268. Landing.

 Bab 268. Landing.


★★★★


Rasanya semua kejadian ku alami bagai mimpi. Mimpi terindah yang pernah ku rasakan seumur hidupku, tidak akan mungkin terjadi kembali lagi hal yang ku alami, ibarat kata masalalu tidak akan pernah bisa terulang lagi.


Kini aku tenang dan nyaman tiduran dipaha kokohnya. Pasti Riko akan marah jika aku melakukan hal ini pada Alex, namun hal itu tidak aku pikirkan.


Ku coba untuk tidur sejenak. Untuk menenangkan pikiran serta perasaanku yang kini tiba tiba kalut. Tentu, pikiran yang tidak mengenakan terlintas kembali.


Hingga saat mata terpejam, ku rasakan lelah, aku pun menguap tanpa membersihkan mulutku yang baru saja mengoral, hingga bekas aroma khas pejuh pasti tercium. Tapi, Alex tidak memasalahkan hal itu.


Aku pun tak ingat apa apa lagi, aku benar benar tertidur...


-----------------


Tidak tahu apa apa....


"Bening, Bening,,, bangun udah nyampek" panggil lembut Alex menyentuh pipiku membangunkanku.


Ku kerjabkan mata untuk melihat keadaan yang masih buram, hingga keadaan menjadi terang dan jelas.


"Huuaaahhhh,,," sekali lagi menguap. Enak tenan. Urat seperti kendur. Lega. Nyaman terasa keadaanku. Walaupun aku tidur mungkin tidak lama, tapi perasaan tenang ku rasa.


"Ayo, turun. Kamu disini. Aku tinggal lho" Alex nampak bangkit. Aku masih malas dengan keadaanku yang baru bangun.


"Mas Bening, ayo turun" ajak Angga bersama Riko masing masing menatapku. Angga tatapannya biasa saja tapi tidak dengan Riko yang sulit ku artinya. Tatapannya seperti tatapan ketika aku lihat dalam penglihatan masa depan. Tatapan penuh misteri menyimpan sesuatu hal yang sangat menyeramkan serta mengerikan.


"Sudah biarin aja, kalau mau disini. Malah enak enak tidur, kecapekan habis nyepong" sindirnya membuatku tak nyaman.


"Heh, jaga bacot Lo Riko. Gue sama Lo, selalu buruk sangka gitu sama gue" kilah Alex gak terima dengan pernyataan Riko.


"Biasa aja keles. Gak usah nyolot gitu. Kenapa Lo marah marah klo emang gue salah!"


"Halah, Lo tuh aja jealous. Yang bacot itu Lo. Orangnya fine fine, Lo tuh gitu, heran!" sentak Alex masih tak terima.


Kini keduanya yang debat hebat, aku perlahan pergi. Palingan ujungnya perkelahian.


"Ayo Ga, tinggal aja mereka berdua. Heran aku, selalu kayak gitu, dimana berada. Dikira tanah nenek moyang nya ribut kayak gitu!" gumamku, sambil jalan. Membiarkan kedua masih debat didalam. Aku bersama Angga pun telah sampai di pintu keluar, akhirnya turun perlahan.


Tempat ruang tunggu agak jauh, akhirnya ada mobil pengantar, aku dan Angga akan naik disaat itu, distop oleh Alex dan Riko. Hingga kini ada empat yang diantar. Setelah membayar ada mobil travel yang memang sudah siap antar sampai tujuan. Ditanah kelahiranku bersama cogan yang kini bersamaku.


Kalau masalah gak perhitungan antara Alex ataupun Riko, bagi mereka berdua uang tidak ada artinya. Bahkan dibayar dimuka, transaksinya berjalan lancar.


Akhirnya kita pun berangkat,,,,


Tentu harap harap cemas, karena akan cerita dan juga drama baru yang nantinya pasti tersaji.


Banyak hal dan juga kenangan serta warna ku lalui disaat aku berada di Jakarta, kini jelas tergambar kenangan itu hanyalah fatamorgana.


Tidak akan mungkin akan terulang kembali. Akan hari esok akan lebih baik lagi. Entahlah?.


Perjalanan naik travel membutuhkan waktu yang tidak lama, kisaran 4 jam-an, kadang juga bisa kurang dari yang ditentukan terlebih jalanan masih belum lah bagus.


Kini aku duduk dengan Alex, entah mengapa tadi dia main serobot, bahkan tidak memberi kesempatan bagi Riko. Karena dari rumahnya Riko sampai take off, duduk dengan Riko. Kini aku duduk dekat Alex berada dibelakang sedangkan Riko dengan Angga. Sang supir sendirian. Nampak Riko kesal, bersungut tidak jelas, padahal aku tidak ngapa ngapain, hanya saja aku mulai lelah, terlebih lagi masih lama perjalanannya.


"Kita beli oleh oleh di super market di Palembang pak supir" ucapku pada sang supir, karena untuk oleh oleh teman teman juga tentangga nanti di kampung.


