27. Mencari Tahu

 27. Mencari tahu...


★★★★


Aku ingin mencari tau siapa orang orang yang telah membuat Riko keadaannya sangat memprihatinkan.


Setelah cukup lama aku menunggui Riko hingga ku sadari kalau Riko sedang tertidur lelap. Maka aku memulai aksiku untuk mencari pelakunya di dunia mimpi. Aku sangat penasaran sekali.


Betapa terkejutnya aku setelah aku tau siapa para pelaku itu.


Karena Riko belum cerita siapa siapa orangnya. Setelah aku mengetahuinya sendiri aku sangat kaget. Aku tidak pernah menyangka jika orang orang itu adalah orang orang yang dekat dengan Riko selama ini.


Namun, mendadak aku merasakan keganjilan karena tubuhku seperti merasakan suatu ancaman.


Bahkan aku belum sempat menghentikan ritual ku.


Tubuhku terjatuh kelantai tanpa bisa ku tahan lagi.


"Buk,,, akhhh?" Aku berdiri lalu mendekat kearah Riko karena aku yakin dia tidak tidur. Sambil meringis sakit karena aku tadi terjatuh masih meninggalkan rasa nyeri.


"RIKO,,,!" seruku tertahan karena emosi. Tentu saja aku marah karena apa yang ku lakukan telah diketahui olehnya.


Geram tentu. Tetapi, sekalipun aku emosi tapi aku tidak bisa berbuat apa apa karena keadaan Riko tidak sehat terlebih batinnya.


Wajah ketakutannya terlihat jelas, tubuhnya gemetar menahan rasa takut karena melihatku sedang marah besar.


"Beb- Bening- m- maafkan aku,,," ucapnya dengan terbata bahkan keringatnya merembes dipori porinya. Ketakutan yang luar biasa.


Ku tatap dengan tajam!


"Subhanallah?" tubuhku mendadak lemas. Aku duduk disampingnya Riko, ku atur nafasku, hingga aku kembali tenang, ku lihat Riko masih nampak ketakutan.


"Maafkan aku" tatapku sendu. Ku lihat Riko menghempaskan nafas pelan, lega. Ada senyum dipaksa karena aku sudah biasa seperti tidak terjadi apa apa sebelumnya.


"Nggak,,," nafasnya masih terengah mungkin menahan rasa takut yang mendalam. Ku genggam tangannya untuk menenangkannya.


Ku lihat Riko nampak tenang, kini. Bahkan tersenyum tulus padaku.


"Aku yang bersalah. Seharusnya aku,,,-"


"Tidak perlu. Aku hanya ingin tau satu hal. Aku penasaran. Makanya aku ingin melakukan sesuatu. Boleh aku tanya sesuatu mengenai apa yang kamu alami?" aku tidak berani menyebut namanya, pun aku bertanya hati hati supaya Riko tidak mengingat kembali apa yang dialaminya.


"Kamu tidak keberatan kan,,,?" Ku lepaskan genggamanku ketika Riko lebih tenang bahkan meremas tanganku lembut.


"Soal apa?" balasnya seperti ragu karena aku sekarang nggak mau bertatapan langsung dengan Riko. Yang aku takutkan Riko takut dengan karena tadi aku sempat emosi.


Sebenarnya aku merasa kasihan ingin menanyakan hal yang sebenarnya terjadi pada Riko. Aku takut kalau Riko akan drop lagi keadaannya mengingat kejadian yang di alaminya, pastilah sangat berat. Tapi, aku bisa rasakan hal itu? Tetapi aku belum bisa menduga hal apa yang di alami oleh Riko. Tapi, saat ku telusuri ke alam mimpi bahkan aku bertemu dengan orangnya sama sekali tidak ku sapa, bahkan keadaanku seperti terancam.


