256. Dikala hari akan senja.
Bab 256. Dikala hari akan senja.
★★★★★
Aku terasa membeku di tempatku melihat keberadaan Riko yang kini ada di dekat kami di saat ibuku mengulas tentang Alex. Berdiri mengawasi kami dengan raut muka curiga. Terlebih lagi tadi ibuku menyebut-nyebut tentang Alex, aku yakin pasti recommendengar semuanya.
Lagi-lagi ibuku menarik nafas berat tentu saja melihat kehadiran Riko hati ibuku jadi tidak enak.
"Eh Den Riko,,,?" Ibuku mencoba untuk menyapa dengan tersenyum ramah.
Namun wajah Riko nampak biasa aku yang melihatnya, menjadi khawatir tentang ibuku.
"Bi Ijah, ada yang ingin aku sampaikan pada Bening, ini menyakut foto yang dikirimkan oleh nomor yang tak dikenal" ucap Riko masih berdiri ditempatnya semula.
Kemudian ku beri isyarat agar Riko duduk, karena hal itu, tentu tidaklah sopan, terlebih lagi ada ibuku yang sedang duduk di hadapannya. Seperti terpaksa Riko akhirnya pun duduk. Aku coba untuk tersenyum namun aku tidak bisa menutupi rasa kegugupanku.
Namun berbeda sekali dengan ibuku yang mampu menutupi semua itu dari kegugupan nya terlebih, tentang hal menyangkut alex tadi, pasti Riko mendengarkannya dengan sangat jelas yang dikatakan oleh ibu ku. Karena ibuku mengatakannya dengan sangat keras karena mengira tidak akan ada orang yang mendengar, mengetahuinya. Tapi apa yang terjadi sudah terjadi tidak bisa ditarik kembali.
"Apa tadi den Riko?" Ulas ibu ingin kejelasan, walaupun tadi sudah aku ceritakan dengan detail. Namun ada yang aku tutupi dari ibu.
"Jadi, begini bi Ijah. Pengirim foto itu adalah Putri?" Jelas Riko menjeda.
Sudah aku duga akan hal itu.
Lanjutnya lagi...
"Bi Ros, sebenarnya tahu tapi terlambat karena Putri bercerita setelahnya. Itu sangat disayanginya. Hal yang menyebabkan Putri melakukannya karena Putri sangat membenci Bening, karena Alex sangat dekat dengan Bening. Sebenarnya Putri ingin balas dendam tapi langkahnya salah. Tapi, aku sudah membereskannya. Karena aku mengancam mereka jika tidak membersihkan hal dan jika sampai tersebar luas di sosmed, maka terpaksa aku ambil jalur hukum, maka tidak ada pilihan lagi kecuali PENJARA!" terang Riko, menekan kata terakhirnya.
Ibu langsung menutup mulutnya, kaget luar biasa, tak percaya dengan yang disampaikan oleh Riko. Terlebih lagi keluarga juga telah mendapat masalah yang sangat besar berkaitan dengan kecelakaan Putri dan Angga. bahkan sempat mendapat tuduhan yang tidak mengenakkan, mengiriskan hati dari ibunya Raya. Bahkan juga hampir dipenjarakan jika tidak ada aku, tentu bibi makin terpuruk keadaannya. Terlebih lagi mengenai biaya rumah sakit yang tentunya sangat mahal. Aku saja tidak sampai hati terlebih lagi mengabaikan nasib keluarga nya. Aku ikut prihatin, namun aku bisa berbuat apa untuk menolongnya, karena biaya yang dibutuhkan belum tentu aku bisa mencukupi dengan uang yang ku punya. Karena yang tabungan pribadiku aku juara lomba juga dari dapat juara. Maka aku berusaha untuk selalu juara, dan harus juara satu. Karena hanya otak dan itu saja yang bisa ku lakukan karena tidak mungkin aku mengandalkan kekayaan orang tuaku yang tidak ber-uang. Hanya rasa syukur pada Alloh yang bisa ku panjatkan. Itu saja mengenai keadaanku yang sekarang. Tidak lebih.
"Terima kasih Rik,,," aku langsung menghambur ke pelukan Riko tidak peduli ada ibu melihatku. Terlebih lagi dengan apa yang telah dilakukannya begitu banyak berkorban untukku, tentang keadaanku. Tumpah ruah air mataku tak sebanding dengan rasa terima kasihku pada Riko yang banyak membantuku. Rasanya aku sangat berhutang budi besar padanya.
Riko terpaku ditempatnya dengan yang ku lakukan, jika berdua pastilah Riko balas memelukku, dia pasti tidak enak dengan keberadaan ibuku. Padahal ibuku jelas jelas tidak mempermasalahkan hal tersebut. Karena ibu sudah tahu keadaanku dari dulu sebagai pewaris syah, ketujuh dari ilmu penjerat mimpi. Perlahan lahan kini ingatanku mulai pulih. Hanya saja, satu hal yang tidak ku ingat sama sekali yaitu tentang bagaimana caranya untuk menerapkan ilmu penjerat mimpi. Bahkan aku mencobanya, tidak ada pengaruhnya sama sekali. Tentu saja aku dibuat bingung akan hal itu.
