277. Saat malam beranjak.

 Bab 277. Saat malam beranjak.


★★★★★★


Hanya gelengan lemah.


Senyum pun seperti agak dipaksakan, mungkin aku terlalu perhatian dengan Riko. Tentu saja ku lakukan karena Riko prioritas jika tidak aku utamakan hal itu akan membuat ku susah dikemudian hari. Jikapun sampai Riko telpon dengan keadaannya disini, Ku khawatirkan jika orang tua Riko datang  kesini menjemputnya. Bukan itu yang ku takutkan tapi jika sampai itu menyangkut urusan orang tuaku aku bisa apa. Itulah hal paling ku takutkan. Sudah bikin malu dan menghina disini belum lagi nanti bikin orangku dipecat dari kerjaannya.


Rumahku di Tugu Mulyo ditinggalkan dan kontrakan kini aku tinggal bersama simbahku dikampung. Sebenarnya di Tugu Mulyo itu tidak begitu pelosok sudah ramai karena ada pasar yang besar disana. Tapi simbah lebih suka didesa jauh dari keramaian dan hidup tenang.


"Al, makan lah duluan. Biar aku nanti saja makannya setelah Riko sudah tidur"


"Tapi kamu juga harus jaga kesehatan mu Bening, bukan hanya ngurusin orang yang guna itu"


"Jaga bacot Lo Alex, dari tadi Lo bikin gue emosi. Gue juga minta Lo buat ikut kesini. Tapi Lo maksa untuk ikut" sela Riko tidak terima karena dihujat terus oleh Alex.


"Tapi kenyataannya emang gitu kan. Lo sering nyusahin Bening, Lo manja banget"


"Lagian orang nya gak keberatan, Lo selalu saja sewot, kenapa?"


"Gue tahu karena Bening dalam ancaman. Gue tahu itu, karena Bening takut dengan keadaan orang tuanya. Padahal gue pernah bilang, jika orang tua Bening dipecat dari rumah Elo, orang tuaku siap nerima"


"Itu sifat licik Lo udah keliatan"


"Gak usah membalik FAKTA  Riko"


"Sudahlah, cukup!" seruku tertahan. "Ya Alloh, kenapa kalian suka sekali bertengkar. Apa gunanya? Gak ada kan. Jadi please, jangan bertengkar lagi disini"


Aku yang sudah tidak tahan keluar dari kamar, karena aku tak dengar ribut ribut lagi mengenai hal yang gak penting.


Ku usut air mata saat keluar kamar, aku tak ingin ada yang melihat kesedihanku. Sayup sayup aku masih dengar debatan Alex dan Riko mengenai aku. Sepertinya keduanya sepakat tidak akan cekcok lagi dengan suatu syarat,,,?


Simbah putri berkumpul bersama cucunya lagi ngobrol asik sambil nonton tv walaupun hujan masih rintik rintik.


"Le cah bagus, kenapa kamu terlihat sedih?" Tanya beliau setelah melihat keadaanku. Sekalipun telah ku sembunyikan tetap mengetahui perasaanku saat ini. Haruskah aku jujur padanya atau diam saja. Tentu tidak sopan ketika orang yang dituakan bertanya, aku tidak bisa membiarkan hal itu. Aku menghormati mbah putri melebihi apapun. Mbah Putri tahu keadaanku tapi tetap mendiamkan saat aku kepergok ciuman dengan Riko, mbah putri tidak memasalahkan hal tersebut.


Simbah putri sungguh pandai menyembunyikan perasaannya didepan yang lain, sedangkan aku tidak melakukannya, aku terlalu LABIL untuk itu. 'Maafkan aku mbah putri' dalam batinku. Menatap simbah penuh rasa terima kasih, aku yakin tidak akan mengatakan apa apa mengenai kejadian tadi. Begitu pun Alex yang kini berada dibelakangku ikutan keluar buat mengisi perut.


"Bagaimana keadaan cah bagus Riko, Le?" Tanya simbah putri kemudian karena aku diam dari tadi terlebih baru saja aku menangis.


"Sudah baikan mbah putri. Sekarang sudah tidur" Alex menjelaskan karena tadi keluar belakangan serta menyelesaikan masalah yang gak penting.


"Syukur, Alhamdulillah,,," mbah putri kini lega, tadi agak khawatir. Mengkhawatirkan keadaan Riko yang sudah sangat disayangi beliau seperti cucunya sendiri.


