tidak ada orangnya, mungkin saja.
"Assalamualaikum,,," saat ku putar knopnya tidak dikunci. Aku pun langsung masuk. Tapi setelah didalam. Ada jawaban dari dalam menjawab salamku. Itu suara ibu...
"Nak sudah pulang" tentu ibu memperhatikan keadaanku, mataku masih merah habis menangis.
"Keadaanmu baik baik saja kan sayang?" Ulas ibu masih tetap memperhatikan ku dengan senyum bersahaja yang menenangkan jiwa.
"Alhamdulillah bu, keadaanku sehat walafiat kok" kilahku untuk menutupi perasaanku yang kurang baik. "Ibu sehatkan,,," belum selesai kata kataku, akupun memeluk ibuku penuh hari. Lagi lagi tangisku langsung pecah, tak bisa ku tahan.
"Nak kamu kenapa?" tanya ibu mencoba menenangkan ku sambil mengelus rambut serta punggungku.
"Aku kangen sama ibu" kilahku berbohong pada ibu mengenai perasaanku saat ini. Ibu masih memeluk sampai air mataku membasahi pakaiannya.
Ku lepaskan pelukanku pada ibu, perlahan namun pasti kini hatiku telah tenang walaupun aku sadari bahwa pikiranku tidaklah setenang hatiku masih kacau serta berkecamuk. Rasanya aku belumlah tenang karena masalah foto itu belum terselesaikan ditambah lagi dari masalahku dengan Alex, semakin bertambah.
Aku berharap nanti persoalanku akan selesai itu harapanku berita baik yang Riko bawa untukku nanti. Tadi aku pun belum sempat menanyakan pada Riko, siapa yang ada di balik itu semua tentang pengirim foto yang sebenarnya.
"Ibu maaf, aku belum sholat, aku mau mandi dulu" karena aku tidak ingin ibuku tahu. Maka aku beralasan. Bukan hanya sekedar beralasan tapi memang aku ingin mandi serta menenangkan, hati serta terutama pikiranku yang kalut.
"Iya nak, nanti setelah kamu selesai sholat Ibu ingin tahu apa sebenarnya majalah yang kamu hadapi?"
Deg,,,,!
Saat aku berlalu dari hadapan ibuku, akan masul kedalam, hingga terhenti sejenak beberapa detik.
-------------
Fresh....
Hati dan pikiranku kini kembali tenang walaupun masih ada ganjalan namun aku bersyukur dengan keadaanku saat ini. Setidaknya aku masih bisa bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang aku sayang dia itu kedua orang tuaku.
Sesuai janji yang dikatakan oleh ibu, kulihat ibuku duduk santai menungguku.
Kulihat ada hidangan di meja mungkin tadi saat aku mandi serta melaksanakan kewajibanku cepat-cepat Ibu pergi ke dapur serta menyiapkan makan siang untukku karena saat tadi aku tidak sempat merasakan lapar namun kali ini perutku minta diisi.
Masih beruntung aku memiliki seorang ibu yang perhatian serta pengertian padaku, menyiapkan segala kebutuhan yang aku butuhkan itulah bentuk rasa syukurku pada Allah yang telah memberikan kesempatan padaku.
Jika mengingat hal itu kembali rasa haru menyelimuti hatiku. mungkin di luar sana banyak orang-orang yang tidak seberuntung aku, yang masih lengkap memiliki orang tua.
"Makanlah dulu nak, biar hatimu tenang. Ibu tahu kalau kamu akhir akhir ini selalu banyak masalah. Maafkan Ibu karena tidak banyak membantumu ketika kamu membutuhkan Ibu namun ibu selalu mendoakanmu semoga kamu selalu kuat, tabah dengan segala cobaan yang diberikan oleh Allah padamu"
"Amin! Terima kasih Bu, Ibu memang is the best, betapa beruntungnya aku memiliki ibu" tak bisa kubendung rasa keharuanku saat ini.
kini terasa bukan ku berkurang terlebih lagi saat ini ada ibu yang mendampingiku, ada ayah yang selalu menjagaku.
Maka aku pun menyantap makanan yang telah disajikan oleh ibu sebelumnya aku berdoa semoga apa yang aku makan nanti bisa membuatku sehat dan bisa selalu beribadah kepada Allah.
Kini perutku sudah terisi,,,,
Ku ucap syukur 'Alhamdulillah' atas nikmat-NYA.
Hatiku sedikit berbedar. Saat tatapan ibu kini memintaku. Maka, mau tidak mau aku pun akan mengatakan semua kejadian yang terjadi padaku. Dari awal, akan ku ceritakan semuanya.
"Ku harap ibu tidak kecewa denganku" lirihku, tidak enak hati.
"Tidak nak, ibu akan dengar semua keluh kesahmu" balas ibu tersenyum menenangkan.
"Ibu tidak merasa kecewakan. Ibu lah yang sering membuatmu kecewa. Maafkan ibu nak"
"Tidak bu. Aku lah yang telah membuat ibu kecewa. Aku bukan anak yang seperti ibu dan ayah harapkan. Aku berbeda. Aku mandul karena ilmu yang ku miliki. Ilmu penjerat mimpi. Tapi, untuk saat ini aku lupa ilmu itu. Seperti ada yang menyegelnya. Entah siapa itu, yang melakukannya padaku"
"Yang sabar nak. Kami akan coba menolongmu untuk mengembalikan kemampuanmu"
"Terima kasih Bu. Hal yang ku alami ketika aku dalam acara barbeque dirumah bibi" ada jeda sejenak. Ku kumpulkan semua kenangan yang lewat.
