275. Main hujan-hujanan.

 Bab 275. Main hujan-hujanan.


★★★★★★


Hujan mengguyur bumi sangat deras, karena tidak menyadari kalau hari tengah mendung hingga air tumpah ruah dari atas.


Mereka semua bersuka ria, disertai tebaran yang disebar oleh Riko hingga keadaan riuh penuh kebahagiaan. karena bagian dibagi dua untuk anak anak dan orang dewasa. Mereka dapat uang yang disebar oleh Riko sangat banyak dengan wajah penuh rona kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan selama. Ibarat pepatah mengarah 'SEPERTI KETIBAN DURIAN RUNTUH' itu istilah yang tepat suasana serta keadaan saat ini.


Mereka hujan hujanan dengan muka ceria dan sebang mendapatkan uang gratis.


"Semuanya, kalian satu satu ya ambil oleh olehnya untuk dibawa kasih" teriak Riko setelah sehabis nyebar uang entah berapa juta. Tentu saja tubuh basah kuyup karena hujan.


Aku menunggu dibale bale untuk mengamati bagi mereka yang akan mengambil oleh oleh untuk dibawa pulang. Hingga satu persatu mereka mulai mengambil jatahnya masing masing lalu mereka bawa pulang. Lalu meninggalkan rumah ini dengan wajah ceria.


Hingga semua kembali kerumahnya masing masing hingga keadaan lengang, hanya hujan lebat yang kini menyisa dipelataran. Riko dan Alex masih hujan hujanan dengan air hujan yang mengucur deras dari langit, tumpah ruah tiada henti.


Wajah wajah ceria terlihat sepertinya keduanya tidak merasakan hal hal sekecil ini. Kebahagian yang luar biasa yang tak dirasakan selama di Jakarta biasa dengan glamor nya keadaan Jakarta serta liburan diluar negeri. Tapi disini, hal sekecil ini bisa menimbul rasa bahagia yang tak ternilai harganya. Bahkan keduanya kejar kejaran saling menciptakan air yang ditadahi tangan mereka. Lalu tertawa bersama sama saling berjingkrak kegirangan.


Rasanya aku ingin gabung,,,


Hal yang membuatku terkejut dengan ajakan mas Kharisma yang tiba tiba. Begitupun Angga dan mas Surya seperti sudah selesai ngobrolnya dengan simbah putri didalam.


"Ayo dek  hujan-hujanan pasti seru" ajaknya.


"Siapa takut, ayo" jawabku singkat.


Menarik tanganku ketengah halaman yang hujan sangat deras. Hingga sekejab saja tubuh kami basah kuyup.  Hujan terus mengguyur, bibir Riko dan Alex membiru kedinginan, kini mulai minggir kebale bale memperhatikan ku dengan mas Kharisma yang asik bercanda ria, bahkan kini menggelitik ku seperti sedang kasmaran mas Kharisma didepan keduanya. Didepan pintu ada mas Surya dan Angga juga lagi nonton tidak mau bergabung.


Kini aku berbisik ke mas Kharisma...


"Mas, tarik mas Surya dan Angga buat gabung sama kita, pasti lebih seru" bisikku. Mas Kharisma mengangguk setuju.


"Oke juga ide mu, Dek. Sip, pasti dek. Tapi kita bikin senatural mungkin, kalau dekat baru nanti aku tarik. Kamu kejar aku, kemudian lari kearah mereka, baru nanti aku tarik, buat ikutan" rencana nya. Memulai rencana awal. Lalu mas Kharisma lari karena ku cipratkan air hujan sambil ku kejar.


Tentu Angga dan mas Surya kaget karena mas Kharisma menarik keduanya dengan kuat. Membuat kedua kehujan dan langsung basah kuyup karena hujan mengguyur deras dari langit. Kedua tidak berbuat apa apa. Kini berempat main hujan-hujanan ditengah tengah halaman bersuka ria. Joget, lari lari, kejar kejaran. Riko dan Alex sudah kedinginan cuma memperhatikan dari bale bale dengan bibir membiru serta bergetar.


Hingga beberapa menit kami menyudahi main hujan hujanan. Segera berbilas air sumur supaya tidak meriang karena air hujan tidak baik untuk badan, kalau tidak tahan bisa demam dadakan. Moga tidak ada yang meriang setelah hujan hujanan ini nanti, semoga.


Tanpa perlu aba aba kami pun pergi lewat samping rumah untuk mandi air sumur bersama terlebih lagi sudah pada kedinginan, cepat cepat mandi serta ganti baju dikamar.


Ramai dan mandi bareng bareng di kamar mandi yang sedikit agak terbuka. Sekalipun kondisinya dingin mereka tidak peduli bahkan ada yang bugil setelah masuk kekamar mandi. Beruntung aku pakai sempak jadi gak takut ketahuan kalau aku jadi sange lihat tubuh telanjang mereka dan itu pun dalam keadaan pada  ngaceng maksimal. Pada hal keadaannya dingin banget. Tapi, kontol mereka tegang tidak tahu sikon.


'Tuh, kontol kurang ajar, tidak tau sikon, bisa bisanya saat dalam keadaan begini?' berkata dalam batinku, hanya ku lirik satu persatu dengan dada berdebar. Seandainya aku berdua dari salah satu dari mereka tentu langsung diterkam. Mereka masih malu malu, MUNA tidak berani mengakui perasaan masing masing, asik lirik lirik aku, aku cuek saja.