Begitu cerobohnya aku melakukan hal itu terlebih ini rumah orang bahkan dikamar pribadinya Riko. Walaupun sikap berubah tapi dia juga ancaman bagiku. Bisa saja Riko macam-macam denganku ketika aku melanglang kedunia mimpi tanpa ku peduli resiko apa yang bakal terjadi.


"Siapa orang yang telah membuat keadaanmu seperti ini? Aku tidak memaksamu untuk menceritakan kejadian yang kamu alami" ucapku lirih karena aku takut ada yang mendengarnya.


"Ak- aku sendiri tidak tau orangnya,,,?" kenang Riko sambil menggeleng pelan bahkan air matanya kini merembes sepertinya lukanya kembali terbuka. Tubuhnya terguncang hebat, tangisnya makin menjadi bahkan air matanya makin bercucuran. Rasanya aku telah salah menanyainya. Kayak belum tepat. Tapi aku sangat penasaran sekalipun bukan saatnya.


"Riko maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatku sedih seperti ini. Aku hanya ingin... T-a,,,?"


"Rik, kenapa kau menangis, apa yang terjadi padamu?. Hey, kau Bening kan. Kenapa kau masih disini? Apa yang telah kau perbuat sehingga adikku menangis sedih" kata Xxaqie yang berdiri didekatku, tadi aku bicara pada Riko lirih sehingga Xxaqie tidak mendengar percakapanku.


Ingin aku menjawabnya karena Xxaqie seperti tidak suka dengan keberadaan ku didekat adiknya yang mungkin terlihat dekat serta perhatian pada Riko. Padahal selama ini Riko yang caper padaku.


"Ak- aku,,,,?" aku hanya bisa terbata karena aku tidak tau harus menjawab apa. Nanti malah aku yang salah. Bahkan tatapan Xxaqie tajam kearahku seperti mau membunuhku. Aku hanya tertunduk terlebih tatapan tajam Xxaqie tidak begitu mengenakan.


"Pergi kau!" teriak Xxaqie melotot kearahku dengan marah. Aku tidak tau kesalahan yang ku perbuat hingga membuat kakak Riko emosi padaku padahal aku merasa tidak pernah berbuat kesalahan padanya, terlebih berjumpapun baru dua kali tapi Xxaqie begitu marahnya.


Mungkin melihat Riko adiknya menangis, mengira aku penyebabnya padahal itu karena hatinya sedang bersedih serta aku ingin tau apa sebenarnya terjadi. Tapi gagal untuk mengetahuinya karena kakaknya datang dan langsung memarahiku tanpa mau mendengarkan penjelasan ku terlebih dahulu. Percuma juga, aku ngomong sama Xxaqie yang lagi marah dan emosi.


Aku langsung pergi tanpa salam. Ya Alloh aku seperti tidak punya adap langsung pergi tanpa meninggalkan salam. Ku tepis rasa kesedihanku menuju paviliun.


Ya Alloh, aku seperti melupakan sholatku karena menunggui Riko.


Air mataku merembes, kesedihanku makin dalam, rasa bersalahku begitu dalam.


Hingga magrib menjelang...


Setelah menunaikan, sholat aku duduk santai sambil membaca Al Qur'an supaya hatiku tenang.


Ibuku datang dengan wajah lelahnya.


"Sudah sholat nak?" tanya ibuku tersenyum lembut mendekatiku lalu menciumku hangat.


"Sudah Bu,,," suaraku agak serak.


"Kenapa kamu bersedih nak, kamu habis menangis?" tanya ibuku lagi menatapku penuh tanya.


Aku menggeleng lemah. Aku tidak bisa berbohong pada ibuku karena aku di ajari untuk selalu jujur apapun yang terjadi.


"Aku tidak tau harus bagaimana, Bu? Den Riko memintaku untuk menemaninya, sedangkan kakaknya Xxaqie itu mengusirku dengan memarahiku. Entah apa salahku? Ibu Kinasih juga memintaku untuk menemani den Riko" jelasku, sambil meredakan rasa sedih yang menderaku.


