265. Bersama-sama.

 Bab 265. Bersama-sama.


★★★★★★


Sebenarnya, aku sudah enggan membahas masalah yang sudah berlalu. Ujung yang membosankan. Sudah beberapa kali Putri mengatakan hal itu didepan ku penuh rasa penyesalan seperti kali ini, namun jika Alex merayu maka pertahanannya akan jebol juga, dia memilih Alex. Dasar munafik. Itu bisa lihat wajah ganteng, perawakan atlestis, kontol melengkung. Eh, Ku kira Putri belum tahu hal itu. Aku sudah tahu bentuknya, bahkan sudah disunat.


Tapi, cewek cewek yang dengan suka rela ditidurinya yang terakhir sudah pasti tahu bentuknya yang sudah disunat. Awas kau Alex! Lihat aja nanti, kau berani bermain main denganku, burungmu ku potong dan ku jadikan suvenir buat gantungan kunci.


"Sudahlah Put, tidak usah mengingat ingat hal itu. Aku sudah melupakannya. Berhati hatilah, jaga kehormatanku buat suamimu kelak. Di Jakarta ini jarang sekali cewek yang masih virgin. Mereka tidak bisa jaga kehormatannya. Dianggap itu hal yang tidak penting. Aku tahu kalau kamu suka, bahkan cinta sama Alex, jika memang jodohmu, aku berharap dia berubah" ungkapku.


"Tapi mas Bening, Alex itu,,," lalu Putri mendekat berbisik ditelingaku. "Cinta sama mas Bening?"


Mataku membulat tak percaya dengan pernyataan Putri kalau Alex itu cinta dan aku. Rasanya itu mustahil. Tapi, apa benar hal itu. Kalau dari gelagatnya memang seperti itu. Baik, Riko pun juga cinta sama aku. Angga pasti memendam perasaannya karena tahu aku saudara sepupunya. Mas Surya juga, dia kecewa karena aku tak pernah menanggapinya, kini malah memilih lelaki jadi jadian seperti Cindy alias Sandy. Belum lagi mas Kharisma, juga sama cintanya. Belum lagi Ferdy, juga punya rasa cinta sama aku. Aduh!.


"Mas Bening maafkan aku" ulas Putri. Ku balas dengan anggukan serta senyum simpul.


"Terima kasih mas Bening" peluk Putri, pelukan terakhir.


Kini gantian aku yang memeluk bibi, aku tahu bibi pasti mengajak Putri buat kerja disini. Karena buat bantu bantu, dirumah juga sendirian tidak ada teman karena Angga ikut aku balik  ke kampung. Bersama sama dengan Riko, juga Alex. Jadi berempat.


"Maafkan aku ya bila aku banyak salah" ujarku penuh haru.


"Iya Bening, kamu gak salah kok. Bibi yang sering salah paham. Maafkan bibi ya Bening"


"Iya bi. Bibi gak ada salah" ucapku lirih. Memeluknya agak lama hingga ku lepas. Bibi nampak meneteskan air mata haru. Ku lirik Putri pun sama.


"Bi, jaga Putri jangan sampai salah pergaulan" ulasku pada Putri yang ikut meneteskan air mata. Bibi langsung mengangguk.


Terima kasih ya Alloh!


Semua sudah kelar, aku tidak tahu nanti kedepannya masalah ada lagi ataupun muncul lagi.


"Ayah,,, jaga kesehatan, ya" pelukku kembali sangat erat, tadi sempat tertunda. Kali ini aku lebih tegar lagi untuk perpisahan kali ini untuk terakhir kalinya.


"Pakde. Aku pamit ya" peluk Angga juga pada ayah.


"Sebenarnya yang maksa ikut itu nak Alex, nak Alex yang bayar semua, dari tiket pesawat sampai pulangnya juga, nanti. Bagaimana aku berterima kasih pada nak Alex atas semua kebaikan nya" ulas bibi. Aku tidak tahu bagaimana ikhwalnya Alex mengajak Angga.


