263. Membuat Kenangan.

 Bab 263. Membuat Kenangan.


★★★★★★


Warning!


Area +18


-----------------


Selalu bikin berdebar debat tak menentu saat aku ada didekat Riko saat ini. Segala urusan katanya sudah selesai. Padahal permintaanku banyak sekali. Entah kejutan apa yang diberikannya besok oleh Riko. Katanya, barangnya harus dikirim malam ini. Tentu ayah akan melihat semua aktivitas didepan gerbang saat ini. Siapa orang yang mengantar barang barang pesanan Riko.


Terlintas dipikiranku juga timbul banyak pertanyaan, mengenai kenapa setiap yang dekat dengan ku, apa pun yang ku lakukan selalu pasrah. Atau ini karena gelang pengikat jiwa milikku. Tapi, entah mengapa gelang yang ku pakai sekarang tidak berfungsi lagi. Atau karena kemampuanku disegel sekaligus gelangku. Namun, yang pasti mereka seolah tidak bisa lepas dariku. Apapun keinginanku selalu dituruti. Riko, Angga, Alex, mas Surya bahkan mas Kharisma seolah tidak bisa lepas dariku. Pun kini, saat ini saat aku begitu dekat tanpa jeda dengan Riko. Kala dia menatapku tanpa bisa ku artikan senyum yang tak bisa ku mengerti.


Dengan apa yang tadi ditanyakan. Bahkan aku hanya diam saja. Hanya desahan lirih dariku.


Ku sentuh dada bidangnya yang gempal. Tubuhnya seketika bergetar, ada golakan didadanya begitu hebat melanda.


Tidak ada penolakan sama sekali dari Riko bahkan dia hanya diam saja menikmati sentuhan yang kulakukan ditubuhnya.


Sesekali nampak Riko menahan nafasnya, bahkan kini dadanya nampak turun masih dalam mode teratur begitupun perut juga sama.


Riko nampak setengah memejamkan matanya, menikmati aliran darahnya yang mengalir di setiap urat di tubuhnya.


Aku tersenyum melihat apa yang terjadi...


Sentuhanku kirimannya buat ke bawah ke area perutnya merata. Bahkan saat kulirik ke bawah tampak mencuat benda miliknya yang sedang tegang di balik celana pendeknya. Tak bisa menutupi ketegangan miliknya. Terkadang, seringkali Riko tidak memakai celana dalam, katanya RISIH, jika pakai CD. Jadi dia malas memakainya, katanya lebih leluasa jika tidak memakai CD.


"Hezzz,,,,!" Desahnya pelan. Tubuhnya seperti kesetrum. Kejut. Itu tidak berlangsung lama.


Tangan Riko kini melorotkan celananya....


"Tolong, kunci pintunya" titahnya. Dengan nafas berat. Tertahan. Matanya masih setengah terpejam.


Tentu aku menuruti nya takut kalau nantinya ketahuan, dilihat. Mungkin juga tadi lupa buat menguncinya, jadi Riko kepikiran.


Setelah ku periksa ternyata sudah terkunci rapat. Jadi aku menjadi lega, kembali ketempat ku semula.


Kini Riko bagai bayi besar memakai apa apa dengan batangnya yang mencuat sempurna, berdiri tegak bagai tonggak. Dengan warna bersih, kepala warna merah, begitu kontras. Kini sudah bersunat hingga nampak jelas lingkar bekas sunatnya. Nampak imut serta mengkilat kepala nya. Serta ada percum diujungnya, meleleh dari lubangnya. Mataku tidak berkedip menatap kesempurnaan bentuknya. Jakunku naik turun. Ingin rasanya aku mengkarokenya. Menjilati nya seperti menikmati sebuah es krim. Es krim rasa kontol. Tentunya akan terasa sangat nikmat.


Dengan perlahan, serta dada berdebar debar, tanganku gemetar tatkala aku menyentuhnya. Padahal, sudah berkali kali aku menyentuhnya. Tapi, tetap saja getaran serta debaran itu memacu adrenalin ku.