"Sabar nak, ibu tidak bisa banyak membantu. Ibu bisa berbuat apa?" Ku dengarkan ibuku selesai bicara. Karena aku tidak pernah memotong ucapan ibuku.


"Istirahat nak, besok kamu sekolah berangkat pagi kan?" tanya ibuku wajahnya terlihat sendu, pasti merasakan apa yang ku rasakan.


Aku hanya mengangguk dan pamit sama ibuku untuk pergi istirahat, sepertinya seharian ini aku tidak bertemu ayah, cuma tadi pagi subuh saja bertemu. Ayahku mungkin sedang berjaga ketat karena menjaga gerbang.


Setelah ku tutup pintu rapat dan ku kunci kini aku berpikir......


"Apa benar orang orang yang melecehkan Riko itu, benar orang orang itu? Sungguh aku tidak menyangka jika mereka sampai melakukan hal yang nista serta kejam terhadap Riko. Apa Riko melakukan kesalahan terhadap mereka? Ayah Riko akan memutilasi tubuh mereka yang telah menganiaya Riko. Aku melihat amarah pak Mahendra begitu besar. Mungkin pak Mahendra akan mencari para pelaku yang telah membuat anaknya menderita. Aku juga tidak tau apa yang telah dialami oleh Riko karena dokter Miko pun tidak menjelaskan perihal tentang Riko. Sepertinya sangat privasi apa yang di alami oleh Riko" gumamku sendiri sambil berpikir keras. Jika mereka melampui batas maka aku akan bertindak lebih jauh jika memang itu disengaja oleh mereka. Entah mengapa aku sangat geram dengan mereka, dengan apa yang dilakukan padaku. Tapi aku masih menghormati mereka.


Tak terasa aku pun merasa berat. Akhirnya aku pun tertidur karena lelah.......


_____________


Lamat lamat ku dengar kumandang adzan disebuah mushola.


Seakan aku baru sebentar tidur dan tau tau aku merasa dan mendengar kumandang adzan membuatku terbangun tidak bisa memejamkan mata lagi.


Sekalian aku mandi, lalu sholat...


Ibuku sudah pergi kerumah besar tentunya bikin sarapan pagi buat keluarga Sanjaya. Aku tau kalau ibuku itu sangat rajin bekerja serta pekerja keras, tak kenal lelah. Pengorbanan ibuku terlalu besar untuk ku.


Menunggu waktu luang aku membaca buku pelajaran, aku pelajari hal apa yang nantinya perlu ku tanyakan. Disini aku tidak mencuci sendiri lagi karena ibuku sudah membereskan semua kebutuhanku.


Riko sedang apa? Terus kalau pengen pipis siapa yang akan membantunya? Pikiran itu bermain main di otakku. Entah mengapa aku sering kepikiran tentang Riko.


Niatku untuk melihatnya tapi aku takut dengan Xxaqie kakaknya. Ingat wajahnya, rasanya ingin nonjok wajah gantengnya yang arogan itu. Sungutku kesal jika ingat kejadian kemaren sore.


Sudahlah!


Akhirnya aku memilih diam saja, hingga ibuku datang membawa sarapan untukku.


"Nak, sarapan dulu,,," wajah ibuku terlihat menyimpan sesuatu. Aku menikmati sarapanku hingga menghabiskannya.


"Alhamdulillah! Ada yang ingin ibu sampaikan?" Setelah selesai sarapan. Ku tatap ibuku yang sejak tadi ku perhatikan. Ibuku hanya tersenyum tawar sepertinya dugaanku benar.


