260. Pamit.

 Bab 260. Pamit.


★★★★★★


Andai, Riko tahu apa yang ada di pikiranku saat ini, tentu dia akan berpikir seribu kali.


Nggak ada banyak hal yang kulakukan karena ku tahu saat ini kedua orang tuaku pasti sedang istirahat siang. Inilah saatnya aku mengatakan semua ini dan juga saatnya aku  berpamitan kepada orang tuaku karena mungkin setelah ini, aku tidak akan bertemu mereka lagi, dalam jangka waktu yang cukup lama.


Setelah aku memasuki pavilion kedua orang tuaku sedang duduk berdua, sedang bercakap-cakap, sepertinya.


Ku lihat raut wajah Ibu nampak sendu. Begitupun ayahku juga sama namun beliau nampak lebih tegar dibandingkan dengan ibuku. Tubuh ibuku nampak bergetar, menahan deraan di hatinya.


Aku hanya menatap keduanya dengan perasaan mengharu biru. Aku memasuki kamar untuk membersihkan diri dan juga menunaikan kewajibanku serta berganti pakaian. Aku berkemas kemas. Aku ingat dulu Riko memberiku handphone bergambar Apel yang digigit pinggirnya dan itupun handphone keluaran baru. Ku pegang hp pemberian itu karena dia terus memaksaku untuk menerimanya. Jadi, mau tidak mau aku menerimanya dengan berat hati. Aku yakin kalau di kampungku tidak ada teman temanku yang mempunyainya karena halnya yang cukup mahal. Bahkan Riko sampai pernah membawanya ke kampung halamanku, tapi tidak jadi diberikan padaku karena sebuah insiden hingga aku pun mengusirnya dalam keadaan masih kurang sehat. Ingat hal itu ada rasa haru dihatiku, betapa besar perjuangan Riko untuk ku sampai dia bela belain buat nyusul aku dikampung, bahkan sampai membelikan perabotan dan elektronik untuk simbah putri dan simbah kakung. z


"Rapi banget nak, mau kemana?" Tanya ibu suaranya agak serak.


Kemudian menatap ayah, lalu menatapku. Ayah mendesah pelan seakan ingin tanya, akan tetapi ditahannya. Jika pun ayah banyak bicara dari dulu tentu ayah saat ini akan tanya keadaanku yang terlihat rapi.


Kini aku duduk dihadapan mereka. Saatnya aku bicara. Pamit. Rasanya aku tak sanggup untuk menyampaikan terlebih lagi aku pernah menyampaikan hal ini pada mereka berdua tapi tanggapan nya biasa saja hingga aku kehabisan akal. Alasan yang sungguh klasik karena ingin balas Budi sama keluar Sanjaya yang telah banyak berkorban untukku. Padahal mereka tidak pernah mengungkitnya.


"Nak,,," ujar ayahku hanya sepatah kata. Cukup mewakili perasaannya yang tidak baik baik saja.


"Jadi, aku benar benar akan pulang kampung besok nak?"


Ku anggukan kepalaku membenarkan kata kata ibuku. Tak menampik hal itu karena aku sudah ungkapan kemarin bahkan mengajak keduanya untuk menjenguk simbah putri di kampung. Tapi, dengan halus menolaknya. Aku bisa apa.


"Apa den Riko tahu akan hal ini, jika kamu nanti akan pulang kampung, nak" lanjut ibu bertanya lagi.


"Tidak" aku angkat bicara. Rasanya tidak enak diam terus makanya aku memilih untuk berterus terang saja.


"Aku merahasiakan hal ini dari Riko. Hanya sebagian saja yang tahu, termasuk keluarga paman, tapi aku sudah pamitan ke mereka tadi. Cepat cepat karena Riko menunggu didepan rumah, tidak mau keluar dari mobil. Aku tidak sempat ketemu Angga dan Putri, jadi aku pesan sama bibi. Setelah ini, Riko mengajakku ke Pangandaran lagi buat nginap di villa nya. Aku bingung Bu,  bagaimana caranya aku nanti tidak ketahuan sama Riko saat aku pergi?" Sebenar aku sudah punya rencana yang sangat matang.


Tentu saja ibu dan ayah berpikir. Tapi tidak ada jalan keluarnya. Terlihat wajah kebingungan tentu hal itu membuat tersenyum dalam hati. Aku tidak memperdulikan, karena aku sudah punya rencana agar aku bisa pergi nanti tapi ketahuan oleh Riko.


"Kenapa den Riko tidak boleh tahu nak?" Tanya ibu lagi. Karena tentu itu jadi tanda tanya.


"Aku punya alasan tersendiri Bu, dan itu tentang apa yang pernah ku lihat dimasa depan. Ibu dan ayah jaga diri baik baik, jaga kesehatan" mataku sudah terasa perih.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan nak. Sedangkan kamu akan nginap di villanya den Riko. Sedang waktunya besok?"


