257. Ujian hari terakhir, Rencana yang disusun.
Bab 257. Ujian hari terakhir, Rencana yang disusun.
★★★★★★
Rasa lelah ku pasti ada, sekalipun ada berjuta rasa kebahagiaan yang meraja. Namun, pada akhirnya semua pasti akan ada akhirnya. Hanya menyisakan kenangan saja.
Tentu saja aku meminta pada Riko untuk segera istirahat buat besok karena akan ujian, terlebih lagi ujian yang terakhir kalinya. Setelah itu, aku akan-....
Mendapati tawaran Riko, aku tidak bisa berkata tidak atau menolak. Yang dapat kulakukan menyusun rencana.
Tentang rencana apa itu nantinya, aku pasti punya sebuah rencana agar aku bisa pulkam tanpa menyakiti siapa siapa, termasuk Riko. Dalam hatiku aku tersenyum. Lalu...
"Aku mau,,," anggukku setuju.
Wajah Riko langsung sumringah, memegang tanganku, lalu tanpa ragu mengecupnya tanpa enggan. Sebentuk perasaan yang menggeleyar tiba tiba hadir menyapa.
"Terima kasih say, jika kamu mau ku ajak nginap lagi" kemudian menciumku gemas.
"Kok punya kamu gak tegang?"
"Aku lagi bahagia say, jadi gak" candanya, tersenyum lebar.
"Masa,,," tentu aku tidak percaya. Maka, aku pun coba untuk memegangnya.
Saat itulah ku rasakan sesuatu yang mengembung.
"Tapi boong. Papa- le, papa-le..." Dengan ekspresi dibuat lucu.
"Ih Abang jahat, aku tuh,,,?"
"Apa?"
"Nggak jadi dech"
Riko langsung lemas, berharap ku teruskan kata kataku, tapi dia kecele jadinya, karena aku berhenti.
Hingga suasana menjadi hening, yang terdengar binatang malam, kecil, seperti jangkrik, terus...
"Tidur dikamarku aja Say" tawarnya. Tentu tawaran yang punya maksud tertentu, terlebih lagi dengan senyumnya, senyum MESUM.
"Aku capek" kilahku beralasan. Karena aku ingin istirahat total tanpa gangguan. Baik itu Riko sendiri, karena ku tahu pasti Riko ada maunya, bermodus. Karena aku tawarnya sejak aku kenal dekat denganku. Tapi aku aku akan binal jika aku tidak terkontrol.
"Ayolah Say, aku ingin ditemani oleh kamu malam ini. Rasanya, ini terakhir kalinya aku tidur bareng kamu" rajuknya, seperti suatu firasat buatnya karena sebentar lagi aku akan pergi. Lagi lagi Riko mengatakan hal itu, seperti punya Felling jika aku memang akan pergi, tanpa sadar menyinggung ke hal itu.
"Kok kamu ngomong gitu Rik?" protesku dengan dada berdebar tak menentu. Tentu aku takut ketahuan.
"Gak tau, pokoknya kamu temani ya Say, please,,," pintanya memohon.
Sebenarnya aku malas, juga lelah. Ngantuk sudah pasti, terlebih harus cepat istirahat supaya energi bangun pagi sudah fresh, dengan pikiran tanpa beban.
"Ayolah Say,,," desaknya.
"Gendong,,,"
Mendengar kata hal itu Riko, tersenyum mesum ke arahku.
Tanpa babibu, Riko langsung merengkuhku. Diangkatnya tubuhku seperti tak ada beban. Berjalan dengan santai menuju ke rumah besar, tentu arahnya ke kamar pribadinya.
Untung saja apa yang dilakukan oleh Riko tidak ada yang memergokinya, andai pun tahu mungkin tidak akan berani untuk menegurnya.
Beberapa saat kemudian sampailah aku di kamarnya, bahkan aku diletakkan dengan sangat lembut dan perhatian, seolah aku adalah barang antik yang perlu dijaga supaya tidak lecet ataupun pecah.
Tentu saja aku tidak dapat mengkomplain mataku yang terasa berat.
Nampak Riko telah mengunci kamarnya dengan rapat supaya tidak ada gangguan namun entah mengapa saat dari taman bahkan sampai menuju ke kamar pribadinya Riko aku merasa seolah-olah ada yang mengawasiku. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja namun bila hal itu tidak membahayakan jiwaku maka aku tidak mendapat bayangan apapun kebutuhan ketika terjadi tentang insiden foto yang dikirimkan oleh Putri ke aplikasi hijau milik Latifah.
Seperti biasanya Riko pasti melepas seluruh pakiannya tanpa terkecuali, hingga sekarang dia seperti seorang bayi besar dan rebahan di sampingku, dengan senyum khasnya yang mampu mengalihkan duniaku.
Namun karena aku telah di ujung lelahku serta mataku sudah berat mengantuk maka aku biarkan hal itu, perlahan saat di ujung lelahku, kurasakan sebuah rengguhan hingga hidungku mencium aroma yang mampu menenangkan ku yaitu aroma tubuh Riko yang manly.