Kemudian memakai celana masing masing dalam lebih fresh juga kedinginan, tapi air sumur lebih hangat dibandingkan air hujan.


Sedangkan hujan nya masih lebat entah kapan berhentinya. Aku tidak tahu kemana Ferdy, apakah pulang kerumahnya atau ada didalam karena setelah memberi makan sapi serta hujan lebat tidak terlihat lagi batang hidungnya. Atau pun berkumpul atau mungkin ikut bersenang senang hujan hujanan kan lebih asik. Tapi aku merasa sedari tadi ada yang memperhatikan ku dari jarak jauh. Entah itu hanya perasaanku atau fellingku saja. Namun perasaan itu ku tepis saja.


Kami pun mengeringkan badan yang masih basah kuyup masuk kekamar hingga dalam kamar penuh  karena ada enam orang karena saat masuk kedalam tadi cuma pakai kolor saja kini setelah didalam tanpa ragu telanjang bulat, hingga pemandangan yang memanjakan serta menggiurkan birahi sangat terasa. Namun, semuanya hanya cuek cuek saja karena disini yang doyan sepong atau kenyot kontol cuma aku karena sejatinya mereka cowok hetero yang bikin belok gara gara aku. Toch, aku tidak pernah atau bermaksud menggoda, hanya saja karena suatu hal yang menyebabkan ku melakukannya. Kontol mereka tidak tahu malu tetep aja ngaceng maksimal dengan berbagai bentuk dan ukuran berbeda serta semak belukar yang berbeda pula.


Toch, jikapun tidak bersama mereka jadi manusia lurus. Karena mereka bermain cuma denganku saja kecuali mas Surya yang mungkin dimanfaatin oleh Cindy. Lihat saja nanti kau Cindy jika kemampuanku telah kembali kau orang pertama yang akan ku beri pelajaran supaya jera atau bisa saja aku hilangkan nyawanya, tapi aku tidak berhak untuk itu. Jika itu terpaksa apa boleh buat jika itu jalan satu satunya yang harus ku tempuh.


"Kalian semuanya ayo minum kopi panas. Sudah simbah putri buatkan bubur kacang ini" panggil simbah putri didepan pintu dengan suara kenceng hingga didalam tadi berisik jadi dengar karena suara simbah putri masih cukup lantang diusianya yang tidak muda lagi.


"Hacih, hacihhhh,,," tiba tiba Riko bersin bersin. Bisa gawat jangan jangan dia flu, atau masuk angin. Bagaimana ini? Tentu tidakan akan peduli karena sedari tadi makanya tampak pucat kurang sehat walaupun sebelumnya nampak happy karena nyebar uang bikin happy para tetangga ku. Aku tahu Riko tidak begitu tahan dengan air hujan. Angga keluar duluan, begitu mas Surya dan mas Kharisma, tinggal Alex yang nampak ragu terlebih lagi tadi Riko asik bermain bersamanya, mungkin ada rasa empati buat Riko yang kurang enak badan. Terlebih lagi tadi janji buat nginap di rumah Ferdy. Tapi nanti Ferdy juga yang disuruh kesini dulu mau di kasih surprise oleh Riko. Yang jadi pertanyaannya apakah Riko akan tetep maksa buat nginap dirumah Ferdy jika kondisinya lagi demam atau flu. Aku tahu Riko itu anak MANJA tidak bisa jauh dari mamanya juga papanya.


"Al, tolong ambilkan minumannya, kalau bikin wedang jahe karena Riko lagi demam, mungkin juga masuk angin karena hujan hujanan tadi bersamamu karena kelamaan. Sekalian aja bawain buburnya ya, biar aku tungguin Riko disini, kasihan sendirian lagi gak enak badan-"


"Huh, manja banget,,, jadi orang. Jadi cowok itu harus strong, jangan lemah buat lindungi orang yang kita sayangi"


"Bacot Lo, ah,,,,!"


"CUKUP. JANGAN BERTENGKAR LAGI. NGERTI,,,!" seruku tertahan. Karena mereka berdua selalu saja bertengkar gak disini atau dimana tempat, senang sekali cekcok.


"Maaf" balas keduanya hingga bikin aku getok kepala karena keduanya bisa pro.


Keduanya saling tatap tajam...


"Sudah Al, Rik. Al, tolong tadi"


"Kalau bukan kamu yang nyuruh, OGAH!" sambil berlalu keluar.


"Gue gak minta. Wek,,,," cibir Riko mengejek Alex.


"Sudah, Rik. Cukup. Kamu jangan bikin ulah lagi. Please aku gak suka jika kamu dan Alex bertengkar seharusnya kalian disini itu akur" ujarku kini berdua dengan Riko ditinggal oleh Alex yang mengambil yang aku minta tadi.


"Kamu jangan ngomong Lo, Gue lagi disini. OK, kalau kamu masih saja begitu sebaiknya kamu pulang saja, karena aku tak ingin liburanku terkesan tidak baik" ku tatap dalam Riko. Dia hanya mengangguk pelan. Aku tersenyum, mungkin tidak ada pilihan buat dia, tapi itu untuk kebaikan bersama, terlebih lagi simbah putri belum mengetahui hal itu, jadi aku tutupi didepan beliau supaya beliau tidak sedih karena melihat keduanya bertengkar.


"Janji, demi aku"


_________________


Sl 17/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.