271. X-BENARKAH INI?.
Bab 271. X-BENARKAH INI?.
★★★★★★★
Warning!
(Area +18)
--------------------
Nyaman!
Terlebih lagi tidur dipaha kokohnya Alex, orang yang masih memendam perasaannya selama ini terhadapku dan entah sampai kapan akan disembunyikannya.
Ku rasakan sentuhan lembut dipipiku, membangunkanku dalam Lena tidurku.
"Ini sudah pasar Tugu Mulyo " bilang Alex sambil memperhatikan sekitar karena ada kemacetan. Tidak biasanya karena biasanya hari Senin barulah macet.
"Hmmm,,," gumamku, dalam nyaman, menggeliat pelan, rasanya enak badanku. Walaupun ada rasa letihnya. Namun, rasa kebahagiaan lebih terasa, hal itu yang menyebabkan rasa tenang dalam hatiku.
"Ayo buka matamu" pinta Alex sembari menyentuh pipiku lagi. Tersenyum lembut kearahku, senyum cool yang terbaik yang dimilikinya.
"Ya, udah. Bawel banget!" seruku, padahal aku sudah bangun, cuma pura pura tidur ayam. Sengaja, cari perhatian.
"Kok ada yang ngaceng, keras" protesku tatkala aku nyenggol bagian agak keatas dikit.
"Hehehehe,,, iya, maaf" bisiknya, masih bisa ku dengar.
Mobil terasa berjalan perlahan, sepertinya kemacetan mulai berkurang.
",,,, Kontol gak kenal sikon!, Ngaceng Mulu!" protesku lagi. Lagi lagi, wajahnya yang ganteng dan tegas hanya menampilkan barisan giginya yang rapi dan putih.
"Habisnya sange terus, bila deket kamu, apalagi nempel dipaha aku, on terus" terangnya.
"Masalah lho. Aku gak ikut ikut. Kalau gak lemes aku remas tahu rasa"
"Jangan lah. Gimana kalau bisa berdiri lagi"
"Derita lho!"
"Kok gitu"
"Al,,,,!" seruku. Dengan begitu ku remas dibalik celananya.
"Awww, nikmat. Dari tadi aku pengen crot, kagak nahan"
Malah aksiku bikin ke enakan dia, seperti remasan, hal itu buat Alex nafasnya gak karuan. Sedikit ditahannya.
"Terus, yeah,,,, yeah, ohhh,,," Alex malah menikmatinya bahkan pantatnya sedikit digoyangnya. Hingga akhirnya nafasnya seperti tersendat. Kepala nya sampai tengadah, dalam klimaksnya. Menikmati sisa sisa tercurahnya pejuhnya. Nafasnya perlahan teratur kembali. Kini dengan mata terpejam mungkin akan mencoba untuk tidur.
"Eeh Al, sebentar lagi nyampek" ku ganggu dia, sambil ku pencet hidungnya yang Bangir, bibirnya juga merah alami. Kumis tipisnya aduhai. Baru saja dia mereguk kenikmatan ngecrot. Tetap saja kontolnya ngacep tidak mau lemas. Jalanan belum juga bagus hingga keadaan bergoyang goyang. Apa yang ku lakukan ke pada Alex sama sekali tak membuat nya marah, bahkan biasa saja. Kelihatan suka, aku goda goda. Padahal aku cowok. Kalau cewek mungkin sudah diperkosanya, hingga HAMIL.
Entah mengapa, mendadak hatiku berdebar debar seperti ada sesuatu hal yang akan terjadi? Pikiranku seperti kacau, sekalipun aku coba untuk menenangkan diri, tetap tak bisa. Rasanya semakin dekat kearah rumahku perasaan tidak makin menjadi. Apa yang akan terjadi, sebenarnya?.
"Bening kenapa kamu kok pucet?" Tanya Alex padaku mungkin tahu keadaanku.
"Perasaanku tidak enak. Seolah akan ada yang terjadi, tapi-?" Jelasku tak ku teruskan. Aku ragu buat mengatakannya.
"Tapi apa Bening?" Kejarnya, penasaran.
"Tapi aku tidak melihat gambaran sama sekali. Mungkin tidak membahayakan jiwaku, hingga hal tersebut tidak nampak pandanganku di masa depan, seperti-?"
"Dari tadi ngomong kamu dipotong potong. Aku gak ngerti" geleng Alex masih dengan rasa penasaran.
"Seharusnya kamu tidak perlu mengetahuinya. Kalau sedikit gak apa apa supaya kamu juga mikir. Karena aku telah melihat masa depan dimana nantinya kamu akan menyatakan perasaanmu, kamu mengatakan CINTA padaku, disaat MAUT akan datang menjemputmu juga aku!" Jelasku menatapnya tajam.
