276. Akibat main hujan-hujanan.
Bab 276. Akibat main hujan-hujanan.
★★★★★★
RIKO hanya mengangguk dalam diam. Seperti dia benar sakit karena wajahnya berkeringat layu serta seperti menggigil kedinginan. Waduh Riko benar benar sakit' batinku. Ku sentuh keningnya, panas.
"Brrrrr,,, hehhh,,," tubuh Riko menggigil dengan gigi gelemtukan. Hingga...
"Sayang kalau kamu sakit gimana? Mama gak ikhlas jika sampai kamu sakit. Apapun yang terjadi kamu vc mama atau papa kalau kamu kenapa napa?"
Aku menjadi ketakutan sendiri jika ingat Bu Kinasih yang mengancam jika terjadi apa apa dengan Riko maka akan menanggung resikonya. Tentu aku sedih bukan main. Ya Alloh, sembuhkan lah Riko, aku mohon!' doaku dalam hati.
"BBB- Bening,,, di-dinginnn hhhhsssssss,,," sampai sampai bergetar hebat. Aku kasihan juga merasa takut sekali jika Riko kenapa napa. Mana malam mulai menjelang. Riko masih duduk dengan tatapan sendu, bibir gemetar dengan tubuhnya juga.
Tak berpikir lagi, ku peluk Riko supaya merasa hangat walaupun tubuhnya terasa panas dia merasa kedinginan, itu namanya DEMAM. Apa yang harus ku lakukan? Riko harus berobat supaya tidak demam lagi. Tapi, tempatku agak jauh dari puskemas. Diluar masih hujan walaupun tidak deras lagi, tetap bikin basah kuyup jika nekad pergi kerumah bidan dikampungku.
Aku juga tidak mungkin meninggalkan Riko sendirian jika keadaannya seperti ini walaupun hanya sedetik, dia butuh seseorang untuk menemaninya siapa lagi kalau bukan aku, tentu yang lain tidak akan mau atau keberatan buat jagain Riko. Yang bisa ku lakukan memeluknya dengan erat karena untuk mengurangi rasa dinginnya. Tapi belum cukup, ku cari selimut buat menutupi tubuhnya supaya hangat. Tidak kedinginan lagi. Tapi itu belum lah cukup. Bahkan tubuhnya penuh dengan selimut.
"Duh, kemana lagi Alex tadi?" Gerutuku kesal karena belum juga datang seperti yang ku pesankan tadi.
Kembali aku memeluknya karena aku juga akan pesan sama simbah putri untuk buat ramuan supaya demam Riko sembuh.
"Eh malah meluk. Apa yang kamu lakukan Bening? Lho ini Riko kenapa diselimuti seperti ini?" tanya Alex setelah masuk ketika aku sedang meluk Riko dalam selimut. Barulah menyadari keadaan Riko yang sebenarnya. Ditangan nya bawa nampan berisi teh panas serta bubur kacang ijo buatan simbah putri.
"Riko lagi demam. Bilang ke simbah putri buat ramuan untuk meredakan demsmnya Riko. Nanti kalau sudah reda baru dibawa ke puskesmas. Cepat! Eh, malah bengong" hadikku kesal karena Alex malah diam ditempat. Barulah sadar saat aku teriak. Karena aku masih meluk Riko. Buru buru Alex keluar dengan cepat.
"Rik, minumlah dulu, supaya badanmu hangat. Ayo,,," ucapku karena mata Riko setengah terpejam, bibirnya gemetar, tubuhnya juga menggigil. Bibirnya terkatup rapat berwarna biru pucat.
Tak ada reaksi. Ku minum teh manis yang masih panas, aku tak peduli. Maka saat berada dimulutku aku pun mendekat kearah bibir Riko yang terkatup. Bibir hangatku menyentuh bibirnya yang dingin pucat bergetar. Maka saat mulutnya terbuka aku pun mematikan teh manis yang sudah hangat, ditelannya pelan, menikmati. Bibirku masih menempel dibibirnya hingga ku rasakan kehangatan, begitu pun Riko suhu tubuhnya mulai beraksi. Bahkan tidak sampai disitu, Riko malah cari kesempatan hingga bahkan melumat bibirku.
"Bibirmu manis"
Sempat sempat disaat seperti ini berkata seperti itu, terlebih nafasnya juga sedikit aneh. Tersendat. Atau jangan jangan Riko malah SANGE? DASAR OMES!.
Saat ku lepas, Riko nampak sedikit kecewa...
"Bisa bisanya ya kaki demam gini cari kesempatan" rutukku pelan.
Tak ada balasan sebagai jawaban, Riko hanya diam saja. Walaupun kini keadaan sedikit membaik akibat ciuman panas tadi, setidaknya bisa meningkatkan suhu tubuhnya yang tadi agak drop.
"Ayo minimum, kamu pasti bisa minum sendirian?"
"Ogah, mau kayak tadi?" suaranya masih lemah agak serak.
"Pantes jika Alex bilang kamu manja. Ternyata emang benar, Alex gak bohong"
"Kok gitu say"
"Rik, please don't say like that"
"Lha kamu bilang say gitu"
"Hihhhh,,, M- maksud aku bukan itu" gereget campur kesel dengan tingkahnya.
Riko hanya nyengir. Aku tidak bisa berbuat apa apa dari pada nih anak orang sakit, aku yang berabeh karena mamanya pasti akan nyalahin aku karena gak becus ngerawat anak nya yang sok kegantengan ini. Aku turuti permintaannya. Maka, ku ambil seseruput teh hangat. Kemudian aksi ciuman dalam terjadi lagi. Wajah Riko tampak sumringah, ceria, hatinya berbunga bunga.
Disaat itulah...