"Nanti aku sampaikan padanya bi" jawabku supaya bibi tidak terbebani.


"Terima kasih Bening"


"Sama sama bi"


"Mas Bening, enghmmmm,,, aku, salamkan pada-?"


"Aku coba,,," balasku dengan keraguan Putri. Yang maksudnya yaitu Alex, aku tahu apa yang dirasakan.


Angga juga nampak bicara sama bibi, Putri dan paman, ayah juga nimbrung.


Kemudian Alex nampak bergabung.


Tapi, paman lalu mengajak menjauh dari keramaian, yang melihat serta memperhatikan ayah, sedikit ada rasa curiga. Hingga tak ada yang bisa dengar saat paman bicara.


Entah apa yang akan diomongkannya padaku?, tidak mungkin Paman tidak serius saat mengajakku menjauh dari semua orang termasuk ayahku.


Ada beberapa meter antara aku dengan yang lain nya.


Perasaanku menjadi terdebat-debar entah apa yang akan dikatakannya padaku.


Taman juga nampak ragu saat akan mengutarakannya, maksudnya akan diungkapkan kepadaku.


"Paman, apa ada yang ingin paman  sampaikan? apa hal penting?" Aku juga punya pikiran mengenai dulu yang pernah ku sampaikan pada Paman mengenai penglihatanku tentang masa depan, tentang suatu tempat dan aku meminta bantuan Paman untuk menyelidikinya. Karena aku jarang bertemu dengan paman karena disibukkan oleh ujian selama satu minggu ini. Aku jarang bertemu dengan kamu sehingga tidak ada kesempatan ataupun aku sampai melupakan hal itu hingga sampai pada akhirnya aku akan liburan ke kampung halamanku.


Paman hanya mengangguk ragu, sulit untuk mengatakan, terlebih pandangannya kini diedarkan serta  pada yang lainnya, terutama keluarga Sanjaya, kulihat  ada rasa ketakutan tersendiri. Tak bisa kutarik kesimpulan apa yang menyebabkan paman sampai seperti itu.


Terlebih lagi waktu ku juga tidak banyak karena sebentar lagi akan berangkat. Sekalipun semuanya pada sibuk bicara pada keluarganya masing-masing.


"Paman, katakan" ucapku tertahan ku perhatikan yang lain yang sedang asik ngobrol.


"Bening, paman sudah menyelidik tepat yang kamu sebutkan?" Paman nampak ragu. Menjeda karena nampak berhati hati.


"Bagaimana paman? Tempat itu benar ada?" Tanyaku dengan serius. Dengan menyakinkan.  Paman akan mengangguk namun kemudian nampak menggeleng. Wajahnya terlihat ketakutan.


"Paman!" Seruku tertaha. Reaksi paman seketika berubah.


"B-Bening,,, maafkan paman" sesaat paman tergagap.


"Kenapa paman?" Tentu saja aku bingung dengan pernyataan paman, sepertinya enggan mengungkapkan yang sesungguhnya. Berkali kali paman melihat kearah Riko yang sedang asik ngobrol sama papa, mamanya.


"Ayolah, paman katakan apa yang paman ketahui?" desakku pada paman karena waktuku sangat mendesak. Setidaknya aku tahu dan tidak penasaran apa yang diketahui oleh paman dengan apa yang diselidikinya selama ini.


"Paman tidak berani mendekat, karena tempa itu dijaga ketat. Tempat memang a-,,,,"


"Nak,,,," panggil ibuku, tiba tiba datang mendekat kearah kami. Padahal paman belum menjelaskan sepenuhnya, mengenai apa yang diketahuinya, terganggu dengan datangnya ibuku.


"Hupfff,,," nampak paman bernafas lega. Walaupun tidak semua dinyatakan hanya menggantung saja.


Hingga aku sedikit mengabaikan pamanku.


"Ada apa Bu?" tanyaku kemudian. Menghadap ibu yang nampak tergopoh.


