262. Berterus terang.
Bab 262. Berterus terang.
★★★★★★
Detak jantungku yang tadinya normal-normal saja, kini berpacu gitu cepat tidak bisa aku hindari atas apa yang dilakukan oleh anak padaku yaitu dengan memelukku dan hal itu diketahui oleh mamanya. Dan lagi bersama papanya. Karena keadaanku membelakangi mereka berdua. Makanya, aku sampai tidak menyadari dengan kedatangannya.
Seolah tidak merasa bersalah Riko melepaskan pelukannya dengan perlahan dengan seulas senyum serta cengengesan, dia menatap ke arah orang tuanya.
"Eh mama, papa,,, ada apa ma? Huh,,, ganggu aja,,,?" tanya Riko cuek seolah orang tuanya dianggap biasa.
Aku yang ketangkap basah karena dipeluk Riko ketakutan setengah mati. Detak jantungku bertalu talu. Ditatap tajam oleh orang tua Riko. Seakan aku penjahat yang harus segera di adili karena tindak kejahatan yang ku lakukan. Jelas jelas kronologinya bukan seperti itu.
"Benar kamu akan ke Pangandaran, bersama Bening?" tanya bu Kinasih mengintrogasi sepertinya menyekidiki.
"Buat apa kamu kesana Riko? Lebih baik ke luar negeri. Ke Singapura, Amerika, Jerman atau pun ke Eropa, pilih yang mana kau suka" titah papanya, juga masih menyebutkan negara yang lainnya.
"Iya tuh, bener kata papa sayang. Liburnya kan panjang, buat refreshing" imbuh mamanya dengan senyum simpul.
"Mama denger sendiri kalau Bening akan pulang kampung, besok!" Tambahnya. Mendengar mama berkata kata seperti itu mata Riko membulat kearahku.
Tentu Riko berpikir serta mengkaitkan semua yang ku lakukan selama ini bahkan sampai ujian selesai.
"Mama gak akan setuju jika kamu ikut Bening pulang kampung ke Palembang. Mama keberatan, lebih suka kamu liburan ke luar negeri aja" tegas mamanya melarang sekali jika Riko ikut aku. Padahal jelas jelas aku merahasiakan semuanya di hadapan Riko. Bahkan hanya orang orang tertentu yang tahu. Padahal aku tidak ingin Riko tahu, sengaja ku tutupi. Tapi kini dia telah tahu, seperti sangat marah sama aku sampai dia melotot gitu kearah ku. Orang tuanya gak bisa jaga rahasia atau memang sengaja bikin Riko marah sama aku.
"Jelaskan padaku! Benar kamu akan pulang kampung, kenapa kamu gak bilang bilang sama aku? Oh, kini aku baru ingat, kalau kamu mengatakan akan pulkam ke para para cewek teman kamu, ku kira aku salah dengar. Aku coba lupakan hal itu, tapi kamu sudah merencanakan jauh jauh hari. Benar kamu akan pulang kampung?, katakan!" seru Riko emosi. Dadanya turun naik dengan mata merah.
"Katakan! Kamu budek. Aku tanya sama kamu. Benar kamu akan pulang kampung? Kenapa?" Teriak Riko tak terkontrol. Tubuhku gemetar tak karuan melihat kemarahan Riko.
"Sayang, sudahlah. Kamu gak usah mikir masalah itu. Bagaimana kalau kita nanti liburan aja sekeluarga ke Jerman atau Eropa, terserah kamu mau pilih mana saja?" Ujar mamanya. Tapi tidak digubrisnya. Matanya masih menatapku tajam dengan tubuh bergetar.
Yang tadinya dadaku bergemuruh, agak tenang, kembali jantungku berpacu...
