258. HAMPIR SAJA.
Bab 258. HAMPIR SAJA.
★★★★★★★
Ujian kali ini pun telah dimulai, walaupun saat ini ada dua perasaan yang kini sedang ku rasakan antara kebahagiaan juga kesedihan namun aku mencoba untuk selalu tersenyum. Terlebih didekat Riko, tidak barang sedetikpun aku tidak mengulas senyum kepada siapapun.
Detik detik waktu sungguh terasa,,,
Seolah aku hanya tinggal menunggu waktu yang telah aku tentukan. Menjalani rencana yang telah aku susun.
Setidaknya aku telah memberitahu dan juga telah pamitan kepada semua keluargaku dan juga orang tuaku. Jika pun nanti apa yang telah aku rencanakan tidak sesuai apa yang aku inginkan aku tidak akan merasa kecewa karena aku juga telah merencanakan dengan sangat matang.
Ujian untuk jam pertama berjalan dengan lancar namun tidak untuk kali ini aku menjalankan ujian sesuai dengan yang terjadwal yaitu sesuai dengan jam pelajaran yang diujikan yaitu selama 120 menit.
Untuk jam pelajaran yang terakhir pengawasnya sesuai dengan apa yang aku inginkan yaitu mas Surya dan juga dengan wali kelas ku yaitu Pak Lucky Tri Handoko.
Karena ada sesuatu hal yang ingin kukatakan pada mas Surya maka setelah lembar jawaban aku berikan aku duduk kembali ke tempatku semula dan aku tak ingin keluar lebih dulu, mungkin yang lainnya akan menjadi heran dengan apa yang kulakukan.
Karena tidak biasanya aku melakukan hal itu biasanya aku langsung keluar dari kelas untuk istirahat terlebih dahulu, jika tidak di pinggir lapangan, aku memilih untuk pergi ke kantin hanya sekedar untuk mengisi perutku yang lapar.
Karena aturannya seluruh siswa tidak boleh berisik atau pembicara di saat diadakannya ujian maka tidak ada yang berani menyapaku ataupun mengajakku keluar baik itu Riko, Alex maupun Latifah dan kawan-kawannya. Beruntung kali ini aku memberikan sebagian besar jawaban pada mereka karena aku tahu mas Surya itu orangnya sangat baik dan pengertian maka aku pun berani melakukannya tapi masih tetap dalam kerahasiaan ketika aku memberi jawaban.
Tentu tahapan mereka menjadi anak dengan apa yang aku lakukan karena tidak biasanya aku berlama-lama di dalam kelas hingga ujian usai.
Ku lihat mas Surya berbisik pada pak Lucky, setelah itu Pak Luki membawa kertas keluar dari dalam ruangan maka kini tinggallah kami berdua. Keadaan tentu saja sangat sepi karena semua murid telah pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka.
Walaupun mungkin aku telah mengatakan namun kami ini aku juga ingin mengatakannya kembali pada mas Surya, tentang, mengenai rencanaku untuk pulang kampung besok, dan aku, juga ingin berpesan pada mas Surya bahwa jangan berhubungan lagi dengan Cindy karena aku tahu lelaki jadi jajan itu sangatlah berbahaya buatnya. Nama jika mau kuliah tidak bisa menempatkan diri maka aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku juga melihat ke sekelilingku, untuk mematikan keadaan aman-aman saja karena aku tidak ingin apa yang aku sampaikan ingin nanti didengar oleh orang lain, siapapun itu. Setelah kurasa, keadaan aman, aku bisa menjadi tenang.
"Hmmm,,, ada apa Dek?" tanya mas Surya mendekatiku, duduk didepanku.
"To the point saja mas. Aku cuma ingin pamit pada mas Surya, bahwa insya Allah, besok, aku akan pulang kampung, aku hanya ingin meminta doa memberitahu mas Surya soal ini. Dan juga aku ingin mengetahui apakah mas Surya masih berhubungan dengan Cindy"
"Apa Dek kamu besok akan pulang kampung, kok rencananya mendadak seperti ini?"
"Sebenarnya sudah jauh jauh hari mas aku ingin mengatakan ini pada mas, tapi karena, tidak ada kesempatan buat ngomong sama mas, jadi aku tahan sampai hari ini, bahkan dulu saat kita makan di gubuk lesehan, sebenarnya, aku sudah ada rencana, tapi aku tidak ingin mengatakannya ke mas dan aku tak ingin membuat mas sedih. Baru kali ini aku bisa mengatakan dengan mas Surya. Aku juga minta sama mas, jika aku ada salah sama mas" ungkapku. Walaupun sebenarnya aku tahan tahan sedari tadi kesedihanku.
Lalu mas Surya pun berdiri dan tidak ku sadari aku pun sama hingga mata kami saling bertatapan. Mas Surya mencoba untuk tersenyum walaupun senyumnya tampak getir, aku bisa merasakan getaran perasaannya dan ku coba untuk tersenyuman manis untuk nya.
"Dek,,," tiba-tiba mas Surya memelukku dalam dekapannya, aku tak bisa menghindarinya, jika pun ada siswa yang melihatnya, aku tidak peduli. Mas Surya juga tidak malu lagi. Karena aku dan mas Surya sudah kenal dekat cukup lama. Bahkan guru guru yang lain juga tahu itu. Karena aku dan mas Surya dari dulu sudah dekat seperti kakak beradik.
"Mas" gumamku singkat.
"Sudah mas, aku mau ke kantin. Aku hanya menyampaikan itu saja. Terima kasih,,, Assalamualaikum,,, mas Surya" aku pun keluar dari kelas.
"Suit,,, suit,,, suiiittt,,," terdengar ada siulan ternyata ada dua orang yang bersandar ditembok. Ngapain keduanya masih disini, coba?.