Kreekkkk,,,,
Pintu dibuka, bahkan aku belum selesai, Riko menikmatinya.
"Le, cah bagus,,,?" sapa simbah putri shock.
"Ihyyyyyy,,,, kalian mesum!" seru Alex berada dibelakang simbah putri yang membawa balon berisi air panas.
"Mhhmmm,,, Mbah putri,,, ini,,, ini tidak seperti yang Mbah putri liat. Tidak, ini,,, ini karena,,," ucapku terbata, bingung harus berkata apa.
Simbah putri no comen cuma lihat Riko yang hanya nyengir saja, dengan wajahnya kurang sehatnya karena demam. Aku tidak tahu harus bicara apa sama simbah putri dalam diam karena aku ngerasa tak enak juga rasa bersalah. Ini juga demi Riko yang memintaku melakukan hal itu. Jika saat ini Mbah putri marah biar aku terima.
Alex duduk terdiam terkadang memperhatikan ku. Aku tidak dapat mengartikan tatapannya.
"Cah bagus,,," sapa simbah putri pada Riko yang kini tersenyum.
"Kamu beneran demam cah bagus. Kamu tidak tahan sama air hujan, kenapa maksa buat ujan ujanan?" Simbah putri dengan telaten mengompres Riko.
"Maaf mbah putri, aku salah,,, tapi aku ingin main air hujan" kilah Riko membela diri. "Sudah lama aku gak hujan hujan an, rasanya aku kangen" lanjutnya dengan memelas.
"Ya Alloh cah bagus. Tapi jangan diulangi. Kamu ujan ujananya jangan lama lama. Boleh kamu main main tapi ingat kesehatanmu" titah Mbah putri pada Riko. Alex sedari tadi hanya jadi pendengar yang baik. Alex belum melakukan apa apa untuk cari perhatian pada Mbah putri.
"Terima kasih Mbah putri. Kembali aku rasakan seorang nenek seperti Mbah putri. Aku juga kangen dengan Mbah kakung. Rasanya sudah lama aku tidak ketemu dengan beliau" kini suara Riko lebih tenang, demamnya sudah agak berkurang. Itu juga berkat kompresan dari Mbah putri yang dengan telaten mengompresnya dan selalu diganti ketika telah mulai dingin.
"Ya cah bagus. Kamu bisa ketemu simbah kakung, aku akan mengajak untuk menemuinya-"
"Benarkah itu Mbah putri. Terima kasih, terima kasih Mbah putri" wajah Riko begitu ceria setelah apa yang dikatakan oleh Mbah putri.
"Ehmmm,,," Mbah putri hanya mengangguk tersenyum bersahaja.
Setidaknya keadaan Riko mulai membaik setelah dikompres oleh mbah putri jadi saat ini jadi tenang. Riko butuh istirahat cukup untuk saat ini, harus segera tidur supaya besok sehat kembali. Bila nanti para sahabatku datang kemari karena janji Riko tadi nanti akan aku katakan pada Ferdy kalau Riko kurang sehat. Takutkan kalau tidak istirahat, sakitnya akan bertambah parah.
"Cah bagus makan buburnya supaya perutnya terisi. Dari siang belum makan. Biar disuapi Bening" titah mbah putri. Biar perutnya terisi. Aku pun sampai lupa untuk mengisi perut bahkan tidak merasa lapar barulah kini terasa.
"Ya sudah, simbah akan istirahat. Segera tidur cah bagus biar besok sehat kembali" kemudian simbah putri berlalu dari kamar. Tinggallah kami bertiga, mungkin Angga, mas Kharisma dan mas Surya lagi ngobrol diruang tamu.
"Ayo makan buburnya, Rik" tuturku lembut, sekilas Riko melirik kearah Alex. Merasa tidak akan kehadirannya.
"Kenapa? Suka suka aku mau dimana?" Seakan terasa jika Riko gak suka dengan kehadirannya.
"Sudahlah. Ayo makan. Akakkk,,, buka mulutku" aku pun membuka mulutku. Mbah Putri sudah melupakan hal pertama tadi, seolah tidak terjadi apa apa. Rasanya, ada perasaan bersalah dihatiku yang terdalam, itu karena ulah Riko yang kekanak kanakan dan sangat manja.
"Kamu ingin sembuhkan,,,?" teterku karena sikapnya keras kepala.
"Dasar cowok lemah!" sindir Alex melihat keadaan Riko saat ini.
"Masalah buat Lo"
"Gak!"
"Rik, Al,,, sudahlah. Apa gunakan kalian seteru terus kayak gini?. Apa gak capek kalian?" sergahku. Karena, lagi lagi mereka seperti itu jika berhadapan gak pernah akur.
Alex mendesah pelan, begitupun halnya Riko.
"Buburnya mau dingin nih" karena tadi berhenti agak lama karena sedang debat dengan Alex.
Akhirnya, Riko pun makan bubur sesuap demi sesuap hingga tandas. Juga menghabiskan teh yang mulai dingin.
"Jangan cuma badan doang gede, tapi letoy" pancing Alex mengompori supaya terpancing emosi.
"Al, jangan pancing pancing emosi" sungut tidak suka.
"Kok belain cowok lemah kayak gini. Kena hujan masuk angin, kenapa panas meriang, cowok apaan tuh?" Alex terus bikin ulah supaya Riko terpancing terlebih kondisinya kurang sehat.
"CK,,," aku yang terpancing emosi. "Al, please jangan bikin ribut terus. Aku capek dengarnya, capek" sampai ku tekan perasaanku.
"Kamu sudah makan Al?" tanyaku. Sebagai jawabannya...
_______________
Rb 18/01/2023.
Komentar
Posting Komentar