"Iya, aku akan pulang kampung. Kenapa? Apa kamu akan mencegahku atau melarangku buat pulkam? Simbah putriku sendirian disana tidak ada yang menemani. Hanya Ferdy yang menemaninya, padahal dia bukan siapa siapa aku, hanya tetangga tapi rela buat menemani simbah putri. Asal kau tahu simbah kakung sudah lama muksa, karena bertarung dengan mas Kharisma. Kau pasti ingat dengan mas Kharisma ketika kamu berada disana kamu masih bertemu dengannya. Karena ulahnya, simbah kakung mengalami luka parah, hingga akhirnya beliau tidak bisa lagi kembali ke dunia nyata membuat simbah putri sendiri. Maka aku pun berpesan pada Fredy buat untuk nemeni simbah putri sampai aku kembali. Aku juga memberitahu keadaan simbah putri pada orang tuaku, dan mengajak mereka buat menjenguk beliau. Tapi apa, jawabannya, yaitu tidak enak dengan orang tuamu, yang telah banyak membantu membiayai ku dirumah sakit. Sebagai balas Budi, orang tuaku akan berkerja disini entah sampai kapan. Bahkan ku ajak pun menolaknya secara harus. Sekarang aku pulang, apa salahnya?" Air mataku luruh tak bisa ku tahan lagi.
Bibir Riko bergetar setelah mendengar penjelasan ku,,,
"Be- Bening,,,, maafkan. Aku tidak tahu jika hal itu terjadi. Maafkan aku" lirihnya kemudian memelukku penuh haru serta penyesalan, didepan ruang tuanya. Tidak peduli dengan tatapab orang tuanya yang dengan tatapan tak bisa ku artikan.
"Tidak, kamu tidak salah. Aku merahasiakan semua ini dari kamu"
"Kenapa?"
"Bukan apa apa? Aku tidak ingin kamu larut dalam masalahku"
"Kau anggap apa aku selama ini"
"Benar kata mama dan papamu Riko, jika kamu liburan ke luar negeri" sambil ku lepas pelukannya. Ku usap sisa air mataku yang menggenang di pelupuk mataku.
"Bukan dikampung!" Lanjutku, tegas. Masih terasa kesedihan ku. Terlebih aku teringat akan simbah putriku di kampung. Terlebih mereka orang kaya, tentu hal itu sangatlah mudah buat mereka pergi kemana suka. Mengenai hal hal yang berurusan mengenai pasport atau biayanya hal biasa. Tinggal Riko mengatakan 'IYA' maka semuanya sudah beres hari ini, besok tinggal berangkat.
Dulu Riko kesana kalau tidak salah juga naik pesawat.
"Sayang,,," ucap mamanya sendu. Mungkin teringat akan perlakukan ku disana, karena pulang dalam keadaan sakit. Jadi mamanya gak rela jika Riko ikut aku ke kampung. Walaupun saat pulang dibawakan oleh oleh sama simbah putri, bahkan simbah kakung juga sangat menyayangi Riko seperti cucunya sendiri. Ingat sekali aku akan perlakuan kakek ke Riko yang dianggap sebagai cucunya. Karena Riko bisa mengambil hati simbah kakung.
"Tidak, aku akan ke kampung. Aku ingin menjiarahi makam simbah kakung!" seru Riko maksa ingin ikut.
"Ingat sayang ketika kamu pulang dalam keadaan sakit. Mama gak iklhas sayang, kamu disana pasti gak keurus?" mamanya begitu mengkhawatirkan nya, terlebih dulu keadaan Riko pulang gak sehat.
"Mama jangan ungkit hal itu lagi. Aku yang bikin kesalahan ma, hingga aku putuskan buat pulang. Aku juga ngancam Bening buat balik secepatnya ke Jakarta kalau tidak orang tuanya aku pecat kerja disini"
"Ya Tuhan, nak. Benar itu, sampai kamu lakukan hal buruk seperti itu?" papanya tentu saja sangat kaget mendengar ungkapan Riko. Namun tak ada yang tahu hal itu. Cuma aku, Riko dan orang tuaku yang tahu hal itu.
"Papa,,,," mamanya tidak bisa berkata apa apa.
"Untuk itu, aku akan memperbaiki kesalahanku ma, pa"
"Maaf Rik, simbah sudah tidak ada. Aku juga pernah cerita ke mama dan papamu ketika itu. Kalau- kalau simbah kakung itu MUKSA!" Jelasku, kembali air mataku berderai. Aku tahu Riko belum tahu hal itu.