"Kenapa musti berhenti sih?" sungut Riko tidak suka.


"Rik, kalau kamu gak mau turun ya udah, biar aku aja yang beli oleh olehnya, kamu tunggu saja di mobil diparkiran, gitu aja kok repot" balasku kesal juga.


"Sekalian kan, dari pada nanti bingung, dikasih tetangga, pasti banyak yang datang kerumah. Kalau kamu pasti pamer nyebar uang kayak dulu" ulasku pada apa yang dulu pernah dilakukan oleh Riko.


"Riko pernah ikut ke kampungmu ya Bening"


"Pernah, sekali. Dia mah pamer, sok nyebar duit gitu didepan pelataran rumah ku. Tanya aja tuh orangnya masih hidup" tunjukku dengan ekspresi kesal.


"Benar itu, Riko"


"Iya, kenapa Alex? Lo gak suka, bilang aja kamu iri kan"


"Ngapain juga iri sama Lo, gak ada gunanya. Toch, Bening fine fine aja, aku it's oke!" Alex nyengir kuda.


"Apa maksud Lo Alex?"


"Gak usah nge-gas juga kale Riko!"


"Lo tuh, bikin gue naik darah terus, Alex. Gue bikin koid Lo nanti!"


"Siapa takut, siapa Lo? Berani beraninya ngacam gue kayak gitu!" cibir Alex seolah olah ancaman Riko itu tidak main main. Bahkan 'SUATU SAAT NANTI, ANCAMAN RIKO BAKAL JADI KENYATAAN!' hal itu tidak pernah terbayangkan oleh Alex sebelumnya.


"Sudah sampai mas" kata pak supir membuyarkan lamunanku. Didepan gedung yang cukup besar dan ramai para pengunjung.


Berjalan sekitar lima puluh meter sampailah kita bersama di mall super market terbesar di wilayah Palembang, terpampang besar tulisannya dengan 'MATAHARI STORE'


Aku hanya melihatnya di google sedangkan aku belum pernah kesini sebelumnya. Makanya aku ingin merasakan belanja di mall.


Layaknya seperti pernah belanja disini aku berjalan santai. Agak bingung juga aku dimana tempatnya, disaat itulah aku merasa seperti orang katrok, bingung karena minim pengalaman pergi ke mall terbesar dan mewah di wilayah Sumatera Selatan. Kepala sedikit puyeng karena tempatnya sangat luas sekali. Rencana ku ingin membelikan KFC untuk teman temanku dikampung.


Wajah Riko sedari tadi tidak enak, kesal gitu ketika masuk dalam ke mall.


Untuk membuat moodnya baik, maka aku tidak malu buat gandeng tangannya.


Sepertinya Riko akan protes namun aku merengut kearahnya. "Ck,,,!" Mataku tajam kearahnya. Riko diam saja, ada seulas senyum simpul ditahannya. Terlebih orang orang berseliweran juga tidak peduli. Kini Riko nampak tenang saat ku gandeng tangannya, tidak risi.


"Huh, dasar manja!" hardik Alex pada Riko yang hanya kasih seulas senyum coolnya. Tidak suka Riko yang ku perhatikan yang lebih membuatku kasihan Angga hanya diam sesekali tersenyum tertahan saat ku perhatikan. Jelas Angga saudara tapi malah seperti orang lain. Juga perasaan yang lain tapi Angga saudaraku tidak ku pedulikan. Jika aku sampai peduli dengan maka imbasnya tidak akan baik, hal yang menyebabku tidak berani untuk perhatian pada Angga, bisa jadi Alex bahkan Riko bisa menyakitinya bahkan tindak kekerasan seperti penganiayaan.


"Iri bilang boss- hahahaaaa" cibirnya, sambil meng-eratkan genggamanku.  Dia tertawa riang,


"Hah, hahaaaa,,, iri, sorry cuy, gak ada kamusnya gue iri sama Lo, bukan selevel, Lo gue end!" Sambil peraga jari telunjuknya ke leher.


"Hahahaha,,, kasihan sekali hidup Lo Alex" cibir Riko.


Padahal di tempat umum masih saja mereka berdua bertengkar, dengan hal-hal yang tidak penting bagi ku.hingga membuat aku geleng-geleng kepala dengan tingkah mereka yang menurutku konyol. Tapi apa boleh buat karena mereka berdua selalu begitu sering berseteru makan sampai berujung dengan perkelahian dan setelah itu mereka pun seolah melupakan apa yang tengah terjadi. Itulah hal yang membuat aku salut pada keduanya.


Setelah debatan yang gak guna, mulai memilih oleh oleh yang akan dibawa pulang. Tentu yang borong Alex dan Riko yang bayar, tidak perhitungan.


Setelah keliling keliling capek, dan yang bawa Angga, aku juga Alex dan Riko. Kita makan seafood.


