261. KEPUTUSAN.

 Bab 261. KEPUTUSAN.


★★★★★★


"R- Rik,,,?" Mataku membulat tak percaya. Walaupun pada kenyataannya, aku pernah melihat seluruh body-nya. Dan juga itu...


Hanya saja, kali ini sungguh aku takjub melihatnya pahatan tubuhnya yang mengkilat seperti berminyak. Berdiri didepanku hanya memakai celana pendek kolor putih. Tersenyum mesum kearahku.


"Huh, lama banget!" Gerutunya. "Ngapain aja sih?"


Lha, dianya masih aja kedodoran gitu, pake ngejudge aku segala. Senyum so cool, mesum. Aku sudah lari lari, pamitan sama ortu juga aku agak tergesa. Sudah bersiap rapi, si kunyuk malah masih santai tanpa rasa salah, malah kini menyalahkanku. Hal kebalik, seharus aku yang marah sama dia, bukan nya yang dimarahi olehnya. Yah, aku harus sabar, lagian waktunya berjalan, tentu ada rasa gugup dihatiku. Apakah rencanaku nantinya akan berjalan sesuai yang ingin?.


"Masuk! Ngapain masih disitu?"


Kikuk, pasti. Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa.


Aduh, bagaimana ini?


Sebenarnya aku mau protes, kenapa harus ditunda tunda. Mana dia kelihatan santai. Ketika melihat jam dinding yang terus berputar, aku makin ketar ketir.


"Apa gak jadi, Rik?" Tanyaku, berjalan gontai memasuki kamarnya. Ku lihat punggungnya yang lebar dan kokoh. Nyaman buat sandarannya. Entah mengapa aku membayangkan itu.


"Santai aja. Ngapain buru buru" tadi sempat aku tutup pintunya rapat rapat.


"Tapi kan Rik?" inginnya ku protes. Tapi, ketika lihat tatapannya, bikin nyaliku ciut.


"Bukanya kita sudah pernah ke sana. Jadi gak usah buru buru, santai aja" ulasnya kembali seolah mengingatkan ku. Namun bukan itu yang ku khawatiran serta takutkan, melainkan waktu yang makin berkurang. Resah, tentu hatiku. Andai Riko gk ngajak aku, mungkin hal ini gak bikin aku risau, karena kadong di ajak, jadinya aku gak bisa nolak.


"Ak-ku,,," aku gelisah tak menentu. Detak jantung kian berpacu dengan jarum jam yang terus berputar.


"Lalu, berangkatnya jam Rik" coba ku tarik nafas dalam dalam untuk menenangkan gemuruh didadaku. Walaupun belum sepenuhnya tenang, tapi setidak, sedikit ada kelegaan. Aku tidak boleh panik. Terus terang, aku sangat resah. Terlebih menunggu.


"Kok gelisah, gitu. Ayolah Say, santai aja.  Kita berangkatnya agak nanti. Ini masih terik. Istirahat dulu buat refresh otak. Ok,,,"


"Baiklah" aku hanya bisa pasrah.


Sekalipun keadaan Riko sangat menggoda, tapi jika keadaannya seperti ini, maka bagiku biasa saja. Dadaku, berdebar tapi bukan karena melihat keadaan Riko yang sudah setengah telanjang. Tapi karena mengenai rencana ku, apakah akan ada kendala. Aku tidak mau rencanaku kali gagal.


Kalau dulu, mulus karena aku sedang marah besar dengan Riko. Tapi kali ini sikap Riko berbeda. Karena dia begitu simpati padaku. Bahkan, aku tidak bisa mengatakan apa apa tentang yang dikatakan oleh Riko.


Kini Riko seolah tidak peduli, malah rebahan di badnya yang empuk. Entah memikirkan apa apa?.


Tentu badnya beda dari ku. Terlebih kalau di kampungnya malah kasur yang terbuat dari kapas bukan busa.


Sekarang, apa yang harus ku lakukan? Aku dilanda kebongungan.


"Ck,,, ayolah, Bening. Santai kenapa? Waktunya masih panjang. Kenapa kamu terlihat bingung gitu?. Sini tiduran dekatku. Pasti kita berangkat. Tenang saja. Apa gak capek kamu mondar mandir terus gitu?"


"Baiklah" lirihku. Tak dapat  yang bisa ku lakukan. Saat ku mendekat, ku lihat tubuh Riko yang toples. Dadanya turun naik, perut ratanya kembang kempis dengan teratur. Dengan berat hati aku turuti dia. Karena aku pun makin kacau. Mungkin dengan rileks aku bisa mengurangi bebanku.


Ingin aku istirahat, memejamkan mata walaupun hanya sejenak, namun aku tidak bisa lakukan hal itu. Sulit bagiku buat lena dalam pejamkan mata buat tidur.


Entah Riko benar benar tidur atau hanya pura pura karena sedari tadi matanya terpejam rapat, hembusan nafasnya juga naik turun dengan teratur.


