264. Berkumpul.

 Bab 264. Berkumpul.


★★★★★


"ALEX?" gumamku lirih. Menatap kearahnya yang rapi banget, keren, ganteng, gagah, macho, perfect lagi bahkan sebelas dua belas dengan Riko.


Tapi, yang jadi pertanyaannya mengapa Alex begitu rapi penampilannya, mau pergi kemana? Jelas semalam sudah ku kabari kalau rencana gagal, jadi batal karena aku dan Riko tidak jadi pergi ke Pangandaran. Semuanya berubah. Aku bisa apa?.


Tapi kini aku melihat kehadiran Alex sangat rapi hendak pergi, timbul pertanyaan dalam diriku juga yang ada disitu, begitu pun Riko bertanya mau kemana nih orang sudah rapi sekali. Bahkan Alex mengulas seulas senyum yang bikin kaum hawa, waria dan homo klepek klepek. Aku sampai terpana dan kagum melihatnya, dia menaik naikan alisnya kearahku. Menggoda.


"Heh, ngapain Lo dimari?" betak Riko bertanya penuh selidik. Riko melihat itu, tidak suka dengan penampilan Alex.


"Biasa aja keles. Gak usah sewot. Suka suka gue lah, emang mas Buloh!" Jawab Alex cuek.


"Sumpah ya, gue empet liat muka yang dipolos polosin! Lagian ngapain Lo  datang kerumah gue hah? Datang gak diundang, pulang maen nyelonong" seru Riko.


"Eh, gue dikata jelangkung, buset dah. Emang muka gue  serem. Gantengan gini!"  Alex gak terima dikatain oleh Riko.


Aku geleng kepala. Ayah dan paman yang menyaksikan cuma diam.


Mobilnya sudah disiapkan begitu barang barang sudah ada dibatasi. Kadusnya besar besar entah ada berapa.


"Al, kamu mau kemana sebenarnya? Semalam sudah ku bilang kalau gak jadi ke Pangandaran" terangku. Tentu Riko ikut mendengarnya.


"Aku mau ikut kamu pulkam" jawabnya cuek.


Bahkan mata Riko yang membulat tidak dihiraukannya. Seolah sudah biasa.


Mereka berdua memang suka bertengkar. Bahkan kadang sampai berkelahi tanpa diketahui masalahnya apa. Kini pun juga berseteru lagi hingga disaksikan paman dan ayah serta supir pribadinya.


"Apa? Lo mau ikutan ke kampungnya Bening. Gak, gak, gue gak setuju. Ngapain Lo ikut kesono?" Debat Riko tidak suka dengan Alex.


"Suka suka gue. Gue gak ikut ama Lo kok. Orangnya aja fine fine aja. Gak keberatan kok, Lo aja yang   kayak kebakaran jenggot, gitu!" Tukas Alex santai. Padahal Riko terlihat geram.


Ku tatap ayah, ingin minta pertimbangan tapi ayah tidak punya keputusan terlebih ini menyangkut mereka berdua, tentu ayahku bingung. Tidak mungkin menolaknya. Begitupun pamanku, sudah pasti sudah tidak berkata apa apa lagi. Keduanya hanya diam saja tanpa keputusan.


Sesaat kemudian ada mobil mewah datang, berwarna putih mengkilap. Dari dalam mobil keluar dua orang yang sangat ku kenal siapa lagi kalau bukan kedua orang tua Alex, Bu Shella dan pak Remond.


"Sayang,,,," Bu Shella memeluk Alex putra nya penuh rasa sayang. Pak Remond diam terpaku disamping istrinya yang cantik. Pak Remond juga pria berumur yang masih gagah dan tampan dengan tubuh yang atletis foto copy  Alex.


"Mama papa ngapain kemari?. Semalam sudah ku bilang aku sudah putuskan buat liburan ke kampungnya Bening" nada Alex tidak suka dengan kehadiran orang tua nya yang bermaksud mencegah kepergiannya. Itu ditilik dari gelagatnya.


"Mama papa mau nyegah aku buat pergi. Aku akan tetap pergi!" tegasnya tidak bisa di ganggu gugat.


"Nak, pikirkan. Kenapa gak keluar negeri aja?  Pilih negara mana aja kamu suka. Pasti akan papa siapin tiketnya" ujar pak Remond. Bu Shella tersenyum congkak pamer didepanku juga ayah dan pamanku. Tapi tidak bagi Riko juga ditawari hal yang sama oleh orang tuanya tapi dengan tegas ditolak. Kini hal yang sama terjadi dengan Alex, orang tuanya menginginkan Alex buat liburan keluar negeri.


Aku sendiri tidak tahu alasan mereka ingin ikut liburan bersamaku ke kampung. Jelas mereka disuruh pilih orang tuanya buat liburan di luar negeri tapi ditolak mentah mentah. Aku saja ingin sekali liburan keluar negeri tapi itu hanya mimpi. Orang tuaku tidak punya uang untuk keluar negeri karena biaya pasti sangat mahal sekali dari pada untuk keluar negeri mendingan uangnya ditabung untuk memperbaiki rumah dikampung supaya lebih bagus.