"Dipanggil den Riko, supaya cepat untuk berangkat, keburu siang" tegur beliau, wajah ibuku tampak takut. Terlebih itu dari Riko maka apapun terjadi ibu pasti akan sampaikan. Aku sampai tidak sadari jika ibu juga ada. Matahari sudah naik di angkasa terang benderang.


"Tenang bu, ibu gak usah takut ya" ku coba untuk tenangkan ibu supaya jangan terlalu dipikirkan.


"Paman,,," aku berharap paman masih jelaskan sedikit saja.


"Cukup" gelengnya tidak mau menceritakan lagi. Ada rasa kecewa ku rasakan. Timbul pikiran mendalam. Terlebih ibu nampak khawatir kalau kalau Riko nanti akan memarahinya terlebih nanti marah padaku tentu ibu tidak mau hal itu terjadi.


Dengan berat hati ku tinggal kan pamanku, mengikuti langkah ibuku dari belakang, pamanku juga ikut dibelakang, yang ada hanya kebisuan. Ayah juga nampak menunggu serta yang lainnya.


Angga, Alex, sudah masuk kedalam mobilnya Riko, Riko yang melihatku pun lalu masuk, terakhir aku berada dibarisan tengah bersama Riko, dua dibelakang.


Air mataku langsung meluncur tak terkendali. Ada rasa kesedihan yang begitu dalam ku rasakan terlebih saat ini aku berada didalam mobil. Kaca mobil ku buka melambai kearah orang tuaku, keluarga paman Syarif, bibi dan Putri serta yang ada disitu.


Nampak wajah kesedihan penuh haru, saat perpisahan. Bu Kinasih dan Bu Shella tak sanggup membendung air matanya. Ikut melambai karena Riko dan Alex pun ikutan melambai begitu pun Angga.


Mobil melaju dengan tenang dijalanan ibu kota menuju bandara Sukarno Hatta, untuk nantikan akan menuju Palembang dibandar Sultan Mahmud Hasanuddin 2. Didalam mobil ada lima orang dengan sopir pribadinya.


Hingga beberapa menit sampailah kami dibandara. Semua barang entah diangkut kemana yang ngurus sopirnya Riko. Riko mengajak untuk bersiap. Karena tidak berapa lama lagi pesawat akan cepat landas. Sampai menunggu pengumuman untuk keberangkatan.


Diruang tunggu sebentar barulah seluruh penumpang diarahkan untuk masuk karena pesawat akan berangkat.


Lagi lagi didalam pesawat aku duduk disebelah Riko, sedangkan Alex dan Angga duduk bareng didepanku. Semua alat elektronik dimatikan.


Perjalanan ini tidak akan memakan waktu lama.  Kisaran satu jam sepuluh menit. Kalau naik bus kisaran 12 jam atau mungkin satu hari enam jam.


Baru juga take off, aku coba untuk santai, namun akhirnya tidak tahan juga, terlebih dilarang berisik didalam kapal. Terlebih sudah mengudara, rasanya ada debaran tersendiri berada diketinggian di udara.


"Rik berapa jam sampai dibandara Sultan Mahmud Badaruddin 2?" Tanyaku lirih coba cairkan suasana yang beku sejenak. Karena jika dibiarkan maka akan bertambah durasinya. Walaupun aku sudah mengira ngiranya , akan sampai aku hanya ingin tidak hening.


"Satu jam lebih" balasnya, tapi nampak kurang suka, atau pun hanya pura pura untuk ditutupinya.


"Kenapa?" Ulasnya tanyakan hal itu karena aku merasa bosen. Terabaikan, tapi masih dalam pengawasan.


"Ingin tahu saja" jawabku santai.


"Kamu kan pintar?" Sindirnya, mengena. Tapi, Ku juga belum tahu, walaupun pernah naik pesawat.


"Apa hubungannya?" Kilahku, pura pura bingung.


"Sudahlah" dia tetap bertahan.


'Awas saja kau Riko!' geramku dalam hati. Ingin aku kerjai dia saat ini juga.


____________


Sn 09/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.