Selesai makan santai sebentar, itupun jadi pusat perhatian para cewek cewek yang ada di mall. Mata mereka tiada henti henti mengagumi sosok Angga, Riko, dan Alex terkadang juga aku, tapi aku tidak terlalu merespon. Hanya Alex yang terkadang genit kemereka bahkan sampai berfoto sama ketiga, selayak nya arti terkenal yang baru viral. Toch, aku biasa saja dengan sikap mereka yang tebar pesona sama sama cewek cewek yang lagi labil.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat.


Semua barang belanjaan yang begitu banyak telah masuk kedalam mobil sampai sampai sang sopir geleng geleng kepala, heran melihat begitu banyaknya yang dibeli.


"Gila banyak banget barangnya?" decak kagumnya.


"Tenang pak, nanti saya bayar double kok" celutuk Riko tahu keadaan. Terlebih lagi mengenai barang bawaan yang cukup banyak.


Perlahan meninggalkan area parkiran....


Mobil berjalan dengan kecepatan sesuai keadaannya. Hingga sampailah pada jembatan Ampera yang membentang luas. Mata Alex, dan Angga terpicing melihatnya, mungkin baru kali ini melihatnya. Terlebih lagi bagi Alex yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di wilayah Sumatera tentu pandangan dihadapan sungguh mempesona.


"Wah, ini ya jembatan yang terkenal itu, jembatan di Palembang, jembatan Ampera namanya" decak kagum Alex.


"Aku juga baru kali ini lihatnya" ujar Angga menimpali karena selama di Sumatra dulu belum pernah berkunjung disini. Kali lewat sekaligus menyaksikan. Riko tentu saja pernah tahu karena pernah lewat disini. Aku juga baru dua atau tiga kali lewat serta melihatnya.


"Dasar katrok!" ejek Riko pada keduanya.


"Pak, pak bisa turun sebentar gak nanti buat foto area jabatan Ampera?" pinta Riko, tentu tadi sang sopir di imingi imingi dengan bayaran double tentu lah tidak akan keberatan untuk foto foto di area jembatan.


"Oh, bisa bisa nak" ujar sang sopir dengan senang hati. Aku juga ingin mengabadikan momen bersama di Ampera tentu akan kenangan tak terlupakan.


"Terima kasih pak" balas Riko sangat senang.


"Huuu,,, bilang katrok, akhirnya juga pengen foto" seru Alex.


"Al,,, sudahlah, kenapa debat terus, apa gak capek?" ulasku supaya Alex tidak bikin ulah terus bikin emosinya Riko.


"Lagian, ya Bening. Riko itu sukanya bacot terus"


"Lo tuh, suka bacot, nyolot pula" sahut Riko tak terima.


"Sudah, sudah kalian kayak anak kecil, bentar lagia mau lulus" leraiku, karena aku yang jadi penengah.


Mobil pun berhenti ditempat parkiran yang tersedia, lokasinya tidak jauh dari area jembatan Ampera.


Kita pada turun begitu pun sang supir ikut turun diminta Riko untuk memotret tentu pake hp bermerk apel digigit supaya hasil gambarnya sempurna maksimal. Maka foto foto pun di mulai ambil spot yang baik serta atas arahan Riko. Kadang bareng, berdua kadang sendirian. Entah berapa jepret hasilnya, sudah sangat banyak. Hingga tak terasa waktu terus bergulir.


Tentu sampai rumah nanti agak sorean.


Aku harus chat Ferdy dirumah buat siap siap, tapi, rasanya itu gak surprise jadi ku urungkan niatku buat chat dia. Aku ikuti alurnya saja.


Akhirnya perjalanan pun dilanjutkan kembali...


Lagi lagi yang duduk bersamaku Alex. Wajah Riko tentu ditekuk, tidak terima tapi apa boleh buat.


Karena ini masih area Palembang tentu perjalanan untuk sampai masih cukup lama. Tapi pak sopir sudah pengalaman jadi tidak akan berhenti cari penumpang terlebih lagi Riko berani bayar mahal tentu tidak akan cari penumpang lagi.


Rasa lelah menyerangku, walaupun hatiku senang, campur gembira tak bisa ku lukisan akan ketemu simbah putri. Ku coba untuk pejamkan mata sandaran pada kursi mobil, walaupun tidak nyaman.


Aku pun menguap sejenak.


"Kamu mau tidur?" Tanya Alex disampingku. Dengan senyum coolnya yang bikin dunia jungkir balik. Tak ingin ada debat juga tak ingin merepotkan aku memilih diam.


Sepertinya Alex mengerti keadaanku.


"Bahuku selalu siap buat sandaran untukmu" ungkapnya menyiapkan bahunya.


"Terima kasih, tid-,,,"


Belum juga ku tolak tapi Alex malah menarik ku hingga ku pun berada di bahunya. Tapi kurang nyaman, hingga ku gelengkan kepala.


"Tidurlah saja dipahaku,,,"


_____________


Rb 11/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.