"Oough!" seketika lenguh meluncur lepas dari mulutnya. Tubuhnya bereaksi tanpa disadari. Dadanya makin turun naik, kembang kempis perutnya.


Kocokanku naik turun, penuh rasa. Terkadang pelan, kasar. Hal itu makin membuatnya Riko tak karuan, tubuh mengejan, nafas ngos ngosan. Hingga mencapai puncaknya...


"Oughhh,,, heg,,, haaahhh!?" Lenguhan lepas, bersamaan dengan terpancar deras larva hangatnya, bermuncratan keperutnya sebagian belepotan ditanganku. Riko terengah engah beberapa saat lamanya, mencoba untuk menormal nafasnya kembali dengan mata terpejam rapat. Tak ada kata, hanya diam sehingga suasana terasa sunyi untuk beberapa saat lamanya.


Tubuhnya bugil dengan tonggak yang masih mencuat keatas. Bukan lagi, tapi tetap bertahan disisinya semula dengan tubuh berkeringat padahal kamarnya ber-AC.


Ku ratakan cairan kentalnya diseluruh perut dan dadanya.


Aroma khasnya menguar sedari tadi.


"Hmmm,,, heeessss,,," lenguhan serta desahan mengiringi saat ku ratakan semua caranya yang tumpah tadi. Perlahan mulai mengering.


Setelah itu aku pun berbaring di dekatnya diam tanpa kata.


Aroma pejuh masih menguar serta sudah mengering namun aku masih diam termenung. Merenungi keadaan ku saat ini. Andai aku cewek mungkin aku telah hamil sejak dulu dengan mas Surya. Bahkan aku telah ganti ganti cowok. Namun, dengan mas Surya aku pernah melakukan anal sex di alam mimpi.


Kini, secara perlahan ingatan ku mulai kembali, hanya saja kemampuanku juga kekuatan gelang ku belum kembali.


Bahkan aku coba untuk melakukannya tapi hasilnya nihil, bahkan ada bunyi sama sekali. Padahal aku coba jentikan jari jariku jangan bunyi, reaksinya pun sama sekali tidak ada. Aku kehabisan akal. Andai aku bisa melakukannya lagi maka banyak yang bisa ku lakukan di dunia mimpi.


Tanpa ku sadari Riko memelukku, karena aku banyak melamun. Pikiran ku mengembara kemana mana.


Ku coba untuk pejamkan mataku buat tidur. Terlebih lagi besok aku akan pulang kampung. Aku harus segera tidur karena tak ingin besok kecapekan, lelah dan ngantuk saat dalam perjalanan nanti.


Terasa ada yang mengganjal dibawah, menyentuh luar pantatku, tapi aku biarkan karena tidak mungkin Riko akan berbuat jauh padaku.


"Hhhmmm,,, Ahhh,,,,"


----------------


Terbangun saat ku dengar ketukan pintu kamar Riko. Riko masih saja memelukku dalam posisi semula.


Tok...


Tok...


Tok...


"Sayang, bangun nak. Sayang, udah pagi nih. Ayo bangun" panggil Bu Kinasih dari luar. Sepagi ini sudah membangunkan putranya. Beliau tahu kalau juga tidur di kamar putranya. Tentu saja aku langsung kalang terlebih lagi keadaan Riko yang telanjang seperti bayi besar dengan batang yang mencuat tegang perkasa diantara jembutnya yang tidak dipangkasnya.


"Rik, Rik, Rikoooo,,, bangun!" Seruku lirih didekatnya. Hatiku sudah deg degan karena mamanya berada diambang pintu. Menunggu. Aku yang didalam sudah tak karuan. Riko masih tidur tenang tanpa terganggu sedikitpun.


Rasanya aku tak bisa berkata lagi, detak jantung sudah tidak karuan, aku tidak tahu apakah Bu Kinasih masih berada di depan pintu kamar ini atau sudah pergi. Terlebih lagi, sepertinya sepi. Mungkin sudah pergi. Lalu kenapa Bu Kinasih sampai datang ke kamar ini. Atau mungkin ada sesuatu yang akan disampaikan.