"Tadi den Riko berpesan agar kamu menemuinya. Tapi den Xxaqie melarangnya hingga mereka berdebat. Tapi den Riko maksa bahkan memarahi kakaknya. Bahkan,,, den Riko mengancam ibu, nak. Tolong temui den Riko. Ibu tidak mau kalau sampai dipe- cat!" seru ibuku lirih dengan menangis. Ya Alloh, sampai segitunya Riko mengancam ibuku jika aku tidak menemuinya. Pantas saja ibuku terlihat begitu sedih ternyata dapat ancaman. Apa perlu Riko ku beri pelajaran supaya manusia angkuh itu tidak sombong pun dengan Xxaqie kakaknya. Awas kalian! Telah membuat ibuku sedih seperti ini. Ingat balasanku. Geramku dihati.


"Ibu tidak perlu sedih. Aku akan menemui manusia sok itu" ku taruh tasku karena aku mau menemui Riko dikamarnya.


Aku pamitan sama ibuku untuk menemui Riko serta memberi salam.


Aku bergegas keluar dan berjalan menuju rumah besar lewat belakang. Nantinya aku biasa bertemu dengan bibiku. Aku berharap tidak bertemu dengan Xxaqie kakak pertama Riko.


Saat akan naik tangga aku melihat ada seseorang yang sangat cantik. Aku belum pernah melihatnya. Berat dugaanku itu adalah kakak perempuannya Riko. Tersenyum sekilas. Tidak ramah. Menatapku tajam penuh selidik. Kenapa ya semua orang dirumah ini menaruh curiga padaku.


"Hey siapa kamu,,,?" sepertinya bukan pertanyaan tapi lebih ke curiga.


"Iya, saya. Saya Bening,,," jawabku, belum sempat ku jelaskan ada senyum diwajah cantiknya senyum geli serta penuh ejekan saat mendengar namaku ku sebut. Seperti waktu Riko pertama kali mendengar namaku disekolah.


Ku hentikan langkahku diujung tangga. Mungkin terlihat tidak sopan karena aku bukan siapa siapa tapi dengan lancang mau naik menuju ke kamarnya Riko.


Tapi ini sangat penting!


"Oh jadi kamu yang namanya bening. Pantas tidak punya tata krama. Xxaqie pernah cerita tentang kamu dan setelah aku bertemu denganmu jadi ini kelakuan kamu. Tidak ada sopannya masuk tanpa permisi" sindirnya pedas. Hampir saja tersulut emosi, jika tidak atas permintaan Riko aku tidak akan datang kemari dihina oleh kakak perempuan yang sangat lebih arogan ketimbang Xxaqie.


Datang Xxaqie sepertinya baru selesai sarapan karena berasal dari arah dapur. Wajah tampannya tampak dingin menatap kearahku. Keduanya setali tiga uang.


"Maaf, mbak,,, permisi" pamitku, akan segera menemui Riko karena jika terlambat maka akibatnya fatal. Aku tidak mau hal itu terjadi karena yang jadi taruhannya keluargaku. Terancam. Kalau mereka berdua masih bisa ku atasi tapi Riko sekali berkata maka tidak bisa dicegah.


"Heh mau kemana Lo. Dasar udik. Nggak ada sopannya" serunya.


"Yaitu klo anak kampung" sahut Xxaqie berdecak kesal. Sepertinya Xxaqie ikut menyusulku. Mungkin akan meminta maaf ke Riko atau ada hal lain.


Sepertinya kakak perempuannya juga ikut naik. Waduh, urusan bisa runyam, nih?.


"Ini anak maunya apa sih?" omel kakak perempuannya.


"Riko itu kenapa ya, kok manggil manusia tidak tau krama ini?" tambah Xxaqie. Bikin suasana tambah ribet.


Tentu saja hatiku dongkol terlebih dengan dua kakaknya yang arogan semuanya.


Sampailah aku didepan pintu kamar Riko. Sepi. Aku masih berdiri dengan ragu didepan pintu.


Dibelakangku ada dua kakaknya yang wajahnya terlihat kesal. Emosi.


Aku tak peduli pada mereka.....


"Tunggu!" teriak Xxaqie menghentikan ketika aku akan masuk membuka knop pintu yang tertutup rapat.


