266. Bagaimana Rasanya?
Bab 266. Bagaimana Rasanya?
★★★★★★
Warning!
(Area +18)
------------------
Aku ingin tahu bagaimana rasanya bercinta di angkasa seperti saat ini. Terlebih lagi Riko telah meledekku, tidak mau mengatakan. Maka, aku akan beri dia hukuman. Hukuman kenikmatan sebagai konsekuensinya.
"A-ada apa sama kamu, Be-Bening,,,?"
"Masih kau tanya, Rik"
"K-k- kamu aneh,,,?" Riko jadi gugup. Melihat ekspresi ku.
Detik selanjutnya, bibirku ku kecup.
Ku emut lembut, lalu ku lumat lembut juga. Saliva pun saling tertaut di dalam rongga masing masing. Ku kenyot, penuh ritme, pelan hingga menjadi kuat, hal itu membuat Riko nafasnya langsung ngos ngosan. Matanya sampai merem melek.
Agak lama ku permainkan seperti itu, tubuhnya kolojotan seperti cacing kepanasan hingga titik titik kecil keringat keluar dari pori porinya. Matanya masih sama. "Hoh, hoohhh,,," tak bisa lagi membendung birahinya yang membludak.
Kontolnya makin keras saja detik detik akan menumpahkan isinya sebentar lagi, disaat nafas nya ketahan. matanya setengah terpejam, berkonsentrasi. Dadanya ketahan. Uratnya ditubuhnya bersembilan.
Saat itulah,,,,
Dengan lenguhan panjang, tertahan.
"Oughhh,,, hahh,,," dengan hentakan pelan maka muntahlah larva hangatnya begitu banyak. Tumpah ruah dalam mulutnya, didiamkan nya beberapa saat, dengan nafas ngos ngosan, mencoba untuk atur nafasnya kembali yang tak normal. Sesekali batangnya yang masih keras seperti pentungan berdenyut sesaat melepaskan sisanya penuh didalamnya.
Begitu banyak pejuh didalam mulutku langsung ku telan semua tanpa sisa, ku kenyot pelan, ku urut perlahan untuk membersihkan sisanya. Sampai hal itu menyebabkan kepala di tahan. Riko tertawa lirih, geli sambil meringis keenakan.
"Ah, aawww,,, say, ngilu, ha ha ha,,," tak ku hiraukan protesnya. Walaupun rasa geli geli nikmat, masih saja aku suka menjilatinya hingga bersih.
Aku milih tiduran dipaha kokohnya kemudian ku bantu untuk menutup kontolnya yang masih saja ngaceng. Riko mengusap rambutku penuh kasih sayang, sambil tersenyum lembut kearahku. Ada rasa kepuasan tersendiri yang dirasakan nya. Hingga rasa terima kasih itu tak cukup. Perlahan tubuhnya melengkung kebawah, mencium kening ku lembut, cukup dalam. Mesra. Bagaikan seorang yang sudah jadi miliknya.
"Hmmm,,, " ada dehem yang mengagetkan. Seorang pramugari membawa makan yang di bawa diranjang menawarkan makanan.
Riko hanya angkat tangannya, menolak. Rasanya aku menjadi lega. Tadi sempat kaget, terlintas dipikiran seandainya, tadi apa yang ku lakukan dengan Riko ketahuan dengan pramugari tidak bayangkan apa jadinya.
"Hupfff,,," ku hempaskan nafas lega. Ku pejamkan mataku mencoba untuk tidur. Entah berada, sampai dimana penerbangan ku saat karena berada di atas awan. Aku nyaman berada dipaha kokohnya.
Tetap saja aku tidak tidur, pikiranku kemana mana terlebih lagi, jika nantinya aku telah sampai, apa yang harus aku lakukan, jika nanti simbah Putri juga Ferdy ataupun teman-temanku yang lainnya menanyakan tentang tiga orang yang menemaniku aku harus menjawab apa. Tentu hal itu akan jadi tanya-tanya buat mereka namun aku sudah menyiapkan jawaban untuk itu nantinya aku akan mengatakan jika mereka adalah teman-temanku satu kelas jadi ada alasan untuk itu.
Aku tidak pernah mengkhawatirkan tentang keadaan Angga karena Angga itu adalah keluargaku yaitu cucunya simbah Putri mungkin mereka akan paham walaupun sudah lama sekali Angga tidak bertemu dengan teman-temannya di kampung aku yakin Ferdy ataupun yang lainnya pasti sudah mengenal anda dulunya.
Walaupun saat ini keadaanku sudah tenang namun ada satu ganjalan yang sampai saat ini masih aku pikirkan yaitu mengenai pernyataan paman yang telah mengetahui tempat yang dulunya aku katakan pada pamanku. Belum sampai sempat menceritakan semuanya tentang apa yang telah diketahui, sampai paman urungkan niatnya untuk mengatakannya pada hingga sampai saat ini hal itu masih jadi ganjalan buat ku.
Sesekali kupandangi wajah tegas Riko, kumis tipisnya, wajahnya yang bersih, barisan giginya yang serta putih, bibirnya yang merah alami sungguh perpaduan yang sangat sempurna. Sungguh aku sangat kagum dengan ketampanannya serta kejantanannya semua yang dimiliki oleh hari sungguh sangatlah sembuh dari ciptaan yang maha kuasa.