Ada keraguan saat aku ingin mengganggunya. Takut dia marah.


"Rik,,,,"


"Rik,,,"


"Riko,,,,"


Panggilku sampai tiga kali. Belum juga ada reaksi. Sampai kehabisan akal.


Ku pegang dadanya....


HANGAT!?


Ada reaksi yang tentu saja tidak biasa, langsung merasuki melalui telapak tanganku. Hingga hal itu menyebabkan aliran darahku jadi tak karuan.


Tidak!


Aku tidak mau terlalu jauh. Tanpa sadar aku masih menempel didadanya. Bisa ku rasakan detaknya kian cepat. Buru buru lepaskan.


"Hmmm,,,," ada gumaman lirih keluar dari mulut Riko.


Aku pun langsung rebahan. Ku pejamkan mataku rapat rapat.


Aku juga lelah, hingga tanpa terasa aku pun tertidur.


--------------


"Say"


"Say,,, bangun. Ayo bangun,,," ada sapaan membangunkanku.


Seketika mataku terbuka lebar. Kesadaranku langsung pulih seketika. Aku pun ingat dengan semua rencana ku juga apa yang ku lakukan.


Bodoh!


'Kenapa aku sampai tertidur?' batinku berkata.  Aku bahkan sampai tidak bisa menahannya lagi. Berkali kali ku rutuki diriku, atas kelalaian serta kebodohan yang ku lakukan.


Langsung ku terbangun. Pun Riko kelihatan baru bangun.


Ku lirik jam di dinding. Hatiku terguncang hebat.


Deg!?


Mataku membulat melihat jam menunjukan pukul 4 lebih. 'Ya Alloh! Rintihku, ingin rasanya aku teriak menumpahkan kekesalanku yang kini terasa. Tak bisa ku bendung lagi kesedihan ku sampai akhirnya emosiku seperti membuncah.


"MAAF!" ucapku, bangun langsung bergegas turun dari ranjang. Ku ucek mataku yang berair karena aku tak bisa menahan lagi perasaanku.


"Bening, kamu mau kemana? Bening, Bening, jadi kan kita ke Pangandaran!" seru Riko padaku saat aku melangkah hampir mencapai pintu. Disitu ku lirik kearah bawah ada yang ngejendol. Tapi, aku sudah terlalu kalut, hingga pikiranku tidak jernih lagi. Amarahku sudah menutup hatiku.


Ku balikan tubuhku menghadap kearahnya. Nafasku tertahan, andai tidak maka akan seperti ngos ngosan. Mataku tajam mengawas kearahnya.


Riko tentu jadi salah tingkah.


"Kalau kamu tidak ingin pergi. Ya sudah. Gak usah ditahan tahan. Aku juga tidak berharap. Aku tidak akan pergi ke sana!" Seruku tertahan tak bisa ku bendung perasaanku lagi. Ku usap air mataku yang mengalir.


"Maafkan aku. Aku merasa, waktu kita itu masih banyak. Kenapa kamu semarah ini ke aku" Riko tidak terima.


"Terserah. Aku juga tidak peduli lagi. Batas kesabaran ku sudah habis. Jika kamu ingin pergi ke Pangandaran, pergi saja sendiri. Aku tidak butuh. Buat apa apa harus ditunda tunda?" emosiku benar benar memuncak.


"Kamu kenapa emosi sekali seperti ini. Kenapa tidak ngomong tadi sama. Bening tunggu, Bening tunggu!" seru Riko coba menghentikan ku. Saat ku putar knop pintu.


Krek!


Ku usap air mataku yang meluap dengan kasar.


"Maaf aku. Aku tidak bermaksud membuatmu semarah ini. Jika kamu bilang sejak awal, pasti kita berangkat" ujarnya penuh sesal.


"Terlambat. Beberapa kali aku akan mengatakan nya, tapi kamu tidak menanggapinya" ku buka pintu untuk keluar.


"Tunggu Bening, kamu jangan salah paham. Alasan kamu marah marah bukan masalah yang terjadi. Tapi, sesuatu hal yang kamu sembunyikan" seru Riko mendekat kearahku. Hingga aku menengok kearahnya dengan tatapan heran. Dari mana Riko punya insting sepertinya itu.


Tanpa ku sadari Riko memelukku rapat, hingga ku pejamkan mataku karena aku sedang sedih. Aku hanya diam dipeluknya.


Bisa ku rasakan detak jantungnya yang berpacu.


"Maafkan aku, maafkan ku Say. Aku tidak tahu kalau kamu semarah ini. Maafkan aku!" Bisiknya pelan ditelingaku. Detak jantungnya berdetak cepat. Ku rasakan ada tetesan air hangat di bahuku. Riko nangis dalam diam. Aku terenyuh sekali.


"Hmmm,,, Bening? Sayang.,..?"


Terkejut!


_____________


Rb 04/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.