270. Kebenaran yang terjadi.
Bab 270. Kebenaran yang terjadi.
★★★★★★
Setelah satu bulan belum juga genap, Ki Ageng Madyo Santoso telah kembali lagi ke kediaman Nyai Sarinah Mukti dan Ki Ganjar.
Sarinah Mukti, Ganjar dan Ki Ageng Madyo Santoso, ketiga duduk santai, membicarakan hal serius karena hari ini Ki Ageng akan menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting yang akan dikatakannya, mengenai tugas yang diembannya dari sang guru. Hingga tiba saatnya Ki Ageng telah menyelesaikan tugasnya.
"Bagaimana tugasmu Ki Ageng, apakah telah berhasil?" Tanya nyai Sariah Mukti penasaran begitupun Ki Ganjar juga sangat penasaran.
"Iya Ki Ageng, apakah ada kamu kendala?" Tanya Ki Ganjar kembali, apakah Ki Ageng telah berhasil dari misinya.
Ki Ageng nampak diam sejenak tanpa ekspresi, namun kemudian tersenyum penuh arti. Ada anggukan kecil.
"Ki ageng,,," semula nyai Sarinah Mukti nampak gusar, tentu bertanya tapi melihat senyuman dari Ki Ageng hal itu membuatnya ikut tersenyum, berarti misi yang telah diberikannya pada Ki Ageng telah berhasil dilaksanakannya. Tapi tidak tahu, bagaimana kinerjanya.
"Aku telah berhasil nyai, Ki Ganjar. Nasib baik telah berpihak padaku guru. Nasib telah membuat Bening kecelakaan hingga membuatnya koma, bahkan aku telah bekerja sama dengan orang tua Riko, yaitu bu Kinasih dan pak Mahendra. Keduanya juga mendukungku 100%, bahkan orang tua Bening tidak bisa kemana mana karena telah menerima kebaikan dari keluarga Sanjaya karena biaya rumah sakit sangat mahal jadi, Khatijah dan Rohman pasti butuh waktu lama untuk pulang ke Sumatera lagi. Ramuan itu telah mempengaruhi Bening. Aku tidak perlu bersusah payah untuk melaksanakan tugas dari nyai dan Ki Ganjar. Semua aman tidak ada yang tahu. Tapi akhirnya Den Riko tahu kebenarannya. Tapi aku yakin kalau den Riko tidak akan menceritakan hal ini pada Bening. Sekalipun Bening itu sangat di cintai oleh Riko" jelas Ki Ageng mengenai tentang keberhasilan misinya selama ini.
Wajah keduanya langsung sumringah dengan berbinar binar.
"Mas tinggal selangkah lagi misi kita akan berhasil" girang Sarinah Mukti pada Ganjar suami.
"Iya Dek, bahkan tirakat dan semedi kita juga hampir selesai" ungkap Ganjar keduanya tersenyum penuh kemenangan.
Tentu saja Ki Ageng tidak mengerti dengan percakapan keduanya. Ada sesuatu rahasia dibaliknya.
'Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa dengan kedua guruku ini. Aku seperti merasa sesuatu yang aneh?' membatin ku Ageng dengan sepasang gurunya yang saling pandang. 'Entah ada dendam pribadi apa diantara keduanya dengan Bening?' ungkap batinnya dengan rasa tak percaya.
"Kau tidak akan mengerti Ki Ageng! Perlu kau ketahui olehmu, bahwa yang sedang ada dihadapanmu saat ini adalah sukma kami. Karena sesungguhnya saat ini kami sedang bertapa di Alas Roban, ha ha haaa,,,!" tawa Nyai Sarinah menggema begitu pun Ki Ganjar.
Barulah Ki Ageng sadar dengan apa yang terjadi, bahwa saat ini yang berbicara dengannya yaitu kedua sukma gurunya bukan jasadnya karena antara jasad kasar dan sukma.
"Kau tidak perlu takut Ki Ageng, karena suatu saat nanti kau juga akan memiliki ilmu meraga sukma seperti yang kami punyai. Karena keluargaku semuanya menguasai ilmu ini" terang Ki Ganjar.
"Benar kah Ki Ganjar, nyai Sarinah. Suatu kehormatan bila aku bisa memiliki ilmu meraga sukma yang terkenal itu. Aku kira ilmu itu hanya mistos sudah musnah, tapi ternyata ilmu itu masih ada dan ada pewarisnya. Sedangkan nyai dan Ki Ganjar memilikinya. Luar biasanya" decak kagum Ki Ageng sangat menginginkan.
"Tapi sangat berat yang harus kau lakukan Ki Ageng. Karena kau bukan dari keturunan kami. Tapi, kau tidak perlu khawatir Ki Ageng, kau pasti bisa menguasainya cepat atau lambat. Jika misi saat ini sampai berhasil hingga final, aku berjanji akan mengajarimu ilmu meraga sukma!" titah nyai Sarinah tersenyum bangga kearah sang murid.
"Terima kasih nyai, Ki Ganjar" Ki Ageng nampak menjura sambil tangkupkan tangannya.
Pikirannya sudah kemana mana. Ki Ageng merasa bahwa jika dia menguasai ilmu meraga sukma dia akan bisa mengalahkan Bening dengan ilmu yang dijanjikan oleh gurunya.
Ki Ageng tidak tahu, jika ilmu meraga sukma tidak ada apa apanya dibandingkan dengan ilmu penjerat mimpi yang dimiliki oleh Bening. Karena kharimasnya pernah merasakan hal itu dan hampir kehilangan nyawanya melawan Bening di dunia mimpi.