"MUKSA,,,?" ulas Riko penuh tanda tanya.
---------------
Akhirnya, setelah debat yang sangat panjang, Riko putuskan untuk ikut aku pulkam. Tentu saja ada rasa khawatir. Terlebih lagi, Alex sudah ku beritahu akan rencanaku, tapi rencana yang telah ku susun gagal. Aku dan Riko tidak jadi ke Pangandaran, hingga aku pun berusaha buat nelpon Alex untuk memberitahu nya kalau tidak jadi ke Pangandaran.
"Bening, kamu tidur disini saja ya. Besok kita berangkatnya pagi. Kita naik pesawat biar cepat, menuju Palembang. Dari Palembang sampai ketempatmu kisaran empat jam-an kurang. Jadi siang sudah sampai. Kita istirahat biar besok gak capek karena perjalanan jauh" jelasnya. Aku berada dikamarnya sambil memegangi handphone ku dengan gelisah.
"Kami kenapa gelisah begitu? Mondar mandir, ada yang kamu pikirkan, Bening?" Tanya Riko heran dengan ku karena hilir mudik saja.
"Hmm,,, ini, eh,,, aku mau nelpon teman aku dikampung, kamu pasti ingatkan saat manggang ayam terus makan bareng dengan alas daun pisang didepan rumah Ferdy" ingatku padanya. Dia pun hanya mengangguk. Desahan pelan, tentu ada ganjalan yang dirasakan karena selalu ada perseteruan.
"Iya ya, sudah lama aku tidak tahu kabar mereka dikampung" angan Riko seperti menerawang jauh.
Mengingatkan akan hal itu aku teringat pesan mereka kalau aku disuruh untuk membelikan mereka hp yang kayak punya aku dengan Ram 8gb.
"Rik, bisa gak antar aku buat beli hp buat teman teman aku. Mereka pesan ke aku jika aku pulang nanti mereka memintaku untuk dibelikan hp yang ramnya 8 GB. Bagaimana Rik?"
"Mau beli berapa?"
"Sebelas!"
"Yaudah, kamu tenang aja, besok pagi barangnya sudah ada"
"Tapi Rik?"
"Sudah, kita istirahat saja. Besok berangkat, barangnya sudah ada. Bereskan,,," dengan sangat mudahnya Riko mengatakan hal itu. Hp sebelas unit itu banyak. Terus bagaimana, nanti?
Riko nampak sibuk menelepon, entah sedang menelpon siapa? Wajahnya tampak tenang sekali. Seperti biasanya dia selalu telanjang dada, pamer bodinya.
Lalu...
"Apa merk hpnya Bening?" Riko nampak menjauhkan hpnya, menanyaiku.
"Tadi sudah ku bilang merk-nya sama hpku!" Sungutku kesal. Apa memang pura pura oon.
"Kenapa gak apel saja?" protesnya dengan senyum jahilnya.
"Kamu ya, dasar gila!" mataku sampai mau keluar dengar gurauanya. Dia cuma nyengir. Lalu angkat tangannya, kemudian berkata ok, ok lirih.
"Ya oke, aku tunggu dirumah, harus siap besok pagi. Kalau tidak, siap siap saja aku pecat kalian!" Serunya. Kemudian mematikan hpnya dengan santai. Menatapku dengan senyum simpul.
"Beres!" Imbuhnya. Tenang. Sambil memainkan hpnya. Mungkin berselancar di dunia Maya, karena ku lihat dia juga jarang memainkan ponsel pintar itu.
"Sekarang tidak perlu kamu risau lagi, semua urusan sudah beres. Kita besok tinggal berangkat"
"Tapi aku belum beli oleh oleh Rik"
"Ihzzz,,, ribet banget ya hidupmu. Oke,,, mau pesan oleh oleh apa?"
