278. Saat hari menjelang pagi.

 Bab 278. Saat hari menjelang pagi.


★★★★


Tentu saja ada perasaan RESAH kalau  Alex begitu banyak mengetahui keadaanku, bahkan mengenai tabunganku karena tak ada seorangpun yang tahu mengenai itu, tapi Alex mengatakan kalau hal itu bukanlah apa apa. Ketika ku desak dari mana dia tahu,tapi dia tidak mau mengatakan apa apa malah bungkam seolah merahasiakannya dariku. Aku yakin kalau Alex pasti tahu dari seseorang entah itu siapa. Tapi Alex tidak mau berterus terang. Aku juga tidak mungkin memaksanya. Tapi dia mau merahasiakan nya dari yang lain setidaknya aku bisa tenang.


Setelah aku selesai makan, aku pun berkumpul di ruang tengah sambil menikmati acara tv bersama yang lain. Aku juga tidak banyak bicara karena aku tidak ingin bicara. Namun sesekali tampak yang lain memperhatikan sikapku yang berubah pendiam.


Mbah putri sudah dikamarnya istirahat karena capek seharian ini.


Dibelakangku Alex membututiku, baru saja selesai makan.


Ketiganya masih menatapku heran terlebih tadi habis nangis, tentu mataku masih membekas merah.


Aku gabung dalam diam tak bersuara. Duduk santai nonton tv dengan acara yang membosankan dari stasiun swasta. Entah apa yang ditayangkannya aku tidak begitu memperhatikannya. Karena pikiranku tidak lah fokus.


"Dek,,," kata mas Kharisma berempati padaku. Karena hanya dia dan mas Surya yang manggil aku 'Dek' sedangkan yang lainnya namaku atau mas jika itu Angga dan Putri.


Ku coba untuk tersenyum dipaksakan. Miris dalam hati. Namun, aku belum meresponnya karena hatiku sedang kalut.


Ku hela nafas untuk mengisi oksigen didadaku...


"Iya mas, ada apa?" Ku coba untuk bersikap biasa saja walaupun aku harus sembunyikan perasaanku yang saat ini gulana.


"Mhmmm,,, gak dek" terlihat mas Kharisma ragu, itu terlihat dia melirik yang ada disitu bahkan dengan cengiran yang tak biasa.


"Ya sudah, aku m- mau istirahat, assalamualaikum,,," tadinya aku duduk sebentar tapi aku tidak mau hatiku makin tidak enak.


"Dek, kamu gak apa apa kan" kali ini mas Surya yang menanyaiku. Lagi lagi aku dia hanya nyengir mirip dengan adik. Tak ku sangka ternyata kakak adiknya tingkah mirip walaupun bentuk tubuhnya lebih gede mas Surya, sama sama atletisnya, tapi kulitnya juga beda. Kalau memilih aku lebih ke kulit mas Kharisma yang exotic. Entah mengapa, warna kulitnya bikin hatiku adem. Kalau kulit yang lainnya itu bersih, kalau Angga beda lagi.


Ku gelengkan kepala...


"Aku gak apa apa mas" aku berlalu dari ruang tengah menuju kamar untuk istirahat. Aku tidak tahu apakah mereka akan tidur bersama dikamar tamu atau menggelar tikar juga kasur lantai diruang tengah.


Saat berada dikamar Riko tidur meringkuk karena tadi ku selimuti dengan banyak selimut karena kedinginan seperti demam sudah berkurang karena wajahnya tidak pucat lagi. Jadi aku sudah tenang, kalau besok keadaannya belum juga membaik, dan masih demam maka akan ku ajak buat periksa.


Aku pun merebah tubuh letihku didekatnya yang tidur begitu nyenyak dan tenang. Aku tidak tahu yang diluar mau tidur atau pada melek sampai pagi.


Teringat janji Riko pada Ferdy, tapi Ferdy tidak datang, bisa saja Riko mengabari tentang keadaannya jadi malam ini ditunda.


Ku coba untuk pejamkan mata, untuk segera tidur karena malam semakin larut.


Aku tidak ingin mengganggu Riko, biar tenang tidurnya serta bangun besok hari dalam keadaan segar.


#######


Ku geliatkan tubuhku, karena aku merasa ada seseorang didekatku sedang memelukku hangat.


Sedangkan disisi kanan ku Riko masih tidur nyenyak. Aku tidak mengenal aroma farfumnya, tapi aku sedikit menduga kalau...


Ku ucek mataku, sedikit menguap hingga aku bisa dengan jelas melihat wajahnya.


'Mas Kharisma?' aku membatin. Terlebih lagi tangan kokohnya melingkar ditubuhku. Deru nafasnya, gemuruh dadanya, serta tonjolan dibawahnya yang berkedut pelan,berasa. Moning erection. Tak mungkin aku membangunkan Riko yang masih nyenyak. Mau nyapa ataupun bangunin mas Kharisma dengan memanggilnya takut mengganggu dan Riko curiga. Tapi kamar ini sangat lebar bahkan dulu aku rame rame tidur satu ranjang bersama. Kalau tiga orang masih luas.


Apa yang harus aku lakukan?


Aku bangkit duduk, menatap kanan kiri orang orang yang sayang padaku. Dalam hatiku jadi MIRIS. Namun, aku tidak mau larut dalam DILEMA dan ke-GALAU-an.


Ku turunkan wajahnya kekiri,,,


Cup,,,


Ku kecup hangat pipi Riko, tak ada reaksi, nampak senyum diwajahnya terluas.


Kini sebelah kanan, hal sama ku lakukan karena mas Kharisma itu selain saudara bahkan mamasku, keluarga dekat.


