259. Selalu berdebar-debar.

 Bab 259. Selalu berdebar-debar.


★★★★★★


Tatapan Riko menajam kearah, teutama Latifah yang tadi bicara keras dan keceplosan. Mungkin dia dengar hingga tatapan begitu menusuk kearah Latifah dan kawan kawannya.


Begitupun Alex juga sama, namun sesekali melirik kearahku, tapi aku tidak peduli.


Ku nikmati makanan ku tanpa peduli dengan Riko dan Alex. Keduanya mulai duduk satu meja dengan ku padahal tapi rame yang duduk. Mereka memilih daripada kena masalah ataupun kena dampak dari Riko.


Terlebih lagi tatapan Riko sangat tajam mengawasi, penuh selidik. Sepertinya sedang emosi.


"Kalian sedang bicara apa tadi?" tanya Riko mungkin tadi mendengar tapi juga karena berisik oleh anak anak yang lain hingga Riko ataupun Alex tentu hanya dengar sayup sayup.


"Kamu kenapa Rik?, datang datang marah marah gak jelas" rutukku kesal. Sebenarnya aku menutupi kejadian yang terjadi. Terlebih lagi, tadi Latifah serta yang lainnya telah lancang keceplosan. Beruntung kantin agak berisik karena lagi rame.


"Tad- tadi,,, aku,,, ah, sudahlah, lupakan saja,,," Riko kemudian kedepan, memesan makanan dan minuman.


Alex masih didekatku memperhatikan.


Latifah menghembuskan nafas lega, begitu juga yang lainnya karena telah terbebas dari Riko yang jelas-jelas tadi mengintrogasinya.


"Eh, kenapa Lo kayak orang bego gitu, heh cewek ugal ugalan?" Tanya Alex dengan ekspresi ujukkan dagunya kearah mereka para cewek cewek dengan tatapan tajam. "Klo Lo gak mau ngaku, gue perkosa Lo pada satu persatu" ancamnya.


Tentu saja mereka semua ketakutan dengan ancaman Alex yang tidak main main. Karena, bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu. Terlebih lagi dia seperti paham.


Riko masih memesan, hingga aku sedikit tenang, padahal tadi aku sempat tegang.


Namun, tidak dengan Alex yang begitu cutiga, untungnya dia duduk didekatku. Dengan agak melotot sedikit tanganku bergerilya dibawah, menyentuh serta meremas pelan rudalnya yang sudah tegang, entah sejak kapan hal itu terjadi.


"An-,,, Jay,,, ah, hesshhh,,," tentu Alex tidak akan menyangka aku berani melakukannya dan itu ditempat umum. Karena aku ingin membuyarkan konsentrasinya.


Tadinya, aku tidak senyum jadi geli sendiri lihat raut Alex yang keenakan. Tadi akan mengumpat tadi diurungkannya.


"Kamu,,," lototnya kearahku.


"Kenapa? Weekkkk,,,!" cibirku tidak peduli. "Apa, gak terima? Siapa suruh main main sama aku, rasain lho!" Bisikku padanya. Karena yang lain pada sibuk sendiri sendiri.


"Riko,,, sekalian gue pesenin" seru Alex untuk menghilangkan ketegangannya supaya rileks.


Riko hanya memberi isyarat ok. Menatapku ku sejenak bersama Riko mungkin tahu yang ku lakukan. Aku juga lihat sikon melakukannya.


"Anj- ay,,, lepasin,,," Alex tidak nyaman karena terus ku remas remas.


",,, Ough,,,!?" Mukanya sampai merah, berkeringat. Mantap kan...


"Hmm,,, enak bukan" gumamku pada lirih, mengerling penuh arti padanya. Alex tidak berani bermacam macam terlebih menepis tanganku. Sudah keenakan aku buat dia.


Nafasnya putus putus untuk yang lain tidak memperhatikan. Tubuhnya mengejan hebat, menegang.  "Ahhh, bang-sat,,,!?"


Tanganku sedikit basah, ternyata Alex ngecrot dicelananya. Dengan santai tanganku beralih. Ku tegak minuman dinginku  yang masih sisa dengan santainya. Sambil ku naikan alisku sebentar sampai Riko menghampiri serta membawa nampan berisi makanan, juga pesanan.


------------------


Ujian terakhir hari telah selesai...


Alhamdulillah!


Sesuai rencana, aku ingin kerumah bibiku, karena pakaianku sebagian besar ada disana saat aku tinggal selama ini. Sementara dipaviliun, hanya beberapa potong. Aku tidak peduli.


"Kenapa harus ke rumah Bi Ros sih" ucap Riko agak dongkol.


"Pamit lah,,," jawabku singkat, tanpa sadar.


"Kayak mau pergi jauh?!"


"Iya lah,,, emang!"


Sejenak Riko menatapku heran, tentu ada yang dipikirkan.


"Kita kan akan  nginap di villa kamu, kan jauh. Aku harus bawa pakaian ganti"


Riko nampak mengangguk, mungkin membenarkan perkataanku.


"Nanti pulang sebentar ke rumahmu, aku mau pamitan sama ortuku" ucapku ceplas ceplos. Riko seolah tidak ngeh dengan keadaan. Baguslah, berarti rencanaku akan berjalan lancar, mulus, sesuai yang ku harapkan. Semoga tidak ada rintangan.