"Hmm,,,?" Aku berpikir sejenak. Lalu uang buat beli hp pake uangnya siapa. Karena sedari tadi Riko cuma bilang beres, selesai, aman, itu saja. Dengan senyum simpul tak ada beban sama sekali. Kini aku minta oleh oleh pun dia cuma bilang apa?
"Kenapa diam? Bingung? Untuk biayanya gak usah kamu pikirkan. Aku yang tanggung. Beres. Kamu gak usah mikir"
"Sok lho!"
"Ha ha haaaa,,,," Dia malah tertawa girang.
Karena hal itu kini orang tuaku harus balas jasa, atau dengan apa yang dilakukannya itu aku harus balas budi padanya.
Aku sampai tidak sempat buat ngabari Alex. Apa mungkin Alex menuju Pangandaran?
Aku harus chat dia via aplikasi hijau biar dia tahu keadaanku kalau aku dan Riko tidak jadi kesana. Batal. Itu karena ada sebabnya. Bahkan kini Riko maksa buat ikut.
Kini Riko juga nampak sibuk nelpon lagi. Walaupun suara samar tapi aku sedikit mendengarnya.
"Iya, tolong dikemasi barangnya. Kirim kesini, dan jangan lupa secepatnya, aku tidak mau ada kata terlambat. Sekali bikin kesalahan aku pecat kalian!" Itu lagi yang diucapkan Riko disetiap akhir nelponnya selalu dengan ancaman. Entah sedang bicara dengan siapa.
Sikap Riko kini kembali tenang, dan santai. Tersenyum simpul lagi.
Aku baru saja chat Alex, ternyata tidak jadi berangkat. Karena menunggu konfir dariku. Karena tak ada chat atau pun telpon jadi diurungkan niatnya. Padahal sudah bersiap siap buat pergi. Tapi gagal. Aku pun sama, semua rencana ku gagal. Aku terjebak dikamar pribadinya berdua.
"Tidurlah, dari tadi kamu gelisah terus?" Tanya Riko masih santai dengan memainkan hpnya.
Aku memang sudah agak lelah, ingin istirahat. Ada perasaan bahagia saat besok akan pulang kampung. Masalah besok dengan Riko karena Riko maksa untuk ikut.
Aku tidak tahu, bagaimana dengan Alex, padahal rencanaku yaitu mengajak Alex buat ngatar aku keterminal ketika aku berada di Pangandaran karena pakaianku sudah ku masukan kedalam koper dibagasi mobil Riko. Tapi, karena renananya berubah tidak jadi, makanya aku pun chat Alex. Emojinya kelihatan kecewa. Aku juga tidak bilang kalau Riko maksa buat ikut.
Mungkin besok pagi pagi sekali Alex akan kesini buat ngucapin selamat tinggal. Terlebih kalau malam yang jaga ayahku.
Tentu saja, aku gelisah sekali saat aku rebahkan tubuhku didekat Riko. Hingga aroma tubuhnya yang manly tercium, menyebabkan pikiranku jadi kacau.
"Rik,,,?" Ucapku ragu.
"Hmm,,, ada apa?" Balasnya , dia terlentang masih memegang hpnya.
"Ah, gak jadi"
"Kok gak jadi, Say" Riko berhenti sejenak dari memainkan hpnya. Menatapku sejenak dengan seulas senyum yang sulit ku artikan.
"Sudah, lupakan,,," pungkasku. Aku jadi ragu, takut nanti malah timbul masalah baru. Kali ini saja Riko sudah baik moodnya.
Kini dia sibuk lagi dengan hpnya. Tentu tidak ngantuk karena tadi sudah tidur cukup.
"Rik,,,"
"Hmmm, ya Say,,,"
"Kenapa kamu panggil Sayang?"
"Kamu keberatan?"
"Gak sih. Tapi, aku gak enak saja, masa kamu panggil Say. Kita kan gak ada hubungan apa apa"
Kini Riko meletakan hpnya, ganti menatapku. Tentu aku tak enak dengannya.
Sampai aku menahan nafas!?
_____________
Km 05/01/2023.
Komentar
Posting Komentar