Jika memang benar nantinya aku akan mati di tangan Riko, serta dengan orang-orang yang pernah terlibat di dalam penglihatanku maka hal itu tidak mungkin aku cegah lagi namun untuk saat ini dan seterusnya di liburanku kali ini di liburan di kampung halamanku hal ini akan aku nikmati sebagai liburanku yang paling indah bersama dengan Alex, Angga, dan Riko sendiri. Aku hempaskan pikiran itu aku tidak ingin memikirkanmu walaupun masih terasa ada ganjalan yang ada di pikiranku terlebih lagi pamanku tidak mengatakan semuanya dengan transparan.
Sekalipun perjalanan naik pesawat memakan waktu 1 jam lebih namun waktunya terasa cukup mau. Kembali ku lirik Riko nampak memejamkan matanya. Mungkin mencoba untuk tidur terlebih lagi tadi habis, past lelah. Namun, dibalik celana masih saja kontolnya ngaceng. Aku tertawa geli sendiri dalam hati mengetahui kalau kalau kontol Riko masih ngacenh sedari tadi. Apa gak capek?' pikirku.
Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak bisa tidur, ada beban dan ganjalan dihatiku mengenai apa yang dikatakan oleh paman, itu sangat mengganjal dipikiranku.
Tiba-tiba rasanya urine ku mendesak. Aku tidak tahu cari toilet di dalam pesawat ini. Hingga aku meringis. Apa aku harus minta tolong ke Riko buat nemani atau hanya menahannya. Perjalanan nya masih lama untuk landing di bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2 palembang. Aku sudah tidak kuat untuk menahannya lagi.
"Rik, geser,,, " pintaku karena tadi aku berada di dekat jendela.
"Hmmm,,,," gumam lirih Riko cuek. Matanya terpejam. Bukan nya dibuka melihatku. Aku jengkel dibuatnya. Maka...
"Auwwww,,, sakit!" Ringisnya. Ku remas kuat burungnya yang masih saja ngaceng maksimal. "Kenapa say?" Tanyanya santai, cuek begitu.
"Mau pipis" jawabku singkat. "Antar,,," pintaku. Tak ada respon.
"Tanya aja pramugari" balasnya, cuek lagi.
"Huh,,," dengusku kesal. Dasar malas! Bukannya bantu, cuma cuek!' batinku berkata.
Aku berdiri. Riko geser, pindah tempat. Tidak prihatin lihat keadaanku.
"Ga, antar aku ketoilet" pintaku. Saat aku berdiri didekat duduknya. Alex juga nampak santai dengan mata terpejam.
"Kebelet pipis" risngisku, menahan sedari tadi. Riko tidak banyak membantu.
",,, Yo,,," ucapnya, berdiri. Dengan wajah malas. Ada apa dengan Angga, manyun gitu, wajahnya juga sedikit butek.
Kebetulan ada mbak pramugari lewat, sedang ngecek penumpang. Biasanya, mbaknya pasti seksi dengan pakaian yang super ketat, hingga bentuk tubuhnya yang aduhai tercetak nyata.
"Ada yang bisa saya bantu mas?" tanya pramugari sangat ramah, dengan tubuh menjura memberi hormat. Hingga nampak sebagian toket mulusnya begitu menggoda, membusung dari balik atasannya yang kurang bahan.
Angga nampak menelan ludahnya, kelu. Mbaknya hanya tersenyum ramah melihat gelagat Angga.
"Toiletnya mana ya?" Tanya Angga kemudian, nampak antusias setelah ditanya mbak pramugari dengan toket mulusnya yang tadi hampir keluar dari sarangnya. Atau sengaja dia pamer didepan kami. Entahlah? Tapi senyumnya nampak ramah dengan pengunjung. Tapi dorong bawa makanan, nawari para penumpang. Kini, jalan sambil perhatikan penumpang yang lainnya.
"Oh, jalan ini lurus. Nanti ada pemberitahuan, itu tempatnya" jelasnya.
"Ayo,,, Ga" ajakku, rasanya sudah diujung mau keluar.
Pramugari cuma geleng geleng saja melihat tingkahku. Karena aku sudah tidak tahan lagi. Benar yang dikatakan mbaknya, disitu ada tulisannya juga petunjuknya.
"Ga aku duluan" ucapku gak sabar.
"Bareng, aku juga kebelet" jawabnya. Akhirnya aku bisa apa. Terima saja keadaan. Toch, aku juga sering ngemut kontolnya, jadi aku tahu semuanya. Jadi apa yang perlu ditakuti. Jadi, aku cuek saja.
Masuk kedalam, bau nya harum, tidak seperti WC pada umumnya yang kesannya jorok. Tapi ini seperti kamar tidur, ada kayak kursi duduk buat santai. Mungkin untuk buat orang ngerokok. Jadi tempat yang strategis. Maka, aku pun menumpahkan seluruh hajatku. Angga pun juga lorotkan celana, tanpa malu atau sungkan, biasa saja. Tanpa ada rasa canggung sedikitpun.
Nampak kontol Angga ngaceng total berwarna kecoklatan dengan kepala berwarna merah maroon, nampak berkedut kedut. Saat aku meliriknya. Dan kontolnya juga besar diameter serta panjangnya cukup lumayan. Setelah selesai, nampak Angga mengocoknya didekatku. Tanpa rasa risi.
"Ahhh,,, oghhh,,," desahnya pelan, menikmati kocokannya yang pelan penuh ritme.
_____________
Sl 10/01/2023.
Komentar
Posting Komentar