Aku berjalan dengan santai menuju ke kantin. Biarkan keduanya kayak orang hilang.
"Bening tunggu,,,!" seru keduanya. Senang sekali mereka berdua mengusik hidupku. Tidak lelah apa mengangguku terus.
"Tadi asik bener ngobrolnya sama pak Surya" sindir Riko. Aku tahu dia sangat penasaran ingin tahu apa yang ku obrolkan. Namun tidak mungkin aku mengatakan padanya, terlebih seperti menunggu.
"Ngobrol apa tadi, Bening" tanya Alex, sama halnya Riko sangat penasaran.
"Aku cuma tanya hubungannya dengan seseorang,,, namanya Cindy!" jelasku cuek. Ku lirik Riko berubah sedangkan Alex tampak bingung.
"Cindy,,,?" Nampak Alex mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Namanya bikin geli. Jijik aku dengarnya" imbuh Alex dengan tubuh bergidik.
Tentu saja aku sebal dengan polah tingkahnya, juga omonganya yang selengakan. Dulu juga dia seperti itu padaku, penuh ejek saat pertama kali bertemu juga mengejek namaku. Ha ha haaa,,, Bening? Nama apa itu. Ejek Alex aku ingat betul itu. Kayak nama cewek. Ihyyyy,,,
"Emang pak Surya demen sama batangan. Hiyyy,,, dunia makin kebalik ya, udah mau kiamat kali dunia. Bukannya pak Surya itu ganteng, perfect, macho lagi. Kok pilihan nya aman lobang belakang" cerocosnya gak di rem. Riko cuek saja. Mata menajam kearahnya. Bukannya sadar ditatap malah gak peduli.
"Tanya Riko, tahu tuh siapa Cindy sebenarnya?" tudingku. Sewaktu di gubuk lesahan, dia sempat kaget lihat Cindy. Maka aku kaitkan hal itu dengan yang ku lihat dimasa depan. Semuanya seperti ada titik terangnya.
"Kok kamu nuduh aku say, aku kan gak tau apa apa soal orang yang kamu sebut tadi" kilahnya. Berusaha menutup nutupinya, jelas sekali kalau dia bahkan keluarganya itu ada hubungan. Pintar sekali Riko berusaha menutupi nya didepan Alex. Tapi, aku tidak perlu mengungkit apa yang pernah ku lihat. Akan aku Rahadian dari mereka berdua. Karena aku tahu nantinya Alex bakal ditembak oleh Riko. Mengenang hal itu, mataku sampai terpejam rapat, mendesah lirih. Berat rasanya. Aku tidak bisa mencegah hal itu terjadi.
Seolah itu sudah suratan TAKDIR!
"Ihyyy,,, Lo tuh lebay Riko, jijik gue dengernya. Biasa aja keles,,," protes Alex, malah kemana mana.
"Suka suka gue. Lo gak suka bodo amat. Emang gue pikirin Lo anjing!" sentak Riko emosi. Alex selalu meledeknya terang terangan.
"Woiii,,, sabar Riko. Gak usah emosi santai bro!"
"Lo emang bikin tensi gue naik Alex"
"Huuhhh,,," dengusku kesal lihat tingkah keduanya yang gak pernah ada akur akurnya.
Ku tinggalkan keduanya yang masih saling beradu mulut persis kayak emang emang jualan cendol yang gak laku laku.
Tentu di kanti sudah ramai yang beli. Jadi, aku pun pesan,,,
Ku lihat Latifah dan gengnya lagi ngumpul melihat kearahku. Nampak biasa. Walaupun kadang saling berbisik.
Aku duduk tak jauh dari mereka ingin dengar apa yang akan di gunjingan oleh mereka.
Mereka juga tidak membahas soal foto kemarin, sepertinya sudah aman.
"Ada apa tadi pak Surya ngobrol sama kamu Bening?" Tanya Latifah kepo. Tentu juga yang lainnya pasti juga penasaran.
"Oh, cuma tanya keadaan ku karena udah lama jarang ketemu. Kenapa Tif?" Tanyaku balik.
"Ku kira apa?" terlihat Latifah tidak puas atas jawabanku. Aku tidak mungkin mengatakan hal yang sesungguhnya pada mereka. Bisa bisa dunia kacau jungkir balik jika tahu bagaimana sesungguhnya mas Surya itu. Terlebih sekarang punya hubungan khusus dengan seorang laka laki jadian, tentu hal itu akan jadi tranding topik utama jika sampai ketahuan oleh mereka.
"Gimana tadi?"
"Terima kasih. Pasti kami akan memberimu surprise" jawab Sarah.
"Iya " imbuh Oktavia.
"Anggap itu bonus buat kalian. Kita gak akan ketemu besok!" Cetusku tak ku sadari. Tentu saja mereka nampak kaget sekali.
"Kamu mau kemana?" kini yang bertanya Latifah.
"Tadi aku ngomong apa? Udah gak usah kalian pikir. He he heeee,,,," aku hanya tertawa lirih.
"Ngaco nih Bening" seru Sarah.
"Ngelindur kali,,," tambah Okta.
"Tunggu tunggu, tadi,,, Bening keceplosan bisa saja kalau besok akan Pulkam? Secara kan dia bukan orang sini" terka terka Latifah mengaitkan dengan aku keceplosan tadi.
"Alah,,, sotoy banget kamu Tif. Tadi aku cuma keceplosan. Sudah kasih aja sekarang. Mana,,,?" Desakku.
"Jadi benar kamu mau Pulkam?" tebak Latifah lagi. Yang lainnya cuma mengangguk lemah.
Disaat itu Alex dan Riko datang, hingga membuat suasana hening sejenak.
____________
Mg 01/01/2023.
Komentar
Posting Komentar