"Tenang ayah. Aku sudah buat rencana. Pasti aku bisa pergi tanpa diketahui oleh Riko" tentu aku tidak akan memberitahu pada ayah maupun ibu. Aku merahasiakan nya dari keduanya. Tentang apa apa rencanaku.


"Ibu, ayah aku pamit ya,,," air mata yang ku tahan dari tadi akhirnya tumpah ruah. Pun ibu juga sudah menangis duluan, ayahku pun sama matanya juga berair. Cukup lama rasanya, suasana mengharu biru.


Saatnya untuk perpisahan....


Ku peluk ibu dan ayah bergantian dengan Isak dan air mata. Sampai pada akhirnya aku keluar dari paviliun hanya membawa handphone pemberian Riko yang selama ini ku simpan di kamarku di paviliun. Ibu maupun ayah tidak pernah mengetahuinya. Entah kapan mereka nantinya akan  tahu.


"Assalamualaikum,,," ucapku pada keduanya yang matanya masih merah. Ibuku sesenggukan merangkul ibu untuk menguatkannya. Tidak ada kata lagi karena aku mengajakpun rasanya percuma pasti ditolaknya.


"Waalaikum salam" balas keduanya melambaikan tangan. Ku tutup pintu rapat meninggal paviliun menuju ke rumah besar untuk menemui Riko di kamarnya.  Ku yakin sedang istirahat. Atau sedang menungguku terlebih telah banyak waktu aku pamitan pada orang tuaku.  Aku takut batas waktu yang ditentukan oleh Riko membuatnya curiga. Padahal cuma ganti, mandi dan lain lain.


Biasanya aku lewat belakang kali ini lewat depan. Biar agak sopan untuk menemui Riko di kamarnya. Jaga image gitu, nanti ketika ketemu ortunya Riko biar ada kesan sopannya.


Benar saja apa yang aku perkirakan serta yang ada di pikiranku kalau aku akan bertemu dengan kedua orang tua Riko.


"Eh nak Bening" sapa  bu Kinasih,  tumben biasanya wajahnya tidak mengenakkan namun kali ini wajah itu sangat berbeda sekali dari biasanya.


"Lagi cari Riko ya?" tanya pak Mahendra ramah, masih terlihat bugar. Mungkin selalu nge-gym jadi kelihatan bugar.


"Eh, iy- iya,,, Bu, pak. Dimana  Riko?" tanya berbasa basi. Aku kikuk juga tak enak hati.


"Rapi banget. Mau kemana nak Bening?"


"Eh ini Bu mau pulkam. Hadeh,,, maaf, Riko mengajak aku ke Pangandaran"


"Pangandaran, bukankah kemari lusa sudah nginap disana?" Ulas pak Mahendra.


"Iya, pa bener tuh, kok sekarang mau kesana lagi" debat Bu Kinasih tentang rencana kepergian Riko kesana.


"Gak tahu Bu, pak. Riko hanya mengajakku. Besok sudah mulai libur jadi, mungkin mau liburan untuk merefresh otak, he he heee,,," aku hanya tersenyum.


"Iya ma, benar itu. Pasti butuh hiburan, setelah seminggu ujian. Mama dulu juga gitu kan?"


"Ih papa, udahlah. Iya... Tadi kamu bilang mau pulang kampung gitu" tatap Bu Kinasih penuh selidik.


Tanpa sadar aku mengangguk lemah. Tiada kata, namun anggukan sudah cukup mewakilinya.


Keduanya sudah tidak menanyakan lagi, hanya diam menatapku. Rasa percaya tak percaya. Tapi juga akan liburan bareng putranya.


"Riko lagi menunggumu" pungkas Bu Kinasih di tambah anggukan dari pak Mahendra.


"Assalamualaikum, Bu, pak permisi" pimitku dengan perasaan canggung yang tak biasa aku pun masuk. Tentu aku tahu dan hafal letak kamarnya Riko. Ku lihat jam dinding sudah jam satu lebih, bahkan hampir jam 2 kurang.  Kamarnya berada di lantai dua, harus naik tangga.


Rumah luas, tentu suasananya agak lengang. Aku tidak tahu kemana kedua orang tua Riko.


Entah mengapa hatiku bergetar, dadaku berdebar tidak enak. Apa aku melakukan kesalahan? Menurutku, apa yang ku lakukan tidak ada yang salah. Tidak tahu jika itu penilaian dan pandangan Riko, mungkin aku punya kesalahan dimatanya. Aku terima konsekuensinya jika hal itu benar benar terjadi.


Tapi yang harus ku lakukan jika nanti aku berhadapan dengan Riko jika persepsiku akan hal itu salah.


"Tok, tok, tok, Assalamualaikum, Rik,,," hampir bersamaan aku melakukannya. Saat ku panggil namanya tidak ada sahutan.


Riko tidak mungkin mengabaikan salamku, jika tidak dalam keadaan marah. Mungkin saja Riko memang benar benar marah padaku.


Krekkk,,,!


"Hemmm,,,,?" Ada deheman.


Tentu saja aku kaget, saat pintu dibuka...


_____________


Sl 03/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.