Aku tidak tahu tujuannya kembali lagi kesini. Namun, dari gelagatnya punya iktikad baik pada mbah putri juga yang ada disini. Karena ku lihat dia seperti menyembunyikan sesuatu, entah apa itu?.


Cuuupppp,,,


Tidurnya juga begitu tenang tanpa gangguan. Kini ada rona serta senyum tersungging. Sesaat kemudian matanya terbuka tapi belum awas, dengan senyum lebar menampilkan barisan giginya yang rapi dan putih.


"Dek sudah bangun?" tanya mas Kharisma lirih. Ku kerjabkan mataku, ku  letakan jari telunjuk dibibirku sebagai tanda jangan berisik supaya tidak menggangu tidurnya Riko yang begitu nyenyak.


Mas Kharisma berkedip mengerti. Dengan senyum yang masih menghias. Hingga ku hembuskan nafas lega. Biarlah Riko tidur yang cukup biar kondisi membaik.


Ku sentuh dahinya, masih hangat tapi bukan karena demam karena suhu tubuhnya sudah normal, sepertinya, masih dengan berselimut tebal.


Kembali ku rengangkan ototku tubuhku, rasanya nyaman. Lega. Sesekali ku kerjabkan mata, agak malas buat bangun turun. Ku lihat jam di hp. Masih pukul 4:45 menit. Sudah subuh. Tapi hawa dingin sisa hujan semalam masih menyisakan rasa dingin yang merasuk sampai ketulang belulang.


"Hmmm,,," gumam mas Kharisma menggeliatkan tubuhnya yang terbalut kaos tipis warna hitam hingga tubuh atletisnya tercetak jelas.


Merentangkan tangan besarnya yang berotot. "Dek tidur lagi, masih malam nih" godanya. Itu juga godaan setan supaya aku tidak jadi bangun. Sementara tangan mas Kharisma nelesulup dibalik celana panjangnya traning.


Itu pun dengan cengiran.


"Sudah subuh mas, bentar lagi pagi. Sudah lama aku melupakan kewajibanku ketika berada di Jakarta"


Mas Kharisma angguk angguk dengan penjelaskanku.


Lanjutku...


"Aku bukan orang baik mas, aku gak menampik aku ini banyak dosa. Mungkin sebesar busa yang ada dilautan. Entah apa yang KUASA akan memberikan maaf? Namun, aku hanya berikhtiar. Siapa orang didunia ini yang masuk NERAKA sekalipun jelas jelas jika melanggar HUKUM TUHAN yang telah ditentu. Tentu tidak akan mau. Maunya ingin masuk SYURGA sekalipun banyak melakukan kesalahan serta dosa BESAR"


"Dek, maaf, mas gak tahu soal itu. Mungkin mamas juga banyak dosanya. Tapi, mamas gak tobat tobat. Malah sering melakukan dosa"


"Ukuran dosa itu kita manusia tidak tahu TAKARANNYA mas. Hanya itu penilaian orang yang melihat kesalahan. Tuhan saja tidak pernah menilai kita sebagai makhluknya. Hanya orang orang yang menghujat yang selalu menilai kesalahan yang kita perbuat"


"Iya, Dek. Selama ini aku tidak berpikir seperti ini. Tujuanku kesini aku hanya ingin memperbaiki kesalahan yang pernah ku lakukan di masalalu. Rasa bersalahku begitu mendalam sehingga aku niat dan akan hidup disini untuk selamanya, aku tidak akan pernah kembali lagi ke Jawa"


"Kenapa mas? Bukan mamas masih memiliki orang tua yang sangat menyayangi mu lebehi apapun. Bahkan baru ku tahu kalau mas Surya itu kakaknya mamas"


Jeda...


"Dulu mas Surya pernah mengatakan, mau mengajakku liburan ke Jawa untuk menemui orang tuanya yang sudah tua. Tapi, selalu saja gagal. Dan sekarang aku tahu kalau kalian kakak adik"


"Kamu sudah mengenalnya mamaku Dek"


"Yah, lebih dalam. Aku sudah mengenal sejak awal, bahkan mas Surya yang menolongku dari sekapan Riko digudang sekolah yang hampir membuatku tiada. Tapi masih untung nyawaku masih bertahan sampai saat ini" jelasku mengungkit masa laluku ketika awal aku masuk disekolah permata bangsa.


Mas Kharisma nampak terbengong. Bahkan aku juga telah memberi pelajaran pada mas Surya karena suatu hal. Tidak mungkin aku menceritakan hal itu. Mungkin saja pakde Ganjar sudah cerita pada mas Kharisma. Kematian itu sudah lama. Tapi, kini mas Surya punya kemampuan baru yaitu ilmu ilusi yang membuat seseorang tidak sadar bahkan juga bisa berhalusinasi. Bahkan aku juga kena pengaruhnya tapi tidak membahayakan jiwaku hingga aku tidak dapat pertanda.


"Dek, kamu harus berhati hati, ibu sama ayah akan melakukan yang tidak kamu bayangkan karena kedua orang tuaku sekarang sedang bertapa di Alas Roban untuk mencari wangsit, untuk menangkal ilmu penjerat mimpi. Aku tahu kalau kamu kehilangan kemampuanmu itu" nampak mas Kharisma khawatir akan diriku. Tapi aku hanya tersenyum simpul.


"Aku gak takut mas. Lebih baik aku tiada karena dengan itu aku tidak punya beban"


"Tapi masalah nya Dek, orang yang memiliki Ilmu Penjerat Mimpi itu hidup abadi!" terang mas Kharisma bersungguh sungguh.


"APA?"


_____________


MG 22/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.