"Ha ha haaa,,," Alex tertawa lepas hingga yang lainya memperhatikannya.
"Kau kira aku membual. Buktinya sudah ada, dari perhatianmu, gesture yang kau perlihatkan, untuk cukup membuktikan akan perasaanmu. Tapi jika persepsi ku salah. Lupakan" lanjutku pelan, aku tidak ingin yang didepan dengar apa yang ku katakan pada Alex.
"Huh, dasar stress, tertawa macam orang gila. Gak ada angin, gak ada hujan" gerutu Riko kesal, merasa terganggu.
"Ngiri bilang boss-" sahut Alex mencibir.
"Gak level" balas Riko tak terima.
'Hadeh, mulai lagi debatnya. Ini udah mau nyampek, tetep gak bisa akur. Perlu aku beri pelajaran mereka berdua' kataku membatin.
"Heh, denger ya kalian berdua. Tolong, jaga sikap kalian disini, jika nanti udah nyampek, terlebih didepan orang orang sini. Jika kalian tetap seperti itu sangat MEMALUKAN! Aku tidak mau hal itu terjadi. Cukup saat ini saja, jangan dilanjutin. Kalau kalian berdua tetap tidak mau dengarkan aku, lebih baik kalian pulang saja sana. Kalian seperti anak kecil" hardikku sekenanya dengan kelakuan mereka berdua yang tidak kenal waktu dan tempat. Tetap saja debat, bertengkar dengan hal yang tidak penting.
"Ya,,,," jawab keduanya singkat. Hingga keadaan hening sejenak, hanya suara deru mobil yang terdengar.
Rumah simbah sudah kelihatan, dadaku berdebar. Ada rasa rindu yang membuncah dalam hatiku. Pada sosok tua yang masih tegar dalam menjalani kehidupan dalam kesendirian dimasa tuanya.
Didepan teras rumah nampak rame. Hatiku berkata ada apa sebenarnya, seperti ada orang yang datang. Atau memang menyambut kedatanganku tapi aku tidak memberi kabar.
Semua mata tetangga yang ada didepan teras melihat kedatangan mobil travel yang membawa kami.
"Hah,,, ada mobil datang lagi?"
"Eh, siapa itu yang datang?"
"Iya, ya,,, tadi cucunya simbah putri Sarinah berusan datang, ini siapa lagi mereka?"
"Liat tuh, keren keren, ganteng ganteng uyyy,,,"
"Apa itu si Bening ya?"
"Mungkin. Tapi bawa temen temennya?"
"Pengen ku jadikan mantu"
"Heh, aku juga mau jadiin menantuku"
"Pengen besanan sama pak Rohman"
"Bukan kamu saja, aku juga pengen jadiin mantuku"
Ocehan para ibu ibu tetangga yang dengan rasa penasaran tinggi melihat kearah mobil kami yang kini berhenti.
"Mbah putri, cucumu Bening datang"
"Iya mbah putri, bawa temen temennya, ganteng ganteng"
"Masyaalloh!"
"Ya Tuhan"
"Gila, aku mau yang itu?"
"Kalau aku masih gadis, aku mau jadi istrinya"
"Ganjen"
"Iri lho"
Mereka malah asik gunjing, berdecak kagum melihat teman temanku yang tentunya sangat berbeda. Tentu lah jadi tranding topik, kehadiran Riko, Alex dan Angga. Respon mereka cukup luar biasa.
"Mana, mana, cucuku,,,?" teriakan simbah putri keluar dari dalam. Entah sedang apa dari dalam, kelihatan sibuk. Sepertinya, ku lihat kelihatan sangat bahagia, walaupun sepertinya habis menangis. Kini menatapku penuh rasa haru, bahagia.
"Cah bagus,,, masyaalloh? Ya Alloh, kamu pulang cah bagus? Sama temen kamu" air mata simbah tak terbendung lagi melihat kehadiran kami.
Aku menghambur diperlukan simbah putri, cukup lama, aku pun juga tak bisa ku tahan lagi.
"Simbah putri, aku kangen sama simbah" isakku dalam. Ku biarkan air mataku merembes terus. Begitupun simbah putri tubuhnya berguncang kala memelukku. Menumpah kan rasa kangen selama terpendam.
"Yah, iya cah bagus, simbah putri juga sama kamu" ujar nenek. Rasa dalam hatiku sudah terobati, rasanya. Hingga aku sudah tenang. Begitupun simbah putri, nangisnya sudah tenang.
"Cah bagus,,, mas mas-mu berkunjung kesini"
"Siapa Mbah putri?"
_______________
Sb 14/01/2023.
Komentar
Posting Komentar