"Tadi kamu dikasih hadiah oleh Latifah dan kawan kawannya. Lha sekarang kamu minta diantar ke rumah Bi Ros buat pamitan, terus ngajak kerumah buat pamitan?" Riko mulai berpikir. Seperti ada hal aneh, serta ganjalan.


"Lha aku kan akan nginap disana, juga mungkin agak lama kan karena ujian selesai. Mau ngapain sekolah kalau ujian udah kelar, tinggal santai, liburan kan" ungkapku agar masuk akal.


"Iya, benar juga, tumben pinter"


"Lha aku emang cerdas, kan"


"Iya say. Tapi, kok aku ngerasa kalau.... Hmm,,," Riko nampak berpikir. Tentu aku panik, juga bingung.


'Mati aku, ketahuan. Ya Alloh, ya Alloh apa yang harus ku lakukan?" Aku dilanda kepanikan. Terlebih masih didalam mobil.  'Ayolah Bening, kamu harus berpikir. Pikir?' maka jalan satu satunya yang ku lakukan adalah...


'Maaf Rik, ini yang harus ku tempuh?' batinku berkata.


Selanjutnya, ku elus tepat di area sensitifnya.


"Hmmm,,,," pikiran Riko tentu terpecah sekarang. Tidak bisa berpikir jernih lagi. Dalam hati aku tersenyum puas.


"Ough,,," dengusnya tertahan hingga sampailah dirumah bibi hingga aku aman.


"Stop, udah nyampek" tergesa aku turun dari mobil.


"Hah,,, SIAL!" gerutunya kasar. Lagi lagi dalam hati tersenyum dengar umpatannya. 'Emang enak!?' batinku berkata. Tersenyum puas.


Riko memasuki halaman, karena aku sudah menghambur keluar. Syukurlah akhirnya aku selamat. Aku yakin pasti Riko curiga. Tapi, aku juga punya cara. Nanti aku akan pergi ke apotik untuk membeli sesuatu. Karena aku punya rencana untuk itu.


"Cepat, jangan lama lama" teriak Riko. Aku sangat dengar dengan jelas. Ku beri isyarat tanda OK.


Ketuk pintu, ucap salam lalu masuk. Ada bibi, salim, jelaskan sambil lalu. Lalu beberes, siap dengan koper keluar.


Bibi menunggu, karena aku tidak butuh waktu lama karena Riko sedang nunggu aku diluar tidak sabaran.


"Bibi, waktuku tidak banyak. Karena diluar Riko nungguin aku. Aku pamit sama bibi, salamkan buat Angga dan Putri karena besok aku pulang kamu. Ini ada sedikit uang untuk bibi untuk keperluan bibi. Maaf ya ni, waktuku tidak banyak. Riko tidak tahu, jadi tolong jangan bilang Riko ya" ku sodorkan amplop berwarna kuning, ku berikan pada bibi.


Bibi tidak bisa berkata apa apa, terharu serta berurai air matanya. Matanya mengucapkan rasa terima kasih yang dalam. Aku pun pamitan. Memeluknya sebentar kemudian bergegas keluar karena aku tidak mungkin berlama lama. Aku sudah ganti baju santai.


"Rapi bener, kayak mau kencan sama doi" ada protes dari nadanya tapi aku cuek.


"Kan kencan sama kamu" balasku singkat. Mengerlir kearahnya.  Riko melongo sesaat, tak percaya jika aku balas seperti itu. Aku coba tersenyum walaupun aku tidak tenang, bahkan mulai gelisah. Terlebih lagi saat pamitan nanti sama ortuku. Aku tidak akan membayangkan hal itu. Tapi aku sudah bertekad untuk pulkam menemui simbah putri, liburan dikampung, jika pun aku ada rencana tidak ingin kembali lagi ke Jakarta. Namun, aku tidak tahu jika takdir berkata lain, aku bisa apa?.


_______________


"Dari tadi diam mulu. Mikirin apa?" tanyanya Riko, protes karena sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan. Terlebih lagi aku nyusun sebuah rencana.


"Kamu. Puass,,,!" balasku. Tersenyum datar. Karena telah sampai dirumahnya, memasuki gerbang. Ku lihat Paman ku Syarif, berdiri memberi hormat serta menekan tombol otomatis buat buka gerbang. Memastikan siapa orang orang yang datang, karena tidak dikenali jangan harap bisa masuk. Pasti ditahan, di interogasi bahkan sampai di usir jika tamunya asing.


"He he heeee,,," kekehnya.


Aku juga diberi kesempatan tidak banyak waktu. Takutnya nanti kesorean padahal ini masih agak siang belum siang banget. Belum juga ada jam dua. Masih agak lama.


Setengah berlari, aku menuju ke paviliun karena tempatnya dibelakang.


"Bening, setelah selesai datang ke kamar, aku tunggu disana" teriak Riko saat aku setengah mempercepat jalanku. Riko geleng geleng kepala sambil bergumam, masih ku dengar lamat lamat.


"Tuh anak Kesambet apa ya, dari tadi cuman senengnya  main lari lari?" herannya, masuk kerumahnya.


_____________


Sn 02/01/2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.