Terlihat ibu nampak mendesah pelan. Berat. Merasakan apa yang ku alami. Coba untuk menyelami.
"Hingga saatnya aku tidur. Namun, Riko dan Alex maksa buat tidur bareng. Hingga saat aku bangun, serta sekolah. Disekolah aku dicegat oleh temanku bernama Latifah, memperlihatkan sebuah foto kiriman di aplikasi hijau. Foto itu aku yang berada ditengah tengah difoto. Aku tidak tahu maksudnya. Hingga aku shock lihat kenyataan itu. Aku takut fotoku disebar luaskan di sosmed oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Itu lah bu yang ku takutkan. Bahkan Riko sampai menyekidinya, aku tidak tahu apakah Riko tahu siapa pelakunya dibalik pengiriman foto kami bertiga. Karena saat datang, aku sempat bertengkar hebat dengan Riko hingga Riko belum sempat menjelaskannya padaku. Tadi juga, Riko itu salah paham. Dia melihatku sedang,,,,? Tapi, itu bukan hal sebenarnya Bu. Riko salah paham serta marah besar sama aku. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku menjelaskannya. Hingga aku pun pergi meninggalkan sedang ngobrol sama ayah"
Saat ku tatap ibuku, terlihat ibuku meneteskan air matanya. Sedih. Melihat keadaan yang selalu dirundung masalah.
Ibu langsung memelukku hangat, menenangkan ku.
"Ya Alloh nak, sungguh berat sekali cobaanmu nak" keluh ibu lirih. Mengusap kepalaku.
"Alex juga memfitnahku didepan Riko. Makanya Riko sangat marah padaku" isakku dalam diam.
"Yang sabar nak" usap ibu menenangkanku. Ku anggukan kepalaku pelan sambil ku lepaskan pelukan hangat ibu. "Ya Alloh, tega sekali den Alex fitnah kamu nak"
"Aku tidak tahu kenapa dia lakukan itu padaku"
"Apa sebenarnya Alex itu ada rasa sama kamu nak, tapi dia kamu abaikan"
Deg,,,!?
Ucapan ibu memang benar kalau sebenarnya Alex itu cemburu. Tapi, aku tidak berani detail untuk cerita. Sebagian aku tutupi terlebih lagi tentang aksiku pada Riko dan Alex ketika didalam tenda bukan hanya tidur bareng saja tapi telah melakukan diluar jangkauan.
Ku pejamkan mataku mengenang semua itu. 'ibu maafkan aku, karena tidak jujur padamu' rasanya begitu kelam aku rasakan.
"Entahlah?" Gumamku lirih. Sungguh berat masalah yang ku hadapi belum klir.
"Apa dia marah marah saat kamu bicara dengan den Riko?" ulas ibu lagi menanyaiku tentang perasaan Alex.
Entah mengapa ibuku malah senang menyelami perasaanku yang berbeda?. Begitu pun ayahku seolah tidak memasalahkan tentang keadaanku yang berbeda.
"Iya Bu. Marah marah tidak jelas, membuatku puyeng" jawabku apa adanya.
"Itu tanda tanda kalau dia memang ada rasa sama kamu, nak" desah ibu berat. Matanya sampai terpejam merasakan keadaanku. Ibu memang sangat perasa.
"Sudahlah bu, tidak usah membahasnya. Alex itu muna. Aku benci dia. Alex telah memfitnahku didepan Alex" ucapku menerangkan tentang pribadi Alex.
"Mungkin dia punya maksud tertentu melakukan hal itu, nak. Biasanya orang yang cemburu itu nge-test" ibu sangat paham sekali mengenai perasaan seseorang. Ibu juga sangat paham tentang perasaan, sekalipun aku pandai menyembunyikan perasaan, tapi didepan ibu pasti akan tahu, bagaimana rapatnya ku sembunyikan, tapi ibu tetap tahu. Ibu senang menguliknya hingga aku tak bisa untuk mengelak nya.
"Sudahlah bu. Aku lelah memikirkan hal itu" tegasku karena aku tidak ingin membahasnya lagi.
"Baiklah" lirihnya, mengerti keadaanku. Hingga tidak ingin mengulas masalahku lagi. Aku sudah lelah akan hal itu. Terlebih lagi, mengenai ALEX yang sudah ku benci. Apa pun alasannya tiada kata untuk tidak membencinya. Aku tidak peduli, bahkan, sekalipun apa yang telah ku lihat dimasa depan tentang Alex kalau dia bahkan mengatakan 'CINTANYA DENGAN TULUS' aku tidak peduli.
"Satu pesan ibu nak, jika memang Alex benar benar sayang padamu, kamu dengar kata hatimu"
"Hmmm,,, " terdengar deheman saat ibu serius, aku mendengarnya dengan seksama ketika membahas lagi tentang Alex.
Ibu nampak membulat matanya, shock. Maka aku pun mengikutinya. Hingga....
'Riko,,,,????!'
_____________
Sb 31/12/2022.
Komentar
Posting Komentar