"Hal pertama yang harus kamu lakukan, bermeditasi lah setiap hari selama 40 hari dan harus PUASA MUTIH. Kau pasti sudah mengerti Ki Ageng. Laksanakan mulai hari HARI WAGE TEPAT BULAN PURNAMA TANGGAL LIMA BELAS, BULAN KASADA, WUKU LANDEP!" titah nyai Sarinah tersenyum bangga.
Kembali Ki Ageng berterima kasih, paling tidak angannya akan tercapai memiliki ilmu langka itu.
"Ingat Ki Ageng, jika kau gagal melaksanakan tirakat itu, itu resiko yang harus kamu tanggung sendiri akibatnya" lanjut nyai Sarinah.
"Apa yang terjadi nyai?" tanya Ki Ageng penasaran karena nyai Sarinah nampak serius.
Sarinah Mukti menatap suaminya Ki Ganjar penuh arti, sepertinya yang ingin jelaskan suaminya.
"Kau akan kehilangan nyawamu Ki Ageng, kau jangan pernah main main, jangan sampai kau gagal menjalan tirakat ini. Kau mengerti Ki Ageng!" Ungkap Ki Ganjar menjelaskan resiko yang harus ditanggung jika sampai gagal dengan semua syarat yang telah ditentukan.
"Akan aku laksanakan sebaik mungkin nyai, Ki Ganjar. Aku tidak mau jika sampai gagal" ungkap Ki Ageng penuh keyakinan.
"Saya salut dengan tekadku Ki Ageng. Mudah mudahan kamu berhasil melewati semua penghalang yang nantinya akan kau temui" ulas Nyai Sarinah Mukti.
"Sekarang kembalilah. Kami akan kembali lagi ke Alas Roban untuk melanjutkan tapa kami" titah Ki Ganjar. Nyai Sarinah Mukti hanya tersenyum misterius.
Ki Ageng menjura, lalu pamit. Tubuh nya secepat angin meninggalkan kediaman gurunya kembali ke Jakarta.
Disaat Sarinah Mukti dan Ganjar akan pergi, seorang pemuda mencegahnya....
"Ibu, ayah,,, tunggu" yang tidak lain Kharisma adanya berdiri menatap kedua orang tuanya yang bersiap akan pergi. Karena ada sesuatu yang akan disampaikan.
"Ada apa nak?" tanya sang ibu menanti. Begitu sang ayah, masih ada rasa sabar. Terlebih lagi ada hal yang terlihat penting.
"Hm,,, begini ibu, ayah aku berencana untuk menetap di Sumatera. Aku akan menemani simbah putri di kampung, karena kini sendirian. Aku yang telah menyebabkan simbah kakung MUKSA. Aku harus bertanggung jawab ayah, ibu" sampai air mata Kharisma luruh. Terlebih lagi, mengenang tentang ikhwal akhir dari simbah kalungnya yang telah terluka waktu itu.
"Kamu jangan lemah!" seru sang ayah tidak suka dengan melihat putranya yang lemah menghadapi kenyataan.
"Kamu laki laki, jangan sampai hal itu membuat mu cengeng hingga membuatmu sedih. Lihat keadaanmu sekarang, menyedihkan" sindir sang ibu. Melihat kearah putranya yang menangis.
"Apa ibu, ayah tidak punya perasaan, apa tidak kasih melihat keadaan simbah putri yang kini hidup sendirian?"
"Dia bukan ibu kandungku. Aku tidak peduli. Karena dia juga, ayah tidak sampai membelikan kitab ilmu penjerat mimpi. Bahkan kini kitab itu telah musnah" sang ibu begitu marah serta emosi pada putranya.
"Jangan pernah bilang kami orang tuamu ini tidak punya perasaan. Kamu sudah bersabar!" Serulah lagi.
"Lalu buat, jika ibu dan ayah menguasai ilmu penjerat mimpi? Yang ku tahu, jika bukan pewaris syah nya maka tidak akan bisa berbuat apa apa" sergah Kharisma menimpali.
Keduanya yang dalam wujud sukma hanya diam membisu, tidak bisa berkata apa apa.
Beda sekali sifatnya dengan kedua orang tuanya yang penuh ambisi. Ingin mencapai yang bukan hak dan miliknya.
"Aku telah meminta ijin. Jika kalian tidak mengijinkan ku, aku tetap akan pergi!" kukuhnya, tidak bisa diganggu gugat lagi.
Maka, tidak bisa mencegah keduanya hanya bisa pasrah serta memberi ijin.
",Baiklah. Jaga diri baik baik nak. Terima ini untuk selama perjalananmu, serta biayamu hidup disana. Ibu rasa itu lebih dari cukup" sang ibu menyodorkan sekantong kain hitam. Entah apa isinya, tapi Kharisma tidak melihatnya. Dia sudah tahu apa isinya. Yaitu emas batangan, karena Kharisma tidak heran entah darimana kedua orang tuanya bisa mendapatkan hal itu.
"Terima kasih ibu, ayah" Kharisma pun memeluk ibunya bergantian dengan sang ayah. Dia tahu kalau ibu sangat menyayangi sepenuh hati. Apapun keinginan putranya selalu dituruti.
"Kapan kamu akan berangkat nak?"
"Besok hari Sabtu sore. Jadi Minggu siang sampai Palembang"
"Ibu mersetuimu, nak"
Kedua wujud sukma orang tuanya seketika lenyap, kembali ke asalnya.
"Ibu, ayah, kalian tega sekali membuat adik Bening menderita. Padahal dia tidak tahu menahu tentang pertikaian kalian dengan simbah kakung" gumamnya, mendesah pelan. Keadaan rumahnya kini lengang. Kharisma bersiap siap karena besok sore akan berangkat ke Sumatera.
"Bagaimana keadaan mas S-?"
Pov Author end!
_________________
Km 12/01/2023.
Komentar
Posting Komentar