267. Rasanya Sex diangkasa.
Bab 267. Rasanya Sex diangkasa.
★★★★★★
Warning!
(Area +18)
-------------------
Kocokannya, desahan yang estetis sungguh sangat menggoda pendengaranku, sangat menggugah andrenalin ku.
"Oughhh,,," eksplor suaranya mengerang tak terkendali. Aku tahu, jika mengeluarkan suara di toilet pesawat tidak akan ada curiga, jarang yang datang kesini. Kocokan Angga ada kalanya cepat, pelan hingga kontolnya persis diperah, hingga warnanya makin memerah serta licin seperti berminyak. Jamurnya makin mengkilap saat kocoknya kebawah hingga makin mengkilap serta percumnya makin tumpah ruah. Ku basuh batangku yang tadi baru mengeluarkan urinenya. Kini malah disuguhkan hal yang lebih menantang.
Angga masih saja asik ngeloco kontolnya yang makin tegang. Serta urat ditubunya pun juga nampak nyata, terlebih deru nafasnya yang kian tak terkontrol, ngos ngosan.
"Mas,,," ucapnya dengan nafas yang tidak beraturan. Ingin aku melakukan lebih pada nya terutama batang yang dikocoknya.
Tanpa perintah pun aku dengan suka cita melakukannya.
Kini batang kontolnya diserahkannya padaku dengan suka rela.
Maka, langsung ku slomoti ujungnya yang memerah dengan air madzi yang tumpah ruah. Lidahku mengecap rasanya yang tawar, kadang sedikit asin. Perlahan ku masukan lebih dalam hingga membuatku tersedak.
Dan tidak masuk seluruhnya hanya sebagian saja.
"Oughh,,,,, " Angga merem melek. Mengejan hebat. Setelah itu memaju mundurkan seperti menyodok memek perempuan dengan ganas. Dadanya bergemuruh. Perutnya kembang kempis. Keringat mulai ada diwajahnya.
Sesaat ku kenyot, hal itu membuatnya makin belingsatan. Bukan hanya itu saja, nafasnya tak terkontrol lagi.
"Oughhh,,, hohhh,,, hahhh,,," dengusnya lepas. Menghentak kuat saat ku kenyot kuat, tubuhnya kian kelojotan. Hingga larva hangatnya muncrat tak terkendali. Sangat banyak, semua ku tampung dalam mulutku. Ku telan tanpa sisa. Rasanya perutku penuh terlebih lagi, tadi milik Riko juga banyak kini milik Angga sudah masuk seluruhnya ke perut.
Angga kini menetralkan nafasnya yang tidak normal. Keringat merembes didahinya. Padahal WC suasananya juga sejuk.
"Makasih mas Bening" ucapnya setelah nafasnya mulai normal. Tersenyum puas.
"He he heee,,," ku tanggapi dengan senyum. Serta kedipan mata saja. Kini Angga telah membenarkan celananya yang tadi sempat kedodoran.
Ku basuh mukaku, serta mulutnya yang tadi sempat belepotan, serta kumur kumur biar tidak tercium bau pejuh yang khas sampai bersih.
"Aku duluan Ga" pamitku, mulai keluar lalu dikuti oleh Angga.
Saat berada diluar, ternyata ada seseorang juga menunggu, serta wajahnya tertutup masker sebagian wajahnya. Menatapku dengan rasa terkejut, aku juga tidak begitu jelas melihat nya, karena posturnya juga tinggi mengingatkan ku pada seseorang, yang pernah ku tolong, mas Kharisma. Entah mengapa, aku mengkaitkan orang yang tadi itu dengan mas Kharisma. Hingga Angga menyenggolku, membuatku kaget.
"Mas kenapa melamun? Apa mas kenal orang tadi?"