Aku nekat buat masuk karena aku tak mau ambil resiko bila Riko marah.


Xxaqie tak bisa mencegahku karena aku nekat.


Kakak perempuannya mencegahku dengan mencekal tanganku kuat,,,


"Bagus. Zsayefu,,,," tambah Xxaqie. Keduanya menatapku tajam. Kini aku tau namanya yang terdengar ribet. Tapi Xxaqie begitu lancar menyebutnya.


"Lancang sekali kau. Siapa kau sebenarnya? Hanya anak seorang pembantu, bukan. Tapi sikap Lo sok sok-an. Masuk tanpa izin" sentak Zsayefu. Pasti nama belakangnya Sanjaya. Aku tidak tau pasti siapa Sanjaya itu, mungkin itu kakek moyang mereka turun temurun hingga embel embel Sanjaya ditempatkan dimana belakang mereka semua, baik anak maupun menantu sekaligus cucunya. Aku sama sekali tidak tertarik namaku dikasih embel embel Sanjaya. Aku tidak tau jika suatu saat nanti nama belakangku akan ditambah Sanjaya. Hal itu membuatku tersenyum.


"Dasar manusia sinting! Diajak ngomong malah senyum nggak jelas. Dasar Lo nggak jelas" sungut Zsaye kesal


Menatapku tajam.


Niatku untuk masuk dicegah. Aku hanya berdiri didepan pintu kamar Riko yang terlihat senyap.


"Berani Lo lancang masuk, gue pastikan Lo dan dan keluarga go out dari sini. Ingat itu!" ancam yang serius dari Zsaye. Hal itu, tentu membuatku dilema.


"Kalau bukan atas permintaan adik kalian, aku tidak Sudi datang kemari menemui. Kalian itu cuma bisanya mengancam" tudingku. Terlihat Xxaqie tersulut amarahnya begitu juga dengan Zsaye.


"Lebih baik aku sekolah. Sekarang apa, aku malah kayak orang tolol disini. Menyesal aku kesini kalau cuma hanya untuk dihina hina" imbuhku, ku coba untuk tegar kalaupun hatiku perih, aku merasa khawatir jika mereka benar benar memecat kekuargaku kerja disini. Aku tak bisa membayangkan hal itu, terjadi.


Kini aku jadi ragu untuk meneruskan langkahku.


Aku yakin jika ancaman, baik Zsaye ataupun Xxaqie itu sama saja, tak ada beda. Mungkin bedanya dari keduanya cuma dari sikap. Tapi sikapnya menurutku hampir mirip tapi Xxaqie lebih dipikirkan tidak ceplas ceplos.


Aku masih diam ditempatku. Diam. Bahkan tidak berani melakukan apa apa.


Disatu sisi aku takut ancaman Riko bila tidak menemuinya disisi lain kedua kakak Riko mengancam.


Andai ibuku tidak memberitahuku, mungkin aku akan pergi ke sekolah. Belajar dengan tenang tanpa gangguan.


Tapi kini aku juga mendapat ancaman dari manusia songong disamping pintu kamar Riko, sekarang.


"Xxaqie masuklah, liat keadaan Riko didalam"


"Tidak Zsaye, nanti Riko marah marah lagi" terang Xxaqie, aku hanya menyimak saja.


"Kamu saja" pinta Xxaqie. "Kamu kan kakak perempuannya, pastilah kamu mengerti kondisi Riko" mereka malah debat nggak jelas padahal aku sudah khawatir kalau Riko marah dan benar benar ambil tindakan.


"Kalian malah debat kayak anak kecil. Kalian kakak kakaknya, kenapa tidak langsung masuk menemui. Kenapa malah debat nggak jelas" sungutku kesal karena waktuku terbuang sia sia. Siapa mereka.


"Heh udik. Jangan sok Lo nasehatin gue. Masih untung Lo tidak gue usir dari sini" bentak Zsaye padaku membuatku antara marah juga takut.