"Aduh, Bening aku malu sama ibumu. Kok kamu peluk aku-" protesnya lirih takut bila ibu mendengarnya. Tapi aku hanya diam saja, menenggelamkan wajahku di dadanya, lagi lagi aku membuat basah pakaian. Pertama ayahku, kedua ibuku, dan kini ketiga Riko. Yang hanya memakai kaos putih pendek dengan gambar Popeye, celana setengah tiang warna krem. Aku pun juga hampir sama kaosnya, tapi beda gambarnya, celana beda warnanya, hitam.
"Kalau begitu, kita ketaman, biar ngobrolnya bebas dan tenang, tidak ada gangguan" bisiknya lagi didekat telingaku. Hanya ku anggukan kepalaku pelan.
"Kamu ijin sama ibumu-" bisiknya lagi.
Tanpa ku jawab, akhirnya aku setuju.
"Bu, aku mau ke taman. Ada hal penting yang mau dikatakan-" tentu ibu tahu, tak bisa nyegah mau pun nolak jika itu kemauan Riko, tentu ibuku memperhatikan sikap Riko tadi, sering berbisik padaku hal itu tidak lepas dari pengamatannya.
Akhirnya Riko pun keluar duluan, aku pun membututinya dari belakang, bahkan saat mengucap salam hampir bersamaan.
"Assalamualaikum,,,"
"Waalaikumsalam" balas ibu menatap kepergian kami menuju ke taman belakang rumah keluarga Sanjaya yang ada tamannya yang asri serta indah, juga sejuk.
Beberapa menit kemudian kami pun telah sampai di Taman. Ketika hati beranjak sore, bahkan hadir senja yang begitu indah di cakrawala. Ada lembayung di angkasa, sungguh panorama tiada duanya. Inilah kebesaran Sang Pencipta alam semesta. Tak henti hentinya aku berdecak kagum melihat keindahan yang tersungguh didepan mata. Rasanya, keadaan seperti ini tidak ingin cepat berlalu.
"Wow,,, indah sekali senja ini" decak kagum ku melihat semesta saat ini di angkasa.
Ku rasakan rengkuhan hangat Riko, dia seolah tidak peduli dengan keadaan sekitar, tidak takut atau malu jika ada yang tahu, terlebih orang tuanya. Kalau orang tuaku, tidak masalah akan hal itu. Hingga kini aku pun menyatu dengan tubuhnya, hingga hembusan sang bayu yang menyapa, tidak begitu terasa, yang ada hanya kehangatan yang tercipta. Seakan dunia milik kita berdua yang lain cuma NGONTRAK.
Seakan aku lupa segalanya, lupa masalah yang ada. Yang ada hanya suka dan bahagia. Kita nikmati senja yang tercipta tanpa kata. Hanya debaran hati kita berdua yang terdengar, bahkan hembusan nafaspun tidak terdengar.
Perlahan lahan keindahan lembayung senja pun sirna berganti dengan temaram, hingga yang ada tergantikan oleh kegelapan malam.
Ini lah penghujung hari yang telah berlalu. Tergantikan malam, dihiasi oleh bintang gumitang di cakrawala.
Selama beberapa menit tadi yang ada hanya kebisuan, tanpa sepatah kata tercipta.
Riko masih saja betah memeluk ku seolah enggan melepasku. Tentu hatiku berbunga bunga atas semua perlakuannya. Namun, ini pasti akan berakhir.
"Bening, kamu tahu, bahwa aku sangat menyayangimu" bisiknya lirih ditelingaku. Hembusan hangat nafasnya terasa, menghantarkan pikiranku bernostalgia.
"Hmmm,,," gumamku lirih untuk jawabannya.
"Kamu bisa rasakan, debaran dadaku, detak jantungku, bahwa itu bukti akan perasaanku padamu sangatlah tulus" ungkapnya lirih.
"Hmmm,,," gumamku kembali, karena aku tidak punya kata untuk membalasnya.
"Lihat aku Bening. Tatap aku,,," ucapnya lagi. Hingga ku putar wajahku untuk menatapku, posisiku masih dipelukan hangatnya.
Hingga ku rasakan kecupan dibibirku lembut.
Didiamkannya untuk beberapa saat, aku juga membiarkannya, biar berjalan sesuai alur. Hingga saling bertaut, hembusan nafas saling bertukar, kedua bibir telah menyatu. Dalam pelukan hangatnya. Sungguh tidak bisa ku lukisan perasaanku saat ini yang sedang berbunga bunga dengan perlakuan Riko yang teramat istimewa.
Perlahan kecupannya dilepaskannya, rasanya aku tak rela, namun aku bisa apa. Riko tersenyum mesra aku pun membalasnya dengan senyum terbaik yang ku punya.
Rasanya ini seperti mimpi saja?
Jika aku terbangun hanya kepiluan yang tersisa.
Aku tersadar!
"Rik, sudah gelap. Aku mau istirahat, capek. Besok terakhir ujian, kan" ingatku pada nya karena masih saja memelukku. Terlebih memang keadaan gelap tapi tidak ditanam karena lampu penerangannya cukup terang sehingga nampak indah.
Bukannya dijawab, malah berbeda....
"Besok kita liburan lagi ke pantai Pangandaran, nginap di villa ku" bisiknya.
"Apa,,,,?" Kaget ku mendengarnya.
____________
Mg 01/02/2023.
Komentar
Posting Komentar