"Ya Tuhan, sayang kenapa harus jauh jauh ke Palembang, kepelosok lagi. Mama gak bayangkan keadaannya disana. Dikampung, nak. Kalau dikampung yang ada di Bali  bagus dan bersih. Ini kampung jauh dari kota, mama gak bisa bayangkan" sindir mamanya sampai geleng geleng. Kampungku tidak kumuh, bersih juga terawat. Karena tiap sebulan sekali pasti diadakan gotong royong bersama untuk membersihkan lingkungan. Persepsi Bu Shella itu salah paham, aku tidak gubris ocehannya yang sudah merendahkan serta meremehkan.


"Mama tolong hargai, paling tidak Bening. Mama sekarang kok seperti ini" kata Alex tidak suka dengan ucapan mamanya yang meremehkan.


"Mama,,," ucap pak Mahendra, seolah tidak ingin istrinya bersikap seperti itu.


Aku cuma diam saja, tak ingin membahas hal penting. Orang tua Riko pun sikap nya sama, mencibir.


Debat masih berlangsung...


Orang tua Riko juga datang didepan, mungkin ingin melepaskan kepergian Riko untuk terakhir kalinya. Entah mengapa sikap orang tua Alex juga sama.


"Eh jeng Shella, pak Remond kesini. Ada apa ini, rame banget?" Tanya bu Kinasih pura pura tidak tahu dengan keadaan. Tapi melihat kearah Alex lalu aku penuh selidik, barulah manggut manggut sejenak.


"Iya jeng  Asih, ini lho putraku yang ganteng ini mau ikut liburan ke kampung halaman temanya si Bening, padahal saya sudah bilang mau liburan kemana aja buat liburan ke luar negeri, tapi gak mau. Siapa yang gak dongkol jeng Asih" curhat Bu Shella pada Bu Kinasih mamanya Riko. Dua ibu ibu kalau ketemu pasti seperti itu, senang ngerumpi dan bergosip.


"Sama jeng Shella, saya juga kehabisan akal buat nyegah Riko putraku yang paling keren jeng Shella" ucap Bu Kinasih membanggakan Riko didepan bu Shella.


Aku tidak peduli lagi debat dua orang ibu ibu yang gak penting. Lagian juga aku juga tidak pernah mengajak dua orang anaknya yang selalu dibanggakan nya itu.


"Ayah, maaf bila aku bikin keributan" ku peluk ayahku dengan erat untuk terakhir kalinya karena tadi ada ribut sedikit. Hingga aku sedikit mengabaikan ayah dan pamanku.


"Iya, nak semoga selamat sampai tujuan. Salam kan pada ibu dikampung. Belum bisa berkunjung kesana. Karena belum ada satu tahun. Semoga kamu mengerti keadaan ayah dan ibu terlebih lagi saat kamu sedang dirawat dirumah sakit" ungkit ayah terlihat sedih. Aku bisa apa untuk itu. Ayah memang benar kalau mereka belum lama bekerja disini. Tapi orang tua Riko sangat baik hingga orang tuaku sangat berat untuk sekedar liburan ke kampung. Aku mengerti keadaan nya.


"Iya ayah, aku tak boleh egois untuk itu. Maafkan aku juga ayah.


"Paman,,,," sapaku mendekat.


"Ayah,,," ada sapaan lain didekatku karena tadi aku fokus pada ayahku, jadi tidak memperhatikan keadaan.


"Angga,,,,?" nampak paman kaget.


"Angga,,,," begitu pun ayah ku melihat Angga tak kalah kagetnya.


Hingga aku pun melihat kearahnya. Angga juga nampak rapi, bersiap seperti akan pergi jauh. Ada tas besar yang dibawanya. Atau jangan jangan Angga akan ikut liburan ke Palembang. Kalau dari gelagatnya Angga berniat untuk liburan kesana.


Ya Alloh!


Bagaimana ini?


Kenapa semuanya ikut liburan ke sana?


"Pakde Rohman,,," Angga salim sama ayahku. Kemudian memeluknya untuk rasa perpisahan lalu pada ayahnya yaitu pamanku. Cukup lama memeluk paman.


"Kamu mau liburan ke kampung Ga?" Tanya ayah tersenyum bangga.


"Iya paman, karena aku lama aku tidak kesana. Mumpung liburan, dan liburannya juga lama, ibu yang mendesakku buat ikut mas Bening" jelas Angga cerita kronologinya dia mau ikut. Benar Angga sebenarnya enggan kesana, itupun atas paksaan bi Ros.


"Mas Angga, jadi ke kampung" tiba tiba ada sapaan. Itu dari putri datang bersama bibi. Semuanya sedang berkumpul.


"Putri,,," sapaku juga, aku pun datang mendekati mereka berdua. Tiba tiba Putri memelukku dan menitikan air mata haru.


"Mas, maafkan aku, atas segala sikapku selama ini"


___________


Mg 08/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.