Dibawah terasa ada sentuhan yang mengenai pahaku sesuatu yang telah. Tetapi pada akhirnya akupun terlalu juga.
------------------
Seperti yang sudah-sudah, maka saat subuh menjelang, aku pun terbangun dan aku dapat aku masih dipelukan Riko, yang dari semalam, dia tidak memakai apa-apa.
Padahal suasana kamarnya itu terasa sejuk namun hal itu tidak berpengaruh pada tubuhnya karena kurasakan tubuh Riko selalu hangat mungkin aku lah yang selalu menghangatkan tubuhnya.
Kupandangi wajah tegasnya, kumisnya, dagunya yang tegas, dadanya, seluruh tubuhnya juga bagian yang sensitif, serta bebuluan yang tumbuh subur, sungguh suatu pahatan yang sempurna Tuhan menciptakannya.
Tak jemu-jemu aku menatapi setiap lekuk tubuhnya sehingga perlahan tanganku pun menyentuhnya dengan pelan dan lembut. Dari mulai rambutnya yang ikal hitam tebal serta lembut, serta menebarkan aroma sampo yang wangi setelah itu, hidungnya yang banget serta kumisnya yang aduhai, pipinya, dagunya yang tegas sungguh arogan ketika dia tegas mengucapkan, bibirnya yang merah alami ingin rasanya aku mengecupnya aku menjadi tidak tahan melihat keseksian bibirnya. Mungkin juga melumatnya namun teringat akan ucapannya bahwa dibandingkan bibirnya bibirku lebih manis entah manis seperti apa yang kurasa namun ada satu hal yang terkadang membuatku merasa aneh aku pun merasa kalau bibir Riko itu juga ada manis-manis, entahlah persepsi manis tentang bibirku itu manisnya seperti apa. Baik Riko, Alex, Angga ataupun mas Surya mereka tidak bisa mengatakannya.
Maka tak bisa aku tahan lagi, maka bibir merah alami Riko telah menempel bibirku, di saat itulah gumam mandiri terdengar dari Riko. Maka kurasakan rasa manis-manis itu.
Selanjutnya aku melumatnya penuh rasa dengan gumaman lirih.
"Ahh,,, kamu nakal ya Say, hmmmm,,,," Riko pun menyambut lumatanku.
Otot di tubuhnya terasa menegang ku rasa. Deru pun berbeda, tidak seperti biasanya nampak tersendat-sendat.
Itulah akibat bibirku melumat bibirnya menimbulkan area ribuan volt yang menyengati tubuh Riko. Hingga tubuh dia seperti orang yang sedang kejang-kejang.
"Sss- Say,,, ahhh,,, oughhh,,, hmmm,,,," tubuh Riko mengejan hebat dengan lumatan yang makin dalam penuh dalam. Hingga pada titik ketegangan lumatannya makin dalam, deru nafasnya ngos ngos. Pada satu hentakan hebat, tubuhnya seperti kejang. Deru nafasnya terhempas kuat.
Dibawah seperti ada air yang terpancar kuat. Riko telah ngecrot sangat banyak saat berciuman denganku.
Nikmat!
----------------
Kini aku bersama Riko telah sampai di parkiran sekolah dengan perasaan bahagia, hati berbunga bunga. Bukan hanya aku saja yang rasakan akan hal itu. Pun dengan Riko merasakan hal yang sama sama sangat membahagian.
Namun di sudut relung hatiku yang paling dalam, terbersit rasa kesedihan yang mendalam, hal itu tidak diketahui oleh siapapun tanpa terkecuali baik dariku ataupun yang lain hanya orang tuaku serta paman dan Bibiku yang mengetahui hal itu yaitu rencana buat pulkam.
Kusimpan hal itu rapat rapat, dan hanya aku saja tahu, dengan senyum yang mengembang.
Disaat itulah mobil Alex datang, dia pun keluar dengan raut muka yang tak biasa.
"Kayaknya hari mau hujan nih. Kok ada mendung lewat ya,,," sindir Riko pada Alex tanpa ada rasa takutnya. Karena mereka berdua jika bertemu pasti akan bersitegang dan berseteru hingga ujung ujung dengan perkelahian hebat, hingga wajah keduanya bonyok bonyok.
"Bangsat Lo Riko. Maksud apa ngatain gue mendung. Cari gara gara Lo sama gue. Sini, gue janin" seru Alex tidak terima.
"Sudahlah Rik, gak usah di perpanjang lagi masalahnya. Kalau kamu bikin ulah, aku tidak mau ikut kamu lagi ke pantai Pangandaran" sengaja aku katakan dengan keras keras supaya didengar oleh Alex.
Karena sebagian rencana itu adalah ALEX.
DAN TIDAK SEORANG PUN YANG TAHU RENCANAKU, BAHWA AKU NANTINYA AKAN PULKAM!???
_______________
Mg 01/01/2023
Komentar
Posting Komentar