"Benar. Kayak Lo tuh udah ngelunjak ya" tambah Xxaqie.


"Baiklah. Aku akan pergi. Percuma juga aku disini. Menyesal aku datang kesini, mengorbankan sekolah demi adik kalian itu" jelasku sedikit ku tahan emosiku karena mereka menghinaku keterlaluan.


"Bagaimana ini Zsa?"


"Nggak tau Xxa?"


Keduanya malah bingung kini...


Aku akan melangkah pergi karena percuma aku disini. Mau masuk dicegah oleh keduanya.


Keduanya cuma kayak anak kecil yang berebut permen.


"Tunggu!" cegah Zsa padaku. "Kamu boleh temui Riko" tatapannya tidak suka tapi ini demi kepentingan Riko.


"Terima kasih. Kenapa tidak sedari tadi" sungutku kesal.


"Awas Lo ya anak kampung" geram Xxaqie seperti mengancam, itupun tidak berani ikut masuk. Entah apa yang membuatnya enggan menemui Riko.


Begitu Zsa masih berdiri diambang pintu ketika aku melewati mereka berdua.


"Kenapa baru datang?" protes Riko tidak suka. Wajah tampannya nampak emosi.


"Huh, kalau kau tidak ganteng, sudah ku bunuh kau!" ancamku bergumam menatapnya sejenak.


"Apa kamu bilang? Kamu bilang ganteng. Oh, jadi kamu akan bunuh aku kalau jelek"


"Iya, kenapa?" Ku tatap tajam Riko yang terbaring belum pulih.


"Gara gara kamu. Aku tidak masuk hari ini. Aku sudah ketinggalan pelajaran"


"Heleh kamu pinter. Nggak ngaruh juga kan"


"Bukan itu masalahnya"


"Lalu apa? Takut kamu tidak naik. Tenang aku anak pem-" sebabkan Riko langsung terdiam. Sepertinya tidak berani meneruskan ucapannya.


"Kau telah membuat ibuku sedih" kini aku duduk didekatnya. Menatapnya biasa. Tentu hatiku mengharu biru antara dilema dengan tidak sekolahnya aku juga dengan ibuku yang dibawah ancaman Riko.


"Kalau tidak karena ibuku yang memintaku datang kesini karena ancamanmu, aku tidak sudi datang kesini. Kenapa sih kamu suka sekali mengancam?"


"Aku tidak ada teman Ning"


"Namaku Bening, bukan Ning" rutukku tak terima karena Riko memanggilkan dengan sebutan Ning. Kayak cewek.


Riko terlihat cengengesan...


"Apa?" Mataku melotot karena Riko cuma mesem.


"Maaf! Kan aku cuma nyebut nama kamu Ning. Menurutku sama saja kok. Bening, lucu. Lha Ning, imut"


"Lucu, imut Ndas-mu!" Aku makin kesal dengan ulah Riko tapi entah mengapa perasaanku malah bahagia terlebih bisa sedekat ini dengan Riko, akrab.


"Ha ha,,," Riko malah tertawa girang. Sudahlah yang penting ibuku tidak dipecat ataupun bibi serta pamanku.


"Riko, aku mau tanya. Apa kamu tau siapa yang telah membuatmu seperti ini?" tanyaku hati hati karena aku tau sepertinya kodisi jiwanya telah membaik. Tapi dugaanku salah. Karena detik selanjutnya wajah Riko mendadak memucat tanpa teraliri darah. Pucat. Matanya syarat akan ketakutan.


"Tidaaakkkk! Papa, mama,,, toloooongggg,,,!" teriak Riko histeris bahkan tubuhnya terguncang hebat. Ketakutan setengah mati sambil menangis tersedu sedu.


"Rik- o,,, aku,,,,?"


#bersambung,,,


******


Ikuti kisah selanjutnya "Siapa Pelakunya"


Min 20 mar 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.