Sepertinya Bu Kinasih sudah pergi....


"Rik, Rikooo,,, bangun, ayo,,, katanya mau berangkat pagi" lirihku. Kehabisan akan. Kini, aku bangun, duduk didekatnya. Tersenyum geli melihat keadaan yang telanjang. 'Kok ada ya manusia, senang nya tidur telanjang seperti ini?' gelengku, heran dengan Riko kini terlentang dengan Konyolnya lagi tegang. Terkadang berdenyut. Atau sengaja Riko menggerakannya. Membuatku gemas dibuatnya. Atau aku harus melakukannya. Hingga ku putuskan...


"Kalau matamu terpejam, jangan harap aku mau lakukan!" gertakku tidak mau main main.


"Iya,,," mata Riko langsung dibuka. Dengan malas, dengan bersungut. Kesal. Terlihat sekali wajahnya.


"Sudah puas" serunya tertahan. Pasrah. Namun, ada golakan yang ditahannya. "Lakukanlah"


Ada permohonan dari kata katanya yang tersirat.


Biarlah, aku dikatakan binal atau apapun itu. Aku tidak menolak apa yang ada.


"Emut ya" pintanya. Dengan senang hati.


Maka diujung malam itu Riko menuntaskan hasrat lagi. Muntah lahar hangatnya didalam mulutku sangat banyak, rasanya legit, kental. Pejuh yang subur calon bayi bayi yang sehat. Jadi nutrisi didalam tubuhku bukan jadi janin.


-------------


Kini aku dan Riko telah bersiap. Mempersiapkan diri, nanti dalam perjalanan ke kampung halamanku.


Riko begitu gagah dan keren dengan setelan jeans hitamnya, baju lengan pendek. Ada kaca mata hitam tergantung ditengah belum dipakainya. Memakai sepatu kets.


Aku juga memakai baju santai, terlebih nanti akan naik pesawat.  Dari bandara Sukarno Hatta ke bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2 palembang.


Tadi sempat sarapan bersama, ada kesempatan buat ngomong sama ibuku. Ibu tidak banyak pesan seperti yang ku harapkan. Ayah juga tidak kelihatan.


Orang tua Riko tampak tidak rela melepas kepergian Riko bersamaku, mengingat kejadian dulu yang pernah di alami Riko sangatlah tidak mengenakan mungkin itu yang menyebabkan Bu Kinasih tidak rela Riko putranya ikut. Kalau pak Mahendra tidak ada masalah.


"Nak, jaga diri baik baik. Salamkan sama ibu ya, ibu tidak bisa pulang sekarang. Ibu minta maaf"


Hanya anggukan sebagai jawaban. Terus terang, aku kecewa dengan sikap ibu yang seolah tidak mementingkan keadaan simbah putri dikampung lebih mengejar materi dan bekerja disini, karena gajinya memang lumayan juga keluarga Sanjaya itu baik.


Tak lupa juga aku pamitan pada orang tua Riko. Tentu saja sambutanya beda. Kalau pak Mahendra tersenyum ramah, Bu Kinasih senyum dipaksa. Sedangkan Riko niatnya sudah bulat dari awal, bahkan ingin cepat sampai. Padahal tawaran mama itu sangat menggiurkan, disuruh memilih liburan keluar negeri dimana negara yang akan pilih. Dengan tegas Riko menolaknya walaupun dalam artian tolaknya secara tidak terang terangan.


Yang mengantarkan tentu saja kedua orang tuanya nanti sampai di bandara.


Dengan naik mobil milik keluarga.


Namun, ada hal yang membuatku kaget, ketika berada di gerbang rumah Riko. Ada seseorang yang sedang menungguku dengan pakaian rapi. Bukan ku saja terkejut Riko pun sama.


",,,,,???"


______________


Jm 06/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.