"Hmm,,, gak, aku gak tahu. Aku juga gak kenal kok" kilahku. Sekalipun aku seperti mengenalnya, tidak akan aku ceritakan pada Angga. Akan ku rahasia kan hal ini pada Angga. Mungkin hanya perasaanku saja. Sudahlah. Mungkin banyak orang yang sama bentuk tubuhnya seperti orang yang baru ku lihat tadi, yang kini masuk didalam toilet.
"Oo, aku kira kenal, karena tadi kayak kaget gitu"
"Sudahlah. Bukan siapa siapa. Aku hanya kepikiran simbah putri" ucapku beralasan supaya Angga tidak terlalu berpikir lagi.
Pura pura sedih didepan Angga.
"Maaf mas" pungkasnya merasa prihatin. Syukurlah Angga tidak membahasnya lagi. Ku anggukan kepalaku. Kemudian berjalan kembali ke tempatku.
Hingga hampir sampai ketempat duduk...
"Ga, aku mau duduk sama Alex, boleh ya,,," mohonku. Tampak Angga menatapku sekilas. Seolah gak bisa. Tapi setelah aku minta akhirnya nyerah. Mengangguk. Angga tidak bisa menolak keinginanku. Dia tahu apa yang nantinya ku lakukan pada Alex.
"Baiklah" Angga mendesah pelan. Sepertinya berat akan hal itu, tapi bisa apa tak bisa nyengah ku.
"Makasih" aku pun milai mendekat, serta melewati Alex yang terpejam matanya.
"Lama banget ditoiletnya Nga, ngapain aja Lo, ngocok ya?" Tuduhnya belum tahu kalau aku yang sedang diajaknya bicara. Terlintas bayangan orang tadi yang sempat ku lihat seperti bayangan. Hingga aku teringat seseorang yang sangat ku kenal, bahkan aroma tubuhnya pun ku rasa tidak asing. Tapi, hati dan pikiranku menyangkal hal itu. Sudahlah. Buat apa mikirin hal itu, tidak mungkin mas Kharisma berani datang lagi ke Sumatera. Terlebih menumui simbah putri serta meminta maaf untuk memperbaiki keadaan.
"Lo kok diem, bisu Lo!" Cerocosnya terpancing emosinya. Lagian, yang diajaknya bicara menurutnya itu Angga padahal aku. Aku hanya diam saja duduk santai didekatnya. Sesekali meliriknya, ingin tahu reaksinya selanjutnya.
"Heh, budek Lo ya. Bikin tensi naik aja lho! Emang siapa Lo, kalau bukan karena gue, Lo tuh cuma gembel!" sungut dengan mata terpejam karena emosinya meluap. "Oh, dasar bisu, budek Lo!" sentaknya benar benar emosinya meluap. Matanya nampak mengerjap ngerjap sesaat. Belum menyadari bahkan aku yang kini duduk didekatnya. Tentu hal yang sama dialami oleh Riko tak bakal menyangka jika yang duduk disebelahnya kini Angga bukan aku, Bening. Membayangkan hal itu bikin aku tertawa dalam hati. Tidak kebayang bagaimana reaksi Riko, nanti?
Maka sebelum menyadari kalau yang ada didekatnya. Aku melakukan sesuatu padanya, saat itu lah Alex sangat terkejut dengan nada yang hampir meninggi di kira aku ini adalah Angga.
"Bangsat Lo! Berani berani nya Lo pegang kemaluan gue! Dasar Homo Lo keparat!" seru Alex belum nyadari keadaan kalau aku yang grape dia. Tentu saja dia sangat emosi sekali kalau hal itu nyata Angga yang ngelakuin padanya, bisa bisa Angga dipenggal kepalanya oleh Alex karena itu harga dirinya yang paling utama. Dilecehkan oleh seorang laki laki, beda lagi jika yang ngelakuin cewek, persepsinya akan beda, dia gak akan semarah itu padaku yang dikira dia adalah Angga.