"Mbah,,, ak- u mau makan,,," ujarku berlalu dari ruang tamu. Hanya dipandangi oleh Angga, mas Kharisma dan mas Surya, terlebih mataku merah karena habis nangis. Tentu hal itu terlihat oleh mereka.


Tanpa banyak kata Alex mengikuti dari belakang dengan wajah bersalah karena telah membuatku sedih dengan pertengkaran yang terjadi dengan Riko tadi.


Aku membuka tudung saja melihat makan yang tersaji, masih ada tiga piring dimeja makan. Aku ambil serta mengisinya lalu secepatnya ku nikmati dengan rasa hambar. Yang terpenting perutku terisi dan aku tidak mau sakit.


Tidak mau bikin mbah putih sedih serta susah dengan keadaanku.


"Bening, maafkan aku. Aku salah, maafkan aku ya" ucapnya lirih dengan rasa bersalah.


Ku angkat tanganku supaya Alex tidak meneruskan ucapannya, isyarat yang ku berikan sudah cukup. Hingga membuat Alex terdiam, karena dia tahu aku tidak akan menanggapinya lagi.


Alex mulai menikmatinya makanannya, sama sepertiku tidak bersemangat. Berkali kali menatapku prihatin.


Kembali air mataku luruh....


"B,Be-Bening,,, hhh,,, mmaafkan aku telah membuatmu sesedih ini. Ayo dong, aku mohon kamu jangan seperti ini" ucapnya lirih, akan meraih tanganku. Namun aku menjauhkannya, kepedihan ku terlalu dalam. Jika terjadi apa apa dengan Riko maka yang kena imbasnya orang tuaku itulah yang ku takutkan.


"Sudah Al, aku tidak perlu perhatianmu. Aku sudah memperingatimu jangan berseteru dengan Riko, tapi apa kamu dengarkan aku. Kau tahu apa yang terjadi jika orang tuanya Riko tahu. Imbasnya pada orang tuaku yang kerja dirumah keluarga Sanjaya"


"Jika mereka pecat orang tuamu, maka keluargaku siap menerimanya"


"Kau anggap semudah itu Al. Keluarga Sanjaya akan menuntut kedua orang tuaku. Mereka akan memejarakannya. Kau ngerti itu"


"Masalah nya apa Bening, sampai harus memenjarakan orang tuamu segala"


"Hutang budi. Karena aku telah masuk rumah sakit dan itu biaya tidak sedikit. Sebenarnya keluarga sanjaya tidak menuntut hal itu. Tapi orang tuaku merasa berhutang nyawaku, untuk itu mereka ikhlas kerja walaupun tidak bayar. Mereka mengabdi di keluarga Sanjaya hingga hutang bisa terlunasi"


"Sebab itu, hingga orang tuamu merasa berhutang bydi, sampai sampai tidak mau berkunjung kesini. Picik sekali keluarga Sanjaya memanfaatkan keadaan yang ada, hingga orang tuamu tidak bisa kemana mana. Memangnya berapa biaya rumah sakit mu dulu"


"Ehtahlah. Yang jelas keluarga Sanjaya lah yang membiayainya hingga lunas, karena kau tahukan kalau sepeserpun kami tidak memiliki uang sama sekali"


"Tapi kali kan punya tabungan cukup lumayan"


"Dari mana kamu tahu?"


"Ada" jawabnya singkat. Dengan cengiran kudanya.


"Ku mohon jangan katakan itu pada siapapun" kini aku merasa ketakutan sendiri jika sampai ada yang mengetahui tentang uang tabunganku. Karena uang itu untuk kebutuhanku nanti KULIAH. karena aku akan mengambil jurusan pertanian, karena sejak awal niatku untuk jurusan itu. Aku ingin membuat sejahtera warga kampungku tempat aku tinggal supaya maju dan makmur.


"Aku akan merahasiakan nya dari siapapun. Tenang saja. Kamu tidak perlu khawatir"


"Terima kasih. Aku percaya sama kamu"


"Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji akan ku memperbaikinya" pungkasnya. Ku anggukan kepalaku sebagai ucapan terima kasih yang tak terungkap. Jika memang Alex tidak akan bertengkar dengan Riko lagi.


Kini aku yang memegang erat tangannya.


_____________


Km 19/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.