Matanya langsung terbuka, menatapku dengan kaget, tidak menyangka kalau aku yang kini duduk didekatnya. Aku hanya tersenyum penuh arti. Alex cuma nyengir kearahku, tersenyum terkulum yang dipaksa. Yang tadinya lemas bahkan reaksinya sangat cepat kontolnya kini sudah ngaceng dengan maksimal. 'Huh, dasar kontol lengkung gak bisa diam dengan sentuhan ku!' batinku berkata.
Kini ku elus, Alex diam membiarkanku bergerilya di atas celana casualnya yang halus. Maka, Alex kini jadi belingsatan jadinya. Dadanya sudah berdebar debat, belum lagi perutnya ikut kembang kempis, berkali kali narik nafas seperti kehabisan oksigen. Kini Alex menatapku sendu, tak ku biarkan hal itu sia sia begitu saja. Namun, yang membuatku tercengang, Alex malah melumat ku duluan dengan nafas sejadi jadinya, ngos ngosan.
"Hoohhh,,, Ooohhhh,,,, " Alex terangsang hebat. Tubuhnya menegang hebat. Deru nafasnya sudah tak karuan lagi.
Tangan kanannya memegangku, tangan kirinya kini melorotkan resliting nya. Setelah itu nampak dia aktif dibawah dengan ngos ngosan tak terkendali lagi. Saliva saling raut, mengelitik sama sama ketika lepas, saling mengambil udara yang berkurang sepenuhnya.
"Please, emut ya,,," mohonnya penuh harap, dengan mata setengah terpejam sayu.
Maka aku pun lakukan apa yang dia maui.
"Agkkkkkkhhhhh,,,, hoh, hesssssss,,," seperti sengatan listrik yang nyetrum ketika aku telah jilati ujung jamurnya yang mengkilap merah disertai air percumnya tumpah ruah. Aku tahu kalau pejuhnya tinggal nunggu detik saja akan muncrat. Maka, kenyotan kuat ku lakukan membuat Alex kelabakan, bukan itu saja, kontol nya dilesakan lebih dalam menyentuh langit ronggaku. Hal itu makin membuatnya tak karuan, kelojotan. Suasana tambah gerah, hingga sekitaran wajahnya merembes keringat, menyebabkan dia kelihatan, macho seksi.
"Ak- aku mau keluar,,, aaahhhhh,,," kini melesak lebih dalam, hampir aku tersedak muntah. Nyatol jamurnya dilangit ronggaku. Pejuhnya tumpah ruah tak terbendung lagi, sangat banyak. Tertelan habis. Perut sangat kenyang dengan nutrisi, dari tiga cogan yang perkasa serta macho.
Alex masih terengah engah di akhir klimaksnya. Sambil mengatur nafasnya supaya normal kembali. Aku biarkan kontolnya masih didalam mulutku, terkadang sesekali berkedut. Andai aku kenyot sedikit saja, maka Alex akan kelojotan setengah mati campur ngilu, nikmat. Maka ku urut untuk membersihkan sisanya.
Lalu....
"Ah, awwww,,, ngilu. Tapi, uenak,,, hmmm,,, awww, kamu nakal Bening" ringisnya merasakan nikmat nikmat ngilu serta rasa yang dirasakannya menjalar ditubuhnya.
Aku hanya diam, lalu melepaskan kontolnya perlahan, itupun masih tegang, pantang kendur. Entah kapan gak ngacengnya. Kini ditutup dan di masukan pelan oleh Alex kesangkarnya kembali. Dengan nafas yang sudah agak normal.
Sesuatu yang tak ku sangka tubuh Alex kebawah mengecup keningku dengan lembut sambil berbisik seperti dengan rasa sayang yang mendalam.
"Terima kasih Bening" ungkapnya dengan senyum merekah. Tulus. Dengan tatapan sendu. Kini, terlintas di benakku, akan diri Alex. Karena selama ini, Alex tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada ku, atau memang menurut penglihatan ku, Alex mengungkapkan perasaan hatinya ketika maut akan menjemputnya.
Entahlah?
________________
Sl 10/01/2023.
Komentar
Posting Komentar